Setelah Jam 2 Pagi

Sebuah serial komedi televisi menyuguhkan suatu episode di mana topiknya mengenai ‘tak ada yang baik untuk dilakukan setelah jam 2 pagi’. Di situ digambarkan bahwa salah satu tokohnya tetap memaksa untuk membuat suatu keputusan setelah jam 2 pagi. Melanggar nasihat kuno tersebut. Kejadian demi kejadian berlangsung. Hasilnya bencana. Sang tokoh pun akhirnya menyadari, sembari menyesali, bahwa memang tak ada yang baik untuk dilakukan setelah jam 2 pagi.

Ada benarnya juga. Begadang untuk bekerja atau belajar hingga tengah malam tiba pun biasa dilakukan oleh banyak orang. Namun jarang sekali yang bisa semalam suntuk dan meneruskan aktivitasnya tanpa merasa kelelahan, baik fisik maupun pikiran.

Coba perhatikan juga, banyak orang yang melakukan aktivitas malam seperti di klub malam, di jalanan, atau di rumah setelah jam 2 biasanya melakukan kesalahan. Mungkin karena tubuh dan otak sudah susah bekerjasama. Hasilnya hanya berupa hal yang tak baik. Jamak terdengar kisah tentang kecelakaan di pagi buta. Pertengkaran yang terjadi sekitar jam itu.

Untuk saya pribadi, tak pernah bisa melewati jam 2 pagi tanpa tidur. Bila pun masih terbangun, otak sudah dalam kondisi blank. Tak bisa bekerja dengan baik. Lowbatt. Badan juga sudah lunglai tak bertenaga. Tertatih-tatih melewati malam.

Tak tahan begadang hingga larut malam, biasanya ya saya putuskan untuk tidur. Tak bisa tidur pun ya tetap memaksa diri untuk tidur. Tak seharusnya lebih dari jam 2 malam. Sama seperti malam ini. Masih ada kerjaan yang belum tuntas. Tapi ya kalau dipaksa hasilnya juga tak bagus. Jadi saya putuskan untuk tidur sekarang juga. Mumpung masih sekira jam 1 pagi.

Menerjemahkan itu Permainan Mental

Kebanyakan orang yang awam dengan dunia penerjemahan menganggap bahwa proses menerjemahkan itu tak susah. Mudah dan sudah seharusnya ongkosnya murah. Duh!

Menerjemahkan itu perlu pemahaman yang benar, ketelitian, dan mahir dalam memakai kedua pasang bahasa yang berbeda. Perlu mental yang kuat. Terbukti bahwa tak semua orang mampu menyelesaikan materi terjemahan. Oleh karena itu ada suatu profesi yang bernama penerjemah. Membantu orang untuk menerjemahkan.

Bahkan tak semua penerjemah mampu menuntaskan pekerjaannya. Ada yang menyerah di tengah. Begitu juga yang asal-asalan mengerjakan karena sudah tak lagi betah.

Namun banyak juga penerjemah profesional yang benar-benar mengerjakan dan menyelesaikan proses penerjemahan dengan sempuran. Tak mudah, makan waktu, dan membutuhkan pemikiran mendalam. Toh, mereka memang punya integrasi sehingga mampu dan mau memberikan hasil terjemahan yang terbaik yang bisa mereka berikan.

Menerjemahkan itu bukan suatu hal yang bisa dikerjakan semua orang. Hargailah penerjemah. Sebabnya sederhana, menerjemahkan itu permainan mental. Ada stres di sana. Ada juga rasa penasaran saat belum bisa menemukan padanan kata yang tepat. Ada rasa tertekan saat pekerjaan belum selesai meskipun mendekati waktu yang disepakati.

Bagi para penerjemah, semoga tetap bermental kuat sehingga bisa menuntaskan proses terjemahan dengan sempurna dan tepat waktu.

Blogwalking

Dulu sekali itu, saat jamannya blog masih baru dan hangat, banyak yang memberikan waktu untuk blogwalking. Mengunjungi, melihat, dan membaca blog-blog tetangga yang menarik perhatian dan minat. Bila cukup senggang, para blogger bisa saling memberi komentar. Blog-blog tersebut menjadi hangat dan ramai dengan percakapan virtual lewat papan komentar. Saling membagi cerita, informasi, dan opini.

Sayangnya, jaman mulai berubah saat muncul Facebook, Twitter, dan berbagai jejaring sosial virtual lainnya. Yang tadinya produktif dengan blogging lama-lama menjadi pasif yaitu scrolling, liking, following linimasa orang lain. Banyak blog mulai tak terurus. Makin sedikit postingan baru. Ramainya berkurang. Hanya mereka yang memang setia dan suka menulis yang terus menambah isi blognya dengan berbagai segi kehidupan yang unik dan menarik.

Dengan kesibukan mengasup jejaring sosial virtual, blogwalking menjadi aktivitas yang tak sepopuler dulu. Maklum karena orang-orang yang sama, yang dulunya rajin memperbarui blognya, lebih terpaku bersosialisasi di Facebook dan Twitter. Bisa komentar dengan lebih cepat. Banyak gambar yang menarik. Juga bisa membagi tautan, gambar, dan video dengan lebih praktis.

Blogwalking sudah mati? Tentu saja tidak. Banyak blogger yang menaruh tautan postingan mereka di jejaring sosial. Yang kemudian dikunjungi karena ditemukan lewat tautan tersebut. Aktivitas saling mengunjungi blog juga tak benar-benar mati karena masih banyak orang yang masih suka membaca blog tetangga. Pun saya pun juga suka melihat-lihat blog orang lain hingga sekarang. Masih banyak postingan berharga yang saya temukan di banyak blog, baik yang sudah dari dulu ada atau yang baru.

Bagaimana dengan Anda, masih blogwalking?

Semoga Tetap Blogging

Pas blogwalking, aktivitas mengunjungi blog orang lain yang sekarang makin jarang karena lebih mudah scrolling Facebook, saya menemukan sebuah postingan dari seorang blogger bernama Jejak Pena. Artikelnya menarik. Judulnya “Mau Nge-Blog Sampai Kapan?“.

Menggelitik karena saya sendiri tak pernah memiliki pertanyaan seperti itu kepada saya sendiri. Biasanya hanya berpikir, apa yang ingin saya tulis. Begitu pula pertanyaan klasik, kapan ya bisa memposting lagi. Namun sampai kapan saya tetap setia memposting blog saya belum pernah terlintas di pikiran.

Sederhana saja. Saya suka menulis di blog. Jadi ya selama masih ada koneksi Internet, ide untuk dituangkan, dan masih sehat-sehat saja; blog ini tetap akan terisi dengan artikel-artikel yang baru.

Semoga saja saya bisa terus blogging. Begitu juga Jejak Pena yang, menurut saya, cukup menarik untuk diulik. Kadang saat blogwalking, agak sedih kalau melihat blog yang terbelengkalai. Terlihat dari kapan postingan terakhir diunggah yang ternyata sudah beberapa bulan atau tahun yang lalu. Lebih senang saat menemukan blog yang masih aktif dengan sajian postingan terkini yang masih hangat.

Negara Galau Karena Mata Uang

Ingatkah dengan suatu masa di mana Rupiah turun drastis nilainya berbanding Dolar Amerika beberapa tahun yang lalu? Satu Dolar Amerika yang semula bisa ditukar dengan dua ribu Rupiah tiba-tiba berubah drastis. Satu lembar Dolar Amerika bisa sama nilainya dengan satu lembar uang sepuluh ribu Rupiah. Yang menyimpan Dolar Amerika bisa mendadak kaya. Sebaliknya, yang memegang uang rupiah menjadi lebih miskin. Maklum, daya beli pun menjadi berkurang banyak.

Namun tak semua orang di tanah air menjadi sedih. Para eksportir senang karena harga ekspor menjadi lebih kompetitif sehingga ekspor meningkat tajam. Ekonomi pun mendapat angin segar karena perputaran barang menjadi lebih lancar. Tentu saja, di balik itu, para importir di tanah air jadi pusing tujuh keliling karena membeli barang impor menjadi berkali-kali lebih mahal daripada sebelumnya. Ingat bahwa Indonesia mengimpor banyak beras, bahan bakar, dan bahan mentah dari luar negeri. Bahkan hingga kedelai.

Lalu bagaimana dengan negara-negara maju yang memiliki kurs tinggi? Daya beli negara tersebut memang kuat. Bisa melakukan investasi di luar negeri. Rakyatnya bisa berjalan-jalan di luar negeri (yang memiliki kurs rendah) lebih lama daripada biasanya. Tapi tak semuanya mengenakkan. Ekspor pun tertatih-tatih. Roda ekonomi terancam tidak bisa berjalan dengan lancar.

Contohnya Jepang, salah satu negara di dunia dengan tingkat ekonomi yang paling kuat. Yen menguat belakangan ini sehingga ekspor mereka tersendat. Bahkan sempat terjadi deflasi. Solusi pun harus diambil. Perdana Menteri mereka pun mengambil kebijakan ekstrim, yang lebih dikenal dengan Abenomics, dengan salah satunya menurunkan nilai tukar Yen sehingga tak terlalu kuat. Dan menaikkan laju inflasi untuk meningkatkan harga barang sekaligus gaji kebanyakan orang. Sepertinya itu tindakan aneh. Tapi harus diambil.

Negara Eropa pun tak lepas dari ‘kegalauan’ mata uang Euro mereka. Ekspor tak juga selancar sebelumnya. Terlebih lagi ada fakta bahwa negara-negara di bagian dunia yang lain pun ekonominya melemah sehingga tak bisa membeli banyak barang lagi dari Eropa. Ekspor tak lancar lagi-lagi bikin banyak perusahaan gulung tikar. Banyak karyawan pun dirumahkan. Ekonomi menjadi stagnan.

Mata uang memang bisa membuat suatu negara maju. Di lain waktu, bisa mendorong suatu negara ke dalam jurang kehancuran. Hebatnya lagi, mata uang selalu berubah setiap saat. Baik secara natural atau pun karena direkayasa, baik oleh pemerintah suatu negara atau disetir oleh lembaga-lembaga keuangan global. Setiap perubahan nilai tukarnya membuat banyak negara ‘galau’ khawatir jika perubahan tersebut memberi efek yang tidak diinginkan.

Sepintas terpikir. Apakah mungkin dunia sepakat untuk memakai mata uang yang sama sehingga gejolak ekonomi karena perubahan mata uang bisa dicegah? Sepertinya tak mudah. Coba lihat mata uang Euro. Meskipun sudah dipakai bersama-sama di antara negara-negara Eropa yang tergabung dalam Uni Eropa, toh tak semuanya diuntungkan. Malah ada yang buntung dan tergolong negara yang default hutangnya. Jadi, ya, untuk sementara ini, kita akan tetap mendengar tentang berita mengenai perubahan nilai tukar mata uang dan efeknya.

Negara yang Tidak Punya Kesusahan

Rumput tetangga sepertinya jauh lebih hijau.

Banyak orang berasumsi seperti itu. Tidak tahu bila tetangga memiliki pikiran yang sama saat melihat rumput kita. Setali tiga uang dengan komentar yang muncul saat melihat negara sendiri yang ramai dengan hiruk-pikuk. Sembari memuja dan memuji negara lain yang kelihatannya jauh lebih segalanya. Lebih modern, aman, indah, menyenangkan. Intinya, negara lain mungkin tak punya kesusahan.

Tentu saja itu hanya ilusi belaka. Harus melihat faktanya. Negara lain pun punya tantangan yang tak kalah beratnya. Justru ada yang lebih menderita dibandingkan tanah air. Korea Selatan terancam diserang oleh Korea Utara. China yang mendadak kaya raya punya ancaman limbah dan polusi. Jepang dengan stagnasi ekonomi yang berbanding dengan usia mayoritas penduduknya yang menua dan beruban. Belum lagi negara-negara Eropa yang pailit, berbagai negara di Afrika yang tak henti-hentinya berperang, dan negara di kawasan Arab yang selalu bergolak.

Mungkin hanya negara-negara kecil saja yang tingkat kesusahannya minimal. Jumlah penduduk yang kecil otomatis memiliki masalah yang lebih sedikit. Tak berarti bahwa mereka tak memiliki masalah. Memiliki jumlah penduduk yang lebih besar juga bisa menjadi alasan klasik bahwa ‘banyak masalah itu wajar’. Yang pasti, hanya negara utopia saja yang tak memiliki masalah. Malah masalahnya adalah mereka tak bisa menemukan masalah di negaranya. Aneh, kan?

Memiliki masalah besar atau kecil itu sudah pasti. Yang paling berarti sepertinya memiliki harapan, percaya diri bahwa bisa menyelesaikan sumber kesusahan tersebut, dan memiliki semangat juang yang tinggi.

Suasana Baru

Pernah merasa bosan untuk bangun di rumah kontrakan yang sama? Tak ada ketertarikan lagi duduk di meja kantor Anda? Jenuh dengan aktivitas yang sama tiap saat? Bila rasanya sudah seperti stuck in the moment, harus ada yang harus dicermati. Lalu dilakukan. Apa yang dibutuhkan?

Suatu suasana yang baru. Tentu tak perlu pindah rumah sering-sering. Kerap berganti pekerjaan. Hingga melakukan hal ekstrim. Suasanya yang dimodifikasi. Semisal mengatur ruangan rumah dan membersihkannya. Melihat lagi apa sih yang suka saya kerjakan di tempat saya bekerja. Hingga melakukan aktivitas yang lebih kurang sama tapi dengan cara yang sedikit berbeda.

Namun bila semuanya itu belum berhasil, ada baiknya mengambil refleksi dalam hidup ini. Apa saja yang menurut kita bisa membuat hidup jadi lebih hidup. Bukannya malah hidup tapi tak lagi berasa hidup. Lively life! Bukan life for the sake of life.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.