Arsip untuk 'opini'Kategori

Sembako Murah dan Lapangan Kerja

20 Februari 2009

Tersenyum geli saya saat membaca PDIP Janjikan Sembako Murah dan Lapangan Kerja. Tak salah memang dengan janji tersebut, toh, banyak warga negara yang kelaparan dan menjadi pengangguran. Partai politik lainnya pun juga memberi harapan yang relatif sama.

Hanya saja apa jadinya bila tugas pemerintah hanya memberi makan dan kerja. Tambal sulam semata. Lalu, arah bangsa mau di bawa ke mana? Menyoal perut memang krusial, bisa mati bila perut kosong. Tapi apakah sedangkal itu cita-cita bangsa?

Lebih bermutu bila memberikan dukungan terhadap pendidikan murah (gratis?) dan berkualitas, peningkatan mutu layanan kesehatan, perbaikan komunikasi transportasi dan merangsang industri kecil dan rumahan.

Sembako murah akan tercipta bila sistem cocok tanam dan peternakan sudah maju. Pekerjaan tak perlu dicari bila jutaan warga negara mampu memulai usaha mereka sendiri yang (semoga?) didukung oleh sistem perbankan nasional dan pemerintah daerah.

Saat negara yang lain sudah bisa menyandang status negara maju. Negara di Khatulistiwa yang loh jinawi ini kok masih saja berkutat dengan hal makan dan kerja. Negara tak berkembang? Dan itu pun masih berupa janji. Ingat, ingat, lidah tetap saja tak bertulang baik sebelum atau pun sesudah pemilu.

Kesempatan Belum Hilang

9 Februari 2009

Baru saja tempat tinggal yang saya idamkan terlepas dari impian. Rupanya kamar tersebut sudah diminati oleh orang lain. Apa boleh buat. Sedikit kecewa itu biasa. Toh, kalau belum hoki ya mau apa lagi.

Kesempatan yang belum didapat belum tentu hilang. Bisa saja, saya malah mendapatkan tempat tinggal yang lebih dekat dengan tempat bekerja dan beraktivitas. Mungkin lebih layak, lebih menarik untuk ditinggali.

Kesempatan memang tak selalu datang dua kali. Tapi selalu ada baiknya terus mencoba. Banyak orang-orang hebat yang menorehsejarah dan ditulis di banyak buku oto-biografi justru mencapai kesuksesan hidup karena ada kelokan kecil dalam hidupnya.

Terlintas tentang cerita anak laki-laki yang malang karena terjatuh dari kuda dan patah kakinya. Namun beruntung karena ditolak bergabung menjadi tentara di medan perang.

Hoki dan buntung, baru diketahui belakangan saat Sang Kala sudah berlalu. Jadi, tak perlu patah arang bila merasa sedang buntung. Siapa tahu justru itu saat keberuntungan tiba.

Jenderal dan Prajurit

21 Januari 2009

Terkesan saya dengan film Red Cliff II yang  menampilkan satu penggalan legenda Sam Kok, cerita Tiga Negara yang saling berperang di Negeri Tiongkok pada jaman baheula. Menarik untuk mencermati bahwasannya ada beda antara segelintir jenderal dengan ribuan prajurit.

Bedanya terletak pada kapasitas masing-masing. Terlepas di pihak mana para jenderal berpihak, baik atau buruk, mereka memiliki cara pandang yang jauh ke depan, kepercayaan diri bahwa mereka mampu mengatasi permasalahan dan tahan banting dalam situasi ekstrim sekalipun. Boleh dibilang mereka mempunyai kemampuan di atas rata-rata orang.

Sedangkan para prajurit bisa saja terbunuh dalam satu pertempuran, mudah menyerah dan tak jarang mengeluh. Bahkan, sering kalah sebelum berperang. Kadang bersemangat tinggi tapi kemampuan kurang.

Lalu, terlintas dengan situasi di tempat saya bekerja. Dan saya sadari bahwa ada beda kapasitas dan otoritas antara tingkat ‘jenderal’ (manajer) dengan sekedar ‘prajurit’ (staf biasa).

Satu yang ingin saya pelajari, bagaimana membuat diri menjadi seperti para manajer yang rasa-rasanya cepat dan efisien mengerjakan pekerjaan. Saya masih penasaran. Mengapa sama-sama manusia tetapi berbeda kapasitas…

Suatu Ketika pada 11 September

11 September 2008

9/11. Torehan angka tersebut memiliki banyak makna dan masih juga menimbulkan tanya. Bukan mengenai apa yang terjadi pada tanggal tersebut. Semua sudah mengetahuinya sejak dulu. Ada dua pesawat yang ditubrukkan dengan sengaja ke WTC dan beberapa bangunan lainnya.

Ada acara berkabung yang selalu diulang-ulang disertai tangisan, kisah yang mengharukan dan penuh simbolisme patriotisme yang malah berujung pada kebencian pada kelompok warga dunia yang lain. Ada sekelompok besar insan manusia yang mendapat stigma teroris padahal tak ikut terlibat dalam rencana ‘kiamat di dunia tersebut’.

WTC dipugar kembali untuk dijadikan monumen korban kebiadaban teroris. Keluarga para korban sudah kembali mendapatkan kehidupan seperti semula meski selalu ada ingatan sedih kala 9/11 menjelang.

Tapi adakah yang memberikan simpati pada Afganistan yang porak-poranda jauh dari standar kelayakan hidup berbangsa dan bernegara. Hanya karena ada praduga yang belum pasti kebenarannya mengenai pelaku terorisme yang mungkin kelompok yang bersarang di negara tetangga Iran tersebut.

Dua gedung yang menjulang tinggi sudah jatuh dan hancur berkeping-keping. Patut dikecam perbuatan para teroris tersebut. Namun, itu tak sebanding dengan penderitaan bertahun-tahun berkepanjangan yang ditimpakan kepada Afganistan. Tak ada yang mengenang kehancuran negara tersebut karena tak ada lagi insan manusia yang hidup normal tersisa di negeri itu. Toh, mereka juga dituding sebagai bangsa biadab yang tak perlu mendapatkan simpati dunia.

9/11. Masih juga menyisakan tragedi. Bukan, bukan di seputaran WTC yang saya maksud. Tapi di negeri nan jauh di Timur Tengah yang masih lebur oleh tudingan sepihak. Juga insan manusia yang menganut agama yang secara tak adil diidentikkan dengan terorisme. Sungguh, tragedi 9/11 tak hanya berlangsung pada tanggal tersebut tapi masih juga terjadi hingga sekarang dan di masa depan.

Tags: , ,

Ketika Negara Menelantarkan Atlit

27 Agustus 2008

Hingar-bingar Olimpiade Beijing 2008 masih terdengar jelas. Ramai diberitakan pemberian penghargaan, bonus materi, tambahan uang saku dan dana pelatihan serta pembinaan yang lebih serius dari atlit-atlit manca yang berprestasi.  Tak terkecuali bagi atlit dari Negeri Tirai Bambu yang diberi hadiah yang luar biasa banyaknya secara nominal karena berhasil mendapatkan medali. Padahal jumlahnya puluhan.

Pun dengan Negeri Merlion yang mengganjar atlet yang termasuk foreign talent, sebutan untuk atlet yang ‘diimpor’ dari negara lain dan bersedia berganti kewarganegaraan, dengan berbagai fasilitas terbaik. Semuanya ditujukan semata sebagai stimulus. Dengan begitu, atlit-atlit potensial dapat memfokuskan diri untuk meningkatkan kemampuan mereka. Tak lagi bingung lagi mencari penghidupan. Semua sudah diurus oleh pemerintah.

Berbeda dengan di tanah air. Artikel berjudul Terlantar, Juara Dunia Catur Dijemput Depdiknas di Posko PIDP, menghadirkan wacana bahwa pemerintah kita tak pandai mengurus atlit-atlitnya. Masih susah payah berusaha mengembangkan kemampuan dengan fasilitas terbatas dan minim bantuan, masih juga tak dihargai. Padahal negeri-negeri lain aktif mencari atlit berbakat untuk memperbanyak jumlahan atlit berprestasi.

Ingat dengan pemain badminton Mia Audina yang pindah ke Negeri Kincir Angin. Bukan semata isu tak nasionalis. Tapi lebih pemenuhan kebutuhan pribadi. Untuk berkembang lebih baik lagi agar talenta tak sia-sia dan perut tak merana.

Dengan begitu, wajar bila negeri kita ini hanya mampu menargetkan segelintir medali di ajang Olimpiade. Itu pun bangganya setengah mati. Sayang…