Good Life

Siapa yang tak ingin memiliki kehidupan yang indah? Nyaman, sentosa, sehat. Juga romantis dan membahagiakan. Apakah semua orang mengecap kehidupan yang baik di perjalanan hidupnya? Tak semua. Ada yang pernah merasakannya. Ada yang belum. Tentu ada yang sedang mengalaminya. Namun jelas bahwa banyak orang mendambakan good life.

Hanya saja good life tergantung perspektif masing-masing insan manusia. Beberapa orang mengalami bermacam penderitaan dan kegagalan namun tetap bisa merasa bahagia. Justru masih bisa bersyukur karena masih bisa menapaki lika-liku kehidupan yang tak terjal. Sedangkan yang lain ada yang mempunyai kehidupan berwarna dan mewah tapi malah merasa merana.

Namanya hidup pasti ada saatnya pasang dan surut. Bagaimana menyikapinya dan mengatasinya yang membuat masing-masing individu menghargai kehidupannya dengan cara berlainan. Wajar bila pernah gagal. Juga bila berhasil. Jatuh cinta dan patah hati. Mendapat lotre dan kecopetan. Ada bahagia. Ada sedih.

Sebuah band dari Negara Paman Sam OneRepublic mengusung lagu berjudul Good Life (lirik). Kata-katanya sederhana namun mengena.

Sometimes there’s airplanes I can’t jump out
Sometimes there’s bullshit that don’t work now
We are God of stories, but please tell me
What there is to complain about?

Benar, hidup ini ada suka dan duka. Untuk apa mengeluh? Nikmati hidup ini apa adanya.

La La Means I Love You

Judul lagu tersebut merupakan lagu favorit saya, soundtrack yang menghiasi film The Family Man yang kebetulan juga salah satu film favorit saya. Di film lama itu, Tea Leoni dan Nicholas Cage menghadirkan drama kehidupan yang sungguh membuat terharu sekaligus menohok.

Lirik dan iramanya sederhana. Justru itu yang membuatnya enak didengar. Coba dengarkan lantunan Delfonics menyanyikan La La Means I Love You sekaligus mengintip liriknya. Lagu yang romantis menurut saya pribadi.

Semoga Anda pun juga suka mendengarkannya…

That Don’t Impress Me Much

Dengan kata lain, tak berkesan. Itulah judul lagu yang dilantunkan oleh penyanyi cantik bersuara merdu Shania Twain. Coba nikmati video That Don’t Impress Me Much sembari memahami liriknya.

Rupanya Shania ingin membilang bahwa kehebatan, kekayaan, kepintaran atau pun kemasyhuran seseorang tak serta-merta membuat orang lain terkesan dan jatuh hati. Berbeda dengan yang diyakini banyak orang bahwa seseorang bakalan mendapatkan cinta bila menjadi seseorang yang dikagumi oleh masyarakat luas.

Tak jarang kita mendengar ucapan seperti, “nikahi saja dokter, udah tajir, pinter lagi”, “cari istri yang cantik dan seksi dong”, “wah, bangganya punya pacar gelarnya profesor” atau “gila lu, dapat suami atlet tinju yang perkasa”. Sesuatu yang kasat mata. Namun, apakah embel-embel yang melekat pada seseorang menjamin ada kasih sayang yang tulus? Tentu tidak, bukan?

Memang, boleh saja kita semua berharap ada cinta sejati yang datang dari orang yang berkualitas unggul. Wajar saja. Hanya saja jangan sampai terjebak mendamba kehebatan seseorang dan bukan mencintainya tulus dari dalam hati. Esensi cinta menjadi bias, lalu menjadi kurang berarti.

Omong-omong, pasangan atau orang seperti apa yang membuat Anda terkesan dan kemungkinan besar mencuri hati Anda?

Belum Terlambat

Terkadang tanpa disadari, banyak insan manusia yang menerawang kosong kala sedang minum kopi di sebuah cafe, berkomuter dalam kereta, berjalan-jalan melewatkan sore sendirian seorang diri. Lalu, melamun ‘kapan ya saya bisa mencinta dan memiliki pasangan hidup?’

Itu pula yang menjadi beberapa curhat yang mampir ke telinga saya. Ada kegelisahan dari mereka yang sampai saat ini masih belum menemukan kekasih hati untuk menambatkan perasaan sayang. Masih mencari. Padahal usia sudah makin bertambah. Belum menemukan seseorang yang pas chemistry-nya.

Dan lagi-lagi, lagu Padi yang menjadi inspirasi menuliskan postingan ini. Judulnya Belum Terlambat. Liriknya cukup menyentuh. Ada rasa optimis bahwa setiap insan memiliki hak dan kesempatan untuk bahagia saat cinta menghangatkan jiwa.

Dan dua baris yang terakhir cukup menghentak pemikiran, “…apakah cinta membahagiakanmu, sesuatu yang ingin kumiliki…

Yakinlah, suatu saat nanti, cinta akan menyapa…

Tags:

Rencana Besar

Setiap insan memiliki rencana-rencana dalam jalan hidup masing-masing. Dan beberapa rencana itu termasuk dalam rencana besar yang memiliki pengaruh besar dalam menapaki waktu dan ruang.

Ada yang membuat blue print menempuh jenjang studi yang lebih tinggi, merantau ke negeri seberang, membangun rumah, berkelana ke negeri di benua lain atau pun berdikari memulai usaha. Intinya, mengalami transformasi luar dalam. Merombak hidup. Menjadikan hidup lebih hidup.

Dan salah satu rencana besar tersebut adalah membangun biduk rumah tangga. Mengikat komitmen hidup di depan altar atau pun penghulu. Beberapa teman baru saja mewujudkan rencana besar tersebut. Proficiat untuk mereka. Berani menapaki lembaran baru kehidupan.

Seperti yang dilantunkan Padi dengan apik dalam lagu Rencana Besar. Liriknya juga menarik. “… It’s been years since we’ve met, and days had gone by, now it’s time to make up my mind, and I hope that we can make it to the end…”

Meskipun begitu saya pun mengamati ada beberapa teman yang sudah lengket seperti perangko selama bertahun-tahun tapi belum ada tanda-tanda ada rencana besar hendak dilangsungkan. Bahkan, tidak ada dalam wacana sekalipun. Mengapa?

Hmm… Rencana besar memang tak harus diputuskan tergesa-gesa. Harus matang dalam perencanaan dan dengan timing yang pas. Bagaimana dengan Anda? Apakah sudah siap mewujudkan rencana besar dalam kehidupan ini?

Tags:

Summer Snow

Beberapa dari Anda pastilah kontan berkomentar “ah, sesuatu yang mustahil”, “mengada-ada saja” atau “semacam delusi”. Setuju. Memang itu alasan mengapa Sissel menamai salah satu lagunya dengan Summer Snow.

Coba saja lihat video dan liriknya. Lagunya berkisah tentang seseorang yang mendamba sang kekasih hati namun tak kesampaian. Cerita klise. Namun, bukankah seperti itu yang terjadi di dalam kehidupan banyak orang. Ingin meyentuh salju di panasnya musim panas. Tentu saja tak mungkin.

Saat mengalami hal yang mengawang-awang seperti itu, sebagian besar orang memilih untuk terjebak dalam angan yang membuat mereka tak mampu menghargai indahnya kehidupan ini. Terperangkap dalam masa lalu yang menghantui. Hidup segan, mati tak mau. Hanya sedikit orang yang bisa terus maju. Bukankah, mengutip dari film Titanic, life must go on?

Bukan, bukan berarti seseorang lalu melupakan dambaan hati yang tak mungkin teraih tersebut. Tentu saja, setiap pribadi istimewa yang pernah mampir di relung hati, layak untuk tetap hidup di dalam memori.  Tapi tetap saja yang hadir di masa kini sungguh harus disyukuri. Bukankah yang di depan mata lebih relevan dengan kehidupan saat ini.

Terlepas dari kisah sedih dalam liriknya, lagu Summer Snow yang dilantunkan oleh Sissel sangat enak untuk didengarkan. Mendayu-dayu, selembut kristal dan halus suaranya. Menyihir para pendengarnya, baik yang sedang dimabuk cinta atau pun yang putus cinta sekalipun. Sudah hampir sepuluh kali saya memutar lagu ini sembari menuliskan postingan ini.

Saya pikir lagu ini juga sesuai untuk pengantar tidur. Rupanya sudah jam 2.30 pagi di Negeri Merlion.

I Don’t Love You Enough

Tak sengaja saya menemukan video klip berjudul I Don’t Love You Enough yang dinyanyikan secara duet oleh Andy Lau dan Kelly Chan. Sungguh tak sedikitpun saya mengerti arti alunan lagu yang dinyanyikan dalam bahasa Mandarin tersebut. Yang jelas, saya menikmati adegan-adegan dalam video tersebut. Romantis. *Jadi kepingin* Untuk yang tertarik dengan isi lagunya, silakan lihat liriknya.

Tapi dari judul lagunya kira-kira saya bisa menyimpulkan bahwa kedua pasang tersebut mengekspresikan rasa gundah mereka karena merasa tak cukup memberi cinta kepada satu sama lain. Kurang banyak takarannya.

Pernahkah Anda merasakan ‘kurang mencintai’ kekasih hati Anda? Mungkin. Semoga tidak. Namun, bila dirunut-runut ternyata makin hari makin banyak yang mencinta setengah-setengah. Tak maksimal. Tak sepenuh hati.

Tentu ada penyebabnya. Ada banyak. Sibuk dengan pekerjaan dan karier.  Terpisahkan oleh jarak geografis yang jauh. Ada sekat perbedaan entah agama, ras atau pun latarbelakang. Rasa cemburu yang membuat hati merasa panas. Ego masing-masing yang sama besarnya. Pernah trauma dan tak mau lagi sakit hati. Bisa jadi karena kurang mengetahui bagaimana cara mencintai yang tulus dan sungguh-sungguh.

Padahal, mencinta dan dicinta selayaknya sepenuh hati. Tanpa ada rasa sungkan, hati-hati atau pun rikuh. Cinta seharusnya membebaskan dan memerdekakan. Tentu juga membahagiakan. Bukankah yang setengah-setengah itu nanggung?

Tak mudah memang membagi hati sepenuhnya. Bahkan, kadang yang di pikiran berbeda dengan yang di hati. Namun, tak perlu khawatir. Bukankah mencinta itu merupakan suatu proses yang terus-menerus harus selalu dipelajari, dipahami dan dialami. Lalu, disyukuri.

Satu hal tentang video klip I Don’t Love You Enough, saya betul-betul terkesan dengan cara mereka saling sentuh, dekap dan peluk. Yang satunya gagah (6 packs, gitu) dan satunya lagi anggun lagi seksi. Mesra. Romantis. Patut diingat-ingat caranya. *pembelajaran gitu* Jadi membayangkan yang iya-iya. Padahal lagu sedih.