Verba Volant, Scripta Manent

Verba volant, scripta manent adalah suatu ungkapan dalam Bahasa Latin. Artinya adalah “spoken words fly away, written words remain“.

Perkataan dalam bahasa lisan mudah terlupakan. Berbeda dengan sesuatu yang tertulis, bisa bertahan lebih lama. Begitulah adanya.

Bila Anda ingin apa yang menjadi opini, pemikiran dan segala sesuatu yang ada di benak ingin menjadi lebih abadi, tuliskanlah itu semua. Bila hanya disampaikan secara lisan, secepat suaranya menghilang, kata-kata yang paling indah sekalipun akan lenyap tak berbekas.

Menulis sudah harus menjadi suatu kebiasaan yang baik. Suatu tradisi yang nilainya akan terus bisa dibaca lagi dan lagi.

Selingkuh dan Kebohongan

Selingkuh dan berbohong itu satu paket. Sepertinya tak mungkin selingkuh dan tak pernah berbohong sama sekali. Setali tiga uang, orang menjadi sering berbohong saat aktivitas ‘ekstrakulikuler’ dengan PIL/WIL lainnya.

Kebohongan itu menjadi sesuatu yang hakiki ketika berselingkuh karena tak ingin rahasianya terbongkar. Bila bohong saja dirasa tak cukup, bisa jadi ditambahi dengan alibi – suatu alasan kuat sehingga tak dicurigai.

Namun sehebat-hebatnya menyimpan ikan yang berbau amis dengan aroma minyak wangi yang mahal, bau amis tetaplah akan tercium cepat atau lambat. Sama dengan perselingkuhan, bakal terkuak. Terbongkar. Bahkan banyak orang yang selingkuh tertangkap basah. Malu akibatnya. Hubungan rusak. Perasaan hancur. Akhir dari sebuah perjalanan dua orang insan yang awalnya pernah saling percaya satu sama lain.

Berbohong sepandai apapun nyatanya tetap ada kesalahan. Sebuah narasi palsu yang direncanakan dengan sangat baik tentu memunculkan kompleksitas kebohongan yang makin rumit. Di titik itulah, kebohongan yang tak sinkron membuat yang dibohongi menyadari bahwa ada yang tak beres.

Belum lagi kalau yang diselingkuhi ternyata memiliki intuisi yang tajam. Tak hanya perempuan, lelaki pun bisa memunyai rasa curiga. Ada pola yang tak seperti biasanya. Ada sesuatu yang tak alami.

Menjadi lebih kompleks bisa teman selingkuh tak puas dengan menjadi sekedar selingkuhan. WIL/PIL ingin status yang lebih solid. Lebih diakui. Tak mau jadi yang kedua. Ingin menjadi yang pertama. Rahasia yang ditutupi menjadi lebih sulit karena WIL/PIL justru yang mengungkapkannya dengan sengaja. Nah, lho. Kapok, ga?

Selingkuh jelas hanya kenikmatan sementara. Ada adrenalin mengalir yang mengasyikkan karena takut ketahuan. Ada gejolak nafsu yang tersalurkan. Namun tak abadi sifatnya. Bahagia? Tentu tidak.

Drama Korea Selatan berjudul The World of the Married ingin menyajikan kehidupan pernikahan yang dilanda perselingkuhan. Konon drakor ini mampu mengaduk-aduk dan mengobok-obok perasaan penontonnya. Banyak penontonnya – terutama penonton perempuan – yang jadi ikut emosi menjadi-jadi.

Saya penasaran. Barusan saya kelar menonton episode pertama. Menegangkan. Jadi ingin tahu lebih lanjut cerita berikutnya. Mungkin perasaan menegangkan itu yang bikin banyak orang menikmati perselingkuhan itu. Bikin hidup lebih hidup. Entahlah…

Keweleh

Harus saya akui bahwa saya tak benar-benar memahami mother tongue alias bahasa ibu yaitu Bahasa Jawa. Suatu saat saya berkali-kali mendengar kata keweleh. Saya hanya bisa mengerti karena konteksnya. Namun tak berhasil menemukan padanan kata yang pas untuk keweleh dalam Bahasa Indonesia.

Ada dua artikel yang membantu saya memahami konteks kata keweleh.

Pertama, sebuah unggahan berjudul Keweleh; yang diunggah di blog bernama Versodio. Hasil dari sombong diri dan meremehkan orang lain bisa jadi membuat diri sendiri menjadi sangat malu.

Kedua, kata keweleh biasanya didapatkan pada sebuah nasihat seperti ini. Ojo Dumeh Mundhak Keweleh. Agus Siswoyo, seorang blogger, menjelaskan bahwa ‘jangan merendahkan kemampuan orang, kalau terbukti sebaliknya maka hanya rasa malu luar biasa saja yang akan Anda dapatkan’.

Saya hanya menemukan arti kata Bahasa Jawa untuk weleh yaitu balasan. Balasan dalam hal ini adalah balasan yang menimbulkan rasa malu karena telah melakukan tindakan yang takabur atau sombong.

Bisa ditarik kesimpulan, keweleh adalah malu sebagai balasannya.

Kembali lagi, arti kata bukanlah yang utama. Satu hal yang paling penting adalah untuk mengingat nasihat bijak di bawah ini.

Ojo Dumeh Mundhak Keweleh.

Rendah hatilah. Memahami kondisi orang lain dengan pikiran bersih dan perasaan tenang. Hargai setiap insan manusia dengan hormat. Ingat bahwa kita akan selalu membutuhkan orang lain. Bahkan orang-orang yang pernah diremehkan justru malah mereka yang biasanya bersedia untuk menolong kita di saat sulit.

 

Pilih Annie atau Mary?

Ya, ampun. Memilih satu dari dua tak selalu gampang. Saya sudah menuliskan satu postingan perihal membuat keputusan. Selain itu saya sudah mengunggah tentang Si Doel yang bingung untuk memilih salah satu, pilih Zaenab atau Sarah?

Sekarang saya dihadapkan pada polemik tentang Annie atau Mary. 

Saya bukan lelaki seperti Si Doel yang selalu bingung memilih perempuan mana yang harus saya pilih. Saya hendak mengangkat tentang Perang Ayam Goreng. Kantor berita BBC menuliskan tentang America’s ‘fried chicken war’. Seru sepertinya. Maklum saja. Saya termasuk orang yang suka, pake banget, makan ayam goreng. Demen.

Artikel tersebut tak membahas tentang Kentucky Fried Chicken melawan Texas Chicken. Namun tentang perseteruan antara Chicken Annie’s dengan Chicken Mary’s.

Buka usaha ayam goreng untuk bertahan hidup.

Kedua rumah makan khusus ayam goreng – yang terletak di jalan yang sama di sebuah wilayah bernama Crawford County – sama-sama buka usaha karena kondisi yang tak menyenangkan. Baik Annie dan Mary sama-sama memiliki suami yang tak lagi mampu menafkahi keluarga mereka. Maklumlah, suami Annie tak lagi bisa bekerja di pertambangan karena cacat pada kakinya. Setali tiga uang, suami Mary tak bekerja lagi di pertambangan karena pernafasannya terganggu akibat terlalu lama bekerja di pertambangan.

Annie dan Mary membuka ‘warung makan’ mereka di ruang tamu yang diubah menjadi tempat makan. Para penambang batu-bara menjadi langganan mereka. Pun keluarga para penambang.

Rivalitas

Permasalahannya satu. Banyak tetangga mereka yang menghadapi dilema ketika harus makan ayam goreng. Harus memilih makan di Chicken Annie’s atau Chicken’s Mary. Rikuh. Mau masuk ke rumah Annie, tak merasa enak dengan Mary. Begitu pula sebaliknya.

Kebanyakan penduduk sekitar berpikir bahwa masakan ayam goreng Annie dan Mary sama-sama enak. 11/12. Tergantung selera masing-masing orang. Namun setelah beberapa saat, ada dua kubu. Orang yang suka dengan ayam goreng Annie dan pelanggan yang suka dengan ayam goreng Mary. Keduanya ramai dikunjungi oleh masing-masing penggemarnya. Bahkan pilihan orangtua menjadi warisan anak-anak dan cucu-cucu. Bila kakek suka makan di Chicken Mary’s, keluarga besar mereka akan meneruskan tradisi makan di rumah makan milik Mary. Pun sebaliknya. Lucu, kan?

Ada dua kubu yang menyebabkan kehebohan dalam dunia ayam goreng. Berita mengenai rivalitas ayam goreng menjadikan kedua rumah makan tersebut makin terkenal. Pembeli mulai berdatangan dari kota-kota yang lain. Mereka penasaran ingin membandingkan rasa dari dua rumah makan ayam goreng itu. Jauh-jauh mereka mendatangi Crawford County di Pittsburg untuk makan ayam goreng.

Nyaris seperti kisah Romeo dan Juliet.

Rivalitas antara dua rumah makan yang tetap bertahan hingga lebih dari tiga generasi tersebut memang nyata. Kedua rumah makan tersebut makin lama makin besar. Pelanggannya makin banyak. Persaingan tambah sengit ketika masing-masing keluarga melarang generasi penerus mereka untuk saling jatuh cinta kepada keluarga rival mereka.

Sayangnya cucu Annie dan cucu Mary tak mengindahkan pesan dari nenek mereka. Salah satu cucu Annie menikah dengan cucu Mary. Namanya juga cinta. Tak bisa dihalangi. Tentu sepasang cucu ini juga membuka rumah makan ayam goreng di kota yang sama. Rivalitas tetap ada. Namun kedua keluarga sudah menyatu.

Memilih ayam goreng yang paling enak.

Sepertinya polemik tentang ayam goreng selalu ada di muka bumi ini sepanjang ada ayam goreng, minyak goreng dan orang-orang yang suka menyantap ayam goreng. Di kota saya, Yogyakarta, sering juga ada pembahasan hingga perdebatan tentang ayam goreng mana yang lebih enak. Ada Jogja Chicken, Popeye Chicken Express, Olive Fried Chicken, atau Rocket Chicken. Mana yang paling enak? Tentu tergantung selera masing-masing.

Bahkan ada yang suka membilang, masakan ayam goreng di rumahnya jauh lebih enak, lebih crispy, lebih juicy. Biasalah, orang yang masak, sering bilang masakannya yang paling enak.

Saya tak pernah menolak bila ditawari untuk makan ayam goreng. Yes, fried chicken. Enak! Saya suka. Sangat suka. Banyak menu makanan yang dimasak dengan cara digoreng. Namun bagi saya makanan yang paling enak dengan cara digoreng adalah ayam goreng.

Hidup ayam goreng!

Visual Studio Code

Keren judulnya. Serius amat. Tumben, kan? Kesannya techie banget.

Saya menulis tentang Visual Studio Code karena ingin berbagi informasi bermanfaat tentang aplikasi teks editor ini. Visual Studio Code atau disingkat VSC ini merupakan aplikasi dari Microsoft. Aplikasi ini diperuntukkan untuk mengetikkan barisan kode untuk pemrograman komputer. Aplikasi untuk membuat aplikasi. Canggih, kan?

Sebagai Teks Editor

Namun saya menggunakan VSC sebagai teks editor untuk menulis artikel. Lho, bisa ya? Tentu saja bisa. VSC bisa menyimpan suatu teks sebagai Plain Text alias berkas (file) berakhiran .txt – yang ukuran berkasnya sangat ringan.

Kenapa tidak menggunakan Microsoft Word saja?

Saya memiliki aplikasi Microsoft Word di laptop saya. Saya jarang menggunakannya untuk mengetik. Saya hanya memakai Word untuk keperluan olah teks saat ada keperluan resmi atau ada dokumen yang harus dicetak. Word terlalu pelan, berat dan kompleks untuk menulis dengan cepat. Word terlalu bertele-tele untuk menuliskan artikel yang sederhana. Saya suka aplikasi sederhana, ringan dan cepat untuk menulis. Menulis lebih cepat membuat proses menulis menjadi lebih menyenangkan. Lebih mengalir.

Apa kelebihan VSC?

VSC – meski memiliki fitur yang canggih – memiliki antarmuka yang ramah dan ramping. Sederhana. Pengguna bisa membuka aplikasinya dengan cepat, segera mengetik dengan leluasa, dan menutupnya dengan kilat. Alasannya karena VSC berbasis teks, tanpa terlalu banyak fitur tampil di antarmukanya seperti pada Word.

Masih ingat dengan WordStar 4?

Beberapa dari Anda mungkin pernah mengalami jaman ketika harus mengetik menggunakan aplikasi – yang dulu lebih sering disebut sebagai program – WordStar 4. Tampilannya ringan. Semuanya berbasis teks. Semua perintahnya bisa dioperasikan dengan papan kunci (keyboard). Tak perlu tetikus (mouse). Meski tak kelihatan terlalu ramah bagi pengguna, WordStar 4 terbukti enak digunakan dan bagi pengguna yang sudah familiar, mengetik dengan WordStar 4 merupakan hal yang sederhana.

VSC dan WordStar 4

Saya berpikir bahwa VSC dan WordStar 4 merupakan alat yang tepat untuk mengetikkan dokumen berupa teks dengan cepat dan efisien. Pengguna bisa fokus dengan isi teksnya. Tak perlu disibukkan dengan pengaturan ukuran halaman, jenis font, dan proses penyuntingan yang tak lancar karena deretan kata bergerak dengan pelan.

WordStar 4 tentu tak lagi praktis digunakan karena sudah menjadi program komputer yang jadul dan ketinggalan jaman. VSC menjadi solusi bagi mereka yang suka menulis dengan kecepatan tinggi.

Bahkan bila suatu hari ingin belajar tentang pemrograman komputer, pengguna bisa memakai VSC untuk menuliskan barisan kode sesuai dengan bahasa pemrograman yang diminati. Phyton, PHP, atau JavaScript.

Sebenarnya dulu saya memakai VSC karena ingin belajar bahasa pemrograman. Mungkin Phyton. Namun otak sepertinya belum mampu. Apa boleh buat. Untuk saat ini saya sudah senang bisa memakai VSC untuk menuliskan berbaris-baris kata dan kalimat; yang disimpan sebagai Plain Text.

Untuk Anda yang berminat untuk menginstal VSC, Anda bisa mengunduhnya di situs resmi VSC. VSC bisa digunakan secara gratis; baik di sistem operasi MacOS atau Windows.

Pilih Zaenab atau Sarah?

Saat masih remaja, saya menonton drama televisi berjudul Si Doel. Tidak banyak pilihan tontonan waktu itu. Opsi terbatas. Unik juga dramanya karena menghadirkan latar belakang kehidupan masyarakat Betawi di ibukota.

Bingung Memilih

Saya sebel karena Si Doel – sebagai tokoh sentral di drama ini – bingung memilih dengan siapa dia akan menjalin hubungan asmara. Ada Zaenab, yang diperankan oleh Maudy Koesnaedi, gadis lemah lembut yang cantik wajahnya. Ada juga Sarah, yang dilakonkan oleh Cornelia Agatha, yang tubuhnya montok dan modern.

Tak hanya di drama yang berjilid-jilid Si Doel tak juga menjatuhkan keputusannya. Di dua film yang menjadi bagian dari trilogi film Si Doel, tetap saja Si Doel tak pernah bisa memilih satu saja untuk dinikahi.

Saat film ketiga – dari tiga film dalam trilogi Si Doel – akhirnya diputar di bioskop, saya penasaran dengan apa yang menjadi klimaks kisah asmara Si Doel.

Bagaimana ceritanya, Si Doel ini memilih Zaebab atau Sarah?

Saya malas menonton filmnya. Namun tetap menunggu siapa yang menjadi pilihan si Doel. Setelah beberapa saat melupakan rasa penasaran itu, jawabannya baru saja saya baca malam ini dari artikel Kompas berjudul Pilih Zaenab Ketimbang Sarah, Rano Karno Punya Alasannya.

Pilihannya adalah…

Baiklah, Si Doel – yang diperankan oleh Rano Karno yang sudah menua itu – memilih Zaenab.

Saya membatin dalam hati. Ya, iyalah. Zaenab masih perawan. Belum menikah. Masih mencintai Si Doel. Zaenab juga lemah lembut dan memiliki kesabaran tingkat dewa. Zaenab wajahnya masih cantik – meski tak lagi semuda dulu sewaktu jaman drama televisi Si Doel – dan tubuhnya langsing terawat.

Coba lihat Sarah – dulunya sih lumayan seksi berisi – yang sekarang sudah jadi tante-tante gendut chubby. Tak lagi menarik. Dari sisi penampilan saja, meski sudah tua, tentu Si Doel masih waras untuk memilih mana yang masih enak dipandang mata.

Si Doel ternyata sudah punya anak dengan…

Lalu saya membaca artikel itu. Oh, ternyata Si Doel sudah pernah memiliki anak dengan Sarah. Oh la la! Si Doel dan Sarah sudah melakukan hubungan suami istri namun belum menikah. Anak di luar nikah. Entah kenapa juga, Si Doel dan Sarah tak juga menikah. Saya tak tahu ceritanya karena tak menonton filmnya.

Nikah Siri

Rasa jengkel saya bertambah tatkala menyadari bahwa Si Doel memilih menikahi Zaenab dengan nikah siri. Sekedar nikah siri. Kenapa? Enak sekali, Si Doel ini. Sudah menikmati saat intim dengan Sarah hingga menghasilkan anak dan sekarang ingin menikmati Zaenab tanpa harus ribet menikah secara resmi.

Siapa yang bego?

Saya heran. Apakah dua perempuan tersebut benar-benar bego karena terpaksa berbagi lelaki bertahun-tahun lamanya? Apa Si Doel yang memang seorang lelaki yang begitu memikat sehingga mampu menaklukkan dua hati selama berabad-abad bertahun-tahun? Sehebat apa sih Si Doel? Memangnya di ibukota tak ada pria lain yang lebih baik dari Si Doel?

Alasannya tetap tak jelas.

Dan meski judul artikel tersebut Pilih Zaenab Ketimbang Sarah, Rano Karno Punya Alasannya. Tetap tak dituliskan di artikel tersebut apa sebenarnya alasan Si Doel memilih Zaenab.

Rano Karno – yang merangkap sebagai pemeran Si Doel dan penulis ceritanya – tentu satu-satunya yang paham apa alasannya. Mungkin Rano Karno merasa dilematis untuk menjatuhkan pilihannya. Bila Si Doel memilih Zaenab dikira kok enak milih yang masih perawan. Setali tiga uang, bila Si Doel memilih menikahi Sarah, pasti banyak penonton yang kecewa kenapa Zaenab disia-siakan seperti itu.

Win-win Solution

Padahal bila ingin win-win solution, Si Doel bisa menawarkan solusi yang enak bagi ketiganya. Tentu lebih enak buat Si Doel tapi yang jelas dua perempuan tersebut – Zaenab dan Sarah – tetap bisa memiliki Si Doel. Solusinya adalah poligami. Wkwkwkwk. Saya hanya bisa ngakak. Si Doel ternyata bego. Kenapa juga tak memilih jalan tengah yaitu poligami. Nikahi saja kedua-duanya. Enak.

Serius? Kenapa tidak? Kan, Rano Karno merangkap sebagai Si Doel dan penulis ceritanya. Suka-suka Rano Karno, kan? Zaenab dan Sarah bisa berbagi lelaki. Semuanya bisa saling memiliki. Tak ada yang harus kehilangan. Toh, mereka bertiga sudah terbiasa bertiga. Si Doel, Zaenab dan Sarah. Poligami jawabannya.

Ini memang cerita ketika cinta harus memilih.

Sayangnya tak seperti itu. Kisah tentang harus memilih yang diakhiri dengan poligami jelas akan menjadi cerita yang antiklimaks. Tak seru. Bikin banyak penonton akan mencibir. Kalau akhirnya poligami kenapa tidak dari dulu-dulu saja. Pasti drama dan filmnya tak akan sampai berjilid-jilid.

Tapi ya tak akan menjadi drama televisi yang panjang dan tiga film trilogi bila memilih pasangan semudah memilih minum kopi atau minum teh. Memilih pasangan dan menikahinya bukan hal yang mudah. Poligami tak selalu menjadi solusinya. Mungkin karena tak ada perempuan yang mau berbagi hati, berbagi lelaki.

Basi

Ya, sudahlah. Drama percintaan Si Doel sudah basi. Tak lagi menarik. Katanya sih, Rano Karno ingin meneruskan kisah Si Doel dengan format baru. Yang mana sepertinya mau diteruskan hingga bertahun-tahun ke depan. Mungkin sampai Zaenab dan Sarah sudah tak lagi jadi tante-tante tapi sudah jadi nenek-nenek. Ceritanya tak lagi menarik. Basi. Seperti kerupuk yang sudah melempem karena ditaruh di toples yang lupa ditutup.

Akhir cerita. Begitulah. Sarah tak jadi dinikahi meski sudah mengandung dan melahirkan anak bagi Si Doel. Sedangkan Si Doel asyik menikmati hidup baru bersama Zaenab yang sudah menunggu sekian dekade tahun. Entahlah. Suka-suka Rano Karno sebagai penulis ceritanya.

Bebersih Selama Bulan Puasa

Masih tiga minggu lagi sebelum Lebaran tiba. Bulan puasa merupakan saat yang tepat untuk bebersih. Bebersih hati. Bebersih masalah. Bebersih rumah. Menuntaskan banyak hal yang tertunda.

Masih tiga minggu lagi tersisa. Saya ingin membereskan beberapa hal yang belum kelar-kelar juga. Semoga sebelum Idul Fitri tiba, banyak hal sudah tuntas saya selesaikan. Urusan kantor. Menata kamar. Menyortir baju.

Bulan Puasa, bulan untuk bebersih. Saat Lebaran tiba, semuanya bersih. Kemudian melanjutkan hari-hari, minggu-minggu, dan bulan-bulan di depannya dengan langkah ringan tanpa beban.

Saya pun berharap pandemi juga segera tuntas. Bumi kembali bersih dari coronavirus yang membuat hidup menjadi berubah drastis.

Awal Mei 2020 saat Jaman Korona