Trio Detektif dan San Francicso

Pernah baca serial buku detektif berjudul Trio Detektif? Mungkin pembaca sekalian ada yang pernah menikmati kisah-kisah misteri yang dilakoni oleh Jupiter, Pete dan Bob. Mungkin bagi generasi lama masih sedikit mengingatnya. Termasuk saya.

Buku tersebut teramat sering menyebutkan San Francisco sebatai latar belakangnya. Maklumlah, markas detektif mereka di sebuah karavan tua yang tersembunyi di antara barang-barang bekas terletak di suatu tempat di San Francisco.

Serial buku tersebut merupakan salah satu bacaan favorit saya. Ada memori tersendiri. Dan sangat berkesan kala saya mengujungi kota yang pernah dilanda gempa dan kebakaran yang teramat dahsyat. Ya, Golden Gate berdiri dengan kokoh di sana.

Suatu pengalaman unik kala kita mengunjungi suatu tempat yang tertera dalam suatu buku atau film. Membuktikan dengan mata kepala sendiri.

Bagi Anda yang suka cerita detektif, saya merekomendasikan Trio Detektif untuk Anda nikmati. Teramat bagus untuk dilewatkan.

Ghostwriter

Pernah saya baca suatu kali ulasan menarik tentang ghostwriter di majalah perbukuan Matabaca (sayang, situsnya menghilang). Menarik. Bahwasannya, ada dunia tersendiri yang berisi para penulis yang merealisasikan ide orang lain.

Ghostwriter bukan sekedar tukang ketik para penulis yang tidak cukup waktu atau kurang mampu menulis. Mereka ini mengkomunikasikan ide seseorang hingga menjadi terbit menjadi buku. Siap untuk dikonsumsi para pembaca. Seorang intelektual perbukuan yang tidak terkenal.

Memang nama mereka tak akan tercantum di buku yang mereka buat. Maklumlah, mereka bekerja di belakang layar. Bisa diperumpamakan, seperti membangun rumah. Ada arsitektur dan kontraktor. Arsitektur punya ide, kontraktor memiliki kemampuan mewujudkan yang abstrak menjadi nyata.

Salah satu ghostwriter Indonesia yang saya ketahui (hasil dari blogwalking) adalah Merry Magdalena. Meskipun dia juga aktif menulis ide-ide pribadinya. Kebetulan dia memiliki blog (sebagai tempat promosinya) berjudul Merry Magdalena’s Writing Projects.

Bagi Anda para penulis, profesi unik nan langka ini rasanya pantas untuk dipelajari dan didalami. Menjadi tempat berkarya sekaligus mencari sesuap nasi. Seorang penulis yang bekerja di belakang layar.

Perpustakaan

Terus terang saya adalah pembaca buku. Oleh karena itu tak heran bila saya menyukai perpustakaan.

Saya masih ingat dengan perpustakaan sekolah sewaktu saya masih SMP, SMU dan kuliah. Bersih, tertata dengan rapi dan koleksi bukunya cukup banyak. Sebaliknya, saya tak pernah menemukan kenyamanan membaca di perpustakaan daerah di kota kelahiran saya, Yogyakarta.

Beruntung di dekat apartemen saya yang baru, di Singapura, terdapat perpustakaan umum yang dapat diakses dengan mudah oleh siapa saja. Memang untuk pinjam tidaklah gratis. Tapi tidaklah mahal, lumayan terjangkau. Bila sore, ternyata jumlah pengunjungnya cukup banyak. Dari yang muda belia sampai yang sudah uzur.

Rupanya pemerintah lokal cukup menyadari arti penting sebuah perpustakaan. Tak lain adalah untuk mengisi otak penduduknya dengan informasi berguna. Syukur-syukur, tambah pintar dan lebih produktif.

Tak bermaksud membandingkan. Hanya saja saya bermimpi bahwa di provinsi atau kabupaten saya nanti ada perpustakaan yang memintarkan komunitasnya. Semoga…

Melanglang Buana

Apakah Anda puas dengan hidup Anda yang sekarang? Bagaimana bila Anda terperangkap dalam hidup yang rutin selama belasan tahun, bahkan puluhan tahun? Pernahkah merasakan rasanya melanglang buana? Apakah hidup Anda sudah penuh dengan petualangan? Pilih mana, kenyamanan dan rasa aman atau perjalanan yang mendebarkan?

Itulah pertanyaan demi pertanyaan kala membaca buku terjemahan karangan Peter O’Connor dari negeri Kangguru yang berjudul When Tommorow Comes (Gerhana Terakhir) dan Seeking Daylight’s End (Mengejar Matahari) yang dibundel dalam satu buku terbitan Gramedia Pustaka Umum.

Di cerita pertama, tentang Talan seeokor Elang yang mengarungi daratan dan pegunungan untuk melihat matahari terbenam di ujung samdra. Bisakah dia menemukannya kendati harus menghadapi resiko yang sedemikian besar? Menyentuh. Membuat orang untuk segera meninggalkan cara hidup yang kurang ‘hidup’.

Cerita kedua bercerita tentang cucu dan kakeknya menjelajahi daratan Australia untuk melihat gerhana yang hanya terjadi untuk beberapa tahun sekali. Gerhana yang spesial karena mungkin adalah gerhana terakhir untuk Sang Kakek. Apakah si tua renta dapat melihat yang ingin dilihatnya?

Dua buku yang bila diresapi dan menjadi pegangan hidup, bisa jadi, membuat kita bernyanyi “My Way” dari Frank Sinatra dengan lantang di akhir hidup kita. Bukannya merepet lagu “If I Only Have Time”.

Siapkah Anda untuk mengubah hidup? Momennya juga tepat, Tahun Baru 2007! Bisa dicoba siapa tahu Anda akan memulai petualangan Anda…