Trotoar

Trotoar merupakan bagian yang terintegrasi dengan badan jalan. Kalau ada jalan tentunya ada trotoarnya. Kecuali jalan tol. 

Kalau tidak ada trotoar, pejalan kaki jelas akan kesulitan untuk berjalan dengan aman dan nyaman. Bila berjalan di atas aspal bisa-bisa terserempet kendaraan yang lewat. 

Trotoar, begitu juga dengan jalanan, merupakan tanda kemajuan infrastruktur suatu wilayah. Ada wilayah yang trotoarnya lebar dan nyaman. Begitu juga ada wilayah yang minus trotoar atau bila pun ada kondisinya memprihatinkan. 

Minimnya trotoar tentu akan membuat pejalan kaki urungkan niat. Lalu memilih untuk menggunakan kendaraan. Jalanan pun kian macet. 

Kalau berkaca di negeri sendiri rasanya prihatin karena makin banyak jumlah ruas jalan yang dibangun tapi tak selalu dilengkapi dengan trotoar. Di mana trotoarnya? Lupa menambahnya? 

Banyak orang, termasuk saya, mendambakan trotoar memadai yang eksis bersama ruas jalan sehingga bisa jalan-jalan dengan nyaman dan aman di negara sendiri. Tak perlu bagus-bagus dan sangat lebar, asalkan ada trotoar pun rasanya sudah senang. 

Belajar Bahasa dari Rubrik Bahasa

Sebuah blog berjudul Rubrik Bahasa memfokuskan diri untuk membahas Bahasa Indonesia berdasarkan artikel-artikel yang diterbitkan atau dituliskan di berbagai surat kabar di Indonesia. 

Kupasan-kupasan bahasanya disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Meskipun memang ada satu dua yang susah dipahami bahkan bagi mereka yang suka mengulik dan mengutak-atik bahasa. 

Yang jelas bahasan bahasanya mencerahkan. Menambah wawasan berbahasa dengan baik dan benar. 

Arti Rasuah

Sungguh saya kurang paham dengan arti kata antirasuah yang sering disebut-sebut di berbagai media terkait dengan Komisi Antirasuah. 

Selidik punya selidik ternyata Rasuah sendiri lebih kurang terkait dengan kata korupsi

Sebuah laman blog dari Rubrik Bahasa dengan gamblang menjelaskan detil arti kata rasuah dalam artikel yang gampang dimengerti ini.   

Seyogyanya sebut saja KPK dengan Komisi Pemberantasan Korupsi. Yang jauh lebih jelas artinya oleh lebih banyak orang ketimbang Komisi Antirasuah. 

Terlantar di Bandara

Yang namanya aral melintang memang suatu saat bisa terjadi. Apalagi kalau berhubungan dengan transportasi publik seperti penerbangan pesawat. Seperti delay yang membuat pesawat — oleh karena suatu sebab — telat take-off. Atau malah batal sama-sekali. 

Kalau sudah begitu penumpang pun terkatung-katung di bandara. Menunggu pesawat berangkat tapi tak ada konfirmasi apapun dari maskapai penerbangan yang dinaiki. Memutuskan pulang dan tak jadi terbang juga tanggung. Kalau hanya menunggu kurang dari 3 jam masih bisa sabar. Tapi kalau sudah lebih dari 6 jam tak ada kabar apapun jelas membuat frustasi dan marah. 

Tapi penumpang yang cerdas tak akan terlantar di bandara. Segera lakukan tindakan taktis supaya tetap nyaman di bandara meskipun benar-benar ditelantarkan oleh maskapai penerbangan yang ‘pelayanannya benar-benar bikin naik pitam’. 

Pertama yang dilakukan adalah mencoba berkomunikasi dengan petugas boarding room atau konter check-in dari maskapai penerbangan tersebut. Bila disuruh menunggu jangan mau. Terus tekan tapi tetap santun. Ajak penumpang yang lain untuk bersama-sama menekan. Ingat bahwa jumlah orang mempengaruhi besar tekanan. Makin ditekan biasanya bikin staf dari maskapai tersebut berusaha sebaik-baiknya untuk melakukan sesuatu. Ingat slogan Bersama Kita Bisa

Setelah itu lakukan langkah kedua yaitu amankan rombongan yang pergi bersama dengan kita dan barang-barang bawaan. Bila membawa orang tua, anak-anak atau orang sakit maka prioritaskan mereka untuk menuju ke kafe atau lounge dengan tempat duduk dan makanan. Supaya mereka tidak ikut frustasi, bisa makan minum dan berada dalam kondisi yang nyaman. Sedangkan barang bagasi bisa dititipkan ke tempat penyimpanan barang supaya tidak hilang. Penting untuk langsung membeli makanan dan minuman untuk persediaan sendiri; tak perlu harapkan makanan dari maskapai yang lepas tangan. Kesehatan diri sendiri lebih penting, bukan? 

Ketiga adalah menghubungi keluarga atau teman yang menjemput atau menanti di bandara tujuan. Bila ada informasi tentu akan membuat yang menunggu jadi berkurang rasa khawatirnya. Selain itu aktifkan alat komunikasi untuk mengasup informasi penerbangan terkini, jejaring sosial untuk mencari tahu informasi tambahan dari penumpang lain yang terlantar dan tentunya pesan instan untuk terus berhubungan dengan orang lain. Bila baterai ponsel hampir habis segera cari tempat untuk charging atau gunakan power bank. Jaga alat komunikasi supaya terus aktif. 

Keempat tentunya harus memutuskan apakah mau terus menunggu, ganti penerbangan lain atau balik badan. Tentunya harus memastikan bahwa refund tiket harus bisa dilakukan supaya tidak rugi. Tapi kalau tidak mau repot, relakan saja ketimbang emosi. 

Kelima, dan ini yang paling penting, adalah memastikan tidak terbang lagi bersama ‘maskapai yang bikin ilfil dan naik darah’ di masa depan. Bisa juga memakai mode transportasi yang lain. Tapi kalau maskapai tersebut hanyalah satu-satunya yang melayani rute tersebut, ya apa boleh buat. Paling tidak pada penerbangan berikut sudah ada persiapan yang lebih matang bila sewaktu-waktu terlantar lagi.

Penerbangan Telat, Penumpang Mengamuk

Penerbangan terlambat terbang sudah biasa. Cuaca buruk, kerusakan mekanik atau malfungsi bandara. Asalkan maskapai memberikan informasi, janji untuk segera terbang dan makanan pastilah penumpang bisa memahami. Mau menunggu hingga penerbangan siap terbang. 

Tetapi bila molor berjam-jam tanpa ada alasan yang masuk akal dan tak segera ada konfirmasi kapan bisa mulai terbang tentu membuat penumpang tak sabar dan marah-marah. 

Kalau penumpang marah besar hingga mengobrak-abrik kantor maskapai tentu sudah tidak benar. Tindakan anarkis. Yang tak akan membuat kondisi membaik.

Bahkan membentak-bentak petugas konter di ruang tunggu tak akan mengubah keadaan. Para petugas hanya bekerja dan menunggu instruksi. Mereka sama-sama manusia yang punya perasaan. Hanya posisi mereka terjepit. Sering mereka tak diberi tahu apa yang sesungguhnya terjadi sehingga hanya bisa pasrah. BIla petugas menghilang itu karena situasi sudah tidak kondusif bagi keamanan mereka sendiri. 

Kemarahan penumpang tak serta-merta membuat penerbangan mendadak siap. Bila memang pesawatnya tak kunjung datang, tak mungkin ada penerbangan. 

Lalu bagaimana kalau ada maskapai yang membuat kecewa penumpang karena telat terbang tanpa konfirmasi sama sekali padahal sudah ditelantarkan setengah hari atau dua hari?  

Pertama yang bisa dilakukan adalah membuat catatan keterlambatan penerbangan. Catatan ini berguna untuk mengklaim keterlambatan. Juga bisa digunakan untuk pengembalian uang bila pesawat tak jadi berangkat sama sekali. Bahkan catatan ini bisa dipakai untuk menuntut maskapai tersebut sesuai dengan hukum dan prosedur yang berlaku untuk mempertanggungjawabkan kerugian yang sudah diderita oleh penumpang. 

Kedua, penumpang bisa menghubungi pihak bandara untuk menanyakan kejelasan kapan terbang. Pihak bandara tentu akan berusaha mencari solusi yang terbaik. Pihak bandara mengetahui trafik pesawat, cuaca dan informasi fasilitas bandara yang bisa dipakai oleh penumpang yang terlantar.

Ketiga, sabar menunggu. Bila sudah terlalu lama — terutama bila bepergian dengan orang tua, anak-anak, orang sakit — segera putuskan tindakan yang paling masuk akal untuk dilakukan. Semisal terbang dengan maskapai lain atau memilih pulang saja. Refund atau tuntutan hukum bisa dilakukan lain hari. Yang penting anggota keluarga selamat dan tidak ikut terkatung-katung.    

Keempat, cukup sebarkan informasi keterlambatan melalui jejaring sosial media. Bila semua penumpang yang terlantar menyebarkan informasi keterlantaran mereka bersama-sama tentu menjadi hukuman tersendiri bagi maskapai yang tak bertanggungjawab tersebut. Calon penumpang lain jadi urung bersama maskapai tersebut. 

Ingat. Tak perlu mencaci-maki di Facebook atau Twitter karena tindakan ini bisa merugikan diri sendiri. Ingat bahwa mencemarkan nama baik orang atau korporasi bisa berujung pada tuntutan hukum. Cukup sebarkan kondisi yang terjadi sesuai fakta. Otomatis kondisi tersebut akan diketahui oleh puluhan hingga ribuan orang lainnya di Internet. 

Penerbangan telat tak perlu marah-marah lagi. Tak perlu mengamuk. Tanggapi dengan pikiran jernih dan kepala dingin. Lakukan langkah yang taktis seperti di atas. Maskapai yang tidak berorientasi pada kepuasan dan keselamatan penumpangnya tentu cepat atau lambat akan ditinggalkan oleh calon penumpang. Lagipula masih ada maskapai-maskapai lainnya yang performanya lebih baik. 

Barongsai dan Imlek

Saat Imlek tiba tentu ada pertunjukkan Barongsai. Tak hanya menjadi tontonan warga Tionghoa saja. Barongsai menjadi performance yang bisa dinikmati oleh segala lapisan masyarakat. 

Bila dulu Barongsai hanya dipertunjukkan di dalam komplek Vihara atau Klenteng, kini Barongsai banyak dipertontonkan di ruang publik seperti gedung-gedung perusahaan dan mall-mall. Dengan begitu makin banyak orang yang bisa menikmati lenggak-lenggok Barongsai. 

Sesuai dengan era keterbukaan saat ini di tanah air, pemain Barongsai tak melulu warga Tionghoa. Pemain-pemain Barongsai bisa berasal dari berbagai lapisan masyarakat yang memang tertarik untuk olah badan melalui permainan Barongsai. Dengan begitu Barongsai menembus sekat-sekat golongan. Yang mulanya adalah warisan budaya Tionghoa kini berubah menjadi kepunyaan bersama Bangsa Indonesia. 


Cheongsam Dalam Film

Saya terpesona dengan Cheongsam — yang sering disebut sebagai Gaun Mandarin atau Qipao — yang sering muncul di film-film dari China Daratan atau Hong Kong. Lagipula saya membahas Cheongsam karena memang baju ini identik dengan Imlek yang jatuh pada hari ini. 

Dari deretan aktris yang memakai Cheongsam dalam berbagai film, menurut saya ada dua bintang Mandarin yang sangat pas memakai jenis baju ini. Maggie Cheung dan Li Bing Bing. 

Maggie Cheung tampil memukai dengan beragam Cheongsam dalam film In the Mood for Love. Tak hanya satu atau dua saja namun Maggie Cheung berganti-ganti Cheongsam dalam film itu sesuai dengan suasana dan adegan. Konon Maggie Cheung dianggap sebagai bintang film yang mempopulerkan Cheongsam. 

Sedangkan Li Bing Bing menggunakan Cheongsam sepanjang film aksi dari Hollywood berjudul Resident Evil: Retribution. Film zombie. Bukan film Mandarin. Unik, bukan? Dengan Cheongsam tak berarti Li Bing Bing, berakting sebagai Ada Wong, tak bisa membantai para zombie yang jumlahnya bejibun. 

Kira-kira siapa bintang film Mandarin yang menurut Anda sesuai memakai Cheongsam?