PPLN

Kependekan dari Panitia Pemilihan Luar Negeri. Jadi, warga negara Indonesia yang merantau, bertugas atau pun berlibur panjang di negeri lain pun bisa tetap memberikan suara mereka.

Meski proporsinya tak sebanyak pemilih di dalam negeri namun secara kolektif pemilih yang berdomisili di luar negeri jumlahnya tak sedikit. Ada yang berpendidikan tinggi, ada pula yang domestic worker.

Ada isu mengenai para TKI yang ‘dihimbau’ untuk memilih partai tertentu. Lain ceritanya dengan para perantau non-TKI yang mungkin memiliki kesadaran tinggi dan kebebasan untuk memilih dengan apa yang mereka yakini. Sedangkan sisanya mereka-mereka yang apatis dan tak merasa perlu memilih.

Yang pasti, para partai politik berminat untuk mendapatkan suara warga republik ini yang sedang ‘merumput di luar negeri’. Toh, kalau kampanye di luar negeri kan bisa dianggap sekaligus tour. Bila sudah menjabat posisi basah, bisa disebut studi banding.

Bagi Anda yang merasa warga negara Indonesia di perantauan, apakah sudah mendaftar atau berminat memberikan suara Anda di Pemilihan Umum 2009?

ABS dan ABM

Saya tak tertarik untuk ikut-ikutan menjadi blogger yang mengomentari jalannya pesta demokrasi di republik ini. Namun, singkatan ABS dan ABM menggelitik rasa penasaran saya. Maklum, saya memang kolektor akronim.

ABS kependekan dari Asal Bukan Susilo dan ABM sendiri berarti Asal Bukan Mega. Rupanya gerakan untuk tidak memilih keduanya. Mungkin terlahir dari orang-orang yang terlalu jenuh dengan dua pribadi di atas. Maklum, dua-duanya menggelontor iklan.

Bahkan boleh jadi saat ada dua gajah politik saling bertempur atau diadi; binatang politik lainnya mengambil untung. Tentu dua gajah bertarung bisa babak-belur. Meski bisa juga jadi tambah populer seperti duel Obama dan Hillary tempo hari.

Saya masih menunggu-nunggu apakah nanti ada “asal bukan …” yang lainnya. ABSS (Asal Bukan Sri Sultan)? Soalnya, tokoh yang satu ini diminati sekaligus disingkiri. Nama besar tanpa membawa prestasi besar. Contohnya, kota Gudeg yang lambat laun tak terurus dan kehilangan pamornya.

Duta Besar LBPP

Wah, singkatan apa lagi itu? Ternyata kepanjangan dari Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh. Terkesan hebat tapi juga bisa seperi bumerang.

Hebat karena seorang Duta BEsar LBPP memiliki akses kekuasaan yang besar dengan begitu mampu mengerjakan banyak hal dengan cepat dan efisien.

Hanya saja, rentan terhadap penyalahgunaan wewenang. Kekuasannya luar biasa dan penuh pula. Kalau korupsi bisa gila-gilaan.

Jadi, tentu saja harus dipilih seseorang yang benar-benar berdedikasi tinggi untuk mengisi posisi Duta Besar LBPP. Dubes mana saja yang memiliki embel-embel LBPP? Silakan baca di sini.

BFF

Saat sedang menjelajah dunia maya, mata saya tertuju pada singkatan BFF. Penasaran karena saya tak kunjung menemukan kepanjangannya. Setelah mengulik mesin pencari dan Wikipedia, barulah saya mendapatkan jawabnya.

BFF, best friend forever. Ada kaitannya dengan acara televisi yang menampilkan Paris Hilton. Rupanya si bintang, yang tersohor karena ulahnya yang mengundang perhatian media, sedang mencari sahabat untuk selamanya. Ini dia penjelasan BFF – Wikipedia dan dari situs resminya Paris BFF.

Ironi memang bahwa teman sejati tak seharusnya ditemukan dengan acara seleksi seperti ini. Memang teman sejati adalah mereka yang tetap bersama, tertempa dengan berbagai kesulitan hidup. Ada seleksi alam di dalam prosesnya. Jauh dengan apa yang dilakukan oleh Paris Hilton. Sekedar suatu rekayasa sosial untuk memenuhi jam tayang dan mendulang uang iklan semata.

Secara pribadi, tak pernah saya mengatakan kepada orang lain bahwa mereka teman sejati selamanya. Lagipula, teman datang dan pergi. Toh, sahabat yang tulus tak perlu pembuktian semacam itu. Biarkan jalannya sang waktu yang membuktikannya kelak. 

 

NUPTK, DAPODIK dan LPMP

Saya dibuat penasaran dengan NUPTK. Apa kepanjangan dari akronim tersebut. Setelah ‘terdampar’ di situs NUPTK barulah saya mendapatkan jawabannya beserta 2 akronim lainnya.

NUPTK merupakan kependekan dari Nomor Unik Pendidikan dan Tenaga Kependidikan. Nomor yang unik karena tak semua guru se-Indonesia sudah mendapatkannya. Bila telah mengetahui dan memiliki nomor unik, toh, uniknya tak ada suatu perubahan signifikan dengan kesejahteraan mereka. Justru lebih unik lagi bila fungsinya untuk mempermudah mendata guru-guru yang bisa dipotong gajinya.

Sedangkan DAPODIK adalah Data Pokok Pendidikan. Tak jelas saya. Anda tahu?

Yang terakhir, LPMP memiliki kepanjangan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan. Suatu lembaga yang bisa menjamin sesuatu biasanya tak lepas dari ‘sumbangan’ agar ada peringkat tertentu yang bisa ‘dinaikkan’. Yang menjadi pertanyaan, mana yang lebih penting ‘lembaga penjamin mutu’ atau ‘lembaga yang sungguh-sungguh bisa meningkatkan mutu’?

Adakah akronim yang berhubungan dengan dunia pendidikan lainnya yang Anda tahu? Tak perlu sungkan menuliskannya di papan komentar.

Tags: , ,

Akronim Dengan Kata Komisi

Seperti kita tahu, negeri kita sangatlah menyukai penggunaan akronim dalam kehidupan sehari-hari. Apapun bisa dibuatkan kependekannya. Entah banyak orang setuju atau tidak, itu soal lain.

Selain itu, kata ‘komisi’ juga digemari. Pernah dengar, kan, istilah ‘sedikit-sedikit komisi’. Bisa disimpulkan komisi memang merupakan hal yang wajar keberadaannya di dalam bahasa kita. Komisi juga dipakai sebagai nama organisasi.

Sebut saja Komnas PA, KPK, KPU, KPPU dan KPI. Kepanjangannya? Komisi Nasional Perlindungan Anak, Komisi Pemberantasan Korupsi, Komisi Pemilihan Umum, Komisi Pengawas Persaingan Usaha dan yang terakhir adalah Komisi Penyiaran Indonesia.

Masih adakah akronim nama lembaga di tanah air yang memakai embel-embel ‘komisi’? Coba sebutkan! Taruh saja di papan komentar di bawah ini. Tapi harap maklum, tak ada ‘komisi’ bila menyumbang akronim di sini.

Tags: , , , , ,

Parlok

Nama makanan? Nama binatang? Bukan, justru akronim tersebut terlahir dalam rangka menyambut Pemilihan Umum 2009. Parlok merupakan kependekan dari ‘partai lokal’.

Parlok? Ya, benar. Bukan hanya partai nasional saja yang boleh menunjukkan taring di arena pesta demokrasi. Namun, partai lokal ini hanya ada di Serambi Mekkah yang memang menganut hukum Islam.

Ada enam parlok di Aceh. Coba baca artikel bertajuk Ini Dia Enam Parlok Aceh. Tak perlu mempertanyakan kualitas mereka, toh, mereka memang baru saja mulai membentuk partai lokal tersebut.

Semoga saja 6 parlok tersebut dapat menampung sekaligus merealisasikan aspirasi rakyat yang diwakilinya. Tak hanya mengumbar janji kosong yang membuat rakyat bengong melihat wakil rakyat yang sombong, pintar omong dan tukang bohong.

Kita lihat saja aksi dari parlok tersebut. Apakah benar adanya parlok bisa membuat kehidupan dan kesejahteraan rakyat meningkat? Waktu kan membuktikannya.

Tags: ,

Tahura

Tahu ngga Tahura itu apa? Coba baca dulu artikel berjudul Kejari Limpahkan Kasus Korupsi Penanaman Pohon.

Apakah ada dari Anda yang sudah mencoba menebak arti dari Tahura? Mungkin banyak yang tak langsung mengerti apa yang dimaksud dengan Tahura.

Kepanjangan Tahura adalah Taman Hutan Rakyat. Tak disebut THR karena mungkin supaya tak tercampur dengan Tunjangan Hari Raya.

Jelas-jelas namanya taman hutan rakyat tapi tetap saja dikorupsi. Mungkin dikira beberapa oknum pejabat negeri sebagai taman hutan pribadi, boleh mengeruk keuntungan di sana.

Tags: ,

SIPA

SIPA itu apa? Itu pertanyaan yang muncul dari ketidaktahuan saya saat menelusuri berita bertajuk SIPA PT Aqua Digugat yang dilangsir oleh Antara News.

Ternyata SIPA merupakan kependekan dari surat izin pengambilan air. Jadi, ambil air ada izinnya. Tak bisa sembarangan menyedot air. Soalnya, bila air diambil melebihi porsi normalnya maka akan ada kekurangan air di tempat tersebut.

Air, yang merupakan campuran dari Hidrogen dan Oksigen tersebut, memang merupakan komoditas yang makin lama makin mahal. Tak lagi mudah didapat. Bahkan, harganya bisa jadi suatu hari nanti akan lebih mahal daripada bensin.

Tak ada salahnya bila orang-orang menyebut air sebagai bensin biru. Sesuatu yang dibutuhkan oleh segenap insan manusia tapi tak dirawat bersama-sama keberadaannya.

Oleh karena itu SIPA diperlukan. Selain itu perlu juga untuk pejabat-pejabat negara untuk tidak memanipulasi SIPA untuk kepentingan sendiri karena mumpung bertugas di ‘lahan basah’. Semoga tak muncul fenomena ‘talang air pastilah basah’.

Tags: ,

BBN

Ini bukan salah ketik dari BBM. Tapi sungguh-sungguh BBN. Kepanjangan dari Bahan Bakar Nabati. Pertama kali saya melihat akronim ini dari artikel bertajuk Apindo: BBN untuk Industri Jangan Pakai Bahan Makanan.

BBN berasal dari olahan jarak pagar, ethanol dari ampas tebu, sawit mentah CPO atau pun jagung. Tentu saja masih ada material sulingan lainnya, hanya saja belum dapat diproses dalam skala produksi.

BBN tentu saja merupakan bahan bakar alternatif. Sebuah upaya untuk tak terlalu menggantungkan dari BBM. BBN bahkan diminati karena lebih ramah lingkungan dan dapat diperbarui.

Salut saya pada penggunaan BBN. Hanya saja di beberapa tempat di belahan bumi yang lain, penggunaan BBN secara masif malah menimbulkan krisis baru, yaitu kurangnya suplai bahan makanan seperti jagung.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia? Ah, rasanya tak baik bila selalu pesimis, kan? Tapi bila BBM saja menjadi permasalahan yang krusial meski jumlahnya melimpah-ruah, boleh jadi BBN akan ikut-ikutan menjadi bencana nasional. Semisal, kelaparan. Padahal jumlah lahan di negeri yang Loh Jinawi ini sangat luas.

Yang menjadi inti permasalahan di tanah air adalah salah sekaligus penyalahan (baca: dengan sengaja melakukan kesalahan) manajemen. BBM dan BBN akan menjadi polemik meski didapati dalam jumlah banyak. Lebih banyak dari apa yang dimiliki Negeri Sakura, Negeri Ginseng atau Negeri Merlion sekalipun. Apa boleh buat?

Tags: