212

  1. Wiro Sableng? Ternyata bukan. 212 adalah hari pada tanggal 2 di bulan Desember. Ada apa memangnya di hari itu?

Sepertinya akan ada kumpul-kumpul banyak orang di Monas. Juga di banyak pusat kota-kota lainnya. Konon berdoa bersama. Sepertinya memang baik bila masyarakat di tanah air ini sekali-sekali berkumpul untuk berdoa bersama.

Memangnya berdoa harus bersama? Sepertinya tidak. Tapi katanya, kalau doa bersama-sama doanya lebih didengar Sang Khalik yang ada di atas sana. 10 orang, jos! 100 orang, lebih mantab. 1000 orang, jauh lebih mengena. 10.000, jelas saja gaungnya lebih nyaring terdengar hingga ke atas langit.

Tak puas dengan jumlah itu, mungkin saja lalu ada yang berpikir untuk mengumpulkan teman, saudara, tetangganya hingga bisa berkumpul hingga mencapai angka ratus ribu hingga jutaan. Hingga akhirnya Sang Pencipta berkenan mendengarkan umatnya yang sedang risau, galau, gelisah itu. Dan bila ada kemurahan hati, lalu Yang Maha Esa pun memberikan apa yang dipinta dengan sungguh oleh lautan umat yang berseru-seru dengan lantangnya di satu titik di bumi secara bersama-sama.

Entahlah. Mungkin insan-insan manusianya saja yang memang suka heboh sendiri. Padahal doa bisa dilakukan di tempat ibadah yang jumlahnya banyak dan tersebar di mana-mana. Bisa juga di rumah. Bahkan di kantor, bila memang waktunya jam kerja. Bisa berbarengan. Bisa juga sendiri-sendiri.

Apakah benar 212 itu demo besar-besaran? Sepertinya tidak juga. Sudah dibilang doa bersama. Bukan demo. Bukan pula makar, seperti yang didengung-dengungkan oleh orang-orang tak jelas. Jadi bila memang ada kerusuhan, pasti tidak dilakukan oleh orang-orang yang awalnya bilang ingin berdoa.

Jadi apa yang harus dilakukan pada tanggal 2 di bulan 12? Ya, bekerja saja seperti biasa. Bersekolah. Mengasuh anak. Menghasilkan barang. Bertransaksi. Di sela-sela aktivitas, bisa juga sedikit banyak luangkan waktu dengan berdoa. Tak perlu ikut-ikutan dengan sekumpulan besar orang – yang entah pekerjaannya apa, tak jelas – bisa menyempatkan untuk doa bersama pagi hingga siang hari di lapangan luas di tengah kota. Memangnya tidak ada yang dikerjakan di hari kerja biasa?

Lalu apa yang harus didoakan di hari yang sepertinya istimewa itu? Hmm. Bisa saja berdoa supaya di hari itu semua orang bisa adem jiwanya dan jernih pikirannya. Damai di tanah air ini. Boleh juga meminta keinginan lainnya. Semisal, berdoa supaya ada gaji ke-13. Liburan akhir tahun tambah satu atau dua hari. Dan syukur-syukur kalau gaji naik di awal tahun 2017.

212? Hari doa bersama sepanjang hari di Indonesia. Hebat, ya? Bangsa yang relijius…

 

Diplomasi Meja Makan

Boleh juga cara yang digunakan oleh bapak presiden untuk menyapa dan berkomunikasi dengan berbagai tokoh berpengaruh. Makan bersama.

Apapun bahasannya, setelah kenyang makan enak, siapa pun orangnya pastilah jadi lebih mudah diajak ngobrol. Tak ada emosi. Santai. Mengalir. Pembicaraan sesulit apapun menjadi cair dan kata sepakat mudah didapat.

Diplomasi meja makan memang mantab. Bahkan bila diskusinya macet dan tak hasilkan apapun, minimal orang yang sudah semeja dan mengudap makanan bersama memiliki hubungan yang lebih erat. Menjadi teman makan.

Alat Makan

Alat makan tak hanya sendok dan garpu. Ada yang memakai sendok dan pisau. Begitu pula sumpit. Bahkan capit. Masing-masing budaya memiliki alat makan yang berbeda.

Namun begitu, ada begitu banyak budaya yang masih tak menggunakan alat makan. Justru memanfaatkan jemari untuk mengudap sajian yang khas di daerahnya.

Apapun alat makannya, asalkan memang tepat penggunaannya jelas membuat acara makan menjadi lebih mudah.

Beda hasilnya jika menggunakan alat makan yang salah. Makanan seenak apapun menjadi tak begitu nikmat. Bayangkan rasa tak nyaman bila harus makan Sashimi dengan sendok dan garpu. Begitu juga makan Shabu Shabu atau Hot Pot dengan tangan, tanpa perangkat makan.

Alat makan ditemukan oleh manusia supaya kehidupan menjadi lebih mudah. Tak perlu diperdebatkan mana alat makan terbaik karena alat makan terbaik adalah yang paling sesuai dengan makanan yang sudah disajikan.

Gedung Setinggi Langit

Hebat! Itu komentar banyak orang ketika melihat gedung pencakar langit. Skyscraper yang betul-betul mencapai langit. Paling tidak tingginya gedung melebihi tingginya awan.

Gedung pencakar langit merupakan pencapaian akal manusia. Tak semalam jadi. Pencapaian yang dilalui ribuan tahun lamanya. Sejak pertama manusia primitif tinggal di gua hingga akhirnya mampu menemukan teknologi konstruksi yang sanggup menumpuk lantai demi lantai hingga setinggi langit.

Kisah dari masa lalu menceritakan tentang Babylon. Bangunan tinggi yang menantang Sang Pencipta. Babylon dibangun bukan semata karena kemampuan manusia dengan keterampilan mendirikan bangunan tinggi. Namun kesombongan manusia bahwa manusia mampu menantang langit. Pada akhirnya bangunan tertinggi di masa lalu itupun roboh. Entah karena memang sudah waktunya roboh atau karena dihancurkan oleh kesombongan manusia itu sendiri.

Tak belajar dari sejarah, makin banyak manusia yang berambisi untuk mendirikan bangunan tertinggi di dunia. Bangunan tinggi yang bisa menembus awan dirasa kurang tinggi. Gedung yang lebih tinggi dari gedung lainnya tentu jauh lebih hebat. Bangunan paling tinggi menjadi jaminan menjadi konstruksi yang paling hebat. Lalu mengapa harus membangun gedung yang tinggi melebihi kebutuhan ruang vertikal?

Jawabannya tidak ada. Justru dijawab dengan pertanyaan balik, “why not?” Kalau bisa membangun gedung yang lebih tinggi, tentu membanggakan.

Tentu gedung pencakar langit memiliki fungsi strategis. Ruang perkantoran, hotel atau restoran bisa dijual atau disewakan dengan harga setinggi langit. Gedung tinggi menjadi daya tarik bagi banyak orang untuk mengunjungi suatu kota atau negara, laiknya obyek wisata. Gedung tinggi bisa menjadi tempat untuk meletakkan stasiun pemancar dan komunikasi yang memberi cakupan yang jauh lebih luas.

Di sisi lain, skyscraper membutuhkan dana yang juga setinggi langit untuk membangunnya. Dana konstruksinya sungguh terasa tak masuk akal bagi kebanyakan orang. Hanya perusahaan atau negara yang memiliki kekuatan finansial yang mampu merencanakan, mendanai dan membangun gedung pencakar langit.

Saya cuma berpikir. Andaikan uang yang sangat besar tersebut dialokasikan untuk membangun proyek perumahan untuk banyak orang — alih-alih membangun gedung pencakar langit — berapa banyak orang yang beruntung karena bisa memiliki tempat tinggal yang layak.

Dana yang besar tersebut juga bisa diperuntukkan untuk proyek konstruksi untuk publik. Semisal membangun sistem transportasi yang melayani komuter ribuan penduduk kota tersebut. Bisa juga menyediakan pembangkit tenaga listrik yang terbarukan seperti kincir angin berukuran masif, sel surya yang besar atau penangkap enerji gelombang air.

Namun pembangunan gedung pencakar langit tentu saja keputusan orang-orang yang memiliki pemikiran yang lain. Tak lagi memikirkan tentang kebutuhan banyak orang. Justru menjadi alat bagi sebagian kecil untuk menunjukkan kepada sekian banyak orang bahwa saya atau kami mampu mendirikan gedung megah setinggi langit dan asa sebagian besar manusia di dunia.

Salah satu proyek gedung pencakar langit yang bikin heboh adalah pembangunan The Tower, konstruksi vertikal yang akan menjadi paling tinggi di Dubai sekaligus menjadi salah satu bangunan tertinggi di dunia. Menurut pembangunnya The Tower — namanya sekarang dan akan diberi nama baru saat sudah selesai dibangun — akan berdiri gagah di dataran Arab pada tahun 2020. Empat tahun dari saat tulisan ini dituliskan.

Biayanya tak tanggung-tanggung. USD 1 milyar. Setara dengan IDR 1 trilyun. Hebat, bukan? Berapa juta rumah yang bisa dibangun di Indonesia dengan uang sebanyak itu ya?

Kursi Gubernur DKI Jakarta

Siapa kiranya yang akan duduk di kursi gubernur DKI Jakarta periode berikutnya? Tak ada yang tahu untuk saat ini.

Yang ada hanyalah prediksi berdasar kalkulasi statistik — baik dari badan yang serius hingga yang abal-abal — yang sekiranya dapat menjadi perhitungan politik. Selain itu ada pemikiran dan kritisi para pakar atau yang mendadak menjadi pakar. Belum lagi kalau menyertakan para pembuat isu yang sejatinya dipakai untuk meningkatkan tingkat elektabilitas pasangan cagub/cawagub tertentu sekaligus menjelekkan pamor pasangan-pasangan lainnya.

Masyarakat luas umumnya hanya mengerti sebatas tiga pasangan yang mengikuti kontes menjadi orang nomor satu dan dua di ibukota. Ahok-Djarot yang menjadi petahana saat ini. Agus-Sylvina yang didukung oleh Klan Cikeas. Dan Anies-Sandi yang maju dengan restu Prabowo.

Sebagian besar rupanya sepakat bahwa Sang Petahana akan tetap menjadi gubernur dan wakil gubernur. Melanjutkan program yang sudah berjalan dengan baik.

Namun tak semua setuju. Pasalnya banyak yang menilai bahwa SBY mampu memoles citra Agus dan Sylvina menjadi kandidat baru yang relatif bersih dan oleh karenanya diminati oleh pemilih muda. Hanya sayangnya keduanya relatif tidak sepopuler dua pasangan yang lainnya.

Begitu pula para pemilih dan pendukung Prabowo — yang jelas-jelas mengusung Sandi — tetapi harus menjadikan Anies sebagai calon gubernur karena memiliki reputasi yang lebih harum dan diminati orang karena suntan berbicara. Tanpa Anies, Sandi hanya menjadi boneka penggembira yang secara statistik tak akan mengungguli nama Ahok atau Agus sekalipun.

Mari kita lihat siapa yang nantinya akan menjadi pemenang. Masih banyak problematika yang akan dihadapi oleh gubernur dan wakil gubernur terpilih nanti. Semoga yang terpilih adalah yang memiliki kemampuan yang linuwih dan memang ingin bekerja untuk kesejahteraan warga DKI Jakarta.

Drama Persidangan

Sejak proses persidangan Jessica yang terlibat dengan Kematian Mirna ditayangkan di beberapa stasiun televisi secara langsung, sepertinya animo masyarakat untuk mengikuti jalannya persidangan menjadi meningkat.

Memangnya apa sih yang menarik dari mengikuti suatu persidangan? Beberapa orang menikmati argumen-argumen yang dilayangkan yang disambut dengan sanggahan; baik dengan logika yang beralasan atau debat kusir semata. Beberapa orang menyukainya karena kepo. Lainnya merasa perlu melihat karena rasa simpati terhadap kematian Mirna.

Bahkan ada yang terinspirasi untuk menjadi pengacara seperti pembela Jessica yang mampu mementahkan fakta-fakta yang diutarakan oleh beberapa saksi ahli. Sebagian lainnya ingin menjadi jaksa penuntut yang mencoba mengungkap kebenaran. Pun ada yang bercita-cita sebagai hakim yang seakan menjadi moderator bagi para pihak yang berlawanan.

Uniknya drama persidangan di televisi ditayangkan berjam-jam. Bisa jadi karena jalannya acara yang berlatar-belakang meja hijau lebih menggelitik dan menarik ketimbang serial drama yang membosankan. Di sisi lain, tayangan persidangan ongkosnya jauh lebih murah daripada menayangkan acara kuis berhadiah, acara berita atau sinetron.

Entah sudah berapa kali Jessica disidangkan untuk mengungkap Misteri Meja 24 di sebuah kafe di Ibu Kota. Tiap kali persidangan selalu ada drama yang menjadi berita keesokan harinya. Seperti sidang semalam yang memberi angin segar bagi terdakwa tetapi membuat saksi ahli yang berasal dari Negeri Kangguru menerima sanksi administrasi berhubung melakukan pelanggaran visa untuk masuk ke tanah air dan bersaksi.

Meski bukan tontontan untuk banyak orang, ada saja pemirsa televisi yang menunggu-nunggu kapan persidangan Jessica selanjutnya ditayangkan. Ada drama yang bisa saja muncul sebelum akhirnya kebenaran terungkap dan keadilan ditegakkan.