Sajak
Tak pernah benar saya paham mana yang sajak atau yang bernama puisi. Apalagi prosa dan prosa lirik. Tak pernah menjadi pencinta puisi. Semata hanya suka bermain kata.
Sudah lama saya ingin mencoba berpuisi. Meskipun mungkin kosong tak berisi. Itu pun saya lebih suka menyebutnya bersajak, entah mengapa. Kecil namun berarti, paling tidak untuk saya pribadi.
Oleh karena itu, sebuah kategori baru muncul dalam deretan kategori di blog Munggur ini. Tersebutlah kategori ‘sajak‘. Mungkin karena saya mencoba untuk lebih humanis. Ada sentuhan seni yang menyentuh relung hati.
Sajak pertama yang muncul adalah Belalang. Selamat menikmati!
Belalang
Aku ini binatang bernama belalang. Melanglang ke banyak padang. Hinggap di antara ilalang. Tidur dengan ditemani taburan bintang. Yang kala hujan pasti menghilang.
Aku selalu diburu burung yang terbang. Sebagai makanan yang membuat kenyang. Meski aku ini petualang. Namun, takut waktu ‘kan juga menelanku hilang.
Memang aku belalalang lajang. Sedang mencari pasangan untuk biak berkembang. Jalanku penuh rintangan. Tapi pemandangan masih membentang. Kan kunikmati kala sayap masih merentang. Sebelum nyawa meregang.