Kondisi Hati

Seperti biasa kami bermeditasi di hari Kamis. Juga belajar secuil tentang kehidupan dari pamong kami. Kamis malam itu kami mendapat tuntunan tentang kondisi hati.

Ada apa dengan Hati?

Sebagai insan manusia kita memiliki hati. Ada hati yang bersih. Ada hati yang suci. Pun ada juga hati yang kotor. Hati yang emosional. Begitulah kondisi hati. Berubah-ubah sesuai dengan apa yang kita hadapi, kita temui, dan kita rasakan. Bisa jadi kita bangun dengan hati yang bersih. Namun saat menghadapi masalah berat di siang hari bisa jadi hati kita menjadi emosional. Kondisi hati berubah tiap saat laiknya pasang surut ombak atau mungkin warna langit. Tentu saja ada orang-orang yang lebih stabil kondisi hatinya karena cukup mengendap (Bahasa Jawa: menep).

Apakah kita perlu membersihkan hati?

Tentu saja. Hati yang bersih membuat kita bisa menjalani hidup dengan damai. Sebaliknya hati yang kotor membuat hidup terasa kering, berat, dan tak berarti. Oleh karena itu orang perlu membersihkan hati.

Dalam proses pembersihan hati tentu yang penting adalah latihannya. Melatih untuk bebersih hati. Namun itu saja tidak cukup. Kita harus mendengarkan hati suci – guru pamong pribadi kita – dengan sungguh-sungguh. Cukup sampai di situ? Tidak. Kita harus belajar menjalankannya – bertindak berdasar kata hari. Kita memang tak selalu siap untuk menjalankannya namun yang penting kita menyadarinya terlebih dahulu. Sangat penting bagi kita untuk jujur dan sadar.

Tentang tekad, iman, dan sumarah.

Dalam kondisi harian kita memiliki semacam tingkatan yaitu tekad, iman, dan sumarah. Tekad itu harus ada. Tekad itu laiknya starter motor. Menjadi inisiator. Pemicu.

Setelah itu baru imannya dirasakan – sesuai iman yang ada. Kemudian percaya pada itu sebagai bekal kita. Tak lebih dan tak kurang. Setelah itu?

Setelah itu mencapai titik rileks. Pasrah. Sumarah. Ini tak mudah karena kita tak bisa memaksakan atau tak bisa membuat diri kita dalam kondisi sumarah. Bila kita bisa membuatnya (baca: mendorong atau memaksakan), kita malah justru tidak sumarah. Begitulah paradoksnya.

Bagaimana membedakan suara hati dan suara pikiran?

Cara membedakan suara hati dan suara pikiran adalah dengan mencobanya langsung. Tak perlu banyak berpikir terlalu dalam. Cukup mencobanya. Bila tak diuji pada kenyataan hidup ini maka kita tak pernah mengetahuinya – mana yang suara hati dan mana yang suara pikiran. Sepertinya mudah tapi harus dicermati mana yang berasal dari hati (perasaan)dan mana yang berasal dari otak kita (logika).

Makin sering kita berkomunikasi dengan suara hati maka kita jadi lebih bisa memahami ‘sesuatu’ yang kita dengarkan itu adalah suara hati atau suara pikiran. Lama-lama kita jadi tahu. Meditasi adalah sarana untuk memahami perbedaan itu. Meditasi memberikan ‘suasana jernih’ bagi diri kita untuk ‘ngobrol-ngobrol dengan suara hati.

Konflik terjadi atau terasakan saat ada perbedaan antara suara hati dengan suara pikiran. Suara hati mengatakan ‘A’ namun suara pikiran mengatakan yang sebaliknya ‘B’. Konflik pun terjadi.

Bila saat menghadapi suatu hal atau dalam momen tertentu dirasakan tidak ada konflik maka suara hati dan suara pikiran sejalan. Tidak ada perbedaan. Di saat itulah terdapat keselarasan. Pas. Harmoni.

Bila terdapat konflik antara suara hati dan suara pikiran, ya, sebaiknya berdiam diri untuk sementara. Memberikan suasana tenang untuk berkomunikasi dengan suara hati dan suara pikiran. Dengan kata lain menenangkan diri. Waktu untuk intropeksi. Take time for ourself.

Hati yang kotor itu seperti apa?

Hati yang kotor itu hati yang dipenuhi dengan emosi. Rasa takut. Marah. Kecewa. Menyesal. Dalam artian ini hati tidak koson atau tidak bersih.

Kenapa hati bisa kotor?

Hati yang bersih (atau yang kosong) bisa menjadi kotor saat kita menemui masalah, menghadapi momen tak mengenakkan, berinteraksi dengan orang yang menyebalkan, atau bisa jadi rasa frustasi yang berasal dari pikiran kita sendiri.

Sama seperti diri kita yang tubuhnya bersih setelah mandi pagi. Aktivitas sehari-hari membuat kita berkeringat. Polusi udara. Debu. Radikal bebas. Tubuh kita menjadi kotor. Itu sebabnya kita mandi secara reguler sehingga tubuh kita bisa tetap terjaga kebersihannya.

Setali tiga uang hati kita juga harus dijaga untuk tetap bersih. Bukan berarti kita mengasingkan diri dari orang banyak atau mengurung diri sehingga tetap bersih. Justru kita harus tetap menjalani hidup kita sewajarnya. Hal yang penting adalah kita harus secara reguler membersihkan hati kita. Tujuannya supaya kondisi hati kita menjadi bersih.

Kapan kita harus membersihkan hati kita?

Makin cepat membersihkan hati maka makin baik adanya. Tak perlu menunggu hingga ‘kotoran’ di hati kita menumpuk. Bila ‘kotoran-kotoran’ itu terlalu lama tinggal di hati kita maka berdampak buruk terhadap kondisi hati kita. Bayangkan bila terdapat tumpukan ‘kotoran’ di hati kita. Tentu rasanya tak nyaman. Tak ada kedamaian.

‘Kotoran’ datang ke diri kita itu biasa. Wajar saja. Namanya juga menjalani kehidupan yang penuh lika-liku. Bukan hidup yang steril. Namun hidup nyata. Yang penting bila dirasa hati kita sudah mulai kotor maka sebaiknya cepat-cepat membersihkan hati.

Hati yang sangat bersih adalah hati yang suci. Hati yang suci bisa berfungsi sebagai alat murni – yang ada kaitannya dengan proses menjadi manusia yang utuh.

Bagaimana dengan pikiran yang tak bersih?

Pikiran itu penting. Sama pentingnya dengan hati kita. Pikiran yang terlalu lelah berpikir bisa berakibat kita tak bisa berpikir dengan jernih. Tak bisa berpikir secara optimal.

Pikiran menjadi tak bersih karena berbagai hal. Urusan pekerjaan yang menumpuk. Terlalu banyak rencana ke depan. Ada masalah yang belum terselesaikan. Distraksi sosial media dan hiburan. Pikiran yang melayang-layang tak terkendali karena suka mengkhayal. Pikiran yang mencoba mengatasi banyak hal sekaligus. Target ini dan itu yang terlalu ambisius. Ada begitu banyak hal yang bisa menjadikan otak kita lelah.

Pikiran yang terlalu ruwet perlu diistirahatkan. Menjadi rileks. Kemudian menjadi kosong – dikosongkan. Pikiran yang fresh membuat pikiran kita kembali menjadi jernih dan tajam.

Tubuh, pikiran, dan hati.

Kita lebih mudah memahami saat tubuh kita kotor. Kita langsung sadar. Oh, badan saya keringetan. Kaki saya kena tanah. Tangan saya lengket karena makanan yang saya pegang. Kita lebih menyadari apa yang terjadi dengan tubuh kita karena sudah biasa.

Kita juga relatif mudah menyadari kondisi pikiran. Kita sadar saat kita banyak pikiran, sedang buntu, atau sekedar mengantuk. Begitu menyadarinya lalu kita tahu bahwa kita perlu istirahat. Tujuannya supaya pikiran kita menjadi kembali bersih.

Sayangnya tak mudah menyadari kondisi hati. Bagi sebagian orang susah untuk menyadari bahwa hati sedang ‘tidak baik-baik saja’. Bila kita tak menyadari bahwa hati kita sedang kotor mungkin kita jadi lupa untuk membersihkannya. Oleh karena itu tiap saat kita harus bebersih hati. Dengan begitu kondisi hatinya bersih.

Siapa yang bertanggungjawab dengan kondisi hati kita?

Apakah harus ada Sang Penjaga Hati? Atau orang tua kita yang menjaga hati kita? Tentu tidak.

Diri kita sendirilah yang harus bertanggungjawab untuk menjaga kondisi hati kita masing-masing. Tanpa disadari kita mudah menjadi emosional. Sesederhana menonton film yang bikin sedih. Mendengar lagu mellow yang sentimental. Pun saat ini dalam masa pandemi – sehingga kita sadari atau tidak – ada rasa khawatir yang sulit diabaikan. Bahkan tak jarang mendengar kabar atau berita tentang virus corona saja sudah membuat takut.

Belum lagi bila dalam kehidupan sehari-hari kita harus bertemu dengan banyak orang yang bisa jadi bersinggungan, berseberangan, dan berselisih yang membuat hati kita menjadi emosional.

Ada satu tips saat rasa emosi itu terlalu memenuhi ruang hati kita. Pamong kami menyarankan supaya kita membuang nafas dari hidung atau mulut dengan tekanan. Dengan cara itu udara bisa terdorong keluar. Saat kita membuang nafas itulah (Bahasa Jawa: uncal ambegan) maka timbul rasa lega. Anggap saja cara ini sebagai senjata darurat bila rasa di hati terlalu tak mengenakkan.

Bagi saya sendiri mungkin itulah yang dirasakan oleh orang yang merokok – mereka mengeluarkan asap dan udara dari hidung dengan tekanan supaya keluar dari rongga hidung. Sayangnya orang merokok supaya mendapatkan sensasi lega tapi yang didapat adalah kandungan nikotin dan zat berbahaya lainnya yang meracuni tubuh.

Akhir kata

Hati-hatilah dengan hati kita. Diri kita sendirilah yang harus menjaga kondisi hati kita supaya tetap bersih atau kosong. Bila rasanya ada ‘kotoran’ yang memasuki relung hati kita, ya sudah saatnya bebersih.

Hati yang bersih memberikan hidup yang hening dan damai. Hati yang bersih mempersiapkan diri kita untuk berkomunikasi dengan suara hati. Bila memang suasana hatinya bersih dan selaras, siapa tahu, di saat itulah kita sudah siap untuk Sowan Gusti – ‘berbincang’ dengan Sang Pencipta Hidup ini.

Rahayu

21 Januari 2021

996

Dua tahun lalu pada tahun 2019 ada protes tentang jam kerja yang durasinya terlalu panjang. Nama protes tersebut adalah “anti-996“. Protes tersebut juga diwarnai dengan kampanye di dunia maya dengan sebutan 996.ICU yang merujuk pada sistem bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam untuk 6 hari kerja. Durasi kerja yang begitu lama itu cenderung membuat kesehatan orang turun drasti lalu masuk ke Intensive Care Unit alias Unit Gawat Darurat.

Protes itu terjadi di China. Pasalnya banyak sekali karyawan di sektor teknologi informasi – perusahaan internet dan sejenisnya – yang benar-benar tak kuat menghadapi tekanan bekerja yang luar biasa beratnya.

Saking beratnya bekerja ada karyawan yang masih sangat muda 20an tahun meninggal karena terlalu lelah bekerja. Tubuhnya tak kuat setelah didera rasa capai terus-menerus dan tubuhnya tak mendapat cukup istirahat. Belum lagi karyawan yang secara mental sudah tertekan sehingga gelap mata dan memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.

Beberapa perusahaan besar di China seperti JD.com, Pinduoduo, Huawei, Alibaba, dan sejenisnya tak hanya menganjurkan karyawannya bekerja serajin-rajinnya. Namun benar-benar membuat sistem kerja 996 sebagai sebuah budaya kerja yang sifatnya menjadi keharusan. Bila seorang karyawan menolaknya bisa dengan mudah digantikan oleh karyawan lain yang mau bekerja dengan sistem kerja yang tak manusiawi itu. China tak memiliki masalah dengan jumlah tenaga kerja yang jumlahnya ratusan juta. Satu posisi pekerjaan bisa diminati oleh begitu banyak calon karyawan yang masih menganggur atau lulusan dari universitas yang baru. Orang bisa tergantikan dengan mudah dan cepat.

Oleh karena sistem kerja 996 tersebut sudah begitu membudaya di banyak perusahaan, banyak karyawan teknologi informasi yang merasa perlu untuk membuat perubahan. Namun protes anti-996 tak banyak berarti. Korporasi memiliki kekuatan yang besar. Karyawan terpaksa harus menuruti budaya kerja yang sangat melelahkan itu supaya tetap bisa bekerja. Pilihan lainnya adalah berhenti kerja.

Ironisnya tokoh-tokoh yang sangat sukses seperti Jack Ma pendiri Alibaba dan Richard Liu pendiri JD.com mempercayai bahwa kunci untuk sukses itu yaitu bekerja sangat keras. Mereka berdua percaya orang yang malas tak pantas untuk sukses.

Bisa jadi oleh karena dua tokoh itu sangat berpengaruh, ada begitu banyak orang yang mendukung sistem kerja 996 sebagai bagian dari gaya hidup yang menjamin kesuksesan seseorang. Hidup untuk bekerja. Urusan lainnya merupakan urusan yang kurang penting.

Faktanya dua perusahaan itu yaitu Alibaba dan JD.com memang berkembang sangat pesat. Bisnisnya menjadi besar berkali-kali lipat tiap tahunnya. Bisa dibayangkan bila sebagian besar karyawannya bekerja 72 jam per minggu – 12 jam kali 6 hari – tentu operasional perusahaan secara total bisa mencapai potensi optimalnya. Bandingkan dengan perusahaan yang menganjurkan sistem jam kerja 40 hari. Dengan sistem kerja 996, satu orang karyawan bisa bekerja laiknya dua orang yang bekerja dengan sistem 40 hari per minggu. Beda jauh, kan?

Namun daya tahan manusia ada batasnya. Manusia bisa bekerja 72 jam dalam seminggu. Bisa. Sangat bisa. Hanya saja saat seseorang bekerja 12 jam setiap harinya selama 6 hari berturut-turut dalam hitungan bulan atau tahun maka kesehatannya akan menurun drastis. Organ tubuhnya kehilangan dayanya. Imunitas berkurang sehingga mudah terjangkit penyakit. Otaknya kelelahan. Cepat atau lambat performa tubuhnya menurun.

Berita buruknya adalah saat performa seorang karyawan menurun malah mendapat sorotan negatif oleh manajemen. Dicerca. Dimaki-maki. Bisa jadi malah digantikan posisinya oleh karyawan baru yang masih dalam kondisi segar bugar dan lebih muda. Perih, kan?

Dengan sistem kerja dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam tentu tak memberikan seorang manusia kesempatan untuk melakukan aktivitas selain bekerja dan beristirahat. Setelah 12 jam bekerja tanpa henti tentu tak bisa lagi melakukan olahraga, makan malam santai, pergi menonton bioskop, berkomunitas, dan meluangkan waktu dengan keluarga. Begitu sampai rumah langsung tepar tak berdaya di atas tempat tidur. Besok paginya harus segera bekerja lagi seperti itu. Lagi dan lagi. Tanpa henti.

Akibatnya jelas terasa. Mereka yang sudah berkeluarga mendapati kehidupan keluarga mereka tak lagi harmonis. Tak ada waktu untuk keluarga. Bagi yang belum berkeluarga tentu tak ada cukup waktu untuk bersosialisasi dan berpacaran. Akhirnya mereka ini memilih untuk tak berkeluarga. Manusia menjadi tak lagi dianggap manusia. Hanya robot pekerja yang cepat atau lambat akan tumbang karena terlalu lelah bekerja. Kemudian mereka yang tumbang ini akan digantikan oleh karyawan baru yang masih bersemangat dan masih bertenaga.

Begitulah budaya sistem kerja 996 yang tak ubahnya perbudakan. Perbudakan yang terjadi di masa modern. Ironisnya perbudakan jenis ini diamini dan diterima oleh begitu banyak karyawan yang memiliki ambisi untuk menjadi orang sukses. Mereka tak sadar bahwa sistem kerja 996 memiliki resiko terhadap kesehatan mereka.

China sukses besar karena perusahaan-perusahaan mereka begitu maju pesat. Namun dibalik kesuksesan itu ada jutaan orang yang berdarah-darah dan menyerahkan kehidupan dan masa mudanya untuk perusahaan yang menghasilkan konglomerat baru. Ada tumbal sebagai silih dari kesuksesan luar biasa itu.

Dulu Amerika menjadi negara yang ekonominya sangat besar karena sistem kerja dengan durasi sangat panjang. Setali tiga uang dengan Jepang yang menyusul Amerika dengan bisnisnya yang maju pesat namun menimbulkan tragedi bernama Karoshi – mati karena terlalu lelah bekerja. Kini China mengikuti jejak Amerika dan Jepang. Ekonomi maju pesat yang nantinya akan diikuti generasi yang hilang; yang mana hidupnya tak lagi normal karena seluruh hidupnya hanya untuk bekerja hingga tubuh mereka tak lagi kuat untuk melanjutkan hidup di masa muda mereka.

Menghitung Mundur

Dalam kehidupan ini salah satu hal yang membuat waktu menjadi berharga adalah tenggat waktu. Deadline.

Tanpa tenggat waktu, seseorang bisa jadi tidak memiliki motivasi untuk mengerjakan sesuatu dengan penuh semangat. Seadanya saja. Selesai senang. Tidak selesai, ya dilanjutkan besok. Besoknya lagi. Entah kapan selesainya.

Tenggat waktu membuat “hidup lebih hidup”. Ada tenaga dalam yang tiba-tiba terpantik. Usaha menjadi berlipat-lipat karena menyadari waktunya akan habis pada suatu saat. Makin dekat tenggat waktunya, makin besar usahanya.

Saya ingat pada suatu hari pada tanggal 15 Desember 2020. Hari itu adalah hari di mana saya sudah selesai menghitung mundur dari suatu aktivitas – membantu satu komunitas dalam memutakhirkan blog. Saya sudah menyediakan waktu, pikiran, dan tenaga untuk beberapa bulan. Kebutuhannya waktu itu sangat kritikal karena blog dikelola secara auto-pilot alias tanpa pemahaman yang jelas dan tanpa eksekusi yang memberikan hasil sepadan.

Ada satu titik di mana sudah seharusnya tim yang mengelola blog komunitas tersebut berdiri secara mandiri. Bila saya tetap di tempat yang sama dan mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja malah bisa memanjakan tim blog tersebut. Efeknya tidak baik. Ada ketergantungan. Tidak menjadi mandiri.

Saya memberi waktu dua bulan hingga hari terakhir saya bersedia untuk membantu mengelola blog komunitas tersebut. Sayangnya tidak ada tanggapan yang baik. Namun bukan pada kapasitasnya saya merasa kecewa. Saya cukup untuk membantu blog dari seperti anak balita menjadi anak yang lebih sehat dan lebih berguna.

Apakah saya kangen dengan dinamika dalam tim web tersebut? Tidak juga. Ada keinginan untuk memimpin tim tersebut dan bisa membuat banyak peningkatan kualitas dan kuantitas blog. Satu hal yang membuat saya senang membantu adalah efek positif blog tersebut yang dibaca oleh banyak orang. Blog tersebut bisa menjadi arsip sekaligus pengumuman acara-acara yang sudah, sedang, dan akan dilakukan.

Saat menghitung mundur sudah diputuskan dan dilakukan, kita sebaiknya mengerjakan apa yang sudah ditentukan sebelumnya. Kemudian kita bisa menyelesaikan suatu hal dengan sebaik mungkin. Harus konsisten. Bila waktunya sudah habis, ya sudah mau apa lagi.

Tenggat waktu baik adanya karena ada banyak orang yang ikut siap-siap dengan perubahan yang akan terjadi.

Menghitung mundur juga menjadi hal yang melegakan. Kita bersama sudah mengerjakan sesuatu dengan sebaik mungkin dan menyelesaikannya tepat pada waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.

Membaca Berita

Membaca berita itu merupakan aktivitas yang berguna dan baik. Begitulah pandangan kebanyakan orang. Benar adanya. Dengan membaca berita kita bisa mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita – kota, negara, dunia.

Membaca berita juga menambah wawasan. Makin luas wawasan tentu makin baik pula cara berpikir kita.

Namun orang harus waspada bahwa berita-berita yang diedarkan harus disaring. Bila tak bijaksana membaca berita bisa jadi berita-berita itu malah memberikan pikiran yang salah. Bisa juga memberikan perasaan yang tak enak semisal saat mengetahui tentang kecelakaan pesawat terbang, bertambahnya penderita Covid-19, atau tentang kriminalitas di sana sini.

Tidak membaca berita bisa jadi malah membuat jiwa dan pikiran menjadi tenang. Orang bisa fokus dengan apa yang penting untuk dikerjakannya. Orang bisa menjalani kehidupan dengan lebih damai.

Bagi saya sendiri, saya menikmati proses membaca berita. Membaca lagi dan lagi. Susah untuk berhenti. Sepertinya saya kecanduan membaca berita. Aneh, kan? Namun memang seperti itu adanya. Bila sudah sepuluh menit membaca berita. Kadang menyesal sesudah menyadari tak hanya sepuluh menit tapi satu jam atau lebih hanya untuk membaca berita. Sepertinya waktu jadi terbuang percuma.

Oleh karena itu saya berusaha untuk mengurangi waktu membaca berita. Tak drastis langsung tak mengasup berita. Namun ingin membatasinya sampai 30 menit saja tiap harinya.

Hidup harus dihidupi. Bukan membaca peristiwa dunia tapi alpa untuk membuat sejarah untuk diri sendiri.

Menimbang

Saya mendapati sebuah catatan kecil di notes elektronik saya. Isinya lebih kurang tentang bagaimana menimbang-nimbang pada suatu kejadian atau keputusan. Isinya seperti di bawah ini.

Dalam mempertimbangkan sesuatu idealnya melibatkan tiga hal ini. Memoriae atau ingatan. Cogitatione atau intelektualitas. Voluntatis atau kehendak. Ingatan, intelektualitas, dan kehendak.

memoriae, cogitatione, voluntatis

Desire seperti yang dimaksudkan oleh Santo Ignatius adalah daya jiwa manusia yang diberikan oleh Tuhan. Unsur ini yang membedakan manusia dari binatang.

Keluhuran manusia terletak pada tiga daya jiwa itu. Ingatan, intelektualitas, dan kehendak. Dengan itu manusia bisa menangkap kehendak Allah.

Isoman

Ini dia istilah baru di awal tahun 2021. Isoman. Kependekan dari ‘isolasi mandiri‘.

Isoman ini makin gencar muncul di berbagai media massa dan sosial media. Isoman ini ngetrend karena banyak rumah sakit dan fasilitas isolasi yang tak lagi mampu menampung pasien yang positif Covid-19. Isoman menjadi solusi swadaya masyarakat untuk karantina pribadi. Tak hanya rumah pribadi, banyak orang yang mendapati tes kesehatan sudah positif corona virus juga menginap di hotel atau penginapan yang ditujukan untuk keperluan isoman.

Isoman paling tidak sudah harus bisa memenuhi beberapa syarat. Pertama, orang yang terpapar corona virus bisa beraktivitas di suatu ruangan tanpa harus bertemu orang lain sehingga tak menulari orang lain. Kedua, orang yang melakukan isoman bisa mendapatkan makanan sehari-hari, mencuci baju, dan melakukan aktivitas seperti bekerja di dalam ruangan. Ketiga, ada alat komunikasi yang memadai sehingga orang bisa melakukan isoman dengan tetap memelihara percakapan dengan orang lain di luar tempat isoman. Menjaga komunikasi dengan ‘dunia luar’ membuat orang bisa terjaga kesehatan mentalnya.

Penginapan yang sepi karena tak ada turis yang menginap bisa mengubah penginapan mereka menjadi fasilitas isoman. Tentu protokol kesehatan harus dipenuhi. Biaya tinggal isoman juga disesuaikan. Bila terlalu mahal untuk tinggal selama seminggu atau dua minggu tentu tak ada yang mau menggunakan penginapan tersebut sebagai fasilitas isoman.

Isoman menjadi lebih mudah bila seseorang tinggal di apartemen pribadi atau hidup di rumah sendirian. Namun isoman menjadi tantangan saat seseorang tinggal bersama banyak anggota keluarga di rumah yang relatif sempit.

Salah satu hal yang penting dari isoman adalah kesadaran masyarakat sekitarnya untuk tidak mengganggap mereka yang melakukan isoman sebagai penyebar virus. Justru masyarakat sekitar harus menghargai orang yang mau melakukan isolasi mandiri. Jaga jarak tentu harus dilakukan namun tetap memanusiakan mereka yang secara sadar diri melakukan isoman.

Bersyukur dan Menerima

Malam ini saya bersama rekan-rekan menyelaraskan waktu dan suasana untuk bermeditasi bersama yang dituntun oleh pamong kami. Poin-poin di bawah ini adalah pembelajaran yang saya dapatkan dari pamong kami. Termasuk juga beberapa refleksi pribadi yang tiba-tiba terlintas saat proses tanya jawab.

Kelekatan

Saat kita terlampau senang dengan sesuatu, kita (punya kecenderungan) menjadi terlalu lekat dengan itu. Kita sepertinya tak mau melepasnya. Tak rela melepaskannya. Terlalu menikmati. Kita menjadi tidak ikhlas.

Oleh karena itu akan lebih aman bagi kita untuk berlatih ikhlas. Kita harus menganggapnya sebagai sebuah pemberian, anugerah, atau hadiah. Bukan sesuatu yang kita perjuangkan atau hasil kerja keras kita – karya kita.

Dengan begitu sikap bersyukur kita tersebut membuat kita menjadi ikhlas terhadap pemberian itu. Apakah pemberian itu bagus atau tidak, ya, tentunya kita harus ikhlas menerimanya. Ikhlas juga untuk melepaskannya karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Tentu bersikap ikhlas itu bukan hal mudah. Harus dilatih dalam hidup sehari-hari.

Lekat dengan Masa Lalu

Ada contoh yang bagus tentang mengikhlaskan. Contohnya yaitu masa kecil yang bahagia saat anak-anak. Bila kita bisa mengalami masa kecil yang bahagia – yang tak semua orang bisa mengalami masa kecil yang indah – tentu kita harus mensyukuri itu. Susahnya adalah banyak juga yang lekat (menggenggam terlalu erat) dengan memori masa kecil bahagia itu. Waktu berlalu, umur bertambah, sayangnya tetap ada sebagian orang yang tak rela untuk melepaskan kenangan indah di masa kecil dan kecewa dengan tahun-tahun berikutnya yang mungkin tak sebahagia masa kecilnya.

Memori masa kecil yang bahagia yang susah dilepaskan bisa jadi bentuknya lain-lain pada momen lain atau untuk orang lain. Misalnya posisi jabatan yang membanggakan, kekayaan dan harta berlimpah, pasangan yang baik dan menyayangi, dan tentu beragam barang duniawi (seperti rumah, mobil, binatang kesayangan).

Mensyukuri Tubuh yang Sehat

Seringkali kita tak menyadari bahwa diberi tubuh yang sehat itu sesuatu yang harus disyukuri. Orang biasanya terlambat mensyukuri kesehatan saat sedang sakit – terutama sakit parah. Oleh karena itu bersyukur pada tubuh yang sehat saat sedang sehat itu tak biasa; paling tidak jarang dilakukan oleh sebagian manusia.

Banyak orang juga merasa tidak bahagia saat membandingkan kondisi tubuhnya dengan raga orang lain yang terlihat sempurna. Padahal tubuhnya sendiri baik-baik saja dan dalam kondisi sehat. Namun ada perasaan tidak nyaman dan tidak menghargai karena merasa tubuh kita tidak sempurna – entah terlalu kurus atau agak gemuk.

Pada suatu saat tentunya semua orang harus ikhlas bahwa pada titik tertentu tubuhnya akan berubah seraya usia bertambah. Tak bisa terus-terusan gagah atau seksi. Tak bisa kulitnya kencang dan mulus. Tubuh yang sempurna tak lagi tetap selamanya prima. Pun harus diingat bahwa manusia dilahirkan untuk menjalani kehidupan (sebagai anugerah dari Sang Pencipta) dan suatu saat akan meninggal dunia (untuk kembali ke Sang Pencipta).

Uniknya banyak orang difabel – yang seringkali secara serampangan dilabeli sebagai orang cacat oleh masyarakat luas – justru banyak yang mampu mensyukuri tubuh mereka yang tak sesempurna orang lain pada umumnya. Mereka bisa bersyukur punya dua tangan yang di saat yang sama bisa menggantikan fungsi kaki yang tak mereka miliki. Mereka bisa-bisanya masih bisa bilang “untung masih punya dua tangan”. Tentu rasa ikhlas mereka melewati proses yang panjang. Ada orang yang ‘cacat’ sejak lahir. Ada pula yang ‘cacat’ pada suatu momen dalam hidup mereka, semisal karena kecelakaan lalu-lintas.

Meditasi itu Sowan Gusti

Meditasi itu bisa dikombinasikan dengan doa. Sama saja. Meditasi memberikan kesempatan bagi “aku” yang lebih sadar untuk menerima anugerah sebuah kesempatan kontak dengan Sang Pencipta. Oleh karena itu harus ada sikap menerima karena bertemunya “aku” dengan Sang Pencipta itu bukan sesuatu yang bisa dipaksakan; namun menjadi sesuatu yang sifatnya anugerah. Bila saat berdoa atau meditasi ternyata tak bertemu dengan Sang Pencipta, ya, nikmati saja. Singkatnya kita belum mendapat anugerah. Tak perlu mempertanyakan diri apakah aku tak pantas, apakah aku tak siap, apakah aku berdosa. Anggap saja bahwa saat belum bertemu dengan Sang Pencipta di dalam doa karena memang belum selaras saja. Belum waktunya. Kemudian bisa berdoa dan bermeditasi lagi di lain waktu.

Menipiskan Ego

Tentang ego itu bukan hal yang mudah. Ada orang yang egonya besar. Ada orang yang ingin ‘mematikan’ egonya. Ada yang benar-benar ingin bisa tak lagi memiliki ego melalui meditasi. Namun ada perspektif lain tentang ego yaitu menipiskan ego.

Bukan kita yang menipiskan ego. Yang makin besar adalah kesadaran akan “aku”. Dengan begitu ego kita menjadi menipis dan melebar. Bukan ego yang tebal, kecil dan keras – yang demikian menguasai diri. Bayangkan seperti adonan kue. Adonan yang berbentuk bola padat yang tebal dengan adonan yang tipis lembut lentur. Ada perbedaan yang besar di sana. Adonan yang sudah tipis lembut lentur tentu siap untuk menerima proses berikutnya.

Tak ada gunanya menghilangkan “aku”. Selama kita hidup tentunya manusia memiliki “aku” – dari kita lahir sampai kita meninggal. Kita belajar untuk menyadari tentang aku dan alat-alat lain yang tidak dilatih dan tidak didengar.

“Aku” akan menipis sebagai efek saat kita mengenali kesadaran dan alat-alat kita – yang menjadi makin kuat dan eksis. Bukan “aku” yang mencoba menghilangkan atau membunuh “aku” – itu tidak mungkin. Pun hal itu menjadi tidak wajar dan sia-sia.

Meditasi Bukan Hal yang Instan

Meditasi itu tak seharusnya memiliki target karena itu menjadikan proses meditasinya tak alami. Seseorang harus melepaskan banyak hal dalam dirinya untuk menyadari dirinya. Bukan sesuatu yang harus dicapai dalam waktu tertentu, dicapai dengan tergesa-gesa, dicapai dengan kerja keras. Sebaliknya kesadaran diri membutuhkan waktu yang panjang – sesuai dengan kesiapan hati dan pikiran untuk membuka diri.

Meditasi harus dipahami benar sebagai sebuah aktivitas yang mensyaratkan proses. Sebuah proses tentu membutuhkan waktu. Proses meditasi menjadi proses yang harus dimulai pada suatu titik dalam hidup ini. Proses meditasi menjadi suatu hal yang manusia lakukan untuk mencapai kesadaran. Sadar akan dirinya sendiri. Sadar tentang menghidupi hidup. Sadar bahwa tak perlu tergesa-gesa. Menjalani meditasi. Tanpa harus repot mencari target untuk menjadi sakti mandraguna atau mencapai keagungan level dewa. Meditasi saja yang alami. Kesadaran diri akan datang dengan sendirinya sebagai anugerah.

Akhir Kata

Saya merasa bersyukur bisa mendapat kata-kata tuntunan tentang ‘bersyukur dan menerima’ malam ini. Dua hal itu bukan hal yang mudah bagi saya. Meski mencoba berdoa dengan mensyukuri satu atau dua hal yang saya terima dalam satu hari, tak selalu saya benar-benar mensyukuri satu hari tersebut dalam doa saya. Oleh karena itu saya merasa bersyukur karena masih ada orang – dalam hal ini pamong – yang tak lelah mengingatkan tentang bersyukur dan menerima.

Rahayu

Shallow

Awalnya saya tidak paham lagu berjudul Shallow ini tentang apa. Iramanya juga tidak biasa. Namun beberapa kali mendengarkan lagu tersebut jadi menikmatinya. Saya juga penasaran dengan interpretasi lagu tersebut.

Liriknya bisa dilihat di laman Shallow. Bingung lagunya tentang apa? Sama.

Kemudian saya menemukan satu artikel dari Cosmopolitan yang secara detail menjelaskan arti lagu yang menjadi OST film dengan judul A Star Is Born. Selain itu ada juga penjelasan dari sebuah artikel yang menerangkan arti tersembunyi pada lirik lagu Shallow yang dilantunkan secara duet oleh Lady Gaga dan Bradley Cooper.

And so, with “Shallow,” she says the words signify a time when men and women are having an open dialogue with each other.

“That conversation is what makes the song successful and beautiful and why people cry when they hear it,” Gaga said. “It’s because that man and woman connect, and they are listening to each other.”

dikutip dari laman situs Good House Keeping

Lebih kurang artinya begini. Menurut Lady Gaga kata-katanya menggambarkan momen saat perempuan dan laki-laki sedang berdialog secara terbuka satu dengan lainnya. Keduanya terhubung dan saling mendengarkan satu sama lainnya. Indah, bukan?

Bagi saya lagu Shallow tersebut salah satu lagu favorit saya di tahun 2020. Pesannya kuat dengan artikulasi nada yang menggetarkan. Namun begitu iramanya terdengar enak terutama pada bagian refrennya.

In the sha-ha-sha-ha-low
In the sha-ha-sha-la-la-la-low
In the sha-ha-sha-ha-ha-low
We’re far from the shallow now

Jujur Ajur

Saya selalu percaya bahwa jujur itu pilihan yang lebih baik daripada tidak jujur. Namun seraya usia bertambah saya paham bahwa berlaku jujur itu sebenarnya tak disukai oleh sebagian besar manusia.

Manusia selalu mengagung-agungkan kejujuran. Namun manusia pula yang sulit untuk menerima sebuah kejujuran. Bahkan sering terjadi sebuah kejujuran membuat dampak yang tak mengenakkan. Bagaimana pun lebih mudah berbuat tak jujur dibanding bertindak jujur.

Jujur ajur. Ya, nyatanya begitu. Fakta membuktikannya. Berkali-kali saya mengalami hasil tak mengenakkan justru ketika memutuskan untuk jujur sejujur-jujurnya. Rasanya tak enak. Masalah muncul justru ketika berlaku jujur. Padahal saya secara alami tak suka berbohong dan juga tak suka dibohongi.

Pernah saya berada pada situasi wawancara kerja. Pewawancara kerja berkata bahwa mereka lebih menghargai kejujuran. Namun kita juga tahu bahwa kejujuran yang kita utarakan saat melamar sebuah pekerjaan menjadi bumerang. Oleh karena itu tak bijak untuk sepenuhnya jujur saat berada dalam tanya jawab dengan personalia atau manajer yang merekrut karyawan baru.

Di lain kesempatan saya juga jengkel karena beberapa orang mendapat kesuksesan karena sengaja tidak mengatakan hal yang tidak jujur. Itu salah menurut pikiran saya. Namun nyatanya mereka yang tak jujur itu benar-benar sukses. Duh!

Lalu bagaimana sebaiknya? Jujur ajur? Atau kebalikannya, tak jujur-jujur amat tapi mendapatkan keberhasilan dan sesuatu yang menguntungkan?

Itulah dilemanya. Jujur memang bakalan ajur. Tak peduli seberapa baiknya Anda menyampaikan kejujuran, kita paham bahwa tak semua orang bisa memahami kejujuran tersebut dengan bijaksana. Jujur malah menjadi bumerang yang menyakitkan.

Bagaimana kalau bingung untuk memilih jujur atau tidak jujur? Diam saja. Dengan diam seribu bahasa, Anda tak perlu bingung untuk memilih. Bingung memilih untuk jujur atau tidak jujur.

Ingat selalu bahwa jujur itu ajur. Camkan itu! Kejujuran selalu datang dengan konsekuensinya. Tak mudah. Sering kali malah menyakitkan. Kejujuran itu harus dibayar mahal.

Endapan Kopi

Punya masalah? Tiba-tiba emosi tak terkendali? Menghadapi jalan buntu? Sebaiknya tenangkan diri terlebih dahulu. Diam. Hentikan atau redakan pikiran. Tak berbuat apa-apa.

Kira-kira sama seperti saat kita membuat kopi bubuk. Kita menuang air panas ke dalam gelas berisi kopi bubuk. Mengaduk kopi tersebut supaya bubuk kopinya tercampur rata dengan air panasnya. Bubuknya tentu akan berputar-putar di dalam gelas tersebut. Namun tunggu sesaat sebelum meminumnya. Biarkan panasnya sedikit turun. Beri waktu supaya endapannya turun pelan-pelan ke dasar gelas.

Sembari menunggu kopinya mengendap, kita bisa menikmati suasana. Bisa juga berbincang-bincang santai. Pada saat yang tepat barulah kita meminum kopi tersebut. Rasanya pas. Endapannya pas sudah turun semua.

Beda dengan mereka yang tergesa-gesa meminum kopi yang barusan diseduh. Bibir bisa melepuh kepanasan. Bubuk kopinya tercampur sehingga kopinya terasa aneh dengan bubuk yang belum mengendap.

Oleh karena itu bila tiba-tiba hati dan pikiran kacau balau tak perlu panik. Berdiam sebentar. Biarkan segala hal yang tak tertata tersebut mengendap terlebih dahulu. Setelah itu ada ketenangan pikir dan kedamaian hati. Barulah masalahnya diselesaikan dengan baik-baik.

Bingung menghadapi hidup? Jangan lupa minum kopi dulu. Semoga bisa membantu.