Menata Rumah, Menata Ruang Kehidupan

Salah satu tempat hidup adalah rumah. Tempat tinggal yang tak sekedar untuk tidur di kala malam. Lebih dari itu adalah sebuah keadaan untuk bernafas, bersantai dan menghadirkan sebuah kehidupan yang jauh dari pekerjaan. Sebuah tempat privat untuk aktivitas yang bersifat pribadi.

Oleh karena itu, saya pun mulai terpikir untuk menghadirkan (baca: membeli) beberapa perkakas pendukung sebuah kehidupan ‘rumah tangga’. Terus terang, saya kurang berbelanja. Apa boleh buat, barang-barang tak datang dengan sendirinya.

Ada rencana, ada aksi. Mulailah saya memasuki beberapa toko di kawasan tempat tinggal saya yaitu di Toa Payoh, Singapura. Deretan toko-toko hingga supermarket saya sambangi untuk mencari beberapa barang.

Jadi meskipun aktivitas shopping kurang saya sukai, akhirnya juga saya menenteng peralatan dapur semacam piring, gelas, mangkok, sendok bahkan serbet untuk mengeringkan pecah belah tersebut. Kemudian saya kembali lagi untuk menjinjing setrika dan mejanya, sekalian tak lupa sabun cuci. Terlintas di benak saya, kegiatan yang lebih kerap dilakukan kaum hawa terutama ibu-ibu ternyata cukup berat. Saya merasa waktu itu sebagai ‘ibu rumah tangga’.

Lega rasanya saat sampai di rumah dan meletakan semua perkakas tersebut. Terpikir untuk segera mengundang teman-teman untuk acara masak-memasak dan makan bersama, seraya meresmikan rumah ‘baru’ kami. Tapi ternyata ada yang masih kurang dari rumah kami, yaitu ‘woman touch’. Bila Anda seorang wanita (syukur-syukur cantik dan masih lajang), bolehlah mampir untuk bertandang dan ‘mengurus’ rumah kami… Mimpi kali, ya?

Musim Kawin Kucing

Bulan Desember dan Januari biasanya bulan yang pas untuk menikah. Momennya pas dengan pergantian tahun dan permulaan ‘musim semi’. Maksudnya bunga dan tetumbuhan bersemi saat musim hujan, bukankah tidak ada musim semi di Indonesia. Begitu pun dengan cinta.

Bulan-bulan tersebut juga sangat berhujan yang pas untuk malam romantis saat malam pertama. Kalau hujan katanya tambah puitis dan nyaman untuk saling merapatkan betis.

Namun, sekarang bulan Februari dan masih hujan. Yang kawin bukan manusia tapi para kucing. Ya, benar kucing yang masih terkategorikan sebagai Felix dan sedarah dengan Harimau dan Singa.

Buktinya malam saat tulisan ini dibuat, para kucing tersebut saling mengeong yang agaknya berbeda dari malam-malam biasa. Tentu saja saya tidak memahami bahasa mereka. Hanya berandai-andai saja bahwa mereka saling menarik perhatian lawan jenisnya dengan bujuk rayu yang mendayu-dayu. Eongan mereka pun nadanya lebih panjang.

Semuanya hanya untuk satu tujuan: kawin, beranakpinak melanjutkan siklus kehidupan agar kaumnya tak punah. Hmm… mendengar eongan para kucing, saya juga ingin cepat-cepat kawin, tentu dengan pernikahan yang ruwet dan calon pasangan seumur hidup yang belum saya temukan hingga detik ini.

Energi Hijau vs Energi Nuklir

Ibu Pertiwi dengan jumlah penduduk yang masuk lima besar di dunia ini makin tak kuasa memenuhi kebutuhan masif para putra bangsa akan energi. Entah di kota atau di desa, listrik menjadi kebutuhan pokok yang teramat vital.

Listrik pun dibangkitkan oleh pabrik listrik dari beragam sumber daya alam. Baik dari batubara, minyak, panas bumi atau pun tenaga air. Ternyata masih kurang, tandanya byar-pet di hampir seluruh Nusantara. Kecuali di daerah pelosok, tak ada byar-pet karena memang listrik belumlah hadir.

Rakyat pun dihimbau untuk maklum dan mendukung pembangkit listrik tenaga nuklir. Pertanyaan serupa dan senada membanjir, “Apa tidak ada sumber daya lain yang lebih baik?”. Dan tentu ramah lingkungan.

Bukankah ramai dibicarakan, baik sebagai wacana atau realita, tenaga listrik yang berasal dari angin, matahari, dan air pasang-surut yang berlimpah-ruah di negeri yang loh jinawi ini.

Kesimpulannya, bukan SDA (sumber daya alam) yang kurang namun SDM (sumber dayaa manusia) yang belum maksimal mengelola perlistrikan di negeri ini. Bagaimana menurut Anda?

6 Degress of Separation

Pernah membaca tentang teori 6 Degress of Separation? Bila belum tolong sambangi dulu http://www.wikipedia.org lalu carilah definisinya.

Intinya, menurut teori itu, setiap orang di dunia hanya memerlukan 6 orang yang menjadi perantara untuk menghubungkan dirinya dengan orang lain. Entah itu hubungan secara langsung, lewat alat komunikasi atau melali surat-menyurat.

Pada mulanya saya tentu tidak percaya. Kan jumlah orang di Bumi ini banyak sekali.

Namun, sekali waktu saya perlu menghubungi teman yang dulu pernah saya taksir sewaktu jaman kuliahan. Sayang, saya tidak punya nomor telepon atau bahkan alamat rumahnya. Sementara dia sudah berpindah alamat berhubung tempat kerjanya yang baru.

Maka saya pun berinisiatif menghubungi teman dekat rekan yang saya mau kontak tadi. Eh, beruntung teman tersebut masih mempunyai nomor kontak HP rekan tersebut. Dan akhirnya saya pun terkontak dengan dirinya. Walau sedikit termabat mengetahui bahwa dirinya telah menikah dengan orang lain.

Hanya diperlukan 3 derajat (3 orang terhubung) dari dirinya. Saya – teman dia – dia.

Dunia ini aneh, kan?