Sudah Jatuh Tertimpa Tangga

Itulah yang saya pikirkan akhir-akhir ini. Dirundung sial yang kompak menyambangi saya satu demi satu. Belum kelar menangani satu kesialan, kesialan yang lainnya tak mau antre. Datang menyelonong begitu saja. Sampai dalam hati saya berteriak ‘give me a break‘.

Padahal sebenarnya kesialan itu hanya berupa beban kehidupan yang seharusnya dipilah satu demi satu, lalu ditindaklanjut dengan sebaik-baiknya. Waktu, tenaga dan pikiran memang harus dialokasikan untuk membereskan segala ‘kesialan’ tersebut.

Bahkan kalau dibilang sial, tentu tak sesial mereka yang menjadi korban perang di Gaza, manusia yang mirip tengkorak karena tak bisa mengasup makanan di Darfur atau pun mereka yang tertimpa bencana alam.

Ya, sudah jatuh tertimpa tangga. Dan semua terjadi di awal tahun. Tentu ada rasa khawatir apakah ini hanya terjadi di bulan pertama tahun ini atau terjadi sepanjang tahun ini. Semoga segala hal membaik dengan begitu saya tak lagi menulis posting ‘suram‘ seperti ini lagi.

Membuang Makanan

Kata orang tua, pantang untuk membuang makanan. Bahkan, terkadang dibumbui dengan takhayul bahwa menyia-nyiakan makanan sama saja menolak rejeki. Lagipula, mendapatkan atau pun mengolah makanan juga tak selalu mudah.

Masih teringat dalam benak saya, ada masa-masa di mana makan sekali sehari saja susahnya minta ampun. Tidak separah penduduk Darfur tentunya. Tapi makanan menjadi sesuatu yang berarti oleh karena jumlahnya yang tak berlimpah.

Namun, rupanya sedikit demi sedikit saya alpa dengan masa lalu tersebut. Buktinya, saya membeli makanan dan terkadang lupa menikmatinya. Busuk karena kadaluarsa dan mau tak mau saya harus membuangnya. Ditambah lagi dengan kebiasaan baru memesan porsi terlalu banyak di rumah makan. Perut tak mampu lagi menampung sajian. Akhirnya, saya kerap mendapati sisa makanan di piring saya.

Padahal saya sering mengomentari siapa saja yang menyisakan makanan saat makan bersama. Ironi jadinya. Agaknya saya harus mawas diri dengan makanan yang saya beli. Menghindari hyper-consumption dan lebih menghargai makanan yang tersedia untuk saya setiap harinya.

Menjadi lebih green atau ramah lingkungan dengan mengasup makanan secara bijak? Bukan. Alasannya sepele, saya masih percaya petuah lama. Membuang makanan, menolak rejeki. Local wisdom, katanya.

Pemilu, Pemilih dan yang Terpilih

Pemilu masih akan dilaksanakan tahun depan, 2009. Namun, rasanya sudah disemarakkan dengan berbagai safari, reorganisasi, konsolidasi atau sosialisasi. Apapun sebutannya, boleh disebut kampanye diam-diam. Kalau terang-terangan tentu bisa ditindak bila ada yang berani.

Tak menjadi soal bila gerak-gerik menyambut pemilu dilakukan jauh-jauh hari. Sudah lazim. Semua memakluminya. Tapi ada hal yang krusial yang selalu saja terlewat. Yaitu kebijakan dan program apa saja yang ingin direncanakan dan diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Bukan melulu mendapatkan kekuasaan. Namun apa yang hasil positif yang bisa dicapai saat mereka menjadi wakil rakyat.

Ada sebuah kutipan menarik yang dikatakan oleh George Will. Voters don’t decide issues, they decide who will decide issues.

Benar adanya bahwa bukan pemilih yang akan mengeluarkan semua kebijakan yang menyangkut harkat hidup orang banyak senegara. Tapi mereka yang terpilih. Jadi, pikirkan dengan matang-matang sebelum memberikan suara Anda dengan mencoblos kartu suara.

Memilih bisa jadi merupakan hal yang tak mudah dilakukan. Makanya, pilah-pilih tak boleh asal-asalan.

Tags: ,

Merancang Masa Depan

Sebuah pepatah bijak yang saya baca pagi ini rupanya mengingatkan saya untuk tetap merancang dan mewujudkan masa depan. Klise kedengarannya tetapi masuk akal. Peter Drucker berkata:

Memang tak bisa dielakkan bahwa Sang Pencipta menentukan arah hidup manusia. Kelahiran, bencana, kemujuran dan kematian. Namun, manusia tetaplah bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan dalam kehidupan ini. Tak hanya duduk diam termangu lalu dengan ajaib semuanya tersedia cuma-cuma.

Masa depan. Ya, itulah yang ditunggu-tunggu, dipikirkan, dikhawatirkan bahkan sampai ditakutkan oleh banyak orang. Bagaimana kehidupan besok hari? Tak perlu disangkal lagi bahwa begitu banyak insan manusia yang tak sanggup untuk membayangkan masa depan mereka sendiri. Hanya menerima tanpa usaha untuk mengubahnya. Hanya segelintir orang yang mampu mengubah masa depan, bukan hanya untuk dirinya tetapi juga organisasi, kelompok, keluarga bahkan hingga tataran negara.

Lalu, bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah sudah membayangkan masa depan Anda? Mari rancang dan wujudkan masa depan dengan demikian kita bisa memprediksikan yang terbaik dalam hidup ini. Tak perlu menggantungkan masa depan dari orang lain, tempat bekerja atau pun negara. Tapi percayai kemampuan diri sendiri.

Untuk sebuah masa depan yang lebih baik…

Maju Sekaligus Mundur

Soren Kierkegaard berkata

“Life must be understood backwards; but… it must be lived forward.”

Pepatah bijak tersebut saya ambil dari BrainyQuote Soren Kierkegaard. Sederhana. Lebih kurang seperti ‘belajar dari masa lalu namun hendaknya menapak maju ke depan’.

Hanya saja sebagian insan manusia seringkali terperangkap di masa lalu. Tak bisa atau enggan untuk mengarah ke masa yang akan datang. Lalu, hanya jalan di tempat dan entah pikirannya menghilang ke mana. Akhirnya, waktu terbuang percuma.

So, just move on. Tatap apa yang di depan. Ke sanalah kaki mengarah. New horizon, new opportunity, new experience!

Jadi, ke mana kaki Anda mengarah sekarang ini? Semoga ke depan, bukannya ke belakang. Itu mah namanya atret (alias mundur ke belakang).

Semua Ada Harganya

Tak ada barang gratis. Hal ini pun sudah dketahui sejak jaman dulu. Dulu-dulu juga begitu. Oleh karena itu ada sistem barter. Lalu, dikembangkan lebih modern dengan alat tukar berupa uang.

Bahkan yang kelihatannya gratis pun tak selalu gratis. Contohnya seperti ini. Beberapa hari lalu, semua gerai Starbucks yang berjumlah 50 di seluruh pulau Negeri Merlion ini memberikan promosi satu hari minum kopi tanpa bayar kepada seluruh pengunjungnya.

Orang pun ramai berduyun-duyun. Jadilah antrian panjang untuk sekedar mendapatkan satu gelas kopi dari warung kopi waralaba yang terkenal laris manis itu. Hundreds of people joined the crowd at that day.

Bagi saya, bukankah lebih nyaman bila minum dengan membayar seperti hari-hari biasanya. Lebih nyaman daripada berjubel di keramaian untuk menengadahkan tangan minta kopi gratisan. Coba bayangkan trade off yang mereka tukarkan demi kopi itu. Yaitu, waktu dan emosi untuk ngantri.

Semua ada harganya. Tak perlu repot dan ‘mempermalukan diri’ cari-cari gratisan yang tak selalu gratis sepenuhnya. Lebih penting mencari bagaimana mendapatkan alat tukar yang bisa dipertukarkan dengan kebutuhan hidup.

Khawatir Akan Masa Depan

Umum terjadi saat seseorang pernah ‘tertabrak bis‘ dalam suatu fase hidupnya maka dia menjadi lebih berhati-hati dalam melangkah. Bahkan, tak jarang menjadi paranoid. Menjadi pribadi yang mengkhawatirkan banyak hal dalam hidupnya.

Memiliki rasa khawatir sebenarnya tak mengapa. Berguna untuk mempersiapkan antisipasi. Seperti halnya sedia payung sebelum hujan. Namun, bila rasa khawatir terlalu besar boleh jadi menjadi beban tersendiri. Beban hidup yang membuat mulut cemberut, dahi kerut-merut dan sering sakit perut. Padahal yang dikhawatirkan belum tentu terjadi.

Dan saya termasuk salah satu orang yang terlalu mengkhawatirkan masa depan. Maklum, salah langkah bisa-bisa jatuh. Tak ada jaring pengaman di bawah yang setiap saat bisa menyelamatkan saya. Dan bila terjatuh boleh jadi saya harus mulai lagi dari awal. Dari nol. Dari garis start.

Beruntung, belum lama ini seorang gadis baik hati mengingatkan saya. Perkataannya sederhana tapi ada benarnya. Bahwasannya, khawatir itu tak menyelesaikan masalah. Lebih baik bagaimana caranya mencari solusinya. Lalu, menikmati hidup yang hanya sekali ini. Ya, menikmati hidup. Terima kasih sudah mengingatkan.

Ya, karung kekhawatiran di pundak sekarang sudah banyak saya kurangi. Dengan begitu langkah saya terasa lebih ringan, lebih cepat, lebih lega. Ada tambahan senyum mengembang di wajah saya. Senyum yang sudah lama menguap dari wajah yang dulu penuh senyum. Maklum, orang Yogya kan terkenal murah senyum.

Semoga kedamaian hati dan pikiran bisa menular melalui senyum. Terutama bagi yang sedang memanggul beban berat dalam hidupnya. Mari bersama mulai tersenyum. Life is beautiful. Mari menikmati hidup!

Bawang, Kehidupan dan Tangisan

Insan manusia itu cukup unik. Ada bahagia dan tawa. Namun, di waktu lain bisa menangis sedih. Lalu mempertanyakan kehidupan, ‘mengapa harus saya?’

Carl Sanburg berkata

“Life is like an onion: You peel it off one layer at a time, and sometimes you weep.”

Jadi, wajarlah bila manusia terkadang harus menitikkan air mata. Sedikit demi sedikit belajar menghadapi kenyataan dan kehidupan. Untuk mencari yang dicarinya. Untuk mencapai tujuan dan asa dalam hidupnya.

Tapi mengapa ada yang sedikit menangis? Hmm. Rupanya mereka cukup kreatif. Memakai ‘kacamata’ agar pedasnya bawang tak mengenai mata. Kacamata itu adalah pegangan hidup. Bisa jadi cara pikir yang positif, ketabahan hati, percaya dan pasrah pada Sang Khalik atau pun kepercayaan diri yang kuat dalam mengatasi berbagai kendala kehidupan.

Bagaimana dengan yang menangis terus-menerus? Well, mereka adalah orang yang berasumsi diri mereka sebagai ‘korban abadi’. Terlalu melankolis yang membuat hati mereka selalu teriris-iris. Hidup hanya sekali. Dan mereka ini menyia-nyiakan kesempatan hidup berbahagia.

Bangladesh, Nasibmu Tak Kunjung Berubah

Sekali lagi Banglades tertimpa bencana. Disebutkan di berita-berita tentang bangladesh cyclone. Sedih dan keprihatinan rupanya sesuatu yang menyertai sejarah negara ini. Entah banjir, angin ribut, taufan dan ditambahi dengan konflik dan kemiskinan. Lengkap sudah faktor-faktor yang menyebabkan Banglades hancur luluh-lantak.

Solusi? Mungkin hanya Sang Khalik yang tahu. Rupanya para wartawan tak pernah kesulitan menemukan berita yang mengiris hati dan membuat mata terpana untuk memenuhi halaman depan. Selalu ada berita. Dan celakanya selalu berita buruk. Bukankah bad news is good news?

Jarang Anda, saya dan orang-orang menyadari bahwa Bangladesh – Wikitravel adalah negara elok yang patut dikunjungi. Mungkin sebagian besar turis takut bahwa ada banyak penyakit dan kriminalitas di negara di sebelah India tersebut. Memang benar, tak salah. Sayangnya, kita hanya tahu bahwa negara tersebut hanya ramai dikunjungi oleh para relawan asing yang tak henti-hentinya bersukarela atau ‘punya proyek’ di negara paling langganan bencana tersebut.

Semoga keadaan di sana menjadi lebih baik. Bukankah ‘badai pasti berlalu?’ Mungkin.

Tapi bisa jadi kemudian datang badai berikutnya. Yang bisa jadi lebih dahsyat. Manusia bisa meratap. Tapi berjuang menghadapinya jelas tindakan dan sikap yang lebih baik.

Banjir, Bagian dari Jakarta

Teman-teman di Jakarta sudah mulai berkeluh-kesah tentang banjir yang selalu menggenang. Selalu terjadi setiap musim hujan  datang. Begitu juga tahun ini. Rupanya sudah menahun. Bahkan, para kompeni dari jaman doeloe pun dari dulu sudah menyadarinya dan tak mampu mengatasinya.

Jadi saat mendengar berita dari Tempointeraktif bahwa Jakarta Akan Bentuk Tim Pengendali Banjir, saya pun hanya manggut-manggut. Sudah terlambat. Maklum, para pejabat termasuk gubernur baru juga baru saja menjabat. Sudah biasa bila kebijakan kerap datangnya telat.

Pernahkah mendengar pepatah ‘sedia payung sebelum hujan‘? Mungkin, waktu di bangku sekolah, para pejabat tak menyimak benar. Mungkin sibuk bermimpi bahwa kelak saat besar bisa jadi pejabat. Jadi, mereka tak mengerti benar arti pepatah tersebut.

Seyogyanya rencana penanggulangan dan cara mencegahnya dimulai jauh hari sebelumnya. ‘Sedia tanggul sebelum musim banjir‘, ‘sedia tempat penampungan sampah agar tak menggunung dan menyumbat‘ dan ‘sedia aparat untuk membantu korban banjir‘. Namun, itu rupanya hanya impian semata.

Boleh jadi hingga tahun 2020 Jakarta tetap akan tergenang banjir. Itu pun masih belum setragis perkiraan para ahli bahwa air laut akan membenamkan ibu kota. Tapi bisa jadi ini suatu peluang bagi pengusaha di bidang pariwisata, mungkin ada baiknya para agen perjalanan menyiapkan gondola agar para wisawatan bisa menganggap Jakarta sebagai Venesia-nya Indonesia. Tertarik untuk berinvestasi?