Saya kangen dengan teh yang panas, legi (manis) dan kentel (kental). Teh nasgitel. Bukan, bukan teh itu saja. tetapi atmosfer yang menyertainya. Irama kehidupan yang melambat, ada cukup waktu untuk berbincang atau menikmati hari tanpa rasa tergesa untuk menghabiskan waktu secepat-cepatnya.
Saya kangen teh nasgitel itu. Teh yang biasa saya nikmati di rumah. Tentu, itu berarti di Yogya. Dan saya pun sudah mulai menghitung hari. Untuk pulang ke Kota Gudeg yang selalu membuat kangen. Sebentar lagi…
Selamat datang di era di mana banyak segi kehidupan semakin kompleks. Dan semuanya berlalu dengan cepat. Setiap insan manusia dituntut untuk dapat mengerjakan banyak hal secara simultan dan serempak.
Banyak manusia yang dapat mengikuti alur hidup yang tak bisa dibilang lambat, tak juga bisa dibilang sederhana. Hanya saa seperti saat manusia berlalu, sulit untuk menikmatinya. Berbeda bila manusia berjalan pelan dan bisa mencerap keindahan dunia ini.
Makin cepat, makin kompleks. Tak selalu menghadirkan hal yang lebih indah, lebih menarik. Yang terlihat justru kehampaan meski telah melakukan banyak hal. Ada kesepian yang menghantui hari dan malam yang berlalu lebih cepat daripada detak jarum jam dan detik darah mengaliri jantung.
Coba lihat seorang bayi yang begitu lahir lalu cepat-cepat disekolahkan. Menempuh jalur pendidikan super komplit yang singkat. Bekerja penuh semangat hingga setengah mati agar cepat dapat promosi. Lalu menjadi tua secara dini. Dan cepat mati hasilnya, entah karena kecapaian atau penyakit generasi ultra-cepat.
Lalu? Ambilah waktu sejenak untuk rehat. Seperti mobil yang berhenti di tempat parkiran setelah dipacu dengan maksimal. Istirahat…
Judul di atas adalah sebuah komposisi lantunan klasikal ciptaan Antonin Dvorak. Coba dengarkan irama dari Humoresque. Ada keriangan. Ceria. Menimbulkan semangat. Ada imaji bahwa ada sesuatu yang menyenangkan. Namun terasa damai. Harmoni tercipta.
Sudah lama saya menyukai Humoresque. Hanya saja saya tak tahu judulnya. Hanya pernah mendengarkannya di suatu film. Dan akhirnya setelah sekian lama, saya menemukannya. Sungguh menyenangkan.
Lagu ini cocok bagi mereka yang sedang merasa bosan, sedang tak gembira atau pun yang kurang semangat. Lagu ini mungkin bisa hadirkan rasa yang membuncah, bangkitkan jiwa. Sejukkan suasana.
Seorang pahlawan tanpa tanda jasa yakin seyakin-yakinnya bahwa beberapa anak-anak didiknya nanti akan menjadi orang. Alasannya sepele, segelintir siswa-siswi di kelasnya menunjukkan bakat yang positif. Jadi, mereka pasti sukses menempuh garis nasib masing-masing. Coba saja lihat track-record mereka ketika masih ingusan dan hijau.
Si Ahmad menonjol sewaktu menjadi Pramuka, pintar membaca peta dan tak pernah tersesat. Si Bunga pandai mengolah makanan setiap ada tugas memasak. Si Cahya dikagumi karena selalu memenangi kompetisi silat. Si Desi cermat dalam hitung-menghitung. Si Eka selalu siap membantu temannya yang kesulitan. Si Fakhri memiliki sikap kritis dan berjiwa pemimpin. Si Gama yang gagah dan atletis selalu mendapat nilai sempurna dalam pelajaran olahraga. Juga ada Si Handoko yang lemah lembut dan menyayangi teman-temannya. Tak ketinggalan Si Inneke, siswi yang paling cantik, yang pintar menyanyi dan selalu menghibur temannya yang sedih.
Hanya saja, sang guru sangat terkejut tatkala mendengar cerita yang diutarakan anak didiknya saat reuni setelah bertahun-tahun tak saling bersua. Sang guru hanya bisa bengong. Sungguh tak dikira, bakat yang ada berseberangan dengan impian. Ada realitas yang pahit ternyata. Si Ahmad menjadi pemandu turis ilegal di tempat wisata. Si Bunga berkutat di dapur rumah makan pinggir jalan. Si Cahya menjadi tukang pukul dan kadang menjadi penjaga di pasar malam keliling. Si Desi menjadi ‘bankir’ bank plecit yang beroperasi di pasar-pasar sembari rentenir kecil-kecilan. Si Eka menjadi pembantu rumah tangga. Si Fakhri sekarang kepala demonstran yang memiliki pekerjaan serabutan. Si Gama yang menjadi kuli barang di stasiun kereta. Handoko yang menjadi ‘bantal’ para lelaki penyuka sejenis. Dan malang memang, Si Inneke yang menjadi wanita penghibur.
Bagaimana dengan murid-murid lainnya di kelas tersebut yang tak berbakat? Sang guru mendapati mereka yang sepertinya tak punya bakat malah memiliki suratan takdir yang sedikit lebih baik. Mereka semua, meski tak pintar tapi lumayan menurut dan gampang diatur, menjadi pahlawan devisa di Negeri Jiran, Hongkong dan Taiwan. Beberapa yang ada di Saudi Arabia bahkan sempat menunaikan ibadah haji. Dan ada satu anak didiknya yang hampir terlupa karena sulit dididik. Namanya Si Jamal, murid yang dulu selalu membuat sang guru kewalahan karena kenakalannya yang luar biasa. Yang dulunya bejat dan bangsat, tak dinyana mendapat hikmat saat hampir mati dikeroyok massa karena mencuri ayam. Sekarang Si Jamal jadi Ustad yang punya pesantren sendiri.
Bakat dan realita memang tak selalu di jalan yang sama. Lika-liku kehidupan memang selalu memiliki tanda tanya. Ada impian yang tak terwujud. Ada asa yang putus. Ada nasib yang membayang dalam langkah insan manusia. Kenyataan hidup mungkin tak sebagus rangkaian cerita Laskar Pelangi.
Ada banyak ragam kursi. Sesuai bentuknya ada kursi lipat, kursi putar dan kursi ayun. Dilihat dari fungsinya ada kursi belajar, kursi makan, kursi mobil hinga kursi santai seperti yang ada di pantai. Tentu, ada pula kursi plastik, kursi kayu dan kursi besi bila ditilik dari bahan dasarnya. Rasanya kita mengenal barang yang bernama kursi.
Namun, apakah Anda sudah pernah mengenal Kursi Tantra? Aha! Sedang mengerutkan dahi, mencoba untuk menebak apa yang dimaksud kursi ini? Sebelum melihat kursinya, saya tak bisa menebak apa yang dimaksud dengan Kursi Tantra. Jadi mari kita lihat bersama. Tetapi untuk yang berumur di bawah 17 tahun, mohon maaf, sebaiknya tak perlu membuka situs yang dimaksud. Mengapa?
Kursi ini diperuntukkan bagi pasangan suami istri yang ingin menghangatkan romantisme. Juga berfungsi sebagai alat pembantu aktivitas membakar lemak dan memperlancar ‘olahraga malam’. SIlakan lihat Kursi Tantra dan yang penting perhatikan berbagai posisi ‘duduk’ yang nyaman dan enak.
Bagi yang memilikinya kursi tersebut dan sudah berpasangan resmi, selamat menikmati! Eng, ing, eng…