Menghargai Komentator pada Blog
Pernah menonton pertandingan di televisi tanpa komentator? Rasanya jarang atau tak ada. Tanpa komentator sebuah pertandingan akan terasa kurang. Tanpa dukungan, kurang menggigit dan miskin kontroversi dan informasi tambahan.
Bagaimana dengan blog tanpa komentar yang mendarat di postingan? Rasanya pasti seperti sayur tanpa garam, kopi tanpa kafein atau kue pia tanpa wijen.
Komentar merupakan bagian dari sebuah percakapan dua arah. Sebuah bentuk dialog antara penulis blog dan pembacanya. Isinya boleh jadi pujian, dukungan, sanggahan, kritik, ketidaksetujuan atau pun hanya sapaan ramah.
Komentar akan lebih afdol bila dibalas oleh si empunya pemilik blog yang bersangkutan. Ada tanya dan jawab. Ada diskusi. Ada pula pengujian atas opini, teori atau pandangan hingga menemukan titik paling terang. Sebuah wacana yang diciptakan bersama.
Tentu, tak semua komentar harus dibalas karena keterbatasan waktu atau memang tak perlu dijawab karena satu dan banyak hal. Tergantung pemiliknya. Bahkan, menggunakan moderator pun disarankan agar komentar berbau komersial, spam dan tak pada tempatnya bisa sirna dan tidak mengganggu keasyikan ‘perbincangan’ dalam sebuah artikel.
Blog Hanna merupakan salah satu blog yang sungguh menghargai para komentator yang singgah di blognya. Pemilik blog ini benar-benar memposisikan para pembaca setia sebagai orang-orang yang turut membantu meningkatkan kemampuan menulis sang pemilik blog. Baik dengan jalan merespon artikel, memberi dukungan atau pun secara sukarela menyebarluaskan artikel di blog tersebut.
Coba lihat artikelnya berjudul Sebuah Retrospeksi Akhir 2007 di mana dia menyebutkan para komentator, yang jumlahnya banyak, satu per satu. Tentu butuh waktu untuk membaca dan mendaftar para komentator itu.
Blog yang menghargai komentar tentu akan mendapat apresiasi di pikiran dan di hati para pembacanya. Keduanya berkembang bersama mewarnai blogosphere yang makin lama makin ramai dan beragam.
Mari berkomentar sekaligus menanggapi komentar secara baik, sopan, bermakna dan tulus.
Wedang Ronde
Minuman itu bernama Ronde. Kata ‘wedang‘ berarti ‘suguhan berupa minuman’. ‘Ronde’ tak ada kesamaannya dengan ronde seperti dalam olahraga bertinju. Saya rindu dengan minuman tradisional sederhana namun sedap menghangatkan tubuh tersebut.
Seseorang yang tinggal di ibukota mengingatkan saya sajian khas Yogya tersebut. Mengapa harus menyebutnya. Hal itu hanya menambah kerinduan saya yang makin besar untuk pulang kampung menjelang tahun baru nanti. Ya, tinggal menghitung hari.
Sudah pernah minum wedang ronde? Wedang itu berasal dari seduhan air dari ekstrak jahe parutan. Ada kacang sangrai yang mengambang siap untuk disendok sedikit demi sedikit. Di dasar cangkir ada 2 atau 3 bola kecil berwarna putih. Manis terasa karena ada gula jawanya. Minumlah pelan-pelan karena panas adanya. Sembari menunggu, itulah saat yang pas untuk berbincang ngalor-ngidul (baca: dari Utara sampai Selatan alias kemana-mana).
Masih penasaran seperti apa atau cara membuat wedang ronde itu? Coba lihat di wedang ronde 1, wedang ronde 2 dan wedang ronde 3. Ada artikel menarik menyoal wedang ronde di Alun-alun Kidul Yogyakarta dari YogYes. Saya sendiri biasanya menikmati wedang itu di terminal Condong Catur. Tepatnya bersebelahan dengan warung bakmi dan penjual Gudeg. Posisinya di bagian Utara terminal itu. Buka dari sore hari hingga malam hari.
Apakah ada yang tahu di mana tempat menyesap wedang ronde yang asyik di pelosok kota Gudeg? Katanya ada yang di Kauman. Ada juga yang lain. Bila tahu, tak perlu sungkan menuliskannya di bagian komentar. Soalnya, saya ingin bernostalji sambil menyeruput wedang itu.
Kalau sudah menikmati wedang itu biasanya Anda lupa waktu. Anda bisa bertanya kepada rekan berbincang Anda, “Omong-omong sudah berapa ronde kita minum wedang ronde?” Bila masih suka, tambahlah seronde wedang ronde. Murah dan menghilangkan lelah dan gerah di hati. Saya jamin.
Gelisah Tentang Masa Depan
Semua orang pastilah pernah suatu saat gelisah tentang masa depannya. Apalagi pada saat momen seperti menjelang tahun baru. Tahun baru apakah ada yang baru? Atau malah masih sama seperti dulu dan dulu-dulu?
Kegelisahan seperti ini memang menjengkelkan. Makan tak enak, tidur tak nyenyak dan berpikir pun rasanya tak bijak. Semua berputar pada awang-awang tentang apa yang akan terjadi di masa depan? Kata ‘seandainya’, ‘semoga’ dan ‘kalau-kalau’ selalu menghantui benak.
Apalagi dengan teman, keluarga dan handai-taulan yang terus-menerus meneror dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana dan membosankan yang terasa mengiris. Tentu Anda tahu kan jenis-jenis pertanyaan tersebut. Tak perlu disebutkan, semua orang juga tahu.
Namun, bila ada gelisah, patutlah disyukuri. Tanda bahwa kita tak hendak berjalan di tempat. Tak hendak mandeg dalam kehidupan ini. Ingin berkembang, maju dan mencapai tingkatan baru pemaknaan hidup.
Nikmatilah gelisah itu. Justru gelisah itu seperti ‘jam beker’ yang nyaring membangunkan jiwa dan raga. Lihat, waktu terus berjalan. Tak baik bila kita terus seperti ini. Harus segera menentukan langkah berikutnya sekaligus memulai langkah itu. Mengubah keadaan pun tak perlu menunggu jelang tahun baru. Setiap saat pun bisa. Ya, rasa gelisah itu mengingatkan untuk tak terlena.
Bila gelisah itu telah tiada dan tak terasa, berarti jiwa Anda sudah mati rasa. Lalu, tak ubahnya tanaman yang ada tapi tiada. Justru itu yang paling menggelisahkan. Saat tak ada lagi rasa gelisah yang menyesakkan dada. Syukurilah bahwa ada masih ada rasa gelisah.
Menyapa
Manusia jaman sekarang sungguh beruntung. Peralatan komunikasi tersedia dan relatif terjangkau hingga berkomunikasi pun makin mudah, baik dekat atau pun jauh. Chatting di YM, ketik SMS, tulis surat atau pun angkat telpon. Makin mudah dan makin murah.
Namun boleh dikata manusia makin kehilangan kesempatan bersilaturahmi. Entah karena kesibukan melanda, malas menyapa atau pun sekadar terlupa. Masih beruntung kala manusia diingatkan untuk bertukar-sapa saat Lebaran, Natal, pernikahan teman atau pun kematian seseorang.
Sapaan menjadi hal yang makin jarang didapatkan. Menyapa terlebih dahulu pun kadang malas karena yang disapa toh kerap sibuk atau tanggapannya kurang gimana gitu. Lalu, sapa-menyapa menjadi makin jarang hingga tak disadari teman menjadi rikuh menyapa temannya, keluarga sendiri kikuk saat bertemu dengan anggota keluarga lainnya. Bahkan, sebuah relasi yang dulunya hangat bisa hilang tak berbekas.
Dan sore ini di Negeri Merlion, saya usahakan untuk menyapa lewat telepon beberapa teman dan keluarga di tanah air. Ada yang ceria meski didera kesibukan, ada beberapa yang sakit (terdengar dari suara sengau sakit flu atau tenggorokan dan ketiga-tiganya tinggal di Jakarta) dan ada pula yang sedang mendamba kekasih hati. Saya rindu sekaligus senang mendengar suara-suara mereka. Suara yang lebih merdu dibanding lagu yang terindah sekalipun. Termasuk yang suaranya serak karena tenggorokannya baru meradang.
Bukannya telepon internasional itu tarifnya tidak murah? Benar. Namun, tidaklah semahal saat kehilangan handai taulan hanya karena jarang menyapa mereka. Tak ternilai harganya. Segeralah menyapa sebelum terlambat. Apa sih susahnya bilang ‘Hi!’, ‘I Miss You‘ atau ‘Piye kabare, dab?’
Undress for Success?
Setahu saya dulu ada ungkapan Dress for Success. Bukankah kesan yang ditimbulkan penampilan bisa mengubah persepsi. Syukur-syukur meningkatkan peruntungan. Bahkan, Roxette pun menyanyikan tembang Dressed For Success.
Coba bayangkan bila Anda memakai celana belel pendek dengan kaos bau yang kusam kucel untuk menghadapi wawancara kerja. Belum sampai pintu gerbang, pasti satpam segera bertindak. Beda dengan tampilan yang menawan a la Ally McBeal. Terkesan profesional. Kepercayaan pun timbul dengan sendirinya.
Beda dulu dengan sekarang. Sudah berganti dengan Undress for Success rupanya. Di jaman yang serba narsis dan eksibisionis di waktu yang sama dengan budaya hiper-konsumtif, seseorang cukup mengandalkan wajah dan tubuh ala kadarnya lalu bertelanjang di depan media bernama internet atau televisi. Sedikit bumbu skandal atau kontroversi maka nama pun terkenal. Entah itu nama baik atau jelek.
Contohnya pun banyak, semisal Miyabi, Tila Tequila dan Paris Hilton. Makin sedikit kain tersisa, makin meroket nama mereka. Dunia pun menyanjungnya sekaligus mengutuk mereka. Toh, popularitas berarti juga peningkatan order. Itu yang dikenal dunia. Padahal masih banyak mereka yang lebih muda yang jumlahnya berjibun rela tanpa malu-malu mempertontonkan kemaluan.
Untuk sukses Anda bisa memilih berbaju atau tak berbaju. Pilihan selalu di tangan Anda. Pengecualian tidak berlaku untuk atlet binaragawan berprestasi seperti Ade Rai.
About Me dan Alias
Sebagai seorang blogger, ada pilihan untuk mencantumkan identitas diri dengan jelas atau hanya sekedar memakai alias (baca: pseudonym) di bagian halaman About Me. Pilihan bebas tanpa paksaan. Ada untung dan ada rugi. Yang pasti kebebasan mengutarakan pendapat dan mencurahkan perasaan haruslah terpenuhi.
Saat blogger memilih menyuratkan keterangan diri bahwa ‘inilah saya pemilik blog ini’ maka dipastikan blog ini memiliki nilai tersendiri dari segi validitas. Syukur-syukur kalau memang orangnya dikenal publik. Meski blog tidak harus selalu terkait dengan kehidupan nyata pemiliknya, tapi tak dipungkiri blog selalu dikait-kaitkan dengan si empunya blog oleh publik secara luas.
Salut untuk blog-blog ini Hanna, Muhshodiq, Budi Rahardjo, Priandoyo, Rovicky, Fira, Evelynpy, Asnugroho dan Dewo yang secara jelas menyebut jati diri mereka. Padahal sejak jamannya Friendster, sudah menjadi tren untuk memakai alias. Rupanya para blogger ini lebih bangga bila bisa mempertanggungjawabkan tulisan mereka. Acungan jempol untuk mereka.
Sebaliknya, banyak yang secara sadar memilih alias. Bukan, bukan kedok atau topeng naif yang munafik. Tidak selalu. Mungkin karena dengan alias seseorang bisa menulis tanpa batasan, tanpa sekat dan tanpa kerepotan menjaga nama. Seperti halnya seorang penulis yang juga dosen dengan nama alias Lewis Carroll yang menulis Alice’s Adventures in Wonderland.
Banyak blogger berasal dari wartawan suratkabar, dosen, pengusaha atau pun bekerja di profesi yang rawan konflik kepentingan. Ruang gerak mereka akan terbatasi untuk berkreasi bila harus memajang jati diri. Ada etika di dunia nyata yang mengharuskan mereka mafhum untuk memakai nama alias. Pernah mendengar blogger yang juga politisi? Seyogyanya kita bersama bisa memahami pilihan ini. Hormati keputusan itu.
Bagaimana pun, identitas yang berlaku di dunia maya tentulah identitas maya. Bisa dikaitkan dengan identitas di dunia nyata bila itu yang dikehendaki. Bisa juga berupa alter ego sebagai pemenuhan ruang jiwa. Asal bisa ikut mewarnai dan meramaikan blogosphere, kita sepakat untuk menerimanya sebagai sesama warga di ranah maya. Tentu dengan mengikuti etika dan peraturan blogosphere yang berlaku dan tidak neko-neko.
Mari bersama mengisi lembaran masing-masing dan biarkan pembaca menikmati kata-kata tanpa prasangka. Juga saling mengunjungi dan berkomentar dengan benar. Bukankah lebih baik bila pengguna internet lebih memilih bacaan di blog kita daripada memelototi gambar Miyabi tanpa busana.
Kawin itu Tidak Mudah
Bukan, bukan nikah yang saya maksudkan. Sungguh-sungguh saya hendak menyoal tentang kawin. Dengan kata lain menyoal aktivitas ‘gituan‘. Masak Anda masih bingung juga.
Mungkin sebagian besar dari Anda berpikir bahwa untuk melakukan hubungan intim itu perkara mudah. Buka baju dan langsung melesat ke surga dunia. Benarkah begitu mudahnya? Ternyata tidak. Ada banyak faktor yang membuatnya relatif rumit.
Faktor fisik. Bila Anda terlalu capai karena bekerja hingga larut malam setelah seharian membanting tulang memeras keringat, apakah masih ingin membakar kalori setara dengan jogging di malam harinya? Itu pun jika Anda tak punya embel-embel penyakit gula, jantung atau ginjal. Terlebih yang memiliki kasus impotensi atau frigiditas.
Faktor psikologis. Saat stres dan persoalan pribadi, kantor dan sosial Anda sedang ruwet-ruwetnya apakah cukup nyaman menyalurkan hasrat bercinta? Apalagi bila ditambahi dengan penyakit mental kronis karena depresi.
Faktor relijius dan moral. Bertemu orang lalu langsung ‘main ranjang’. Rasanya tidak semua orang melakukan apa yang bisa kita lihat di Sex and the City. Itu lho serial yang ada adegan ‘kumpul kebo’. Sebagian orang masih menganut prosesi agama dan kesepakatan tradisi. Yang sakral dan yang legal.
Faktor finansial. Memang ada hubungannya antara ngeseks dan uang? Satu tetangga saya rasanya tak punya cukup uang untuk membeli ‘latex pelindung’ bernama kondom. Alhasil, saban tahun anaknya bertambah. Bahkan, orang yang suka ‘jajan‘ pun perlu uang untuk mendapatkan pelepasan nafsunya.
Faktor wawasan. Tidak semua pasangan mengalami orgasme. Mungkin sama-sama tidak punya ‘kecerdasan seksual’ atau SQ – Sex Quotient. Tahunya ya sekedar masuk-keluar-selesai. Tak ada seni sama sekali. Atau malah yang aneh-aneh seperti di film bokep tapi hasilnya patah tulang. Coba bayangkan adegan ‘monyet naik pohon’ tapi pohonnya ambruk karena tak kuat menahan monyet yang celakanya obesitas.
Faktor keamanan. Pernah membayangkan bagaimana kawin di tempat pengungsian karena bencana alam atau situasi huru-hara padahal tinggal sama-sama dengan puluhan orang di satu tenda? Begitu pula dengan tinggal di Rumah Mertua Indah yang dindingnya teramat tipis dan mampu menghantarkan suara rintihan tertahan dan desahan? Apalagi yang coba-coba ‘gituan’ di tempat kos-kosan yang rawan razia warga dan resiko diarak bugil.
Jadi jangan dipikir kawin itu mudah. Ada sih yang bilang Just Do It dan ga usah pake mikir. Mungkin itu pula yang membuat gelar ‘MBA’ sekarang ini makin mudah didapat anak-anak tanggung usia bangku SMU atau kuliahan.
Perkara kawin-mawin memang tidak semudah kala manusia belum berevolusi. Saat masih dikategorikan sebagai mamalia primata yang bertulang belakang. Dulu, begitu ada hasrat bisa asal tubruk. Kalau sekarang mungkin asal tubruk bisa membuat Anda masuk penjara atau dipukuli oleh massa.
Ular-ular
Ini bukan ular jadi-jadian. Begitu juga, bukan kata jamak dari satu kata ‘ular’. Tapi ‘ular-ular’, yang merupakan kosakata dari bahasa Jawa, berarti petuah dari orangtua, yang dituakan dan memang sudah tua. Petuah untuk yang menikah saat hari pernikahan. Biasanya disampaikan dalam bahasa Jawa.
Orangtua tersebut mengawali petuah dengan berkata, “Hai, mempelai laki-laki dan mempelai wanita. Dengarkan petuah ini agar kalian cepat memperoleh anak.” Kedua mempelai mendengarkan dengan seksama. Maklum, masih ada tuntutan sosial dari keluarga besar dan masyarakat agar mereka punya momongan segera setelah menikah.
Petuah tersebut lebih kurang seperti ini. “Menikah itu seperti burung dan sarangnya. Burung bentuknya panjang dan berbulu. Sarang juga penuh bulu (karena secara logika tempat tinggal burung, tentu ada bulu burung yang rontok di sarang itu). Kalau malam hari, burung mengantuk. Burung harus tidur di tempat hangat supaya tidak masuk angin. Jadi pegang burung itu dengan lembut. Lalu, masukkan pelan-pelan ke sarangnya. Begitu! Kalian paham?”
Dua-duanya mengangguk meski tak paham benar. Bingung kelihatannya. Maklum, mereka berasal dari dan tinggal di desa terpencil yang tak mengenal televisi. Apalagi buku stensilan dan film biru. Bukan layar biru seperti kalau MS Windows sedang hang.
Sembilan bulan kemudian mereka memiliki momongan. Bisa diasumsikan petuah tersebut akhirnya dipahami kedua mempelai. Lalu, diimplementasikan. Atau, bisa jadi, dorongan alam, sedikit nekat, coba-coba dan dipadu dengan sejenis insting;ah yang membuat mereka punya anak tanpa sedikit pun memahami petuah itu.
Bahasa ilmiah secara Inggrisnya, automatically auto-skill enabled different tools that continuously run in random movement and instinctively generated insertion-by lubrication-avoiding friction process due active/passive stimulation though even without clear abstract context in pre-eliminary stage of the increasing testosteron and progesteron level from normal standard. Note, those tools should be de-attached after a period of time and the appearance of some symptoms.
Bingung? Ngga, kita ngga ngomongin tentang robot atau mesin pabrik. Tapi peristiwa the genesis of first procreation. Singkatnya, ‘kejadian di saat pertama proses kawin’. Tetep ga ngerti? Mangkanya, dengar baik-baik petuah orangtua. Jangan asal manggut-manggut!
Postingan kali ini diperuntukkan dan dipersembahkan untuk yang masih lugu, malu-malu tapi belagu wagu.
Gadis dan Jaka
Gadis masih gadis kala dia berpacaran dengan Jaka yang masih perjaka. Dibaca ‘joko‘ dalam bahasa Jawa. Masih sama-sama muda. Dua-duanya baru pertama kali merasakan cinta jadi bisa disebut sebagai ‘perawan hati’. Meski memang sekaligus masih perawan. Inggrisnya ‘virgin‘.
Dua-duanya belum merasakan ‘kenikmatan surgawi yang datang ke bumi dan hadir dalam hitungan belasan menit’. Meski sekilas tapi bisa terjadi tiap kali dikehendaki dan berkali-kali. Itu pun ditambahi rasa geli yang membuat bulu berdiri. Begitu kata orangtua.
Suatu hari Gadis menikah dengan Jaka. Seperti tradisi dan juga basic instinct pada Malam Pertama, mereka pun kawin-mawin. Dua menjadi satu. Seperti satu set sendok dan garpu tapi lengket dan menyatu. Ga penting Anda berpikir ‘juga ada lengket-lengketnya’.
Namun anehnya. Gadis masih dipanggil ‘gadis’ padahal sudah tak gadis. Kegadisannya sudah pasrah diserahkan kepada Jaka. Begitu pula, Jaka masih disebut ‘jaka’ padahal sudah tak lagi perjaka. Keperjakaannya sudah dinikmati Gadis.
Dua anak mereka punya sekarang. Kembar. Satu perempuan dan satunya laki-laki. Yang perempuan dinamai Fera. Ucapan Sunda-nya ‘pera’. Sedangkan yang laki-laki bernama Awan. Kalau malas menyebut satu-persatu, Gadis dan Jaka, yang memang beraksen Sunda, sering memanggil mereka sekaligus dengan menyingkatnya, “Pera.. Wan, sini dong! Udah saatnya bobok. Ntar digigit nyamuk kalau ga bobok.”
Gak usah ketawa kalau tidak lucu. “Puas? Puas? Puas?”, cerocos si Tukul. Namanya juga postingan intermezzo.
Di Pertigaan Jalan
Coba bayangkan Anda sedang mengendarai motor dan tiba di pertigaan jalan. Pilihannya dua. Kanan atau kiri. Memang mundur juga bisa. Tapi itu tidak natural kecuali dua jalan di depan macet total. Menyerah dengan memundurkan mobil.
Situasi berada di pertigaan juga sering dialami orang kala jatuh cinta pada dua orang sekaligus. Apalagi bila tidak ada kepastian dan ada ragu yang menyelimuti. Mungkin Sang Khalik kebanyakan memberi karena orang tersebut terlalu banyak berdoa minta pacar. Kelebihan satu memang membuat sedikit runyam. Pengecualian untuk Aa Gym. Namanya juga berkah, pantang euy kalau jadi mubazir.
Coba imajinasikan seorang lelaki mencintai dua gadis sekaligus. Bingung mau pilih mana. Tentu dua gadis ini protes dan sama-sama bertanya pertanyaan yang mengharuskan jawaban, “Loe, pilih gua atau dia?!”
Dua-duanya minta agar si lelaki memilih satu saja dari mereka. Bukan dua sekaligus karena mereka sama-sama anti-poligami. Si lelaki pun bingung dan hanya bisa menjawab, “Aku sayang kamu. Sungguh kamu yang kudamba. Tapi dia masih di dalam hatiku. Tak bisa melupakannya begitu saja dengan tiba-tiba.”
Dua gadis tersebut serempak memaki sembari meluapkan rasa marah, “Basi banget loe!” Yang satu menampar pipi kiri, satunya menampar pipi kanan. Bersamaan pula. Pas, kan? Lalu, mereka sama-sama membuang muka dan bergegas meninggalkan Si lelaki. Si lelaki hanya bisa gigit jari.
Memang susah pilih kanan atau kiri. Pilih yang satu atau satunya lagi. Namanya juga perasaan. Memilih juga bukan perkara mudah. Tapi bukankah dua gadis tersebut juga punya perasaan. Ketiga-tiganya kan sama-sama manusia yang punya hati. Jadi?
Keputusan ada di tanganmu. Oh maaf, bukan Anda. Maksudnya merujuk si lelaki yang mendua hati tersebut. Kecuali bila memang Anda pernah/sedang mengalami hal serupa. Bukan menuduh. Hanya sekedar bertanya.