Turunnya Kemampuan Baca

Seberapa cepat Anda mampu membaca buku? Mungkin kecepatan tak lagi menjadi masalah. Tapi bagaimana dengan volume membaca Anda?

Pertanyaan tersebut muncul kala saya mendapati bahwa meskipun saya mampu membaca dengan cepat tapi tak lagi mampu mencerap volume baca sebanyak dulu.

Berbagai artikel bisa saya cerap dengan mudah. Sebaliknya, buku yang tebal tak lagi bisa saya nikmati. Tersengal-sengal rasanya. Baru bagian intro saja pun sudah tertatih-tatih.

Dugaan saya, hal ini dikarenakan tingkat konsentrasi berkurang banyak. Tak dipungkiri, kita terekspos dengan informasi pendek-pendek. SMS, email, artikel berita singkat dan tentu berbagai tayangan interaktif visual terpotong-potong.

Ya, sore ini saya mencoba membaca ebook Teori Darwin. Mulai membaca lalu minat tiba-tiba hilang. Sungguh, kebiasaan membaca buku sudah terabaikan. Bagaimana dengan Anda, apakah masih mampu menuntaskan buku bacaan?

Contreng

Kata yang muncul untuk keperluan pemilihan umum ini memang memancing perdebatan yang panjang. Padahal bisa diganti dengan kata ‘centang’ yang sudah jamak penggunaannya.

Rancu dan membingungkan bila kita bertanya pada banyak orang tentang mencontreng di pemilu kali ini. Banyak yang tak mengerti. Bahkan, tak sedikit yang masih memiliki asumsi untuk mencoblos kertas suara. Jelas hal ini bisa mengakibatkan banyaknya kertas suara yang dianggap tak sah lantaran rusak.

Artikel Kompas bertajuk Kata ‘Contreng’ dari Planet Mana? jelas-jelas mempertanyakan kata contreng yang tak dapat ditemukan di khasanah bahasa Indonesia. Tak sekalipun didapatkan di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Contreng? Ada-ada saja. Entah dengan mencoblos, mencentang atau mencontreng, pastikan saat memilih, Anda pakai nurani dan akal sehat. Bukan karena menerima bingkisan sembako di pagi hari atau nikmatnya goyangan dangdut partai tertentu kala kampanye.

Terkenal

Arti terkenal tentunya mengacu pada sesuatu atau seseorang yang dikenal oleh khalayak ramai. Bukan hanya diketahui oleh segelintir orang semata. Meskipun ada orang terkenal bukan berarti orang tersebut kenal dengan banyak orang. Tempat terkenal bukan berarti tempat tersebut sangat indah atau nyaman ditinggali.

Hanya saja apa pun yang terkenal mutlak dimengerti oleh semua orang. Semisal, piramida adalah makam Firaun yang bentuknya sangat masif dan besar yang berada di Mesir. Lalu, apakah semua orang tahu? Bila tak tahu tentang piramida, bukan berarti piramida tak terkenal. Hanya saja, wawasan orang tersebut yang kurang luas hingga tak mengenal piramida.

Menjadi terkenal bukan selalu mengacu pada hal yang baik-baik saja. Hitler terkenal karena kekejamannya. Begitu juga dengan ular Cobra yang mengerikan dan sangat berbahaya. Beda dengan Nicole Kidman yang terkenal karena kecantikannya yang memikat. Begitu juga dengan si seksi Sharapova yang berbakat main tenis sekaligus laris manis menjadi model.

Coba lihat FamousWhy untuk melihat banyak hal yang terkenal yang didapatkan di dunia ini. Tak semuanya benar-benar terkenal. Hanya saja tak ada salahnya untuk menambah wawasan.

Preskon dan Jumpers

Rupanya ada istilah baru yang dimunculkan dan digunakan oleh media massa Indonesia. Preskon. Mengacu dari terminologi bahasa Inggris, press conference. Padahal ada kata press release yang sudah dialihbahasakan menjadi rilis pers. Yang terkadang terbalik menjadi pers rilis. Salah kaprah?

Begitu juga dengan jumpers. Jumpa pers. Mungkin diturunkan dari kata jumpa fans. Supaya terlihat lebih gaul? Sekedar menyingkat seenaknya saja, kah?

Saya mendapati kata preskon dan jumpers saat membaca artikel Soal Video Porno, Dhea Imut Bakal Gelar Jumpers.

Jadi sebaiknya kata apa yang tepat untuk membahasakan press conference? Jumpa pers, rilis pers, pers rilis atau konferensi pers? Ada kata padanan lainnya yang lebih baik dan tepat?

Sate

Sewaktu sedang mencari-cari kamu online Bahasa Indonesia mana yang terpercaya dan kualitasnya bagus, saya justru mendapati kata ‘sate‘ dari Wikipedia.

Dan langsung terbayang di benak gambaran dan rasa sate ayam dengan bumbu kacang dan kecap manis. Padahal di saat yang sama perut saya kosong dilanda kelaparan karena waktu makan siang belum tiba. Kangen jadinya dengan sate yang ada di Kota Gudeg. Sate yang rasanya manis, dagingnya empuk dan sedap dikudap dengan nasi putih.

Menyoal asal mula sate, laman Wikipedia menjelaskan bahwa “sate diciptakan oleh pedagang makanan jalanan di Jawa
sekitar awal abad ke-19, berdasarkan fakta bahwa sate mulai populer
sekitar awal abad ke-19 bersamaan dengan semakin banyaknya pendatang
dari Arab ke Indonesia
“. Penjelasan yang kurang memuaskan menurut saya.

Dulu saya pernah membaca mengenai pemilik ternak ayam di Negeri Tirai Bambu yang peternakannya terbakar. Malang memang tapi dia mencium aroma ayam terbakar yang sedap. Maka ada ayam bakar. Dan dipikir-pikir lebih praktis bila dibakar menggunakan tusukan bambu. Selain mudah dimakan.

Atau mungkin Anda tahu asal mula sate menurut orang lain atau Anda sendiri?

Sumir

Saya mengerutkan dahi kala membaca artikel Pembangunan Pabrik Nokia di Indonesia Masih Sumir. Bukan, bukan karena isi beritanya. Tapi istilah ‘sumir’ yang saya lupa maknanya.

Setelah menelusuri artikel tersebut barulah saya mendapati bahwa ‘sumir’ berarti ‘tak jelas’. Ditilik dari etimologi, saya belum ngeh bagaimana kata ini selayaknya dipakai dalam konteks sehari-hari.

Terlintas di benak contoh kalimat yang menggunakan kata ‘sumir’. “Saya merasa kata ‘sumir’ masih sumir penggunaannya.”

Anda masih merasa sumir? Tak mengapa. Toh, kata ‘sumir’ juga belum tercantum di deretan kata berawalan ‘s’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia Online. Mungkin memang status ‘sumir’ masih sumir.

Sumir, oh, sumir…

Penyebutan Nama Presiden

Pernah kita mengalami era di mana warga negara memanggil presidennya dengan “Ibu Presiden”. Sesuatu yang khas dibanding “Bapak Presiden”. Maklum, presidennya berjenis kelamin wanita dan ibu-ibu. Lucu kalau masih mbak-mbak. Mbak Presiden?

Tentu kita juga sudah familiar menyebut nama presiden dengan akronim seperti “Bapak SBY” atau “Presiden SBY”. Andai saja Jusuf Kalla keluar sebagai pemenang, mungkin bisa disebut “Presiden JK”.

Baru saja terlintas apa jadinya bila Sri Sultan menjadi presiden. Bagaimana menyebut dan menuliskannya? “Bapak Sri Sultan”, “Presiden Sri Sultan”, “Presiden Sri Sultan Hamengku Buwono X ” atau mungkin nama asli Sri Sultan. Adakah yang tahu?

Ini dilematis karena mengapa harus memanggilnya dengan embel-embel “presiden” bila bisa menyebutnya dengan lebih praktis “sultan”. Hanya saja ini membingungkan karena negeri kita dipimpin oleh seorang presiden atau sultan. Republik atau kerajaan. Jadi, mungkin lebih baik jika Sri Sultan tak perlu menjadi presiden agar tak repot memikirkan penyebutan namanya.

Negeri ini memang pencinta akronim. Dari nama jalan hingga nama departemen pemerintahan. Tak luput penamaan presiden. Mari kita lihat saja penyebutan presiden masa depan negeri ini. Menarik, kan?