Arsip | singapura RSS for this section

Jalan-Jalan di Joo Chiat

Apakah Anda termasuk pencinta wisata kuliner? Bila memang ingin memuaskan lidah, ada baiknya menyusuri wilayah Joo Chiat saat sedang bertandang ke Negeri Merlion.

Ada beberapa tempat yang ‘konon’ makanannya enak menurut versi seorang gadis baik hati yang menunjukkan tempat-tempat tersebut.

Coba makanan tradisional ala Peranakan bernama Kim Choo yang berlokasi di Joo Chiat Place, Singapore, 427784. Informasinya dapat dilihat di kimchoo.com. Jangan lupa untuk naik ke lantai dua bangunan tersebut, ada ‘galeri’ kecil yang mempertunjukkan beberapa barang-barang antik tempo dulu. Tentu setelah itu bisa mencicip aneka rice dumpling yang relatif murah harganya.

Untuk penggemar bun,  harus mencoba D’bun di 358 Joo chiat Road, 427603. Coba ulik  dbun.com.sg. Bun di sini buatan tangan. Tentu berbeda dengan buatan pabrik yang rasanya ala kadarnya.

Sedangkan yang menyukai gourmet cheesecakes patisseries, Obolo menawarkan berbagai kue rasa Barat yang bentuknya unik. Catatan, rasanya lebih enak menikmati di tempat daripada dibawa pulang. Maklum, kue-kue semacam itu mudah lumer bila terkena panas atau dibawa-bawa dalam waktu lama.

Akan lebih baik bila Anda menyusuri Joo Chiat sebelum matahari tenggelam. Pertama, nyaman makan dan berjalan-jalan karena belum terlalu ramai sehingga tak perlu antri di depan restoran. Kedua, di waktu malam akan terdapat banyak kupu-kupu malam yang mengais rejeki dan lelaki hidung belang yang mencari kesenangan. Terutama bagi kaum Hawa,  sebaiknya mengajak teman laki-laki agar tak ada Om-om yang ‘salah menawar’. Maklum, Joo Chiat memang dekat dengan kawasan lampu merah.

Jangan lupa juga bawa kamera. Joo Chiat memang diperuntukkan bagi konservasi arsitektur kuno. Ada banyak bangunan masa lalu yang terawat dengan baik. Bukan untuk memotret yang bukan-bukan di waktu malam.

Menjelajahi MacRitchie, Singapura

Bosan dengan pemandangan di Negeri Merlion yang didominasi gedung tinggi, mal-mal yang selalu ramai, padatnya stasiun MRT dan jalanan yang teratur rapi? Bila ya, coba berjalan-jalan di MacRitchie Reservoir. Tempat menampung air yang dikelilingi hijaunya tetumbuhan lebat dan jalanan setapak. Bagus untuk olahraga dan cari keringat.

Informasi tentang rute-rutenya bisa didapat dari MacRitchie forest trails. Sedangkan untuk lokasi dan jalan menuju ke tempat itu bisa dilihat di peta MacRitchie Reservoir.

Sebaiknya sebelum ke sana, bawalah makanan berkalori tinggi agar tak kelaparan di dalam ‘hutan kecil’ itu. Siapkanlah botol air agar tak mengalami dehidrasi. Tak lupa, pakailah sepatu yang sesuai dengan trek jalanan setapak. Karena menjelajahi reservoir pastilah berkeringat, ada baiknya membawa cadangan baju.

Bila mengunjungi tempat itu di kala musim hujan, cukup bijak untuk membawa jas hujan atau payung. Untuk yang sensitif dengan donor darah a la nyamuk, anti-nyamuk wajib digunakan. Berhubung tempat itu cukup luas, perhatikan petunjuk arah dengan benar. Dengan begitu, Anda tak tersesat dan akhirnya kecapaian di dalam hutan itu. Ajak teman perjalanan agar bila terjadi sesuatu, minimal ada yang menolong Anda.

MacRitchie memang tempat yang ditujukan bagi mereka yang suka aktivitas luar ruang. Pas untuk yang ingin bakar kalori alias mengempeskan perut buncit dan menurunkan berat badan. Juga bagi yang ingin mencari udara segar yang bebas dari air conditioner.

Selamat jalan-jalan menjelajahi MacRitchie!

Tempat Ibadah, Arah dan Tersesat

Saat berjalan-jalan di Negeri Merlion saya mendapati bahwa umumnya tempat ibadah memiliki struktur yang relatif tinggi atau besar. Yang jelas dapat dikenali dari jauh karena cukup mencolok keberadaannya. Dengan asumsi bahwa hal ini juga terdapat di berbagai belahan dunia.

Coba amati Buddha Tooth Relic Temple di Chinatown, Sultan Mosque di Kampong Glam dan St. Andrews Cathedral di North Bridge Road. Dari jauh pastilah cukup mudah mengenali bangunan-bangunan tersebut. Saat Anda tersesat, Anda cukup menggunakan landmark tersebut sebagai patokan jalan untuk melihat peta atau bertanya pada orang.

Kemudian terlintas bahwa, terlepas dari agama apa saja, mungkin bangunan ibadah tersebut memang sengaja dibuat tinggi, besar atau pun mencolok. Gunanya agar orang yang ‘tersesat’ dapat menemukan arah yang benar. Kembali mengingat Sang Khalik kala menghadapi cobaan, godaan dan tekanan hidup. Untuk menemukan kedamaian.

Bila wujud bangunan tak cukup menyadarkan orang yang ‘salah jalan’, masih ada suara lonceng yang nyaring, genta yang menggema atau pun syiar yang mengumandang tanpa lelah. Dengan begitu, para insan manusia bisa kembali mendapat patokan hidupnya. Pegangan dalam hidup yang kian rumit, sulit dan amit-amit.

Ah, rupanya Sang Khalik memang memiliki welas asih dan selalu berusaha menyapa umatnya. Bila hati terasa panas, mari berteduh di tempat suci agar sejuk terasa. Lalu, setelah itu lanjutkan kembali perjalanan hidup dalam usaha mencari makna.

Tau Sar Piah Deli dan Bak Kwa

Siang ini rupanya saya cukup beruntung, seorang teman berbaik hati mengantar sekaligus mengajari saya bagaimana berwisata kuliner di Negeri Merlion. Dia memberitahu saya beberapa tempat populer untuk wisata kuliner. Termasuk untuk buah tangan saat saya pulang kampung ke Kota Gudeg.

Pertama, kami mampir ke Balestier untuk membeli Balestier Tau Sar Piah Deli dari toko yang memiliki nomor 631. Rasanya gurih dan renyah. Menurutnya, toko yang paling enak terletak di ujung jalan dekat persilangan jalan, sayang masih tutup. Deretan toko-toko yang jualan pia ini mengingatkan saya akan Jalan Mataram di Yogya yang menjadi pusat bakpia. Tentu dengan nomor-nomor tokonya.

Lalu perjalanan dilanjutkan ke kawasan Chinatown – Wikitravel untuk membeli Bak Kwa di toko Lim Chee Guan di People’s Park Complex. Katanya ‘daging manis’ ini lebih kenyal dan berasa dibandingkan Bak Kwa di toko-toko lain. Kami mencicip sedikit dan memang benar Bak Kwa di sini memang uenak tenan. Harganya terjangkau. Selain itu kemasannya bagus dan praktis karena menggunakan plastik vakum sehingga cocok untuk oleh-oleh. Ada pula cumi-cumi kering dalam bungkusan plastik.

Kami juga sempat menikmati semacam puding yang saya lupa namanya apa. Yang penting enak. Sekali lagi dia berujar bahwa ‘puding’ tersebut pas untuk yang panas dalam. Dia juga menunjuk TenRen’s Tea, sebagai tempat yang pas buat para pecinta teh seperti saya, di dekat Buddha Tooth Relic Temple yang kami kunjungi saat itu juga.

Menyenangkan sekaligus mengenyangkan berwisata kuliner di Balestier dan Chinatown. Sayangnya, sebagian penjaja makanan, warung atau restoran lebih lancar menggunakan bahasa Mandarin sebagai bahasa pengantar. Yang memang saya tidak paham sama sekali. Sekali lagi, untung teman saya menjembatani keterbatasan berbahasa saat memesan atau menanyakan makanan. Maklum, biasanya saya memakai metode Tarzan yaitu tunjuk, bayar dan makan.

Kapan-kapan saya harus kembali menjelajahi daerah tersebut untuk memuaskan lidah dan melatih cita-rasa. Mungkin saat mengantar adik saya jalan-jalan saat dia bertandang ke Negeri Merlion bulan Februari mendatang atau bila ada teman yang kebetulan berwisata di negeri pulau ini. Ah, wisata lidah memang uenak tenan.

Novena di Gereja Novena di Daerah Novena

Bagi Anda para penganut agama Nasrani, bila Anda tinggal atau sedang melancong ke Negeri Merlion, bisa mengunjungi Gereja Novena dan melakukan doa Novena di gereja tersebut. Lokasi gereja tersebut berada di daerah bernama Novena. Nama daerah tersebut memang berasal dari gereja tersebut.

Untuk mencapai tempat tersebut, Anda bisa menggunakan MRT dan turun di stasiun MRT Novena. Berjalan kaki 5 menit dan sampailah di gereja yang ramai dikunjungi umat setiap hari Sabtu jam 13.00. Waktu untuk doa Novena. Sebaiknya datang 15 menit lebih awal bila ingin mendapatkan tempat duduk.

Dulu saya pernah heran dengan nama daerah tersebut, apakah ada kaitannya dengan aktivitas doa Novena. Dan ternyata memang benar adanya. Jadi, silakan datang dan berdoa. Memohonkan ujud doa, mengirimkan sujud syukur atau semata mencari kedamaian hati.

Selamat bernovena di Gereja Novena di daerah Novena.

Bertualang di Geylang

Mendengar kata Geylang, pastilah orang-orang di Negeri Merlion akan sedikitnya tersenyum atau mengerutkan dahi. Ya, Geylang itu daerah lampu merah di negeri pulau ini. Namun, tidak seluruh area tapi hanya sebagian saja. Dan itulah yang membuat saya tertarik untuk mengunjunginya hari Minggu kemarin. Untuk mengetahui seperti apa tampak luar dari jalan bernama Geylang tersebut. Rencana perjalanan saya mulai dari MRT Lavender untuk berkunjung ke Kampong Glam. Sembari melihat-lihat Masjid Sultan. Lalu, menyusuri jalan menuju Geylang.

Justru saat jalan-jalan di area lampu merah saya mendapati tiga hal yang mencolok. Tempat ibadah yang tersebar di beberapa tempat seperti bunga Lotus yang hidup di antara kubangan lumpur. Dengan begitu, para pendosa masih mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali ke jalan yang benar. Bukan malah menutup lokalisasi tersebut hingga para penghuninya membuka bisnis di mal dan kampus seperti di tanah air.

Kedua, adalah pusat penjualan kasur dan tempat tidur. Ini penting karena pasti mempengaruhi performa para pramunikmat di Geylang. Dan terakhir adalah tempat makan yang ada di mana-mana. Katanya masakan di rumah makan pinggir-pinggir jalan tersebut sangat enak. Terlepas makan sendiri atau ditemani.

Petualangan? Rasanya tak pantas saya menyebut diri saya bertualang. Hanya menyusuri jalan. Itu pun di siang hari yang mana membuat saya berkeringat. Bukan, bukan karena aktivitas yang ‘bukan-bukan’. Tapi jalanan di Negeri Merlion memang panas, maklum negeri ini tepat di garis Khatulistiwa. Mungkin, bila yang bertandang ke Geylang adalah pemilik blog Sekarang, mungkin dia akan mencicip kenikmatan duniawi di sini.

Mengetahui saja sudah cukup. Tak hendak lebih dari itu. Bahaya atuh! Jadi teringat saya dengan kawasan Pasar Kembang dekat Malioboro di Kota Gudeg.

Godiva

Para penggemar coklat pastilah tahu nama Godiva. Ya, nama salah satu paling favorit di dunia. Coklat ini berasal dari Brusel, Belgia dan ditemukan 80 tahun yang lalu oleh seorang master coklat bernama Joseph Draps.

Saya kurang tahu apakah ada gerai Godiva di tanah air. Namun, bila Anda para penggemar coklat yang kebetulan berkunjung ke Negeri Merlion, Anda bisa menuju ke Citylink Mall. Di sana terdapat satu gerai coklat Godiva tersebut.

Harga coklat di sana bervariasi. Memang relatif mahal. Rata-rata berkisar antara USD 25. Tapi rasanya memang sebanding. Betul-betul coklat sejati. Coba bayangkan saat kepingan coklat Godiva mencair di mulut pasangan Anda, pastilah hatinya lumer untuk Anda. Siapa tahu?

Satu hal yang kontradiktif yaitu bahwa kaum Hawa sangat menyukai coklat. Namun di saat yang sama juga takut makan coklat. Alasannya, takut gemuk. Susah, ya?

Tukar Uang

‘Bukan sulap bukan sihir’ yang bisa mengubah lembaran kertas menjadi uang. Yang kita bicarakan adalah menukar uang di layanan penukaran uang (baca: money changer). Bila tak hati-hati bisa jadi nilai tukar berkurang atau kena tipu mentah-mentah.

Sebelum menukar uang ada baiknya kita mengecek terlebih dahulu kurs yang berlaku hari ini. Cara praktisnya dengan mengetikkan, kita ambil contoh, “convert 650 usd to sgd” ke Y! Search. Seketika hitungannya dimunculkan. Pada saat tulisan ini dibuat 1 USD sama dengan 1,53 SGD. Datanya diambil dari Y! Finance yang berlaku umum di dunia. Minimal untuk patokan standar nilai tukar uang tersebut terhadap mata uang yang dituju.

Tentu ada istilah ‘sell‘ dan ‘buy‘. Tidak perlu bingung. Coba lihat di papan penampang nilai mata uang yang  terdapat di hampir semua money changer. Tertulis money changer sell 1,53 dan buy 1,51. Maksudnya, kisaran tersebut dipakai oleh money changer. Mereka akan sell 1 USD ke kita (baca: penukar uang) seharga 1,5 SGD. Untuk mendapatkan uang sebesar 650 USD maka kita perlu membayar 995,75 SGD ke mereka.

Pastikan dulu harga patokan sudah pasti. Boleh hitung-hitung dulu dengan kalkulator. Tak perlu tergesa-gesa. Bila sudah sepakat baru tukar uang. Saat menerima uang, hitung terlebih dahulu dengan cermat di depan staf money changer. Minta juga kwitansi atau bukti pembayaran/penukaran. Periksa keabsahan uang bila dirasa perlu. Itu adalah hak kita sebagai penukar uang.

Sewaktu melihat para staf tersebut, yang terdapat di Lucky Plaza, Orchard Road, Singapura,  yang kebetulan cukup tua, wajahnya penuh keriput, bicara kurang halus (tapi sebenarnya baik dan tidak kasar) dan berkulit hitam (maaf, tidak bermaksud menyinggung) seketika saya teringat dengan Goblin yang bekerja di bank Gringotts dalam cerita Harry Potter. Mereka sama-sama menjaga uang dan raut wajahnya terlihat pelit dan licik.

protego blogo munggur

Pulau Ubin di Singapura

Minggu lalu tepat pada saat NDP – National Day Parade hari lahirnya negara Singapura saya berjalan-jalan ke Pulau Ubin. Pulau teramat kecil di sebelah Utara pulau utama Singapura. Tempat yang bagus untuk sekedar refreshing. Saya ingin sedikit berbagi cerita cara ke tempat itu dan beberapa aktivitas di sana.

Pulau Ubin merupakan tempat paling tepat untuk escape dari hiruk pikuk kehidupan kota metropolitan yang dihiasi dengan gedung-gedung beton nan membosankan. Alasannya, pulau tersebut belum tersentuh pembangunan a la daerah Orchard atau Marina. Masih alami. Masih perawan.
Anda bisa turun dari stasiun MRT Tampines dan meneruskan perjalanan dengan bus nomor 29. Turun di Changi Village dan berjalan kaki sekitar 5 menit untuk mencapai pelabuhan kecil. Dari sini, Anda bisa memakai perahu kayu tua bermesin untuk menyeberang ke Pulau Ubin. Ongkosnya cukup 2 dolar Singapura. Perjalanan laut hanya menempuh waktu kira-kira 10 menit.

Sesampai di pulau tersebut, Anda bisa menyewa sepeda. Sebaiknya sewa saja untuk sehari penuh dengan ongkos sekitar 8 dolar Singapura. Dengan begitu Anda bisa mengelilingi pulau tersebut. Ada beberapa aktivitas selain melihat pemandangan. Anda bisa memancing ikan atau kepiting, memotret, bersantai di pantai dan makan di kedai setempat.

Pulau tersebut memiliki hutan kecil yang menyegarkan pikiran, jalanan tanah dan pasir yang menantang untuk bersepeda dan kedai yang mengenyangkan perut dan dahaga. Jangan lupa untuk pulang sebelum perahu mesin berhenti beroperasi. Satu hal yang paling menyenangkan dalam perjalanan kali ini adalah menikmati goyangan perahu yang disapu ombak dan terpaan angin laut kala saya berdiri di bagian dek perahu.

Bila Anda mau ke sana, bolehlah kita pergi bersama…

protego blogo munggur

Antri

Bisa didefinisikan sebagai aktivitas untuk melakukan sesuatu secara bergantian dan biasanya teratur secara berurutan.

Saat saya tinggal di Yogya, antri merupakan hal yang jarang terjadi. Kecuali di antrian bank dan ATM yang sering dijaga oleh satpam. Saat tinggal di Singapura, di mana-mana antri. Menurut saya hal ini bagus sekali. Ada keteraturan dan semua orang tidak harus berdesak-desakan kala membayar di kasir, masuk ke stasiun MRT atau pun naik bis.

Hanya saja saya sempat terkejut sekaligus tertawa dalam hati. Antri memang bagus. Tapi harus pakai otak. Tak hanya asal berjejer di belakang orang lain. Ceritanya seperti berikut.

Pernah suatu kali saya tak sengaja berdiri di sebuah kafe. Eh, di belakang saya ada seorang perempuan. Setelah cukup lama, dia bertanya apakah saya sedang antri. Saya jawab, tidak. Lalu, berlalulah dia. Saya pikir dia mau kenalan.

Kali lain, saat saya hendak naik bis. Ada beberapa orang yang sedang mengantri juga. Ternyata antrian tersebut untuk naik bis jalur lain. Ternyata ada juga yang salah antri. Mengapa tidak tanya yang di depan.

Jadi, mengantri haruslah tahu antrian mana yang benar dan untuk apa. Tidak asal berdiri di belakang orang lain. Coba kalau salah antri, bisa membuang waktu padahal sudah capai berdiri. Nah, lho!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 29 pengikut lainnya.