Mengejar Impian

Menuliskan dan mengatakan apa saja impian yang kita miliki itu relatif mudah. Mewujudkannya menjadi kenyataan itu soal lain dan jelas tak mudah.

Namun hidup hanya sekali. Singkat pula. Oleh karena itu mengejar impian itu suatu keharusan. Apa gunanya hidup bila tak punya cita-cita dan tak memiliki keinginan untuk merealisasikannya.

Yuk, mengejar impian.

Ungkap, Tebus, Lega

Slogan pengampunan pajak memang sederhana. Wajib Pajak mengungkapkan harta kekayaan yang lupa dilaporkan dalam SPT tahunan. Setelah itu Wajib Pajak membayar tebusan pajak sesuai dengan aturan yang ditetapkan. Dan Wajib Pajak bisa merasa lega karena sudah membayar kewajibannya.

Dalam prakteknya tentu berbeda. Maklum karena tax amnesty belum dipahami benar oleh sebagian besar masyarakat. Ada orang-orang yang tak perlu melakukan pengampunan pajak — karena memang tak memiliki harta — yang justru panik dan ketakutan. Sedangkan yang berharta malah tenang-tenang saja karena belum tahu mengenai pengampunan pajak sama sekali. Celakanya banyak rumor yang salah yang beredar; baik disengaja maupun yang terjadi karena gagal paham.

Untungnya di jaman yang serba terkoneksi oleh internet dan selalu ada pemberitaan di media massa — elektronik maupun konvensional — makin banyak masyarakat yang mulai mendengar tax amnesty. Sosialisasi dan seminar mengenai perpajakan pun bisa diikuti di mana-mana. Bahkan kantor pajak memiliki situs yang menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai TA — singkatan dari Tax Amnesty — sebagai sarana untuk melayani pertanyaan langsung yang bisa ditanyakan oleh para wajib pajak di kantor-kantor pajak.

Jadi tak perlu khawatir tentang TA. Asalkan paham benar dengan apa yang harus dilakukan, tentu tak perlu risau. Bila masih belum paham, bertanyalah pada yang sungguh-sungguh saham sehingga menjadi tenang dalam menjalani hidup di tengah ramainya masa-masa pengampunan pajak.

Medali Emas untuk Bangsa

Hebat untuk kedua pebulutangkis Indonesia yang sudah sumbangkan medali emas di Olimpiade 2016 untuk bangsa ini. Apalagi momennya pas sekali dengan perayaan kemerdekaan NKRI ke-71. Timing-nya sangat pas.

Medali emas merupakan salah satu barometer bagi suatu bangsa untuk menunjukkan kemampuan untuk berkompetisi di tingkat internasional.

Tapi belum saatnya berpuas diri. Perjalanan bangsa untuk mendukung atlet-atletnya masih panjang. Terbukti hanya dua cabang olahraga, hingga hari ini, yang mampu membanggakan bangsa. Cabang lainnya masih belum cukup baik bertanding di level dunia.

Banyak juga negara-negara lainnya yang sangat minim atau bahkan tanpa perolehan medali. Berbagai kendala membuat mereka tak mampu bersaing di kancah global. Korupsi yang menjamur di badan-badan olahraga, pelatihan atlet muda yang seadanya, kondisi peering, atau hancurnya perekonomian.

Namun atlet yang benar-benar jago dan berdedikasi tinggi yang mampu menembus batas. Keterbatasan tak menjadi salangaan namun lecutan untuk menjadi lebih baik.

JogjaStreamers

Apakah jaman sekarang radio sudah kurang didengarkan seperti dulu lagi? Mungkin. Tersaingin dengan hadirnya internet yang lebih interaktif.

Namun radio belum mati. Mendengarkan radio menjadi kebiasaan yang unik. Bila sudah terbiasa, bagi beberapa orang sulit untuk tak mendengarkannya barang sehari. Bisa jadi karena radio — yang menjadi medium suara — memberikan ‘keintiman’ tersendiri dibanding media elektronik lainnya.

Sayangnya radio sifatnya terbatas hanya pada satu kota. Bila seseorang sudah merantau ke kota lain atau pulang kampung, radio kesayangannya tak lagi bisa didengarkan.

Begitu pula banyak orang yang asli Yogya atau minimal pernah tinggal lama di kota ini, ada yang kangen dengan acara-acara di radio. Lalu bagaimana bila ingin mendengarkannya di kota lain?

Tak perlu khawatir. Internet memfasilitasi rasa rindu tersebut. Cukup buka JogjaStreamers bila ingin mendengarkan radio-radio yang eksis di Yogyakarta. Internet bukan saingan radio dan justru mampu menghantar suara-suara penyiar radio dan acara-acaranya ke segala penjuru dunia; asalkan ada jaringan internet.

Harga Rokok Naik Drastis

Rumor mengatakan bahwa bulan depan harga rokok di tanah air akan dinaikkan secara drastis. Tujuannya, konon, pemerintah ingin mengeruk lebih banyak penghasilan dari cukai rokok sekaligus adanya peningkatan harga rokok akan membuat jumlah perokok menurun drastis.

Kira-kira apakah pemerintah akan sukses mencapai dua tujuan tersebut?

Entahlah. Saya setuju-setuju saja harga rokok naik. Saya tidak suka ada orang merokok di sekitar atau di dekat saya. Kasihan bahwa uang ‘dibakar’ untuk sesuatu yang tak berguna dan justru bisa merusak tubuh. Makin sedikit orang merokok tentu lebih bagus.

Pertanyaan menyeruak. Bagaimana dengan nasib para petani tembakau dan buruh rokok? Bila pabrik rokok bangkrut tentu nasib petani dan buruh rokok akan memburuk. Mungkin ada benarnya tapi masak kita lebih tega melihat sekian juta masyarakat di tanah air ‘bunuh diri’ pelan-pelan dengan menghisap asap rokok sekaligus racun-racun di dalam rokok. Belum lagi akan ada banyak anak-anak kecil generasi masa depan yang menjadi tak sehat karena ikut-ikutan menghisap asap rokok dari orangtuanya.

Ada segelintir orang yang mungkin malah berusaha mengambil kesempatan dari rumor naiknya harga rokok. Yaitu memborong rokok-rokok dengan harga sekarang kemudian dijual kembali saat harganya sudah naik gratis. Semacam spekulan. Boleh-boleh saja.

Dan disamping itu ada sekian banyak perokok yang tak sudi aturan untuk menaikkan harga rokok tersebut. Dengan alasan yang tak logis — tak ada hubungannya dengan kesehatan — mereka ingin harga rokok tak naik. Ya, biar saja. Mungkin bagi para perokok berat, mereka lebih senang bila harga sembako naik ketimbang harga rokok yang naik. Nah, lho?

Semoga harga rokok naik drastis. Semoga saja harga sembako dan bahan bakar minyak menurun. Dengan begitu roda perekonomian melaju kencang dan makin banyak warga yang berhenti merokok.

Manajemen Foto Pribadi

Hobi memotret? Bila suka dan sering mengambil foto tentu ada sesuatu yang bakal dialami yaitu mengatur penyimpanan foto-foto yang jumlahnya berjibun.

Sering memotret menggunakan ponsel berkamera lama-lama akan memenuhi memori internal atau/dan esterna sehingga ponsel sepintar apapun menjadi lemot.

Beda dengan orang yang sering memotret memakai pocket kamera atau kamera DLSR. Setelah memori kamera penuh pasti akan dipindah ke laptop atau dekstop. Alhasil hard disk menjadi penuh dan membuat performa komputer tak secepat sebelumnya.

Susah, ya? Jangan khawatir karena ada penyimpanan foto di ‘awan’. Beberapa perusahaan layanan backup memberikan ruang yang cukup untuk menyimpan tumpukan foto digital. Namun pemakainya harus sabar untuk mengunggah dan mengunduh foto-foto yang ingin disimpan atau dilihat kembali.

Harusnya sih kalau teratur tentu tidak akan kesulitan mengatur foto-foto pribadi. Sayangnya tak semua orang telaten dan sabar untuk menyimpan foto-foto event, kenangan, acara keluarga, hobi, pemandangan dan sekian banyak foto-foto yang tak jelas dan berkualitas rendah.

Untuk foto-foto yang dianggap sebagai ‘sampah’ lebih baik dihapus. Bila tetap disimpan justru membuat pencarian foto-foto lebih lama karena harus memilah foto yang bagus di antara foto-foto yang tak bagus.

Manajemen foto pribadi harus mulai dari awal ketika membeli perangkat yang berkamera atau yang bisa menyimpan foto-foto. Bila sudah bertahun-tahun dibiarkan menumpuk, pasti ada rasa enggan untuk bebersih foto dan mem-backup-nya.

Full Day School

Sekolah seharian penuh. Apa ndak capai anak didik dan guru-gurunya?

Yang jelas hidup seorang anak tak sebaiknya melulu di lingkungan sekolah. Ada kehidupan di rumah dengan keluarga, dengan masyarakat luas, dengan lingkungan agama, dan beragam aspek kehidupan lainnya yang berwarna.

Betul bahwa idenya baik. Tak ada yang salah. Tapi apa sekolah-sekolah di tanah air sudah siap? Lalu bagaimana dengan biaya operasional yang pasti membengkak karena harus sediakan makanan, fasilitas macam-macam, guru atau staf untuk mengawasi murid? Gratis? Tentu tidak, bukan?

Saya tak sanggup membayangkan diri saya menjalani aktivitas belajar seharian di kompleks sekolahan yang sama. Seberapa menariknya dan bagusnya sekolahan, tentu lama-lama bosan juga sehingga malah eneg.

Sekolah itu perlu karena bagian dari pembelajaran. Namun tak seyogyanya sampai sehari penuh. Bermain dan bermasyarakat tentu menambah pembelajaran dalam hidup.