Istirahat

Sudah malam. Apakah sudah lelah? Tak perlu dipaksakan untuk tetap menikmati malam. Masih ada hari esok.

Ya. Mungkin masih ada kerjaan yang belum selesai. Pembicaraan yang asyik dengan teman. Atau mungkin sedang menonton kotak kaca hingga lupa waktu.

Tapi sudah malam. Tengah malam tepatnya. Istirahatlah. Selamat tidur…

Lama Tidak Blogging…

Sudah terlalu lama tak sempat menuliskan pikiran dan opini di blog ini. Alasan klasik masih menghiasi. Sibuk dengan terlalu banyak aspek kehidupan. Ditambah dengan koneksi internet yang belum terpasang di rumah.

Jemari saya tak tahan lagi untuk menari-nari agar bisa mewujudkan rangkaian kata yang membuat blog ini kembali berwarna. Ah, sepertinya belum lega bila isi kepala belum tertumpah di sini…

Perpustakaan Umum

Saya mengagumi perpustakaan. Tempat di mana buku dipajang berjejer-jejer menanti untuk dibaca. Bila tertarik, bisa dipinjam. Dibaca di rumah. Setelah selesai lalu dikembalikan.

Bahkan, dulu waktu duduk di bangku sekolah dan kuliah, saya betah berlama-lama di sana. Membaca relatif gratis dan banyak variasinya. Lagipula, tak ada cukup uang untuk membeli buku.

Berbeda dengan perpustakaan negeri yang tak teratur dan menurunkan minat baca. Malahan lebih enak menyerap rajutan kata yang tertulis di buku yang terpampang di rak-rak toko buku. Membaca di tempat dengan berdiri karena memang tak disediakan kursi.

Dan salah satu impian saya adalah menyediakan tempat baca untuk umum yang gratis. Untuk mereka yang tak memiliki akses ke perpustakaan yang bagus sekaligus tak cukup pundi-pundi untuk ditukar dengan buku.

Masih di awang-awang. Hanya saja, tak disengaja siang ini impian lama tersebut bangkit  kembali kala ada teman yang memiliki keinginan yang sama. Ada kata, ada rencana. Meski belum terwujud sama sekali, namun senang bertemu mereka yang memiliki impian yang sama. Semoga tak hanya menjadi mimpi siang bolong yang menguap bersama sepoi-sepoi angin dan ditelan sang kala.

Motivasi Berolahraga

Masing-masing orang memiliki motivasi untuk melakukan olahraga yang berbeda-beda. Bila saya boleh tahu, apa yang menjadi latar-belakang Anda?

Untuk saya, justru motivasinya boleh dibilang sedikit tak biasa. Saat menonton film Twilight, saya terpesona dengan kemampuan badan para vampire tersebut. Lari-lari dengan cepat, tidak mudah capai kala beraktivitas dan tak sedikitpun jatuh sakit. Tentu saya juga paham bahwa itu film semata. Lagipula mereka bukan manusia.

Tadi pagi saya iseng mengikuti jalannya pertandingan sepakbola sembari sarapan di food court. Salut untu pemain sepakbola yang selalu fit. Badan yang tegap dan wajah penuh keyakinan. Yang memang ditempa tiap hari melalui latihan dengan disiplin ketat. Intinya olahraga membuat badan bugar.

Teringat juga film-film ninja dan silat yang terampil berakrobat dan bertarung. Hasil dari latihan keras bertahun-tahun. Artinya tubuh seseorang bisa dioptimalkan hingga di atas rata-rata.

Dan saya menyadari lemahnya tubuh kala mencoba melompat ke tempat duduk pendek; saat pemanasan sebelum lari-lari tadi pagi. Terjerembab. Hasil dari kemalasan mengolah tubuh.

Jadi, bila saya ingin memiliki tubuh fit tentu harus dibarengi olahraga yang teratur. Tidak dengan jalan pintas seperti menjadi vampire.

Lomba Lari dan Asupan Semangat

Suatu perjuangan akan lebih ringan bila ada asupan semangat yang seakan memberikan tambahan tenaga untuk terus berusaha. Dan ada sekian banyak asupan semangat yang dapat saya rasakan kala mengikuti Lari Nike+ 10K. Membantu saya untuk mencapai garis akhir di penghujung kilometer terakhir.

Tambahan enerji tak kasat mata tersebut macam-macam bentuknya. Baik semangat yang sungguh-sungguh positif dan yang menurut saya ‘motivasi yang lucu’.

Teriakan untuk terus maju dari race marshal yang berada di sepanjang jalur lari, penonton yang tepuk tangan, lambaian tangan dari teman yang juga mengikuti hajatan lari dan bahkan ada bule yang sedang duduk di kafe iseng menonton memberikan applause kepada saya agar terus maju.

Posisi start tepat di barisan terdepan, karena datang di lintasan lebih cepat dari seharusnya, membuat saya ‘terpaksa’ berlari agar tak tertubruk dan terinjak-injak ribuan pelari di belakang saya. Mau tak mau, saya pun berlari meski nafas rasanya sudah hampir putus.

Saat sudah letih tiba-tiba ada beberapa gadis muda yang berlari di depan. Ada alasan untuk mengejar, tentu jadinya berlari dan bukan jalan cepat lagi, supaya tetap bisa menatap makluk seksi di depan. Tiba-tiba lebih strong. Aneh tapi nyata.

Berlari lebih cepat kala mendekati tempat membagi minuman. Takut kehabisan bila tak cepat-cepat.

Ada rasa panas di hati dari ego saya yang paling dalam kala seorang nenek, menurut hemat saya mungkin berkisar 50 hingga 55, menyalip saya yang sudah setengah nafas di putaran jarak 2 km. Lari lebih kencang karena ‘masak saya kalah sama nenek-nenek’.

Berlari, bukannya jalan cepat, saat di sekitar jalur-jalur tertentu didapati fotografer, juru kamera atau pun suporter yang memotret sana-sini secara acak. Kan kurang afdol bila kelihatan loyo tak bertenaga. Norak memang. Tapi justru saat-saat itu rasanya bersemangat untuk lari sambil pasang tampang.

Seri perdana masak jeblok dan menyisakan kegagalan. Pokoknya harus bisa sampai garis finish dong.

Ada beberapa teman yang saya beritahukan perihal keikutsertaan saya di ajang lari-lari masal ini. Malu kan bila akhirnya saya harus membilang bahwa tak sanggup mencapai garis akhir. Terlebih di hadapan gadis baik hati yang menunggu dan menjemput saya.

Ada iming-iming mendapatkan bracelet suvenir lomba yang diberikan hanya kepada mereka yang berhasil mencapai garis finish. Apalagi menurut peraturan, semua pelari harus mengembalikan champion chip, sejenis perangkat kecil RFID untuk melacak jarak lari para pelari yang dipasang di tali sepatu, di dekat garis finish.

Mendung dan hujan rintik-rintik di jarak tempuh 2 km membuat banyak pelari mempercepat langkahnya agar tak kehujanan. Termasuk saya. Malas bila harus berbasah kuyup karena keringat ditambah air hujan.

Timbulnya rasa penasaran dengan jalur yang berbelok-belok di seputaran Esplanade, melewati Clarke Quay, hingga Marina yang menawarkan pemandangan yang beragam. Ada keasyikan saat menapaki jalanan tersebut bersama ribuan pelari berkaos merah dari Nike lainnya.

Itulah asupan semangat yang saya dapatkan. Ada momen yang tertangkap di benak kala memutuskan untuk berlari bersama ribuan orang lainnya di Nike+ 10K. Sungguh menyenangkan.

Jauhnya Garis Finish

Tak dapat dipungkiri bahwa setiap insan manusia pernah merasa penat tak terkira saat menapaki perjalanan hidup. Tujuan yang hendak dicapai terasa tak tampak. Muncul pertanyaan yang umum didapati. Sampai berapa lama lagi saya harus menempuh jauhnya perjalanan?

Rasa di atas pun saya alami dan pahami kala mengikuti Nike+ 10K. Sungguh saat itu tak terbayang apakah saya akan mencapai garis finish kala menyadari nafas saya sudah tersengal-sengal pada 1 kilometer pertama.

Rasanya ingin berhenti berlari dan jalan kaki saja. Tapi apa daya, posisi berlari saya yang termasuk di bagian depan dengan ribuan orang di belakang membuat saya mau tak mau harus terus berlari agar tak tertubruk pelari-pelari di belakang saya. Harus berlari. Keterpaksaan yang ternyata menjadi semangat tersendiri untuk terus mengayunkan kaki cepat-cepat.

Lalu, tanda 2 km akhirnya nampak juga. Terpikir di benak saya. 10 km toh sebanding dengan 5 kali 2 km. Membagi jarak yang teramat jauh rasanya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Menjadikannya masuk akal untuk dijalani.

Dan akhirnya setelah melewati titik 9 km, titik terberat di mana banyak pelari yang rasanya ingin berhenti saja, ada secercah harapan baru. Hanya tinggal 1 km terakhir. Pokoknya harus all-out lari hingga garis akhir. Lagipula, ada begitu banyak peliput dan suporter yang berada di jalur menjelang garis akhir. Malu dong bila terlihat jalan pelan-pelan seperti orang yang menyerah kalah.

Akhirnya garis yang menandakan 10 km terlangkahi sudah. Perjuangan sudah usai. Jarak yang tadinya terlihat jauh sekali dan susah tercapai menjadi tak berarti. Terus melangkah tanpa henti. Tak menyerah.

Sama seperti jalannya kehidupan ini. Banyak hal yang hendak dituju sepertinya jauh di horizon. Namun, perjuangan melangkah tanpa henti akan menghasilkan hasil yang sepadan. Suatu pencapaian. Ada kepuasan untuk menuntaskan suatu perjalanan.

Singapore Marathon 2008

Setelah kelar mencapai garis finish pada lari Nike+ 10K pada 31 Agustus tempo hari, saya pun merasa tertantang untuk mengikuti hajatan lari lainnya. Lari Nike+ 10K tentu berkesan karena merupakan kali pertama saya mengikuti acara olahraga masal seperti ini. Perdana, kata orang. Namun, ada keinginan untuk menaklukkan 10K yang lainnya.

Tersebutlah Standard Chartered Singapore Marathon 2008 yang akan digelar pada 7 Desember 2008. Menarik. Tapi tunggu dulu, jangan buru-buru menyangka saya akan mengikuti full marathon yang berjarak tempuh 42, 195 KM. Saya cukup tahu diri dengan memilih kategori lomba 10K. Lumayan, hampir seperempat Marathon.

Masih ada 82 hari untuk melatih kaki agar kuat melangkah hingga garis akhir. Bagaimana dengan Anda? Ayo ikut saja! Berlari bersama-sama ribuan orang cukup menyenangkan.

Tags: , , ,