Polisi Jalanan

Jalanan macet itu sebuah masalah pelik yang harus dihadapi pemakai jalan di kota-kota besar. Kapasitas jalan tak sesuai dengan jumlahan kendaraan yang lalu-lalang. Belum lagi ditambahi dengan para pengemudi kendaraan yang makin hari makin tergesa-gesa dikejar tenggat waktu. Celakanya jumlah polisi tak bertambah secara signifikan. Alhasil timbul titik-titik macet pada ruas jalan yang dipadati kendaraan bermotor.

Untung – mencoba sebagai blessed in disguise – ada orang-orang yang memiliki solusi yang jitu. Dengan kerelaan hati berpanas-panasan di titik-titik yang langganan macet, ada saja orang yang ‘mengajukan’ dirinya untuk menjadi bagian dari solusi ilegal. Yaitu menjadi polisi jalanan. Alias polisi receh.

Biasanya orang banyak memandang para polisi jalanan itu ‘aktivitas’ yang mudah. Beri aba-aba secukupnya, teriak-teriak, dan lalu terima uang dari mobil yang mereka bantu untuk berputar arah atau menerobos persimpangan. Semudah itukah? Tentu tidak.

Kegiatan para polisi jalanan itu ternyata tak sesederhana yang terlihat.

Pertama, mereka harus memahami kondisi lalu-lintas, karakter para pengguna jalan dan tentunya ritme laju kendaraan berbanding luasan badan jalan. Kemampuan itu teruji. Tak ada, sungguh tak mungkin, ada polisi jalanan yang berjaga-jaga di jalanan sunyi senyap dekat kuburan. Para polisi jalanan eksis di tempat-tempat di mana kemampuan mereka sangat dibutuhkan.

Kedua, polisi jalanan paham bahwa apa yang mereka lakukan itu tak disukai banyak orang. Tapi kalau dirunut-runut, nyatanya banyak pengguna jalanan banyak yang tak suka dengan polisi lalu-lintas; yang jelas-jelas keberadaannya legal di mata hukum. Oleh karena itu, meski polisi jalanan tak disukai, mereka tak menjadi baper dan tetap eksis membantu para pengemudi yang sungguh membutuhkan aba-aba demi bisa berjalan dengan lancar.

Ketiga, polisi lalu-lintas itu ditakuti karena bisa menilang. Beda dengan polisi jalanan yang tak bisa berlaku otoriter di jalanan. Oleh karena itu mohon dimaklumi bila polisi jalanan itu wajahnya sangar, tampangnya preman. Menampilkan rupa yang tak ramah itu salah satu cara supaya para pengemudi menghormati polisi jalanan.

Keempat, keamanan pribadi para polisi jalanan itu seperti telur diujung tanduk. Berdiri di tengah kemacetan, bisa jadi ada satu atau dua pengemudi kendaraan yang tak awas dan malah menabrak polisi jalanan. Sialnya para polisi jalanan tak memiliki BPJS Ketenagakerjaan. Tertabrak mobil dan masuk rumah sakit merupakan resiko yang melekat dalam diri polisi jalanan.

Kelima, dan ini yang terakhir, polisi jalanan tak selalu mendapatkan kontra-prestasi setara dengan usaha mereka. Selalu saja ada pengemudi ‘nakal’ yang tak mau memberikan receh – bahkan meski uang kecil ada di samping pintu mobil. Tapi polisi jalanan tak boleh baper bila upayanya tak dihargai. Polisi jalanan tetap move on dengan tugasnya yang mana membuat mobil-mobil dan motor-motor supaya tetap bisa bergerak maju; terlepas dari kondisi macet yang parah sekalipun.

Omong-omong tentang cita-cita anak kecil. Saat guru bertanya ‘adik-adik kalau sudah besar mau jadi apa?’, biasanya ada yang menjawab ‘saya mau jadi polisi, bu guru’. Sayangnya realita tak seindah impian. Dari sekian banyak anak-anak yang bercita-cita menjadi polisi, hanya sedikit yang sukses meraih impiannya. Tapi masih ada anak-anak yang tetap berupaya menjadi polisi – meski mereka tak diterima masuk di akademi polisi – yaitu dengan cara menjadi polisi jalanan. Secara swadaya polisi jalanan menjadi sosok yang ‘mengurus’ lalu-lintas dan berusaha sebaik-baiknya mengurai kemacetan.

Iklan

Pelakor

Belakangan ini istilah ‘pelakor’ sering kali disebut-sebut di berbagai media. Juga dijadikan perbincangan dan guyonan banyak orang. Berbagai macam meme mengenai pelakor tersebar di mana-mana. Pelakor sedemikian menghebohkan. Makhluk apa sih pelakor itu?

Bagi yang belum tahu, singkatan pelakor punya kepanjangan ‘perebut laki orang’. Bini-bini – baik yang tua muda, cantik atau yang biasa – menganggap para pelakor itu berbahaya. Pelakor bisa menghancurkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah dibangun bersama.

Peristiwa tentang pelakor begitu menggoyang kedamaian banyak rumah tangga di negeri ini sampai muncul lagu-lagu yang terinspirasi oleh sepak terjang dan dampak perilaku para pelakor. Bukti bahwa banyak orang yang kreatif. Menyuarakan kegaulauan hati para istri dengan membuat lagu bertema pelakor.

Ini dia lagu-lagu yang memiliki kaitan dengan pelakor. Sayang tidak ada lagu yang dinyanyikan berdasarkan versi pelakor sendiri. Mungkin bagi pelakor, cinta itu memang buta sehingga sah-sah saja merebut laki orang demi kasih sayang sesaat di jalan yang sesat.

Geser Dikit Dong!

Pernah naik angkot? Saat mobil yang berukuran tak besar-besar amat itu dipenuhi penumpang melebihi kapasitasnya, pasti ada para penumpang yang mencoba untuk minta duduk meski tak ada lagi tempat duduk yang tersedia. “Geser dong, mbak!” Begitu biasanya kenek angkot mencoba memberi instruksi supaya para penumpang duduk lebih berdempet. Tujuannya satu yaitu supaya lebih banyak penumpang yang bisa duduk.

Tak semua penumpang suka bila ada yang menyuruhnya untuk geser tempat duduk. Tak rela. Ada yang mau bergeser meski mengomel atau mengumpat dalam hati. Bahkan ada yang terang-terangan berargumen, benar-benar tak rela bila kenyamannya terganggu. Apa boleh buat. Begitulah realitasnya.

Menyoal geser-menggeser, tersebutlah pemimpin sebuah provinsi yang ingin menggeser penduduk di bantaran sungai sehingga tepian sungai bisa dinormaliasi. Normal dalam artian sungai memiliki kelebaran yang cukup sehingga air bisa mengalir optimal dengan disertai penguatan pinggiran sungai dengan betonisasi.

Caranya menggeser? Entah. Bila tak diberi ruang untuk bergeser tentu tak akan ada penduduk bantaran sungai yang rela untuk geser. Meminta penumpang untuk geser sedikit di angkot saja susah, apalagi memohon penghuni bantaran sungai untuk pindah dari tempat mereka hidup bertahun-tahun selama ini. Mustahil.

Bagaimana dengan menggusur? Ini salah satu solusi paling efektif. Daerah aliran sungai dan sepanjang tepiannya adalah milik negara; yang dikelola oleh pemerintah daerah. Penghuni bantaran sungai tak memiliki hak untuk tinggal di situ. Jelas ilegal untuk menetap dan membangun rumah di tepian sungai. Terlebih bila ada unsur kesengajaan untuk menimbun sungai dengan sampah dan tanah sehingga bisa dibangun rumah semi-permanen di atasnya.

Menggusur adalah pilihan yang sulit. Namun pilihan ini lebih mudah ketimbang membiarkan saja daerah aliran sungai menyempit. Sungai yang sempit bisa membuat kapasitas mengalirkan air menjadi mengecil. Alhasil banjir.

Pemerintah provinsi yang bijak tentu memikirkan langkah ke depan sebelum memindahkan penghuni bantaran sungai untuk normalisasi sungai. Semisal membangun rusun sewa untuk penghuni bantaran sungai. Bila ada solusi di depan mata tentu para penghuni bantaran sungai mau pindah. Itupun belum ada jaminan penghuni bantaran sungai mau pindah dengan sukarela.

Lalu bagaimana dengan perihal geser-menggeser di bantaran sungai yang rawan banjir? Entah. Bisa jadi ada negoisasi yang terjadi untuk proses ganti-mengganti. Mungkin juga ada pemaksaan untuk geser; bahasa kiasan untuk menggusur. Kemungkinan yang paling parah yaitu tak ada yang disuruh geser setelah musim hujan lewat. Tak ada banjir lagi saat musim kemarau.

Musim hujan berikutnya? Entahlah. Bila ada banjir bandang siapa tahu para penghuni bantaran sungai akan tergeser dengan sendirinya. Ketika tidur di malam hari, banjir deras, dan bangun-bangun mereka sudah berada di hilir sungai beserta rumah semi-permanen dan barang-barang mereka.

Masalah besar otomatis menjadi beres dengan sendirinya. Tak ada isu HAM karena ada yang digusur. Tak ada yang teriak-teriak karena banjir merendam rumah mereka yang statusnya ilegal. Pemerintah suatu provinsi itu pun bisa melanjutkan program-program lain yang lebih bergaung suaranya; meski tak selalu berdampak besar pada kesejahteraan masyarakat luas.

Kaya Dari Meraup Receh

Ada dua tipe nelayan berdasar besar kecil ikan tangkapan mereka.

Tipe pertama adalah nelayan yang mengejar tangkapan ikan-ikan besar seperti Ikan Tuna atau yang lebih besar lagi seperti Ikan Paus. Sekali melaut, tangkapannya benar-benar menghasilkan pendapatan menggiurkan.

Tipe kedua adalah nelayan yang menjala ribuan ikan-ikan kecil seperti Ikan Teri. Ikannya kecil-kecil namun terkumpul dalam jaring-jaring besar. Pendapatan nelayan ini juga besar. Makin besar ikan kecil yang terambil, makin besar pula pendapatannya.

Kedua tipe nelayan tersebut sama-sama memiliki pendapatan. Menangkap ikan besar membutuhkan kemampuan yang tinggi. Sedangkan mengumpulkan ikan kecil memerlukan kesabaran.

Setali tiga uang, ada bisnis yang mirip seperti kedua nelayan tadi.

Dealer mobil, developer perumahan, penjual perhiasan mirip seperti nelayan yang menangkap Ikan Tuna. Frekwensi penjualan tak sering namun sekali ‘deal’ langsung dapatkan keuntungan yang besar.

Usaha ritel, bisnis kuliner dan pedagang kaki lima mendapatkan keuntungan dari pendapatan yang kecil-kecil dengan frekwensi tinggi dan volume penjualan total yang besar. Meski transaksinya relatif kecil namun secara keseluruhan jumlahan uang yang masuk sangat besar.

‘Nelayan Ikan Teri’ memang meraup receh demi receh. Seperti bunyi pepatah ‘sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit’.

Tak selamanya recehan menjadi hal sepele. Setumpuk uang recehan bisa jadi memiliki nilai melebihi selembar uang kertas.

Kecil menjadi besar bila jumlahnya sangat banyak. Keuntungan kecil dari tiap barang yang dijual di supermarket menjadi sangat besar karena ada begitu banyak pengunjung yang berbelanja berbagai barang kecil-kecil dan relatif murah.

Receh tak selamanya identik dengan kekurangan. Seorang pengusaha bisa menjadi kaya bila mau menjaring sedikit demi sedikit keuntungan recehan. Pengusaha ini bisa kaya karena meraup receh setiap saatnya. Akumulasi receh berujung pada jumlahan uang yang sangat besar.

Recehan? Kumpulkan saja. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.

Bitcoin

Ah, entah apa itu. Mata uang kripto. Mata uang yang tak bisa dengan praktis digunakan untuk jual beli. Mata uang yang susah untuk diubah menjadi uang tunai. Mata uang kripto – salah satunya Bitcoin – menjadi pembicaraan hangat akhir-akhir ini.

Ada yang mengecapnya sebagai ‘scam’. Sebagian lagi menganggapnya sebagai instrumen keuangan yang mirip dengan Skema Ponzi. Pun ada yang memujanya sebagai alat transaksi lintas negara dengan tingkat keamanan dan privasi tinggi. Begitu juga dengan mereka yang percaya bahwa di masa depan mata uang konvensional akan digantikan dengan mata uang kripto.

Saya tak benar-benar paham dengan mata uang kripto. Sepertinya media massa terlalu banyak memberitakannya. Mungkin karena kekinian. Sayangnya tak banyak yang paham dengan konsep mata uang kripto sehingga sehingga mengalami kerugian karena pundi-pundi kekayaannya melorot drastis saat nilai dari mata uang kripto yang dimiliki jatuh drasti.

Ah, sudahlah. Tak paham dengan Bitcoin – mata uang kripto yang paling sering disebut dan menghiasi berbagai media massa, baik online atau pun offline.

Kue Keranjang

Tetiba saya membatin mengapa ada banyak kue ranjang dipajang di salah satu supermarket lokal pada beberapa hari yang lalu.

Setelah sampai rumah dan tak sengaja melihat kalender, barulah saya paham bahwa Imlek – Tahun Baru China – sebentar lagi tiba. Tinggal beberapa hari lagi.

Ngomong-ngomong tentang Imlek tentu lekat dengan shio dan peruntungannya. Untuk Imlek yang akan jatuh di Bulan Februari tanggal 16 ini, Tahun Anjing Tanah akan menjadi tahun shionya.

Seperti Anjing pada umumnya, semoga tahun ini menjadi tahun yang ramah pada semua makhluk. Tak ada binatang lain yang lebih dekat dengan manusia seperti anjing. Mungkin karena sifat anjing yang menyenangkan dan setia.

Ah, tapi jangan percayai kata-kata sok tahu tadi. Kembali ke soal penganan Imlek, sudah menjadi tradisi untuk membeli dan memakan Kue Keranjang. Sebenarnya bukan karena menyambut tahun baru tapi karena sesederhana bahwa Kue Keranjang biasanya baru ada hanya pada saat jelang dan sesudah Imlek.

Anda suka Kue Keranjang? Saat inilah momen tepat untuk memborong dan mengudap kue yang rasanya manis, kenyal dan padat ini. Mumpung pas Imlek.

Lagu Manca Legendaris

 

Ada rasa suka dengan lagu-lagu yang dilantunkan dalam bahasa yang tak saya pahami benar. Namun lagu-lagu itu tak asing lagi di hati. Begitu terdengar oleh telinga, langsung ada mood yang mendalam. Berkesan.

Tentu saya penasaran dengan arti kata dan makna lagu-lagu tersebut. Setelah mengetahui inti lagunya barulah mencoba ikut menyanyikannya. Tak sempurna memang. Untunglah ada teks lagu yang bisa didapatkan di internet.

Beberapa lagu manca di bawah ini adalah lagu-lagu yang langsung terasa maknyes bagi saya.

Lagu dengan Bahasa Kanton: Ci She Pen

Lagu Mandarin: Hou Lai

Lagu Berbahasa Jepang

Lagu Korea