MacBook Air
Setelah menanti cukup lama, akhirnya bisa juga memboyong MacBook Air. Maklum, harus menunggu tabungan cukup untuk melego laptop besutan Apple yang tipis dan ramping ini.
Kesan pertama begitu menggoda. Layar 13 inci terasa lega. Papan kunci juga lembut dan enak ditekan saat mengetik. Trackpad yang makin luas menambah mudah jari untuk bermanuver dan menjelajah layarnya.
Fitur yang paling saya suka adalah instant-on. Begitu membuka tutupnya, langsung siap digunakan. Tinggal tutup untuk membuatnya tidur. Persis seperti iPhone yang siap dipakai sewaktu-waktu tanpa harus menunggu waktu startp-up seperti Windows PC yang lama.
Prosesor juga memorinya bekerja dengan cepat. Lebih cepat karena arsitektur yang lebih canggih dan disertai OS X Snow Leopard yang bisa mendongkrak kecepatan kerja perangkat lunak. Pun baterainya cukup memadai dan bisa diisi kembali dengan cukup cepat.
Hanya ada satu hal yang disayangkan. Belum ada case yang dijual di pasaran. MacBook Air terpaksa telanjang untuk sementara.
Tak Sekedar Logo Apple
Artikel bertajuk Microsoft: Logo Apple Kemahalan rupanya mengusik pikiran saya sebagai pemakai Apple. Memang benar bahwa secara hardware harga komputer Apple lebih mahal sedikit daripada hardware manufaktur komputer lainnya.
Hanya saja bedanya terletak pada optimalisasi hardware yang dipadu-padan dengan kehandalan sistem operasi Mac OS X yang terbukti ketangguhannya. Mudah digunakan lagi karena memakai user-interface yang intuitif. Tak mudah crash dan hang seperti Windows, terlebih versi Vista yang membuat frustasi pemakainya.
Komponen komputer Apple, baik hardware, sistem operasi maupun software dipikirkan secara seksama. Hasilnya berupa mesin komputasi yang solid. Menyatu secara sempurna. Memakainya pun menjadi suatu pengalaman yang menyenangkan.
Ada harga, ada kualitas. Harganya memang pantas. Jadi, tak benar bila dibilang kemahalan. Daripada murah tapi selalu kena virus dan mengganggu pekerjaan karena sering ngadat.
Catatan. Mungkin postingan ini tak netral karena saya termasuk pengagum produk Apple.
Dendam Kesumat dan Komputer
Saya terkejut mana kala mendapati seorang penulis buku yang membilang bahwa dendam bisa menjadi pendorong yang amat kuat bagi seseorang untuk meraih apa yang diingininya. Entah itu kesuksesan, keberhasilan atau pun hanya sekedar barang. Tak setuju saya dengan keyakinan seperti itu. Hanya saja, mau tak mau saya justru mengamininya. Sepakat dengan ide itu.
Mengapa? Coba ingat-ingat kembali film yang menampilkan pahlawan tangguh Bruce Lee dan Jet Li. Biasanya sang pelakon kalah duluan secara memalukan. Kemudian tertantang untuk mengalahkan lawan bebuyutannya. Di akhir cerita, menjadi pemenang.
Setali tiga uang dengan kebanyakan generasi orang tua kita. Hidup mereka dulu susah, makan pun tak mudah. Oleh karena secara finansial sekarang lebih baik, tentu setelah perjuangan yang melelahkan dan disertai pengalaman membanting tulang memeras keringat, banyak yang membalaskan dendam susah makan dengan mengasup sajian yang menggoyang lidah. Terkadang kebablasan. Kolesterol naik, kadar gula kelewat batas atau pun divonis harus melakukan diet khusus agar jantung atau liver tak lagi rewel.
Begitu pula dengan saya. Ada dendam yang berkaitan dengan komputer. Dulu, dulu sekali, rasanya susah sekali menggunakan komputer. Membuat skripsi di rentalan komputer, meminjam komputer yang tak boleh diutak-atik hingga membelenggu kreativitas atau pun berbagi fasilitas komputer umum yang berarti berbagi virus.
Dendam terbalaskan sudah kala saya berhasil memboyong Macbook dua tahun lalu, laptop yang selalu saya kagumi tiap kali menyambangi pameran komputer. Soalnya dalam pikiran saya, pokoknya kalau punya uang harus beli komputer paling baik.
Puas? Ternyata belum. Mata saya masih saja sibuk menatapi netbook-netbook yang dipamerkan. Ah, manusia… Dendam rupanya membuat saya buta kala menatap komputer yang bentuk dan ukurannya beraneka-ragam. Entah itu dekstop, notebook, laptop dan netbook.
Rupanya, dendam karena tak punya komputer membuat saya belum berhenti menginginkan komputer yang lebih baik dari yang saya punyai saat ini.
Mencicipi iTunes 8
Seperti biasa, Apple menggelar hajatan untuk memperkenalkan produk-produk terbarunya. Salah satunya adalah iTunes 8 yang sedang saya unduh saat ini.
Saya penasaran untuk mencicipi iTunes terbaru ini. Ingin tahu apa saja kelebihan dan peningkatan yang ada dalam perangkat lunak pemutar multimedia tersebut. Menurut rumor ada perubahan yang signifikan.
Tak sabar saya untuk segera memainkannya segera setelah kelar mengunduhnya. Bagaimana dengan Anda, apakah sudah menjajalnya? Baguskah menurut Anda?
Xobni, ClearContext dan Outlook
Pemakaian Outlook sebagai email client merupakan hal yang jamak. Begitu juga dengan berbagai permasalahan klasik seperti susahnya menemukan pesan email lama, repot menangani jumlah pesan email yang luar biasa banyak dan mengatur aliran pesan email yang datang.
Sebenarnya tak jadi soal bila pemakai Outlook mengorganisasikan emailnya dengan baik dan tak terlalu banyak menerima email. Tapi pada kenyataannya, sebagian besar pemakai malas melakukan pengaturan dan asal-asalan memakai Outlook.
Alhasil, kebingungan melanda. Terlalu banyak pesan email dalam satu inbox dan kandar yang tak teratur. Oleh karena itu, perlu ada solusi untuk memudahkan pengaturan email. Dua perangkat lunak Xobni dan ClearContext berusaha memberikan solusinya.
Saya sudah menginstal dan mempergunakan Xobni di Outlook saya. Praktis, mudah digunakan dan intuitif. Saya pun merekomdasikan Anda untuk memakainya. Tentu saja, kehati-hatian masih diperlukan karena Xobni masih dalam tahap pengembangan. Resiko tentu ditanggung sendiri.
Untuk ClearContext, saya belum mencobanya. Saat melihat video demonya, saya merasa ragu memakainya. Kurang praktis kelihatannya. Tapi karena saya belum mencobanya, saya tak bisa menakar bagaimana performance ClearContext.
Selera tergantung Anda untuk memilih Xobni atau ClearContext. Mungkin juga memilih untuk tak memakainya. Namun satu hal yang penting adalah coba untuk rajin mengatur dan bersih-bersih email Anda di Outlook. Toh, kebanyakan pesan sudah tak relevan dan menyampah.
Tags: xobni, clearcontext, outlook, mail
Peluncuran Asus Eee Box
Jumat lalu saya mengunjungi stand peluncuran produk terbaru Asus, yang berlokasi di Suntec – Singapura, yang berupa PC berbentuk imut. Sepintas mirip Mac mini, hanya lebih tipis. Produk anyar tersebut dinamai Asus Eee Box. Tentu saja, langsung saya menjajal kemampuannya.
Harganya dibanderol SGD 439. Lebih kurang 3 juta, hadir tanpa monitor, hanya PC semata beserta tambahan aksesoris saat promosi. Lumayan untuk sebuah CPU dengan memori 1GB, harddisk 80GB, WiFi 802.11n dan Intel Atom N270 (1,6 GHz) yang membuatnya mungil. Serta Windows XP Home yang sudah dipasang di dalamnya.
Tentu saja, produk ini tak hadir dengan CD-ROM. Memang tak diperuntukkan untuk power-user. Lebih diperuntukkan untuk komputer klien yang tak membutuhkan daya dan kapasitas besar. Sesuai untuk para pelajar (laborarotium, perpustakaan dan pelatihan komputer), pemakai pemula dan boleh jadi warnet. Bentuknya ringkas memudahkan penempatannya yang tak makan tempat. Mudah pula dipindah-pindah, lumayan portabel karena cukup dipasang ke sembarang monitor.
Bila hati saya tak tertambat ke Macbook dan memiliki komputer, tentu saya akan memboyong komputer mini ini. Soalnya saya masih ingat jaman ketika saya harus repot-repot menggotong komputer dekstop ke tempat servis komputer saat ada virus atau gangguan perangkat keras. Bila dibandingkan, Eee Box sangat praktis, cukup ditenteng satu tangan.
Kapan peluncuran di tanah air? Ah, tunggu saja tanggal mainnya. Pasti laris manis.
iPod nano
Akhirnya Macbook saya mendapatkan satu partner lagi yaitu iPod nano. Baru saja ‘diboyong’ hari Jumat yang lalu. Padahal pada awalnya saya hanya menginginkan iPod shuffle yang sederhana penggunaannya.
Saya memilih iPod nano, yang sebenarnya saya anggap cukup mahal, karena manfaatnya lebih banyak. Bisa menyimpan lebih banyak file, menampilkan video, memperlihatkan teks yang dibuat menggunakan Notes, sedikit permainan dan menyimpan foto.
Dan lagi saya lebih senang saat baru saja menemukan cara Belajar dari iTunes U yang dapat diunduh dan diputar di iPod. Dengan begitu, kegiatan komuter dari rumah ke kantor dan sebaliknya menjadi menyenangkan dengan beragam video edukasi dari universitas-universitas yang ada di belahan bumi yang lain.
Namun, saya bukanlah maniak iPod yang selalu mengenakannya setiap saat. iPod sebaiknya dipakai seperlunya saja. Lebih baik bila telinga lebih banyak mendengarkan orang lain dan lingkungan sekitar. Kecuali bila saya ingin ‘menenggelamkan diri dalam alunan musik’ saat perasaan hati tak enak, iPod memang enak dipakai.
iPod nano 06 06 2008
Penasaran dengan Windows 7
Sehari-hari saya bekerja memakai Windows XP. Cukup memadai dan relatif mudah dipakai. Saya masih lebih menyukai Windows XP daripada Windows Vista yang fancy tapi membutuhkan spesifikasi komputer yang tinggi.
Hanya saja, saya sangsi dengan ramainya kabar burung menyoal bakal hadirnya Windows 7. Windows XP saja masih memiliki banyak cacat produksi tapi kok malah mau menghadirkan versi lebih baru. Bukankah lebih baik memperbaiki sistem operasi yang sekarang daripada terus-terusan membuat OS baru tapi alhasil banyak diprotes karena banyak kendala yang muncul.
Eniwei, meski saya memakai Windows XP untuk bekerja, saya masih merasa lebih nyaman menggunakan Apple OS yang saya pakai di rumah. Klangenan yang nyaman digunakan untuk menuliskan apa yang di benak dan berselancar di dunia maya.
Lalu, bagaimana dengan Windows 7? Tunggu saja tanggal mainnya. Kita lihat bersama bagaimana wujud dan fungsinya. Apakah Windows versi terbaru ini bisa menampilkan performa yang lebih bagus dari XP dan Vista?
NComputing untuk Warnet dan Akademisi
Satu komputer bisa menjadi banyak komputer? Teknologi murah meriah, bersifat masal dan tetap dapat diandalkan selalu menjadi salah satu topik menarik bagi saya. Mengapa? Soalnya teknologi komputasi masih relatif tak terjangkau bagi banyak orang. Teringat saya bahwa dulu saja membeli sebuah komputer susah karena dana terbatas.
Dan saat surfing di hari Minggu, ada artikel yang merujuk penggunaan NComputing. NComputing, yang juga merupakan nama perusahaan penyedia teknologi tersebut, menjadikan sebuah komputer yang relatif standar dapat menjalankan semacam ‘virtualisasi’ menghadirkan banyak titik akses seperti Local Area Network.
Titik-titik akses tersebut lalu menjadi seperti ‘client‘ yang bisa dipasangi monitor, papan kunci dan tetikus. Seperti sebuah ‘client‘ pada umumnya. Namun, tanpa kehadiran CPU. Bayangkan saja bahwa satu komputer (server) dapat menampilkan apa yang ada di layarnya (sistem operasinya) ke puluhan monitor lainnya. Dengan pendekatan komputasi semacam ini diharapkan ongkos pemasangan jaringan komputasi bisa lebih terjangkau.
Lalu, saya jadi teringat akan keprihatinan kurangnya kuantitas dan kualitas komputasi di tanah air. Bukankah pendekatan jaringan ala NComputing dapat membuat ongkos pengembangan komputasi jauh lebih terjangkau untuk konteks di warung internet (baca: komputasi untuk publik secara komersial) dan bangku sekolah (baca: komputasi untuk mendukung kegiatan akademis secara pedagogis).
Dan ada tautan di NComputing yang merujuk ke TrueCafe dan sebuah studi kasus Republic of Macedonia First Nation to Provide a Computer for Every Student.
Pendekatan komputer jaringan murah meriah dan terjangkau seperti inilah yang dibutuhkan oleh bangsa kita yang sepertinya selalu tertinggal baik tingkat maupun penetrasi teknologi komputasinya dari negara-negara lain, bahkan negara tetangga yang sama-sama sedang berkembang.
Netbook dari HP Mini Note
Setelah fenomena larisnya Eee PC, kini pasar laptop diramaikan dengan hadirnya Netbook, sebuah laptop ringan yang dikategorikan sebagai Mini-Note oleh Hewlett-Packard Co. Dan sepertinya juga diposisikan sebagai laptop murah meriah.
Artikelnya dapat dibaca di HP Mini Note launches this month: Netbook can run run Linux or Vista dan HP unveils small laptop for schoolkids.
Dari namanya yaitu netbook, tentu saja laptop ringan ini ditujukan untuk aktivitas yang berhubungan dengan internet. Komputer jinjing yang pas untuk dibawa kemana-mana sesuai dengan kebutuhan komputasi yang relatif sederhana, semisal mengakses layanan internet dan sedikit kegiatan multimedia secukupnya dan mengetik.
Netbook memang ditujukan untuk siswa di bangku sekolah. Tak sesuai untuk para profesional yang membutuhkan daya komputasi berat. Lagipula, sepertinya Netbook dirancang sedemikian rupa sehingga ongkos produksi bisa ditekan serendah-rendahnya. Dengan begitu, para pengguna awal dapat menjangkaunya.
Netbook bersaing dengan Classmate PC dari Intel, Eee PC dari Asus dan XO laptop (yang tak jelas eksistensinya). Dengan begitu, konsumen memunyai lebih banyak opsi untuk memboyong laptop yang berat dan harganya relatif ringan ini.
Pertanyaan paling krusial, kapan sampai di tanah air? Hmm… Tanya saja vendornya.