Overthinking

Kita sering tertawa ketika ada orang yang mengingatkan kita, “eh, kamu itu kok terlalu jauh mikirnya, jadi kepikiran begitu.” Kenyataannya kita kadang tak sadar bahwa kita berpikir di luar porsi yang seharusnya. Pasti ada saat-saat kita berpikir berlebihan. Dampaknya biasanya adalah rasa khawatir atau rasa tidak senang yang muncul di dalam hati.

Saya mendapatkan pengalaman overthinking beberapa kali dalam satu hari yang sama kemarin. Beberapa hal yang seharusnya cukup direspon dengan sewajarnya malah saya pikirkan begitu serius.

Pengalaman pertama di pagi hari terkait dengan pekerjaan. Saya berpikir yang ‘tidak-tidak’ hanya karena merasa gabut alias gaji buta sementara rekan kerja yang lain bekerja dengan penuh. Muncul pikiran apakah saya kurang dipercaya. Padahal di sisi lain harusnya saya bersyukur karena bisa relatif santai hari itu di tempat kerja.

Pengalaman kedua, ada di sore hari. Berpikir tentang masa depan membuat otak berputar tentang apa saja yang bisa saya perbuat supaya mendapatkan penghasilan yang lebih banyak. Ada perasaan ‘kok, duitnya kurang’. Padahal mungkin uangnya mencukupi bila benar-benar bisa mengelolanya dengan baik.

Pengalaman ketiga, muncul di malam hari. Ada suara dering telepon saat saya naik motor. Saya cek sebentar untuk melihat pesan singkatnya. Ada panggilan dari teman yang jarang telepon. Ada masalah apa gerangan? Apakah ada situasi darurat terkait orangtuanya yang sedang sakit? Ternyata setelah sampai rumah, telepon yang ada karena hendak bertanya tentang suatu acara; yang tak begitu mendesak.

Tidak selalu jalan hidup kita lurus dan aman. Ada saat-saat di mana tapak yang dilewati begitu berliku; harus menjalaninya dengan tabah dan sabar. Di lain sisi, ada peristiwa yang membutuhkan pemikiran namun tak sampai harus berpikir berlebihan. Kita sebagai manusia tak perlu menyiksa pikiran dan jiwa dengan hal-hal yang umumnya biasa-biasa saja karena bisa jadi masalahnya tak sebesar yang kita bayangkan. Berpikir berlebihan membuat jiwa tak tenang.

Take it slowly and take a breath“. Cerna dulu informasinya dengan benar. Berpikir dengan porsi yang benar dan tak berlebihan. Kemudian ambil cara respon yang terbaik. Tidak perlu panik dengan ketakutan yang timbul dari imajinasi negatif yang kita munculkan sendiri.

Kemarin adalah hari untuk belajar tentang merespon sesuatu tanpa berpikir berlebihan alias overthinking. It is a good lesson for me.

Jalan-Jalan di Sapporo

Hari Minggu ini memang sudah seharusnya menjadi hari yang diisi dengan aktivitas yang ringan dan santai. Tubuh bisa beristirahat. Namun berbeda dengan apa yang ada di benak saya. Ada banyak pikiran terlintas. Tentang masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Ini melelahkan. Seperti sebuah kolam yang bergelombang naik turun. Tidak tenang. Penuh riak. Mungkin terpengaruh dengan interaksi dengan banyak orang.

Namun ada satu hal yang ingin saya lakukan untuk menyegarkan diri saya. Dengan “jalan-jalan” di Sapporo; yang pernah saya kunjungi pada tahun 2012. Saya ingat bahwa saya ke kota terbesar yang ada di Pulau Hokkaido itu saat musim semi tiba. Hawanya sudah tidak relatif dingin seperti saat musim dingin. Temperatur mulai menghangat.

Sapporo adalah kota yang relatif muda umurnya. Pemerintah Jepang membangun Sapporo dengan sistem seperti jala yang berkotak-kotak (grid). Hal ini membuat tata kota Sapporo rapi. Dengan jalan utama yang membentang dengan banyak bangunan di kanan dan di kiri. Lengkap dengan taman yang luas dan menara jam.

Terdapat O-Dori, yang berarti jalan besar, membentang dari Timur ke Barat; membelah kota tersebut menjadi bagian Utara dan Selatan. Penataan seperti ini membuat navigasi di dalam kota tersebut sangat mudah. Suatu bangunan ada di Utara atau di Selatan. Apakah ada di Barat atau di Timur. Sederhana.

Terdapat subway yang relatif mudah untuk dipahami; memudahkan transportasi dalam kota. Terdapat juga streetcar; yang berjalan di atas rel di permukaan.

Di tengah kota Sapporo juga ada jalan bawah tanah yang panjang, paralel dengan subway. Di jalan ini, temperaturnya lebih hangat. Orang tidak terkena hembusan angin yang cukup dingin di permukaan tanah. Banyak toko dan kafe yang berjejer-jejer di jalanan ini.

Lumayan banyak tempat menarik untuk dikunjungi di Sapporo. Ada Clock Tower di dekat Stasiun Odori. Ada juga Ishiya Chocolate Factory yang memiliki atraksi menarik selain sajian coklat khusus bernama Shiroi Koibito – White Lovers – yang khas dan menggambarkan pemandangan yang menjadi ciri khas Sapporo yaitu hamparan salju yang memutih.

Selain itu tentu ada Odori Park yang terkenal karena dihiasi bunga, pohon, dan terdapat festival salju di sana pada musim dingin. Kalau ingin melihat Bunga Sakura mekar bisa berkunjung ke Asahiyama Park saat musim semi.

Tak ketinggalan, wajib untuk makan ramen di sini. Saya masih ingat pernah makan ramen di Sumire Sapporo Susukino Shop. Saya makan di sana karena mendapat rekomendasi dari pemilik hostel di mana saya menginap. Ramennya lumayan asin tapi enak. Kuah dengan rasa yang kuat memang tipikal ramen di Sapporo yang dingin.

Jika suka minum bir, jangan lupa untuk mengunjungi Sapporo Beer Museum. Tentu untuk melihat museum, tempat produksi, dan tentunya minum bir.

Saya tak terlalu lama di Sapporo karena waktu yang terbatas. Namun saya merasa sangat menikmati jalan-jalan di jalanan Sapporo, naik streetcar, dan melihat Sakura mekar. Itu saja sudah membuat saya senang. Bersyukur waktu saya datang di Sapporo, Sakura memekar.

Sapporo pun menjadi penutup jalan-jalan dua minggu di Jepang saat itu.

Dan malam ini saya merasa kembali senang mengenang masa di mana saya bisa jalan-jalan dengan lepas bebas meskipun saat itu ada banyak urusan hidup yang perlu diberesi.

“Though Sapporo is pretty cold and quite plain, the city offers the warmth of ramen and the sweetness of the white chocolate. It comes with the nice ride of streetcar and big street with a lot of trees.”

Myself, Autumn, Sapporo, 2012

Itulah memori saya tentang Sapporo.

Ingin tahu seperti apa jalan-jalan di Sapporo? Kita lihat bersama di video ini. Bukan video saya. Namun paling tidak bisa menyegarkan ingatan saya tentang musim semi di Sapporo dengan jiwa yang bebas.

Menyoal Besaran Gaji

Pandangan orang memang selalu berbeda-beda mengenai gaji. Apakah gajinya cukup besar?

Tentu tergantung dari sisi mana orang memandang gaji tersebut. Apakah sebagai orang yang menerima gaji? Apakah sebaliknya menjadi orang yang membayarkan gaji ke karyawannya?

Orang yang digaji bisa jadi merasa selalu tidak cukup dan kurang banyak. Sedangkan di sisi lainnya, orang yang memberi gaji merasa gajinya yang dibayarkan sudah terlalu besar.

Jarang memang orang yang mendapat gaji dan merasa puas dengan besaran gaji. Pun orang yang memberi gaji kebanyakan berpikir bahwa gaji adalah elemen pengeluaran yang porsinya sudah besar; bahkan terlalu besar.

Bila orang ingin gajinya benar-benar cukup, baiknya berpindah menjadi pengusaha yang bisa menggaji orang lain. Sebaliknya pengusaha yang memberikan gaji bisa sesekali berpindah posisi menjadi orang yang digaji; dengan begitu bisa mengerti apakah gaji dengan besaran tertentu sudah benar-benar cukup.

Pernah berbincang dengan teman tentang gaji. Saat lembur yang tidak dibayar maka dianggap sebagai serviam; sebagai sesuatu yang dilakukan karena pelayanan terhadap sesama. Tentu itu susah diperdebatkan karena berurusan dengan pahala dan surga. Meski tepatnya adalah karena terpaksa.

Gaji selalu menjadi obrolan yang sensitif dan panas. Sedikit, tak cukup. Banyak, tetap tak cukup. Duh!

Mungkin koentjinya adalah kata Cukup.

Menghidupi Hidup

Lagu berjudul Hated by Life Itself, lagu Kanzaki Iori, yang dilantunkan kembali oleh KOBASOLO dan Aizawa, membuat pendengarnya menjadi berpikir tentang arti kehidupan. Ini lagu yang membuat orang mempertanyakan tentang hidupnya. Ada banyak persepsi yang bisa terbentuk dari liriknya.

Ada salah satu pemirsanya yang menuliskan sebuah kutipan (yang tak begitu jelas sumbernya namun yang penting isinya) seperti berikut.

“To be born with no purpose is to be born without meaning in life. There’s simply no reason to why you were born, it’s just simple as that. No purpose. No reason. No excuse. that’s why your purpose is to find meaning in a life that has no meaning. I think that’s what makes life unknowingly so beautiful and meaningful.”

Ephode

Namun ada yang menarik dari obrolan para pemirsanya. Katanya versi cover dari penyanyi lain bernama Mafumafu memberikan nuansa lain dari lagu yang sama. Lebih pedih, lebih keras, lebih agresif, dan malah lebih lepas dalam melepas ekspresinya.

Konon banyak orang yang merasa sudah “ingin meninggalkan dunia ini” karena tertekan menjadi berpikir ulang dengan tindakannya yang kurang bijak. Namun tak dipungkiri tak sedikit orang yang “hidup segan, mati tak berani”. Mungkin karena lingkungan sekitarnya, tekanan hidup jaman sekarang, atau memang jalan hidupnya benar-benar berliku.

Bagi saya, saya suka dengan cover KOBASOLO karena ada nada sedih namun memberi semangat dan rasa optimis. Membangkitkan jiwa yang sudah terlalu lelah dengan hidup ini.

Sebuah kata bijak kembali terngiang yaitu “mari menghidupi hidup” supaya “hidup menjadi lebih hidup”. Tak sekadar menjadi makhluk hidup yang asal hidup dan hidup asal-asalan. Hidup hanya sekali. Hidup harus diperjuangkan.

Saya sudah memutar lagu ini berulang-ulang. Merasuki pikiran dan perasaan saya. Membuat saya kembali mempertanyakan beberapa hal tentang hidup ini.

Ini adalah salah satu bagian lagu yang menyentak jiwa.

Ikite, Ikite, Ikite, Ikiro, Ikiro…

Living, Living, Living, Living, Just Live...

USS Pampanito

Pernah dengar lagunya The Beatles yang berjudul Yellow Submarine? Sepertinya seru berada di kapal selam berwarna kuning.

Kenyataannya, sebuah kapal selam memberikan rasa merinding bagi orang yang tak pernah memasukinya. Orang biasa bisa langsung merasakan efek klaustrofobia, ketakutan akan tempat sempit dan terjebak. Kecemasan ini bisa menjadi-jadi karena kapal selam tak banyak menyediakan ruang yang bisa dijelajahi, berbeda dengan kapal biasa di mana ada dek atas dan sebagian dek relatif terbuka.

Saya merasakan kecemasan itu saat turun tangga memasuki USS Pampanito. Kelam. Remang-remang dengan pencahayaan yang seadanya. Ruangannya terbuat dari besi. Sempit. Sirkulasi udara kurang lancar. Ada rasa takut karena bagaimana pun dulu kapal selam ini benar-benar berperang. Kemungkinan ada orang yang pernah mati di dalamnya.

Namun saya mencoba mengabaikan rasa cemas itu. Saya penasaran dengan yang namanya kapal selam. Itu pertama kalinya saya melihat dengan mata kepala sendiri secara langsung sebuah kapal selam. USS Pampanito adalah kapal selam kelas Balao. Namanya diambil dari sejenis ikan pompano.

USS Pampanito sudah tak lagi menjadi mesin perang. Berubah menjadi museum. Memberikan banyak orang kesempatan untuk menjawab rasa penasaran mereka tentang kapal selam perang. Cukup membeli tiket masuknya, sudah bisa merasakan secuil rasa dan pengalaman berada di sebuah kapal perang yang bisa menyelam di kedalaman laut.

Namun sebesar apa pun rasa penasaran saya, saat orang-orang di depan saya, sesama pengunjung, bergerak ke luar, saya pun mengikuti mereka. Ada rasa khawatir tiba-tiba pintu besinya tertutup dan saya terjebak di dalamnya seorang diri. Merinding, saya pun cepat-cepat keluar dari kungkungan besi tua yang menyimpan sejarah. Masih ingin di dalam tapi tidak mau sendirian.

Saya tak bisa membayangkan bagaimana kondisi di dalam USS Pampanito saat bertugas dalam kedalaman dan kegelapan di lautan yang sedang menjadi arena peperangan. Pasti menyeramkan.

Tak terlalu berlebihan bila ada yang menyebut kapal selam selaiknya peti mati. Begitu kapal terkena torpedo atau tak memiliki cukup daya apung, para kelasi di dalamnya akan terkungkung dalam peti mati yang terbuat dari besi. Bila mereka beruntung bisa keluar sebelum kapal tenggelam, bisa jadi mereka tak selamat karena terkatung-katung di lautan terlalu lama dalam kedinginan.

Salut untuk orang-orang berani yang mampu dan mau menjadi anak buah sebuah kapal selam perang. Mereka memang pemberani.

Sekadar informasi, dulu orang bisa mengunjungi USS Pampanito yang terletak di Pier 45 (Dermaga 45) di area Fisherman’s Wharf, San Francisco, California di Negeri Paman Sam. Namun sayang sepertinya saat ini ditutup untuk sementara waktu.

Untuk yang penasaran seperti apa suasana di dalam USS Pampanito, bisa melihat tayangan video dari YouTube di bawah ini.

Takjil, Bukber, dan Pandemi

Bulan Puasa sudah datang. Ratusan juta orang mulai berpuasa. Aktivitas sehari-hari bergeser. Lebih pagi atau lebih sore. Menghindari panasnya siang yang membuat dahaga.

Rutinitas menjadi lebih teratur. Juga menjadi berkurang. Ini sesuatu yang seharusnya diapresiasi karena dengan berkurangnya aktivitas bisa jadi membantu proses jaga jarak. Orang lebih sadar akan kesehatan diri; terutama menyoal makan dan membersihkan diri. Selain itu tentu banyak orang menjaga kebersihan hati dan omongan.

Sayangnya masih banyak orang yang malah begitu antusias dengan membeli takjil, bahkan di pasar takjil yang mendadak muncul. Ada orang yang berjualan takjil. Ada yang membeli takjil. Ada yang hanya ikut-ikutan memeriahkan acara berburu takjil. Seru.

Namun jual beli takjil berarti ada interaksi antar manusia. Seberapa baiknya prokes, tetap saja ada yang tidak tertib. Pasti ada yang menikmati takjil selepas bedug berbunyi di tempat. Membuka masker untuk makan dan minum di tempat yang banyak orangnya. Ini bisa menyebabkan orang-orang tersebut rentan terhadap penyebaran pandemi.

Padahal bisa jadi karena proses puasa, banyak orang yang imun tubuhnya melemah. Penyebaran virus korona bisa merebak.

Di satu sisi, budaya jual beli takjil selama bulan puasa membantu menggerakkan ekonomi di masyarakat. Namun ancaman pandemi juga terus menghantui.

Setali tiga uang, di bulan puasa ada bukber – buka bersama. Ini sama serunya dengan berburu takjil. Banyak orang menggunakan bukber sebagai kesempatan silaturahmi antar keluarga, mitra bisnis, reuni sekolah, dan kolega di suatu organisasi.

Tidak ada salahnya mengadakan dan mengikuti suatu bukber. Hanya saja orang lupa bahwa bukber itu acara makan-makan. Saat makan, mau tak mau, orang harus membuka masker untuk sementara. Belum lagi kalau orang ingin foto-foto; baik dengan masker atau lepas masker sebentar saja.

Bisa jadi bukber menjadi kluster penularan yang baru. Coba bayangkan bila setelah mengikuti suatu bukber, lalu ada yang memberitahu kalau terinfeksi virus korona, maka orang-orang yang mengikuti bukber itu, suka atau tidak, harus tes apakah mereka terinfeksi virus tersebut atau tidak.

Memang bukber bisa menggairahkan roda ekonomi; terutama industri kuliner. Restoran, kafe, dan rumah makan yang sepi karena kurang pengunjung bisa meraup keuntungan dari reservasi bukber yang jumlah orangnya banyak.

Takjil dan bukber adalah aktivitas yang menyenangkan. Saya sendiri kangen dengan dua hal tersebut tiap kali bulan puasa tiba.

Namun saya prihatin bahwa banyak orang kurang bijak dalam menghadapi penyebaran virus korona. Demi cuan, menjual takjil, menawarkan bukber, tanpa memperhatikan bahwa orang bisa saja terkena virus korona.

Bukankah lebih baik bila masing-masing orang lebih mengutamakan aktivitas berpuasa dan beramal yang sifatnya pribadi; ketimbang ikut-ikutan aktivitas takjil dan bukber yang sifatnya ‘mengutamakan kenikmatan lidah dan kenyangnya perut’.

Puasa harus kembali ke fungsi utamanya. Dalam hal makan, tentulah orang sebaiknya menjaga nafsu makannya. Takjil dan bukber bisa jadi menjadi godaan yang sangat sulit ditolak.

Untuk Anda yang menjalankan ibadah puasa, semoga bisa melaksanakannya dengan baik hingga hari yang Fitrah di penghujung Idul Fitri.

Selamat menjalan ibadah puasa.

Perjalanan ke Shirakawa-go

Foto-foto rumah tradisional yang berdiri di Shirakawa-go membuat saya ingin mengunjungi tempat itu. Saya penasaran seperti apakah berada di dalam tempat tinggal dengan atap yang bentuknya unik itu.

Rumah tradisional itu bernama Gassho-zukuri yang berarti “dibangun seperti telapak tangan yang mengatup saat berdoa”. Mirip dengan posisi tangan para pendeta Buddha yang sedang berdoa. Menariknya, atap-atap rumah tersebut dibangun tanpa menggunakan paku.

Konon dengan arsitektur jaman dulu, rumah-rumah itu bisa bertahan puluhan hingga ratusan tahun. Bahkan ada beberapa rumah yang bertahan lebih dari 250 tahun. Hebat, bukan? Seperempat abad.

Bentuk segitiga sama sisi tersebut mampu menahan salju lebat yang turun di kawasan tersebut saat musim dingin. Maklum saja, Shirakawa-go merupakan tempat yang dikelilingi oleh hutan. Tempat ini juga menjadi salah satu tempat yang hujan saljunya sangat lebat. Tak jarang salju bisa menumpuk hingga dua meter tingginya.

Kata orang, mereka yang pernah menginap atau tinggal di Shirakawa-go merasa seperti tinggal di dunia tersendiri. Terpisah dari hiruk-pikuk dunia. Hal itu wajar tentunya karena lokasi Shirakawa-go memang benar-benar terisolasi dilihat dari perspektif geografi.

Lokasinya yang susah dijangkau itu yang membuat saya mengurungkan niat untuk melakukan perjalanan ke Shirakawa-go. Untuk bisa sampai ke tempat itu, dari Stasiun Kyoto harus ke Stasiun Nagoya terlebih dahulu. Setelah itu naik kereta atau bis ke Shirakawa-go. Perjalanannya makan waktu. Terlalu banyak transit. Biayanya terlalu tinggi. Harus menginap di tempat itu; yang sayangnya tidak memiliki banyak opsi penginapan yang relatif murah.

Pilihan harus dibuat. Tak semua hal yang diinginkan bisa diupayakan karena tak masuk prioritas dan pertimbangan lainnya.

Oleh karena itu, saya malam ini sudah cukup senang untuk menikmati “perjalanan” ke Shirakawa-go melalui video yang dibuat oleh Anna Film Production. Dengan video itu, saya bisa melihat dengan detail rumah tradisional dengan atap yang menjulang tinggi tanpa harus repot melakukan perjalanan darat yang makan waktu, dengan duduk saja di rumah, dan menyeruput kopi hitam.

Informasi mengenai Shirakawa-go bisa dilihat di:

Yuk, kita “jalan-jalan” bersama di Shirakawa-go…

Crossing the Rubicon

Istilah “Crossing the Rubicon” ini muncul karena tindakan berani yang dilakukan oleh Julius Caesar, jenderal perang yang ambisius dan menjadi seorang pemimpin terkenal dan legendaris di Roma dan dunia.

Saat itu Julius baru saja memenangi perang melawan Bangsa Galia. Perang berakhir setelah Julius bisa menaklukkan sebuah wilayah bernama Alesia, tak jauh dari perbatasan Germania. Namun para senat Roma memanggilnya pulang ke Roma.

Para senat itu takut dengan Julius yang makin populer di mata rakyat Roma. Padahal rakyat Roma menyukai pemimpin yang bisa menaklukkan wilayah baru dan menang perang. Oleh karena itu para senat ingin menyingkirkan Julius.

Para senat mengirimkan mandat supaya Julius meninggalkan posisinya sebagai jenderal perang, pulang ke Roma tanpa tentaranya, dan bersedia diadili karena memutuskan berperang melawan Bangsa Gaia tanpa minta persetujuan dari senat. Intinya, Julius akan kehilangan segala kekuasaan militer, kekayaan, dan posisinya di politik Roma.

Julius menerima panggilan para senat untuk pulang ke Roma. Julius pulang bersama dengan para tentaranya. Jumlahnya besar. RIbuan tentara. Tentara yang sudah kuat dan terlatih karena ditempa oleh perang melawan Bangsa Galia.

Namun ada permintaan khusus dari Senat. Julius harus meninggalkan tentaranya di batas paling utara Italia. Apabila Julius memasuki kota Roma dengan pasukan, tindakannya akan dianggap sebagai upaya untuk makar. Tetap memutuskan untuk masuk beserta tentaranya, pastilah perang saudara tidak akan terelakkan. Tentu Julius akan disambut dengan tentara Roma lainnya yang ingin mempertahankan keamanan republik.

Dalam perjalanan pulang ke Roma, sampailah Julius ke Sungai Rubicon. Sungai yang berada di sebelah utara Italia, tak terlalu jauh dengan kota Roma, alirannya membentang dari barat ke timur. Sungai ini menjadi penanda batas terakhir di mana sang jenderal perang harus meninggalkan tentaranya dan menuju ke Roma tanpa pengawalan tentaranya.

Julius paham bahwa para senat tak menyukai dirinya. Bisa saja para senat mengirimkan orang untuk membunuh Julius, yang tanpa disertai tentaranya yang jumlahnya besar, di tengah jalan.

Julius juga sadar bahwa membawa serta pasukannya memasuki kota Roma sama saja dengan tindakan memberontak dan ingin menguasai Roma dengan kekuatan militernya. Risikonya besar jika akhirnya terjadi perang saudara. Jika Julius kalah, bisa diasingkan ke pulau yang jauh atau dihukum mati.

Ada pergolakan dalam diri Julius. Menghadapi dilema. Julius tahu bahwa dia harus mengambil sebuah keputusan. Julius juga tak bisa menunda-nunda kepulangannya ke kota Roma. Harus memilih di antara dua pilihan dengan segera.

Julius hanya perlu memilih satu dari pilihan yang ada. Pertama, meninggalkan tentaranya dan memasuki kota Roma untuk diadili. Kedua, membawa serta pasukannya memasuki kota Roma dan menghadapi perang saudara.

Di tepi Sungai Rubicon, Julius mengambil keputusan yang mengubah jalan hidupnya sekaligus mengubah jalan sejarah Republik Roma.

Julius memutuskan untuk membawa serta pasukannya yang paling tangguh dan berpengalaman. Ini keputusan berani. Risikonya lebih besar dari pilihan yang lain. Namun, Julius bisa meraih kekuasaan dan kesuksesan yang lebih besar dari apa yang selama ini bisa dia dapatkan. Jika menang perang dan berhasil memasuki kota Roma.

Keputusan itu tidak menjamin keberhasilan Julius. Mirip seperti judi. Bisa saja keputusan tersebut akan menjadi akhir kisah Julius yang tragis. Keputusan itu bisa dianggap seperti sebuah perjudian.

Alea iacta est

Di tepi Sungai Rubicon, Julius mengatakan ini. Alea iacta est. Dalam bahasa Inggris berarti “the die has been cast”. Lebih kurang diartikan sebagai “dadu telah dilempar”.

Pada jaman Romawi, permainan dadu memang populer. Melempar dadu menjadi sebuah simbol untuk melakukan tindakan yang berbahaya namun bisa jadi menjadi sebuah peluang. Ini suatu kesempatan.

Saat Julius telah memutuskan untuk maju terus, tak ada lagi pikiran untuk balik badan. Langkah kaki mantap menuju ke depan. Tak bisa berhenti. Tak bisa mundur. Tak bisa diralat. Sebuah keputusan yang dibuat satu kali saja.

Julius pun harus menghadapi perang saudara dengan melawan pasukan Romawi yang dipimpin oleh Pompey, politisi yang sama-sama memiliki kekuatan militer dan berpengalaman dalam perang. Selepas perang, Julius harus kembali lagi ke Roma untuk membereskan kekacauan karena para Senat dan tentara Romawi meninggalkan kota itu.

Akhirnya setelah berbagai rintangan dan intrik politik, Julius menjadi seorang pemimpin tunggal Roma. Julius menggunakan titel Diktator alih-alih Konsul, dengan begitu Julius bisa segera membuat keputusan menyeluruh tanpa harus direcoki oleh Senat. Preseden ini yang menjadi titik di mana Republik Roma berubah menjadi Kekaisaran Roma.

Julius bukanlah seorang kaisar. Namun namanya, Caesar, dipakai sebagai nama titel pemimpin Romawi berikutnya, yaitu Kaisar Octavianus Augustus dan kaisar-kaisar berikutnya.

Tentang ‘crossing the Rubicon‘, kita tentu juga memiliki momen-momen seperti itu dalam hidup ini. Seseorang harus melewati sebuah batas imajiner dari zona nyamannya. Entah itu keputusan untuk merantau ke tempat yang jauh. Bisa juga dengan tekad untuk getting married. Undur diri dari tempat kerja, membuka usaha sendiri dan menjadi mandiri secara finansial. Menjadi seorang pejabat publik. Memilih sebuah profesi yang ingin ditekuni.

Momen-momen seperti itulah yang harus dipertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Setelah keputusan diambil, dilaksanakan dengan segenap hati dan jiwa raga.

Tak ada jaminan keberhasilan. Namun sebuah tindakan harus diambil. Biarkan yang di atas sana yang mengaturnya untuk kita, insan manusia. Kita hanya bisa melakukannya dengan sungguh-sungguh untuk mencapai impian yang bisa mengubah arah hidup kita.

Let’s cross the Rubicon…

Surga Bernama Amalfi

Pagi ini, setelah sarapan dan minun teh, saya “berjalan-jalan” ke Amalfi. Melihat-lihat suasana kota yang terletak di pantai Teluk Salerno, wilayah Campania di provinsi Salerno, Italia.

Saya menikmati keindahan Amalfi dengan duduk santai di rumah. Tepatnya saya menonton video YouTube dengan resolusi 4K di layar monitor lebar. Terasa lapang. Puas memandang surga di dunia itu. Nyaman dan murah. Tak takut pandemi.

Amalfi sendiri dikelilingi oleh tebing. Pesisir pantainya menawarkan lautan biru tanpa batas. Menatap ke arah Laut Tengah. Amalfi memiliki garis pantai sepanjang hampir 50 kilometer, sesuai untuk wisata dan untuk membangun dermaga kapal-kapal.

Amalfi kota yang kaya karena jaman dulu kota pelabuhan ini menjadi titik perdagangan di kota-kota yang berada di Mediterania. Area tempat tinggal penduduknya sangat unik karena didirikan di tebing yang berundak. Rumah-rumah bertumpuk sesuai dengan kontur tebing. Warna-warni dengan warna pastel sehingga kaya warna namun tetap serasi dengan rumah-rumah sekitarnya.

Orang bisa naik kapal untuk menikmati laut di sekitarnya. Bisa juga dengan mencicip makanan dan kafe yang ada di sepanjang jalanan. Ada Amalfi Cathedral yang sudah sangat tua usianya. Arsitektur bangunan di Amalfi juga dipengaruhi oleh budaya Afrika Utara dan memang bertahan lama karena dibangun dengan batu-batu dan struktur yang kokoh.

Alamnya yang indah dan terkesan tua membuatnya menjadi tempat membuat film Wonder Woman. Amalfi menjadi Themyscira; tempat Wonder Woman ditempa saat kecil. Tapi sepertinya banyak penonton yang tak menyangkanya.

Amalfi memang indah. Tempat yang indah untuk menikmati hidup di dunia dengan sesaat berada di surga yang terletak di Benua Biru. Ingin tahu seperti apa cantiknya Amalfi? Yuk, barengan nonton.

La Vie en rose (Lagi)

Baiklah. Ini sudah kali kedua saya menuliskan tentang lagu berjudul La Vie en rose. Silakan membaca tulisan pertama saya tentang La Vie en rose di artikel ini.

Kali ini saya ingin bercerita alasan saya sangat suka dengan lagu ini. Saya mendengarkan lagu ini pertama kali saat mengunjungi sebuah pusat jajan serba bernama Food Republic, yang berada di sebuah komplek perkantoran di Suntec City. Ada banyak penjual makanan. Aneka ragam. Tempat duduknya luas. Suasananya asyik. Namun satu yang tak bisa dipungkiri, ada lagu yang diputar berulang-ulang. Lagu tersebut tak lain berjudul La Vie en rose. Sekali dua mendengarnya, saya langsung menyukai lantunan nada dan kata yang mendayu-dayu itu. Sembari menikmati makanan dan menyeruput minuman.

Berkali-kali juga saya mengunjungi tempat makan itu saat makan siang atau setelah jam kantor berakhir. Mencoba makanan yang berbeda-beda tiap saatnya. Menikmati makanan sendirian, bersama rekan kerja, atau siapa saja yang kebetulan ingin makan bersama. Namun lagu yang diputar secara dominan tetap sama. La Vie en rose.

Mungkin karena puluhan kali saya tak menyadari telah mendengarnya, lagu tersebut tertanam secara bawah sadar ke benak saya. Mungkin juga memasuki relung hati saya. Lagunya tak pernah membosankan meski sudah diputar berulangkali. Mungkin kalau diputar dengan kaset, kasetnya rusak, tetap saja tak pernah berhenti ingin mendengarkannya lagi dan lagi. Lagu ini salah satu lagu favorit saya.

Malam ini, saat lembur santai, saya menemukan lagu La Vie en rose versi yang satu jam. Nadanya menenangkan jiwa. Suara penyanyi yang melantunkannya terdengar lembut dan menghipnotis. Permainan gitar akustiknya menggelitik. Syairnya dalam bahasa Perancis dan bahasa Inggris bergantian dinyanyikan. Pas. Kedua versinya memang sama-sama enak didengar. Syair bahasa Perancis memberikan nuansa romantis yang unik meski tak paham artinya. Sedangkan lirik bahasa Inggrisnya mudah dipahami dan tetap menggambarkan romansa dengan jelas.

Mari menikmati malam yang dingin dengan lagu syahdu tentang cinta.