Kesabaran

Seperti biasanya, kami sejenak mengosongkan diri bersama-sama di hari Kamis. Kami berharap bisa mendapat bekal untuk menjalani kehidupan ini. Malam ini kami belajar tentang “kesabaran”.

Kesabaran

Dalam hal kebatinan, kita memperhatikan tentang apa yang ada di luar dan di dalam. Kaitannya dengan kesabaran, ada sabar di luar dan sabar di dalam.

Bisa saja orang tampak sabar di luar tetapi di dalam dirinya merasa kemrungsung (tidak sabaran).

Kalau belum bisa sabar luar dalam, lebih baik untuk bisa bersabar di dalam meskipun di luar tidak sabaran. Paling tidak kita menjadi orang yang tidak munafik.

Dalam tata krama kehidupan sosial sehari-hari, kita biasanya cenderung untuk sabar di luar. Orang lain akan mendapati bahwa kita terlihat sabar. Padahal dalam hati, kita bisa sangat jengkel. Sabar di luar seperti ini tidak ada jeleknya. Bisa jadi kesabaran yang tampak di luar membuat suasana menjadi lebih kondusif. Bisa membuat kondisi relatif nyaman untuk sementara waktu.

Tapi jika ingin mencari sesuatu yang esensial, apa yang kita cari? Jika kita mencari kebenaran maka apa yang di dalam itu yang lebih penting. Bukan hanya apa yang tampak di luar saja.

Kesabaran itu identik dengan menerima dan menunggu prosesnya. Sabar itu tidak tergesa-gesa mengambil keputusan.

Idealnya tentulah sabar luar dalam. Sebaliknya, ada saja orang-orang yang tidak sabaran luar sekaligus dalam.

Ya, sebenarnya tidak apa-apa jika kita belum bisa sabar luar dalam. Kita menekankan untuk mengolah sabar yang ada di dalam.

Proses menuju kesabaran bisa dimulai dengan 1) menerima (orang lain yang membuat kita marah atau jengkel, serta apa yang melatarbelakangi tindakannya atau sikapnya). Kemudian 2) memaafkannya (jika orang itu melukai kita). Bisa jadi setelah itu yang muncul adalah 3) rasa kasih; sesuatu yang lebih dari sekadar Kesabaran.

Menerima bukan berarti tidak bertindak apapun. Tetap saja ada tindakan yang diambil. Tapi dengan proses menerima tersebut, kita bisa melakukan suatu tindakan dari sudut pandang yang lain. Di sini, penting sekali untuk jujur sehingga intensinya bersih.

Sikap jujur ini pada akhirnya justru memiliki kekuatan untuk mengubah. Paling tidak hal tersebut bisa mengubah sikap kita terhadap orang lain tersebut; termasuk tindakan yang akan kita ambil untuk menghadapinya.

Jika tetap tak bisa menerima, kita bisa menerima bahwa tidak bisa menerima hal tersebut. Jika tetap tak bisa menerima, itulah datangnya kesengsaraan (suffering). Susah sendiri. Menjadi beban yang dibawa dalam perjalanan hidupnya.

Suasana

Langkah pertama dalam mencapai kondisi yang tepat adalah merasakan suasana. Ada saat seperti munculnya rasa yang lain. Inilah yang dimaksud dengan Suasana; yaitu Suasana Tuntunan. Yang nantinya menuntun kita untuk bertemu dan berdialog dengan guru sejati dalam diri.

Suasana tercipta karena kita bersama dengan satu tujuan dan satu arah untuk sungguh-sungguh bersama. Ini kemudian menciptakan suatu tempat halus (field) di mana dari lahir ke batin; dari kosong ke isi.

Untuk merasakan Suasana itu, ada semacam titik mulai, Saat suasana sudah terasa, barulah kita memulainya. Titik mulainya adalah ketika kita merasakan suasana itu.

Mengubah Sikap

Sikap itu adalah Kunci. Sebuah sikap bisa membuat perbedaan yang besar. Dengan mengubah sikap, bisa membuat suatu perbedaan. Kembali lagi, yang penting adalah kondisi dalamnya yaitu sikapnya.

Pengakuan

Sebuah Pengakuan itu memiliki kekuatan. Sebuah tindakan mengakui bisa langsung memperbaiki suatu kondisi; baik kondisi kita dan kondisi luar.

Lawan dari Pengakuan adalah Membela Diri. Membela diri berarti tidak mau disalahkan. Makin pintar seseorang, makin pintar pula membela diri. Ini bisa berbahaya, ingat tentang Belut Putih. Belut Putih ini licin. Belutnya berwarna putih dan tentu tidak mau dikatakan hitam dan kotor. Belut Putih selalu merasa tidak salah. Belut Putih memiliki kecenderungan sulit untuk mengakui kesalahannya.

Rasa Bersalah

Rasa bersalah bisa timbul saat seseorang mengambil suatu keputusan yang berakibat tidak baik, semisal efeknya besar dan merugikan banyak orang. Bisa saja ada penyesalan. Padahal sebuah keputusan bisa terjadi karena banyak faktor dan elemen (baik yang disadari atau tidak disadari ada). Tidak semuanya terjadi karena keputusan seseorang yang tiba-tiba memilih sesuatu. Bahkan bisa jadi memang sesuatu akan terjadi seperti itu; tanpa pernah kita bisa ubah atau cegah. Jika bisa menerima apa yang terjadi, rasa bersalah tidak lagi membebani kita.

Akhir Kata

Kesabaran bermula dari menerima. Menerima sesuatu itu tidak selalu mudah. Namun, dengan sikap yang tepat dan kemampuan untuk menerima, ini bisa menjadi kekuatan yang besar dan membuat suatu perubahan yang signifikan dalam banyak momen kehidupan.

Rahayu
5 Mei 2022

Kehilangan Kesadaran

Seperti biasanya, kami sejenak mengosongkan diri bersama-sama di hari Kamis. Kami berharap bisa mendapat bekal untuk menjalani kehidupan ini. Kamis yang lalu kami belajar tentang “kesadaran”.

Kehilangan Kesadaran

Meditasi merupakan salah satu cara untuk melatih kesadaran. Salah satu hal yang cukup sering muncul dalam meditasi adalah jatuh tertidur. Ketiduran. Wajar jika ada orang yang tertidur karena meditasi membuat orang merasa rileks. Kondisi rileks membuat orang mudah tertidur.

Memang ada orang-orang yang menggunakan kesempatan meditasi bersama untuk rileks hingga tertidur. Namun, tertidur secara tidak sengaja ini berarti kesadarannya hilang.

Meskipun tertidur saat meditasi membuat orang merasa tentram dan nyaman, ini bukan tujuan meditasi. Tujuan meditasi adalah untuk mengosongkan diri sehingga bisa merasakan kesadaran yang utuh.

Lalu bagaimana kalau sering tertidur saat meditasi? Tidak apa-apa. Tetap saja bermeditasi sehingga akhirnya bisa tetap sadar dan tidak jatuh tertidur. Orang bisa mencoba kembali merasakan tubuhnya supaya kembali sadar bahwa sedang berproses dalam meditasi; bukan sedang tidur.

Pencerahan

Dalam beberapa tradisi, orang mencari pencerahan (enlightment). Enlightment itu adalah konsep. Konsep ini tentang seseorang yang menyadari bahwa saya itu bukan ‘aku’. The ego and the self.

Ego itu ciri khas manusia; tak bisa dihilangkan dari diri kita. Ada dorongan untuk menyadari bahwa “eksistensi saya bukan itu”.

Dalam beberapa tradisi, kalau saya sebagai manusia menyadari saya bukan ini tapi ini, itu artinya saya mendapat pencerahan. Sekali tercerahkan maka akan sadar selamanya.

Ada cara pandang lain yaitu bahwa seseorang kadang-kadang diberi small enlightment. Pencerahan kecil. Ada pengalaman yang dirasakan dalam sesi meditasi. Kadang juga tak merasakan apapun selama meditasi. Bisa jadi, suatu hari mendapat suatu pemahaman akan sesuatu hal, kemudian di hari lain lupa lagi. Tidak ada yang langgeng. Semuanya terus berubah. Seseorang bisa saja pernah mengalami kondisi tahu dan paham sesuatu. Bisa juga tidak pernah mengalaminya. Tak pernah sama dalam kehidupan ini.

Dan mendapatkan enlightment itu bukan sesuatu yang perlu. Tidak tahu apa-apa, ya tidak apa-apa. Pencerahan bukan sesuatu yang dikejar dan ingin dicapai.

Justru karena kita tidak tahu apa-apa dan tidak mengejarnya, kita menjadi lebih rileks dalam menjalani kehidupan ini.

Jadi kalau dalam tradisi lain itu diandaikan seperti naik kelas. Orang belajar di SD kemudian tercerahkan dan berada di tingkatan lebih tinggi yaitu SMP. Kemudian berlanjut ke tingkat pencerahan berikutnya yang lebih tinggi. Tiap pencerahan sifatnya langgeng.

Kehilangan Seseorang

Kematian bukanlah kegagalan. Kematian adalah suatu kejadian dalam kehidupan. Biasanya orang mengaitkan kematian sebagai sesuatu yang negatif.

Padahal kematian itu bukan sesuatu yang negatif atau positif. Siapa tahu sebuah kematian justru menjadi pembebasan dari penderitaan (misal, sakit atau menderita dalam hidupnya). Bisa jadi seseorang meninggal karena Sang Pencipta menentukan bahwa orang tersebut sudah cukup merasakan hidup di dunia ini.

Orang cenderung berduka sangat mendalam jika seseorang meninggal muda; alias meninggal sebelum menua atau merasakan hidup yang lama. Tapi apakah hidupnya akan lebih baik kalau masih bisa hidup lebih lama?

Sebaliknya, ada orang yang memiliki panjang usia dengan segala warna-warni dan lika-liku kehidupan. Tentu ada begitu banyak momen yang dialami sekaligus penderitaan/kebahagiaan yang dirasakan.

Wajar jika ada yang bersedih saat menghadapi kematian seseorang yang dekat atau relevan dengan dirinya. Intinya, ya kita terima saja kepergian seseorang itu.

Jika ada orang yang masih menangisi kematian seseorang hingga berminggu-minggu atau bertahun-tahun, itu menjadi tanda bahwa orang tersebut belum bisa menerima kepergian seseorang dalam hidupnya. Bisa jadi hal ini menjadi beban bagi dirinya sendiri (dan orang lain di sekitarnya) karena tidak bisa menjalani hidupnya seperti biasanya lagi.

Menerima memang tak selalu mudah. Namun, kita bisa memulainya dengan jujur pada diri sendiri seperti bayi. Jika merasa marah, ya marah saja. Bersedih saat merasa sedih.

Hanya saja, kita sebagai orang dewasa sering kali tidak jujur dengan diri sendiri. Lucunya, dan ini sering terjadi, orang dewasa cukup mahir untuk tidak memperlihatkan ekspresi yang sedang dirasakan alias berpura-pura. Bahkan, ada banyak orang yang memendam rasa yang ada hingga bertahun-tahun lamanya; membuatnya memiliki beban yang sebenarnya tidak perlu ada.

Jika mengekpresikan perasaan bisa membuat lega, tentu lebih melegakan jika bisa menjalani kehidupan ini dengan langkah yang ringan tanpa beban.

Rahayu
21 April 2022

Memulai Sesuatu

Seperti biasanya, kami sejenak mengosongkan diri bersama-sama di hari Kamis. Kami berharap bisa mendapat bekal untuk menjalani kehidupan ini. Kamis yang lalu kami belajar tentang “mulai”.

Memulai Sesuatu

Orang ingin memulai sesuatu karena baru saja mendapat inspirasi. Bisa juga karena suatu kondisi (misal, kekepet/terdesak). Bahkan ada yang mulai mengerjakan sesuatu yang sebelumnya sudah dipikirkan jauh hari. Pertanyaan yang muncul adalah “siap atau belum siap untuk memulainya“.

Jika belum siap adalah jawabannya, coba tanyakan lebih jauh apa saja yang mengganjal. Bisa jadi banyak alasan-alasan yang bermunculan. Alasan yang masuk akal hingga yang paling absurb sekalipun bisa muncul. Apapun itu, alasan tetaplah menjadi alasan. Perlu dirunut lebih jauh: niat atau ngga?

Untuk mengetahui jawabannya tentu salah satu caranya adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Kemudian menjawabnya dengan jujur sejujur-jujurnya. Tak perlu berbohong karena yang bertanya adalah diri sendiri.

Pasrah

Pernahkah merasa bagai makan buah simalakama? Dimakan sial, tidak dimakan juga sial. Dilema sejadi-jadinya. Sampai bingung langkah apa yang harus diambil. Kalau sudah begitu kondisinya, berpasrah adalah hal yang bisa dilakukan.

Anehnya, saat sudah berpasrah justru bantuan datang dari luar. Ada kejutan yang tak diperkirakan sebelumnya. Ada saja orang-orang di sekitar kita yang memberi perhatian dan tak sungkan mengulurkan tangan untuk membantu. Bahkan ada momen di mana seseorang merasa keajaiban (miracle) terjadi.

Padahal sebelum sampai pada titik berpasrah diri, orang tidak melihat jalan keluarnya. Sudah berpikir keras dengan segala logika, tetap saja tak ada titik terang. Sementara setelah obsesi memudar dan berpasrah total, jalan malah terbuka.

Menyoal pasrah, pasrah di sini tidak identik dengan tidak bergerak. Pasrah di sini adalah saat kita menerima apa adanya kepada alam semesta atau sang pencipta. Saat itulah seseorang berada pada momen mengakui dirinya sendiri bahwa “aku saat ini tidak bisa apa-apa” dan bertanya “apa yang harus aku lakukan“.

Biasanya kalau ada krenteg (niat) maka jalan terbuka. Apapun yang hadir dari proses itu kita terima. Jika keadaan membaik, OK. Jika ternyata keadaannya tak membaik, ya OK dan tetap kita terima.

Hal yang paling menakutkan adalah saat seseorang takut konsekuensi dari apa yang akan dilakukannya. Khawatir nasib keluarga terombang-ambing. Takut jika malah rugi banyak. Tak berani beranjak daripada malah makin memburuk kondisinya. Takut move on dengan pasangan yang abusif karena tak nyaman nantinya sendirian. Apakah yang ditakutkan itu sekadar imajinasi? Apakah yang dikhawatirkan itu benar-benar akan terjadi seperti itu? Pikiran yang terlalu berat memikirkan akibat-akibat malah bisa membebani pikiran. Membuat pikiran dan perasaan dalam kondisi tidak nyaman.

Untuk menghindari pikiran-pikiran yang “membesar dan menggila”, seseorang bisa mencoba untuk “jangan takut salah”. Kesalahan apa yang bisa sangat fatal? Tidak perlu juga takut gagal. Jika salah atau gagal, cukup ganti dengan cara atau tindakan lain. Terus berusaha dengan melakukan tindakan lain yang mungkin bisa menjadi solusinya.

Dengan pikiran jernih melalui meditasi dan mengosongkan diri, nanti pilihannya akan muncul dengan sendirinya.

Mimpi

Kita sering dengar orang-orang di sekitar kita yang berbicara tentang mimpi mereka. Mimpi untuk buka kafe suatu hari nanti. Mimpi untuk pergi ke suatu tempat. Mimpi untuk memberikan sesuatu yang istimewa untuk orang yang disayangi.

Tidak ada yang salah dengan mimpi ini dan itu. Hanya saja, istilah “mimpi” itu kurang pas. Mimpi itu lekat dengan sesuatu yang mudah karena dengan tidur-tidur saja sebenarnya kita semua bisa bermimpi. Biasanya mimpi-mimpi seperti itu hanya sebatas mimpi; tidak menjadi sesuatu yang mewujud.

Lebih pas jika mengganti kata “mimpi” dengan “aspirasi” atau “rencana”. Aspirasi atau rencana lebih membumi dan lebih jelas. Contohnya, A memiliki aspirasi untuk menjadi pemain musik dengan mengambil kursus musik. B sudah berencana untuk bepergian ke Kapadokia tahun depan.

Dengan memakai istilah yang berbeda, perspektifnya menjadi berubah dan menjadi lebih dekat ke realisasi. Bukan sekadar mimpi di siang bolong.

Dilema

Pernah menonton film di mana ada adegan tokohnya melemparkan koin untuk memutuskan pilihannya? Hal itu kelihatan keren. Namun, apakah dalam kehidupan nyata, kita juga akan lempar koin saat merasa dilematis?

Saat menghadapi dilema, hal yang perlu diingat adalah kadang kita tak perlu memilih dua pilihan sebagai sesuatu yang hitam dan putih. Baik dan buruk. Pilihan satu dan pilihan dua. Kanan atau kiri. Tidak perlu.

Bisa jadi malah memilih dua-duanya. Caranya bagaimana? Ya, bisa jika sudah tahu caranya. Biasanya kita memang belum tahu saja caranya. Misalnya, A merasa harus memilih satu dari dua opsi, yaitu untuk mengambil cicilan KPR atau melanjutkan studi S2. Mengapa harus memilih jika ternyata dua-duanya bisa dilakukan. Caranya? Ya, dicoba saja.

Jika seseorang memilih salah satu saja, bisa jadi dia tak akan tahu bahwa ternyata bisa memilih dua opsi yang ada. Mengapa harus menutup kemungkinan yang lebih baik?

Kemudian jika situasinya tak sebaik dan tak semulus itu, ya harus bisa menerima.

Menyoal pasrah, kita harus berhat-hati dengan kata “pasrah”. Kita tidak pasrah kepada keadaan kita (baca: menyerah atau tidak mau tahu). Kita pasrah kepada Tuhan dan mencoba mendengarkan apa yang Tuhan perintahkan ke kita. Sekali lagi, bukan pasrah kepada keadaan.

Oleh karena itu, kita tanyakan saja kepada diri sendiri dan Tuhan Sang Pencipta melalui meditasi dan doa.

Rahayu
7 April 2022

Kuda

Seperti biasanya, kami sejenak mengosongkan diri bersama-sama di hari Kamis. Kami berharap bisa mendapat bekal untuk menjalani kehidupan ini. Kamis malam ini kami belajar tentang “kuda”.

Empat Kuda

Kuda adalah sebuah simbolisme yang ada dalam diri manusia. Ada empat warna kuda. Kuda Putih, Kuda Merah, Kuda Hitam, dan Kuda Kuning. Kuda-kuda ini ada yang kuat dan yang lemah. Kita tidak bisa membunuh atau meniadakan kuda-kuda ini. Yang kita lakukan adalah memahami dan menyayangi kuda-kuda kita yang ada bersama diri kita.

Kuda Putih adalah kuda yang bisa jadi memberi kebaikan atau orang baik. Namun, bisa juga membuat orang menjadi tidak membumi karena terproyeksi pada rencana-rencananya yang ideal.

Kuda Merah menyiratkan amarah. Ini bisa menjadi kemarahan yang membakar. Bisa juga menjadikan seseorang antusias dalam mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh.

Kuda Hitam berkaitan dengan keserakahan, kemarahan, dan ambisi. Kuda ini bisa membuat orang mampu memikul beban kehidupan yang berat. Bisa pula menjadi ambisi yang menuju ke arah keserakahan. Salah-salah, orang menjadi rakus.

Kuda Kuning berhubungan dengan gairah (desire). Gairah bisa menjadi inspirasi untuk banyak hal dan orang lain. Namun, gairah juga bisa menjadi negatif seperti halnya nafsu seksual dan kecanduan.

Masing-masing pribadi manusia mencari keseimbangan dengan kecenderungan kuda-kudanya yang unik, sesuai dengan perjalanan dan pengalaman hidupnya. Bagaimana pun kita adalah manusia yang tak terlepas dari kuda-kuda tersebut. Ini sudah menjadi ciri khas manusia. Tentu perlu latihan dan meditasi untuk memahami dan menyayangi kuda-kuda ini. Jangan sampai ada kuda yang terlalu kuat sehingga dampaknya menjadi merugikan diri sendiri. Kuda yang lemah pun juga harus diperhatikan.

Kuda Merah dan Amarah

Rasa marah adalah rasa yang kuat. Membakar seperti api. Sanggup untuk membakar diri sendiri dan orang lain. Rasa marah biasanya membuat orang merasa menderita. Hidup menjadi tak nyaman dan tenang.

Yang perlu diperhatikan adalah penyebab marahnya. Setiap kemarahan tentu memiliki sebabnya. Tidak ada rasa marah tanpa penyebab. Pasti ada sebabnya.

Banyak orang yang sedang dilanda kemarahan cenderung berfokus pada sebabnya. Berfokus pada penyebab kemarahan mungkin sekali memberikan penderitaan bagi yang merasakannya dan memikirkannya. Namanya juga sedang marah. Tak jarang orang yang marah akan mudah menyalahkan keadaan dan meratapi nasibnya. Kemarahan yang memuncak dan tak tertahankan bisa jadi membuat seseorang melakukan hal yang bisa melukai orang lain; misalnya memukul atau membentak orang lain.

Namun, ada satu hal penting yang bisa dilakukan saat marah, yaitu untuk menerima rasa marah tersebut. Pertanyaannya adalah, “apakah saya bisa menerima rasa marah ini?

Apakah Kuda Merah (dalam bentuk api atau amarah) ini bisa berguna untuk saya? Jika tidak, apakah justru ini adalah amarah yang sudah membakar egonya sendiri dan tentu merugikan diri sendiri?

Sibuk dengan penyebab kemarahan itu sesuatu yang sifatnya sekunder. Kurang penting. Justru yang primer dan lebih penting adalah kita bisa menerima rasa itu.

Tentu saja kita harus menanyakan ke diri sendiri, “sebaiknya aku harus bagaimana?“. Akan kita apakan Kuda Merah itu. Sebagai contohnya, api ini bisa digunakan untuk mengerjakan suatu pekerjaan atau menyelesaikan masalahnya sampai tuntas. Api bisa diberdayakan menjadi enerji yang migunani (berguna).

Singkat kata, saat kita sedang dilanda api kemarahan, kita “menerima apa yang terjadi”. Tidak berfokus pada penyebabnya tetapi apa yang akan bisa kita lakukan dengan api ini supaya menjadi enerji yang luar biasa.

Si Kuda Putih yang Baik Hatinya

Kuda Putih membuat orang ingin berbuat sesuatu yang baik dalam situasi yang kurang menguntungkan. Berderma yang miskin. Membantu yang kesulitan. Menjadi penolong bagi yang butuh pertolongan. Tidak ada yang salah dengan Si Kuda Putih yang menonjol.

Namun, tetap perlu menyadari kehadiran Kuda Putih. Jangan-jangan tindakan yang kita lakukan ini hanya idealisme yang muluk-muluk dan kurang membumi. Bisa jadi terlalu fokus pada tujuannya. Bahkan, ada situasi di mana ada rencana-rencana yang sangat indah di awang-awang tetapi menjadi tidak realistis dan tidak praktis. Hanya indah untuk dipikirkan dan didiskusikan.

Oleh karena itu, jika ingin memulai sesuatu, mulailah apa adanya. Usahakan untuk tidak memiliki ambisi. Menerima apa adanya.

Menetapkan Prioritas

Orang yang hidup di jaman now ada kalanya terobsesi dengan istilah “efisien”. Efisien identik dengan hemat waktu. Dan waktu adalah sesuatu yang dianggap banyak orang sebagai sesuatu yang mahal harganya di dunia modern yang bergerak cepat dan makin cepat. Orang percaya jika bisa menjalani kehidupan dengan efisien maka bisa melakukan lebih banyak hal di rentang waktu yang terbatas.

Namun, ada hal yang lain yang esensial yaitu “menetapkan prioritas”. Prioritas untuk melakukan tindakan dalam hidup sehari-hari. Salah meletakkan prioritas alhasil membuat orang menyia-nyiakan waktu dalam hidupnya. Contohnya, menonton sinetron sembari main Instagram berjam-jam terlebih dahulu baru kemudian mengerjakan PR.

Menyoal menetapkan prioritas ini tentang mana yang perlu dipikir dan mana yang tidak perlu dipikir. Mana yang perlu dilakukan dan mana yang tidak perlu dilakukan. Tidak semuanya harus dipikir dan dilakukan secepat-cepatnya atau dikerjakan bersamaan secara sekaligus di waktu yang sama.

Masing-masing pribadi harus melihat dengan kebutuhannya. Mana kebutuhan yang paling penting dan berdampak pada dirinya.

Tindakan mengikuti kebutuhannya. Jika suatu kebutuhan tersebut bisa didapatkan atau dipuaskan, tentu saja harus disyukuri. Jika ternyata tidak dapat didapatkan, tentu saja, diterima apa adanya.

Setali tiga uang, jika suatu hal bisa dikerjakan, kerjakanlah. Jika tidak bisa dilakukan, apa boleh buat, kita terima.

Kembali lagi, ini bukan masalah efisien atau tidak. Namun, ini tentang menerima sedalam-dalamnya apa yang bisa kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan diri kita.

Ada kalanya, setelah berjuang sekuat tenaga dan penuh pengorbanan, suatu hal benar-benar tidak bisa dilakukan untuk memenuhi suatu kebutuhan. Ya, sudah, kita mencoba menerima itu. Jika tetap tidak bisa menerimanya, kita mencoba menerima bahwa kita tidak bisa menerimanya.

Kita bisa menerima apa adanya dalam menjalani hidup ini. Tidak semuanya bagus. Tidak semuanya jelek. Kita menerima hal yang bagus dan yang jelek; yang positif dan yang negatif.

Rahayu
17 Maret 2022

Cara Makan Nasi Padang

Salah satu bahasan yang lagi ramai di Twitter hari ini adalah Nasi Padang. Ternyata kuliner dari Padang ini menjadi syarat yang harus ada ketika Agnes Monica naik panggung. Begitulah kisah yang menjadi bahan wawancara penyanyi kondang ini dengan Grammy.

Begitulah adanya, acara musik malah yang dibahas makanan. Seru, kan? Nasi Padang memang menjadi makanan jutaan warga negara Indonesia. Ini makanan sehari-hari sekaligus menjadi kuliner kebanggaan.

Kemudian muncul sebuah pertanyaan yang tidak begitu penting. Namun, pertanyaan ini memunculkan sebuah pertarungan argumentasi. Begini bunyi pertanyaannya. “Anda makan nasi padang pakai tangan atau sendok garpu?”

Pertanyaan sederhana ini sebenarnya bisa menjurus ke taktik divide et impera yang dipakai Kompeni Belanda di jaman dulu. Jelas, netizen terbagi dua. Ada banyak yang memilih tim makan nasi padang pakai tangan; mereka ini mengaku sebagai naturalis sejati. Tetapi rivalnya juga tak main-main, jumlahnya tak kalah banyak. Yaitu tim makan nasi padang yang menggunakan sendok dan garpu.

Bagi saya sendiri, saya termasuk orang yang makan nasi padang pakai sendok dan garpu. Maklum karena sudah terbiasa memakai alat makan. Menurut saya pribadi, malah susah sendiri kalau memakai jari-jemari untuk makan nasi padang. Belepotan. Kesannya tidak beraturan dan relatif brutal. Tetap bisa kok makan nasi padang pakai sendok dan garpu dan tetap rapi bersih makannya.

Di sisi lain, saya paham bahwa “turun tangan” ketika makan nasi padang yang menunya bermacam-macam dan berkuah itu kelihatan lebih “manusiawi”. Lebih luwes. Terutama saat menghadapi lauk ikan atau ayam. Umumnya, nasi padang memang disajikan tanpa sendok garpu. Meski sendok dan garpu disediakan di meja saat ini.

Mungkin juga ada faktor usia. Generasi jaman dulu lebih suka tak pakai sendok garpu karena dulu memang alat makan itu tak mudah didapatkan. Sementara generasi sekarang sudah lebih terbiasa menggunakan sendok garpu untuk makan setiap harinya.

Ah, sudahlah! Tak penting makan pakai tangan atau pakai alat makan. Hal yang paling penting adalah lauk padangnya. Makin beragam, makin enak. Syukur-syukur kalau bisa makan di rumah makan Padang yang sajiannya masih otentik dan maknyus.

Doldrum

Doldrum adalah sebuah istilah meteorologi. Menurut KBBI, doldrum adalah daerah bertekanan rendah di sekitar khatulistiwa, tempat udara panas selalu naik dan agak jarang angin.

Meskipun terlihat tak berbahaya, banyak awak kapal layar yang tidak berani berlayar di daerah doldrum. Alasannya sederhana, mereka tak mau kapal layar mereka berhenti bergerak, terjebak di sana, dan tak bisa kemana-mana. Tentu berbeda dengan kapal jaman sekarang yang ditenagai oleh mesin diesel; tak terpengaruh dengan pergerakan angin.

Seperti halnya kapal layar, ada waktunya manusia merasa sedang stagnan di tempat yang sama. Tidak maju. Tidak mundur. Hanya saja terpaku terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa.

Makin lama suatu kapal layar berada di wilayah doldrum, bisa jadi semangat para awak kapal mulai menipis. Hingga sirna tak berbekas. Ini lebih berbahaya karena tanpa harapan, awak kapal tak mau bergerak untuk melakukan tindakan yang bisa membuat mereka bergerak keluar dari wilayah angin mati ini.

Oleh karena itu, jaman dahulu, di kapal layar tetap ada dayung-dayung. Dayung digunakan untuk menghadapi doldrum. Meski tenaganya tak sehebat dan sekuat angin, jika awak kapal konsisten mendayung tentu kapal akan bergerak. Lambat tak mengapa asal bisa bergerak.

Dengan tetap bergerak, awak kapal juga menjadi tetap bersemangat. Hingga akhirnya kapal layar sampai di wilayah berangin yang membuat kapal kembali berlayar dengan lancar.

Dalam kondisi doldrum, seseorang harus tetap bergerak. Tak peduli sepelan apapun, kapal harus tetap bergerak. Berhenti lama bisa jadi kapal tak akan pernah beranjak dari tempat tersebut selamanya.

Generasi Stroberi

Lucu juga nih istilahnya. Saya mengetahui tentang generasi stroberi setelah mendengarkan paparan Rhenald Kasali tentang Healing di YouTube.

Profesor dari Rumah Perubahan itu menjelaskan alasan healing begitu dibutuhkan oleh generasi stroberi. Sederhana, seperti buah stroberi yang empuk, begitulah kondisi generasi stroberi yang menjadi lembek, tidak tangguh, dan sedikit-sedikit butuh healing.

Kemudian saya ulik informasi mengenai generasi stroberi dari Wikipedia. Disebutkan bahwa “Generasi Stroberi adalah sebuah neologisme bahasa Tionghoa untuk orang Taiwan yang lahir setelah 1981 yang gampang mengkerut seperti stroberi – artinya mereka tak dapat menghadapi tekanan sosial atau kerja keras seperti generasi orang tua mereka; intilah tersebut merujuk kepada orang yang insubordinat, manja, penyendiri, arogan, dan malas kerja.”

Fenomena itu ternyata tak hanya terjadi di Taiwan. Hal yang sama terjadi di tanah air. Ekonomi negara di garis Khatulistiwa ini sudah lebih baik dan sudah maju. Tentu belum semua warganya sejahtera. Namun, ada kantong-kantong tertentu di mana ada keluarga-keluarga yang sudah lebih dari layak dan bahkan berlimpah.

Keluarga-keluarga ini melindungi anak-anaknya dengan protektif dan memudahkan kehidupan keturunannya. Lalu, anak-anaknya menjadi kurang tangguh dan kurang berjuang. Lebih sering moody. Hingga akhirnya sedikit-sedikit butuh healing; padahal hanya karena ‘manja’.

Pertanyaan retoriknya adalah, “apa benar kita butuh healing untuk hal-hal sepele?” Kalau ya, mungkin tergolong generasi stroberi.

Kita Tahu Bahwa Kita Tidak Tahu

Seperti biasanya, kami sejenak mengosongkan diri bersama-sama di hari Kamis. Kami berharap bisa mendapat bekal untuk menjalani kehidupan ini. Kamis malam ini kami jadi lebih menyadari bahwa “kita tahu bahwa kita tidak tahu”.

Menyoal Mimpi

Kita rasakan saja mimpi yang kita alami. Kita bisa merasa-rasakan mimpi kita. Kita juga boleh mengabaikan mimpi kita. Kita sendiri yang menentukannya sesuai kondisi saja.

Ada 3 konsep dalam mimpi.

Pertama, mimpi sebagai bunga tidur. Ini adalah mimpi yang muncul karena terpengaruh dengan kejadian dalam keseharian ketika bangun. Tentu ada saja kejadian dalam satu hari, baik yang terjadi di tempat bekerja, di rumah, atau di mana saja.

Kedua, mimpi yang memiliki relasi dengan alam bawah sadar (seperti dalam psikoterapi). Saat kita tertidur, aku-nya tidur (menjadi tidak aktif) sehingga tidak akan menyeleksi yang datang atau muncul. Alam bawah sadar memiliki bahasa sendiri yaitu bahasa simbolik.

Ketiga, mimpi yang merupakan pesan dari alam. Ini bukan sesuatu yang berasal dari alam bawah sadar melainkan dari luar ke kita; yang memberikan pesan untuk kita.

Tentang Masalah

Dalam lika-liku kehidupan, pasti seseorang akan menemui masalah. Kita sebaiknya memberi porsi yang sewajarnya pada masalah itu. Untuk mempermudah saat menghadapinya, kita bisa memberi “masalah” itu nama. Hal yang penting adalah tidak mengidentifikasi masalah dengan diri saya sendiri. Dengan demikian, masalah tidak memakan diri saya. Harus dipisahkan bahwa masalah itu ya masalah; bukan saya yang bermasalah atau sumber masalah.

Saat menemui masalah, kita juga bisa bertanya pada diri sendiri. Apakah masalah ini harus dihadapi? Ternyata tidak semua masalah harus dihadapi. Ada juga masalah yang bisa dihindari. Kita bisa menimbang sesuai diri kita sendiri, ini masalah yang harus dihadapi atau dihindari. Tentu dengan melihat situasi dan kondisi.

Apakah boleh lari dari masalah? Ya, boleh saja. Mengapa tidak? Kejujuran adalah hal yang penting saat menemui masalah.

Oleh karena itu kita berlatih meditasi untuk mengosongkan diri. Dengan begitu, kita bisa mendengar suara lain. Bayangkan saja sebuah radio. Kita mematikan radio supaya bisa mendengar suara yang lain. Jika radio kita selalu hidup, bagaimana kita bisa mendengar suara lain. Matikan radionya sejenak sehingga kita bisa mendengarkan suara yang lain.

Saat hening, jawaban muncul yang menentukan apa yang harus kita lakukan dengan masalah yang kita temui itu.

Kita Tahu Bahwa Kita Tidak Tahu

Sebagai manusia, kita awalnya tidak tahu apa-apa saat memulai hidup. Seraya waktu, kita mengetahui banyak hal. Bahkan, ada titik dalam kehidupan, kita menjadi sok paling tahu. Tahu banyak. Tahu segala hal.

Namun, kesadaran membawa kita pada titik sadar bahwa “kita tahu bahwa kita tidak tahu”. Ternyata ada banyak hal yang kita tidak tahu atau belum tahu. Namun, jika kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu, pandangan kita menjadi terbatas. Sempit. Karena seolah-olah tahu segala-galanya. Sok tahu padahal tidak tahu apa-apa.

Kalau merasa tidak tahu, ya tidak apa-apa. Kemudian kita bisa mencoba untuk mencari tahu. Boleh juga untuk tidak mencari tahu apa yang tidak kita tahu.

Tentang mencari tahu, saya jadi teringat momen bahwa ada saja orang-orang yang terlalu banyak bertanya kepada orang lainnya. Bertanya seperti orang yang kelaparan. Berapa pun banyak jawaban yang diterima, tetap saja bertanya, lagi dan lagi. Tetap merasa lapar. Tetap tak terpuaskan.

Makin banyak jawaban yang didapat juga bisa membingungkan. Ada beragam versi “kebenaran”. Ada baiknya orang yang suka bertanya seperti wartawan ini diam sejenak. Mencoba tak bertanya kepada orang lain terlalu sering dan terlalu banyak. Tahan diri. Diam dan mengosongkan diri dalam meditasi. Dan siapa tahu justru jawaban dari pamong sejati dalam dirinya muncul dengan sendirinya.

Kadang orang bertanya kepada orang yang dianggapnya ahli atau lebih pintar tentang pendapat mereka. Kemudian mencoba menganalisa dan akhirnya terjebak membentuk konsep. Menurut dia, kata mereka, berdasarkan pendapat para ahli, dan tak ada habisnya. Ini bisa berbahaya karena tidak akan kemana-mana.

Sebaiknya kita tidak perlu mengambil suatu analisa sehingga terhindar dari pembentukan konsep. Biarkan jawaban mengalir dan datang dengan sendirinya saat kita berdiam diri mengosongkan diri dalam meditasi.

Kita akan tahu jika saatnya sudah tepat bagi kita untuk mengetahuinya. Terkadang memang tetap tidak tahu dan itu tidak apa-apa. Kita tidak harus tahu ini itu.

Ingat, bahwa banyak orang merasa penasaran dalam hidupnya karena mencoba menjawab pertanyaan yang ternyata jawabannya sederhana. Bisa juga karena mencoba mendapatkan pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Malangnya, ada saja yang sudah diberitahu berkali-kali jawabannya dan tetap saja bertanya karena merasa belum terpuaskan. Entah dasarnya bebal atau penasaran level dewa.

Jalani Saja Dulu

Manusia memiliki kemampuan dalam membuat banyak hal. Menyelesaikan penelitian. Membuat usaha. Menghasilkan karya lukis. Membuat lagu yang indah. Membangun rumah. Dan banyak hal-hal lainnya.

Namun, semua hal tersebut harus dimulai pada satu titik.

Sayangnya, ada begitu banyak orang yang merasa harus menghasilkan karya yang sempurna. Ini harus bagus. Ini harus berarti. Ini harus jadi. Harus ini dan harus itu. Dan akhirnya keharusan ini itu memberikan tekanan yang luar biasa. Orang justru tak merasa mampu untuk mengerjakan apa yang diinginkannya. Tak berdaya. Tak ada kemajuan yang berarti. Tak bisa maju. Stagnan. Mandek.

Padahal kita tahu bahwa karya-karya yang ada di dunia ini adalah hasil dari karya yang diperbaiki berkali-kali. Sebagai contoh, sebuah novel.

Perjalanan sebuah novel tak pernah singkat. Penulisnya harus menuangkan apa pun yang ada dalam benaknya ke kertas. Sedikit demi sedikit. Setelah selesai menulis, barulah penulisnya membaca berulangkali. Dalam prosesnya, penulis akan menemui kata-kata yang tidak pas lalu menyuntingnya lagi dan lagi. Setelah novelnya sudah selesai, novel akan dibaca dan disunting oleh penyunting. Dalam proses ini, novelnya akan disunting lagi. Ada bagian yang dikurang, ditambahkan, atau diubah. Setelah itu novelnya akan di-proofread lagi sehingga tidak ada lagi bagian yang kurang bagus. Membaca prosesnya saja melelahkan karena panjang. Apalagi mengalama proses membuat buku dari mulai hingga jadi dan siap dibaca. Panjang. Makan waktu berbulan-bulan hingga tahunan.

Tapi tidak perlu melihat prosesnya yang begitu panjang. Jangan cari bagusnya lebih dahulu. Cari lancarnya saja. Tulis dan tetap menulis. Yang penting menulisnya lancar.

Kita bisa lancar dalam menulis jika kita tidak mau bagus. Tidak perlu disunting terlebih dahulu. Menulis saja. Sebanyak dan sesering mungkin. Jangan malas. Jangan berhenti.

Hasilnya seperti apa kita tidak tahu. Nanti hasilnya akan menjadi nyata dengan sendirinya. Mewujud menjadi sesuatu yang tampak jelas. Intinya, jangan mengkhawatirkan hasilnya.

Saat melakukan prosesnya, bukalah diri untuk dituntun. Saat melakukannya, perlu juga rasa rendah hati; yang mana jika hasilnya jelek, ya tidak apa-apa. Hasil yang tidak bagus bisa dibuang. Kemudian ulangi lagi prosesnya. Kerendahan hati adalah bisa menerima sesuatu yang salah dan yang jelek.

Akhir Kata

Malam itu kami jadi tahu cukup banyak. Menjadi sedikit tahu tentang mimpi, masalah, ketidaktahuan, dan menjalani proses. Malam itu kami juga menjadi tahu bahwa lebih banyak hal yang kami tidak tahu atau belum tahu dalam kehidupan ini. Ketidaktahuan ini yang membuat kami ingin terus melanjutkan sesi Kamis malam untuk mendapatkan bekal dalam menjalani kehidupan. Supaya lebih tahu sekaligus tidak menjadi sok tahu.

Rahayu

17 Februari 2022

Nyawa Melayang Demi Antar Makanan

Bisnis antar makanan itu sudah ada sejak lama. Biasanya katering atau restoran memiliki jasa layanan mengantar sajian yang mereka masak. Para pembuat makanan skala rumah tangga juga biasa mengantarkan makanan yang mereka produksi ke pelanggan mereka.

Namun, perubahan jaman membuat layanan antar makanan lebih dibutuhkan daripada era yang telah berlalu. Orang makin sibuk dan lebih praktis pesan makanan ketimbang membawa bekal dari rumah atau makan di saat waktu makan siang. Bahkan orang bisa saja makan apa pun dan kapan pun saja tanpa pergi ke mana-mana, cukup memesan makanan dari aplikasi ajaib dengan banyak fungsi.

Di sisi lain, ada begitu banyak orang yang memerlukan pekerjaan. Apa pun tugasnya, asalkan halal, orang mau mengerjakannya. Di masa yang sulit cari kerjaan, ada pekerjaan yang dikemas baru yaitu menjadi pengantar makanan. Food delivery. Tak ada bos. Adanya platform, ponsel, kebutuhan akan jasa antar makanan yang meningkat tajam, dan orang yang bisa naik sepeda motor dan butuh kerja.

Di tanah air ada jasa layanan antar makanan dari abang-abang dan mbak-mbak berseragam sama; ada yang hijau tua, hijau muda, atau yang oranye. Tentu ada seragam warna lain yang kurang populer. Mereka-mereka ini mengendarai berbagai macam sepeda motor, bahkan ada yang sepeda listrik, untuk mengambil makanan dari penjual makanan untuk diantarkan ke pemesan makanan. Mereka bekerja pagi, siang, hingga malam.

Tentu ada suka duka yang mereka alami. Suka karena bisa bekerja dan menghasilkan uang. Duka karena ada saja kesulitan yang mereka hadapi, seperti cuaca yang tak bersahabat, antrean panjang yang bikin galau, dan pemesan yang membatalkan pesanan sesukanya.

Sayangnya, ada saja pengantar makanan yang tertimpa kemalangan. Jalanan tak selalu ramah. Buktinya ada saja berita tentang pengantar makanan yang mengalami kecelakaan saat melakukan tugasnya. Ada yang sebatas cedera. Ada juga yang sampai meregang nyawa. Bahkan ada pengantar makanan perempuan yang nyaris diperkosa. Profesi mereka ini memiliki resiko yang bervariasi.

Barusan saya juga membaca tentang kisah tragis para pengantar makanan di negara lain. Sungguh mengerikan apa yang harus mereka alami hanya karena platform antar makanan ingin bisa melayani konsumen mereka. Rupanya ada sistem gamifikasi yang abusif dan merugikan para pengantar makanan ini.

Silakan dibaca sendiri cerita tentang pengantar makanan di India, di China, dan di Afrika Selatan; dalam Bahasa Inggris.

Semoga saja perusahaan yang memiliki platform antar makanan di tanah air bisa lebih manusiawi daripada platform serupa di negara lain. Bagaimana pun para pengantar makanan adalah manusia yang layak untuk mendapat perlakuan yang adil dan manusiawi.

Rasanya aneh mendengar seseorang tewas hanya karena mengantar makanan. Absurb bagi saya. Nyawa manusia jauh lebih bernilai daripada makanan.

Kejengkolan

Saya tertawa waktu sekilas membaca istilah ‘kejengkolan’. Maksudnya apa? Apakah kejengkolan berarti terlalu suka makan jengkol?

Ternyata tidak. Kejengkolan adalah intoksikasi jengkol atau keracunan jengkol. Istilah Bahasa Inggrisnya adalah djenkolism.

Tunggu, jangan tertawa. Ini serius. Biji jengkol memang enak untuk dimasak, misalnya semur jengkol. Jengkol bisa juga digoreng dengan balado atau dibikin menjadi gulai. Sedap tentunya. Jengkol juga bisa dibuat menjadi keripik.

Sayangnya, jengkol mengandung asam jengkol. Asam ini merupakan asam amino yang dapat memberikan dampak keracunan jengkol. Tergantung metabolisme masing-masing individu, terlalu banyak memakan jengkol bisa menimbulkan kejang otot, retensi urin, dan gagal ginjal akut. Menyeramkan, bukan?

Tentu saja jengkol dalam jumlah sedikit, semisal sebagai tambahan lauk, bisa menambah cita rasa. Berbahaya jika diasup terlalu banyak. Jengkol juga menambah aroma yang kurang sedap saat orang sudah mengudapnya.

Apakah jengkol memiliki manfaat kesehatan? Tentu ada. Jengkol memiliki vitamin, mineral, dan serat yang tinggi. Cuma itu tadi, meski rasanya nikmat tetap harus mengingat bahwa jengkol bisa menimbulkan kejengkolan.

Perlu diingat juga, minum air yang cukup bisa mencegah kejengkolan. Maklum, asam jengkol mudah mengendap dan membentuk kristal yang mengganggu saluran kemih saat tubuh sedang kekurang cairan.

Masih tetap ingin makan jengkol?