The Dark Knight dan Dilema

Sangat menarik dan patut ditonton. Itu pendapat saya mengenai film Batman yang terbaru. Bukan sekedar jagoan berbaju hitam-hitam yang dengan mudahnya mengalahkan musuh-musuhnya. Justru, di film ini , hampir seluruh peran, baik yang hitam, putih sekaligus yang abu-abu menghadapi pertentangan batin. Berhadapan dengan dilema.

The Dark Knight mengisahkan tentang perjuangan Si Manusia Kelelawar mengatasi kegilaan Joker. Jelas susah kala orang waras menghadapi orang tak waras. Joker has nothing to lose. Mengobrak-abrik Kota Gotham hanya karena ingin Batman membuka kedok dan menyerahkan diri.

Aksi Batman lumayan bisa dinikmati. Bahkan, ada beberapa up-grade perlengkapan Batman. Keterangan pembuatan filmnya bisa diulik di The Dark Knight (film). Namun, bumbu utama justru terletak dari permainan psikologis yang disampaikan melalui kekuatan visual. Bagaimana tokoh baik bisa menjadi brutal, orang yang dianggap jahat bisa memiliki nurani dan beberapa persoalan menyangkut benar dan salah.

Di film ini, peran yang paling menonjol justru lawan bebuyutan Batman, yaitu Joker. Disamping itu, film ini disertai kejadian mengapa Harvey ‘Two-Face’ Dent menjadi eksekutor brutal yang selalu memegang koin.

Dan kisah film ini mengalir cepat. Tapi tak lupa selalu membuat penonton berpikir ‘apa yang seharusnya dilakukan bila dhadapkan pada dua pilihan yang sulit diputuskan’. Ada rasa penasaran yang berkaitan erat dengan kata ‘seandainya’. Dilema, itu tema film ini.

Bolehlah disimpulkan bahwa film ini tak sekedar mempertunjukkan aksi superhero. Tapi ada kesan moral yang ingin disampaikan dan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan dilema kehidupan.

Tags: ,

Film Blindness

Terkadang kita melihat orang buta yang berjalan memakai tongkat, dituntun anjing kesayangan mereka atau digandeng anggota keluarganya. Banyak yang menjadi peminta-minta di jalanan, memanfaatkan kecacatan mereka untuk mengais rejeki. Namun, beberapa bisa mengembangkan talenta dan dikagumi orang karena kemampuannya yang melebihi orang yang bermata normal.

Menjadi tuna netra memang sungguh menyakitkan. Tak ada warna, bentuk dan tekstur kehidupan yang dapat dinikmati sepasang organ kompleks yang katanya menjadi jendela hati itu. Ada ketakutan bila tak bila melihat lagi.

Lalu, bagaimana bila secara masal, banyak orang menjadi buta secara bersamaan? Itulah yang digambarkan oleh film berjudul Blindness yang dibintangi oleh Julianne Moore; artis yang kerap bermain di film thriller dan misteri. Tentu kepanikan akan melanda dunia. Coba saja lihat trailer Blindness.

Jadi bisa ditemui banyak adegan ‘orang buta menuntun orang buta’. Dalam situasi yang serba tak pasti karena tak ada yang mampu membimbing mereka keluar dari masalah. Apalagi setabah apa pun seseorang, pastilah akal sehatnya terguncang kala menyadari tak bila melihat lagi.

Saya hanya menonton trailer-nya, belum filmnya. Dan film ini, menurut saya pribadi, layak untuk ditonton. Maklum, berangkat dari apa yang saya lihat dari sekitar saya, makin banyak orang yang kemampuan matanya menurun drastis. Entah karena penyakit, kebiasaan buruk seperti menonton tv dan game, kecelakaan atau pun salah perawatan.

Mata tak hanya sekedar untuk melihat. Mata juga menjadi jendela hati dan wawasan dunia. Seyogyanya dijaga dan dirawat sebaik-baiknya.

Film August dan Netpreneur

Saya sedang menunggu tanggal tayang film berjudul August di bioskop. Bagi saya film ini menarik karena berkaitan dengan demam Dot-com yang pernah terjadi di masa lalu dan kemudian mulai ramai lagi dibicarakan akhir-akhir ini.

Film ini menyuguhkan bagaimana suka-duka dua orang kakak-beradik yang merupakan netpreneur saat membangun bisnis start-up dan menghadapi guncangan dalam usaha mereka. Berhasilkan mereka menyelamatkan perusahaan impian mereka tersebut?

Tentu saja film ini bakalan menarik bila penonton mengetahui sedikit latar-belakang dunia internet entrepreneur  dan IPO, dot-com dan peristiwa yang dijuluki dengan dot-com bubble. Tanpa konteks tersebut, esensi film ini boleh jadi tak tertangkap.

Untuk yang tertarik dengan dunia netpreneur tak ada salahnya mengulik juga e-Dreams dan Startup.com sebagai film yang merekam berbagai peristiwa bisnis dot-com.

Semoga saja film-film tersebut menambah wawasan dan belajar dari kesalahan dan kelebihan para perintis bisnis internet bagi yang memiliki minat untuk mendirikan bisnis dot-com seperti Detik.com, Astaga.com atau pun Boleh.com. Bukankah makin banyak layanan internet asli dari tanah air? Pasar masih terbuka lebar dan potensinya pun sungguh besar berdasarkan jumlah populasinya.

Ayat-Ayat Cinta

Terus terang saya kurang memiliki minat menonton film Indonesia karena kadang kurang masuk akal dan dibuat-buat. Termasuk film Ayat-Ayat Cinta. Hanya saja saat banyak orang membicarakannya, saya pun jadi penasaran. Sungguh. Bagaimana sih ceritanya, setting-nya yang katanya kurang pas dan ada bumbu kontroversi di sana.

Ulasannya hanya saya baca dari 21Cineplex dan Ruang Film. Sepertinya biasa saja. Tapi mengapa film ini bisa menjadi berita heboh? Ini yang membuat saya ingin menontonnya kala saya mudik untuk libur Paskah. Penasaran.

Jadi alasan saya menonton film ini adalah untuk menjawab rasa penasaran itu. Bukan, bukan pada film itu sendiri. Jadi tak sabar untuk pulang ke Kota Gudeg lalu berkunjung di bioskop di Carrefour…

Jumper

Apakah Anda memiliki keinginan untuk berjalan-jalan keliling dunia? Mengenal berbagai belahan dunia? Menjelajahi berbagai tempat di planet biru ini? Mungkin film berjudul Jumper harus Anda tonton. Mengapa? Soalnya film yang satu ini memeprlihatkan latar belakang dari pernjuru dunia.

Saat melihat trailer-nya, langsung timbul keinginan untuk menonton film ini. Bayangkan, bila seseorang bisa menjelajahi berbagai lokasi di dunia hanya dengan membayangkannya. Saat jiwa bisa berkelana tanpa dibatasi oleh raga. Melesat cepat dengan kecepatan kilat.

Film ini layak ditonton. Ide tentang kemampuan teleporter seperti yang dimiliki tokoh utama dalam film ini memang jauh di awang-awang imajinasi. Tapi berimajinasi sah-sah saja.

Bagaimana dengan Anda? Bila Anda bisa melesat ke suatu tempat di belahan dunia, kemanakah tujuan pertama Anda? Tibet, Thailand, Taiwan, Tajikistan, Togo, Turki, Turkmenistan, Tokyo, Tanzania, Trengganu atau Timbuktu? Hmm… Rupanya saya terobsesi dengan huruf T pagi ini. Kalau tak punya ide sama sekali, coba lihat saja Lonely Planet.

Where is the place you really want to go…?

Merenungi The Warlords

Film ini bukan untuk anak kecil dan mereka yang menghindar adegan kekerasan banjir darah dan sadis. Film The Warlords memang film perang. Namun, bukan film perang semata, ada banyak kisah manusia yang dihantar melalui tiap-tiap adegan melawan maut.

Film kolosal ini menyuguhkan beragam permaknaan di balik banyaknya adegan perang dan silat yang benar-benar menggambarkan kebuasan, kekerasan dan kebiadaban manusia kala dihadapkan pada momen hidup mati. Bahwa ada tujuan mulia, moralitas manusia dan kesetiaan yang masih terdapat di medan perang paling tak manusiawi sekali pun.

Namun, ada pertanyaan sederhana ‘mengapa harus berperang antar satu sama lain?’. Saya lebih suka memberi alasan bahwa semuanya kembali ke sumber daya. Bisa jadi itu berupa makanan, teritori, orang-orang dan termasuk wanita yang dianggap sebagai hak milik pada konteks waktu saat peperangan itu terjadi.

Lalu, bila seseorang sudah memiliki sumber daya, apakah dia sudah cukup? Kata ‘cukup’ memang relatif. Bukankah waktu kecil kita makan sedikit, setelah makin besar kita mengasup makanan yang jumlahnya lebih banyak. Itu termasuk kebutuhan akan sumber daya lainnya. Dan ‘tak cukup’ bisa membuat orang tega merebutnya dari tangan orang lain.

Film ini, yang diangkat dari sejarah di Negeri Tiongkok pada masa kekaisaran Dowager, juga memberikan betapa manusia akan berjuang mati-matian demi menyelamatkan nyawa mereka sekaligus mencapai tujuan masing-masing. Bahkan, berjuang demi nyawa orang lain.

Banyak yang bisa dipelajari dari sebuah perang. Namun, pelajaran paling penting adalah ‘bagaimana cara menghindarkan kejamnya perang?’. Entahlah. Film ini masih menyisakan banyak tanya di benak saya. Silakan menonton film ini.

The Warlords

Sudah beberapa hari ini saya melihat iklan film The Warlords. Para pemainnya termasuk Andy Lau, Takeshi Kaneshiro dan Jet Li. Pas, kan? Itu yang membuat saya ingin menonton film ini. Paling demen lihat film perang yang masal, fantastis dan melibatkan strategi perang.

Film ini mengingatkan saya akan Sun Tzu dan Toyotomi Hideyoshi yang ada dalam cerita Taiko karangan Eiji Yoshikawa. Epik yang apik untuk dibaca, dipelajari dan diterapkan dalam banyak hal dalam kehidupan.

Rencananya sih menonton film besok Selasa. Tak sabar saya. Penasaran. Seperti apa jalan ceritanya. Mumpung masih di Negeri Merlion. Kalau sudah di tanah air, ya, mungkin harus tunggu lama (tahun depan, 2008?) atau lihat dari CD bajakan yang buram dan ilegal.

Untuk yang hendak mencari info dan membaca ulasannya bisa melihatnya di The Warlords. Juga ada perenungan yang muncul dari benak saya. Bagi yang di Negeri Merlion, selamat menonton.