Moon River

Entah sudah berapa kali saya memutar lagu berjudul Moon River ini. Belasan kali. Mungkin lebih. Saya merasa bahwa malam ini saya mendengarkan lagu ini untuk pertama kalinya. Begitu mendengar lantunan nadanya, langsung mengena. Lagu ini langsung saya sukai.

Liriknya ada. Saya baca. Tak benar-benar memahaminya maksudnya apa. Lagu sedih? Lagu romantis? Sungguh tak ada ide. Otomatis saya melakukan pencarian untuk mencari makna lagu ini. Saat mencari arti lagunya kebetulan menemukan latar belakang dari lagu yang fenomenal ini.

Artikel berjudul “Moon River” from “Breakfast at Tiffany’s” Was Actually Inspired By the South menjelaskan kisah di balik pembuatan lagu ini. Lagu ini istimewa karena menjadi lagu yang dinyanyikan secara akustik oleh Audrey Hepburn dalam adegan di film Breakfast at Tiffany’s – film jaman dulu sekali. Lagu legendaris yang sudah dicover oleh banyak penyanyi ini nyaris dipotong dari rilis film untuk rilis di bioskop. Untung pencipta musik, pemusiknya, dan aktrisnya bersikeras untuk tetap menyajikan lantunan lagu ini.

Kembali ke maknanya ternyata lagu ini memiliki banyak interpretasi. Tergantung perspektif pendengarnya. Bisa dibaca di Quora tentang “What is the meaning of the Moon River song?”.

Salah satu pemaknaan yang saya suka adalah lagu ini bercerita tentang seseorang yang melakoni sebuah perjalanan hidup. Ada banyak pasang naik dan surut. Ada harapan dan ada kecewa. Namun, semuanya akan kembali ke satu muara yang sama di akhir kehidupan.

Ada juga pandangan yang cukup romantis. Dalam hidup ini, seperti laiknya mengarungi perjalanan, ada banyak hal yang tak diketahui di masa depan. Namun, bersama dengan pasangan hidup berani menerima tantangan untuk tetap maju ke depan.

Entahlah! Mungkin tak perlu dicari-cari maknanya. Somehow lagu ini mendayu lembut dan menghanyutkan ke alam impian yang indah. Nada yang memberikan warna bahwa hidup ini indah. Nikmati dan jalani selagi kita masih punya kesempatan hidup.

Ada banyak versi dari lagu ini. Untuk saya versi dari Frank Sinatra terdengar gagah indah dengan tempo yang pas. Versi dari duo Nieka Moss dan Jason Lux mengalun apik menghipnotis dengan denting piano yang menari lincah. Sedangkan versi pertama dari Audrey Hepburn begitu sederhana tetapi sangat berkesan dengan instrumen petik akustik. Ketiga-tiganya memiliki keindahan masing-masing. Suka dengan tiga versi ini.

Silakan menikmatinya. Lebih pas didengarkan di malam hari sembari menyeruput kopi atau teh. Membuat hati terasa hangat. Hidup menjadi lebih human.

Frank Sinatra
Nieka Moss dan Jason Lux
Audrey Hepburn

Lansia dan Impian

Orang sering bilang seperti ini. Wujudkanlah impian selagi masih muda. Jika sudah berumur, sangat susah atau tidak mungkin lagi meraih cita-citamu. Bisa jadi kata-kata itu benar adanya.

Hanya saja ternyata para lanjut usia masih berhak memegang erat impian mereka. Siapa tahu impian justru dicapai saat mencapai usia emas. Contohnya seperti nenek berusia 82 tahun bernama Wally Funk. Nenek lincah ini menjadi orang tertua di Bumi ini yang pernah merasakan pengalaman di luar angkasa.

Wally Funk mendapatkan kesempatan untuk duduk di satu dari empat kursi astronot di wahana luar angkasa tanpa pilot New Shepard yang dibuat oleh perusahaan bernama Blue Origin. Peluncuran berawak ini merupakan pertama kalinya bagi perusahaan yang didirikan oleh Jeff Bezos – orang terkaya di dunia karena mendirikan perusahaan Amazon.

Nenek Wally tentulah bukan nenek biasa saja yang mendadak beruntung. Tentu tidak. Waktu muda Wally memang pernah terpilih sebagai astronot wanita. Sayangnya program peluncurannya saat itu dibatalkan oleh NASA. Wally tak menyerah begitu saja. Beberapa kali Wally melamar lagi dan lagi untuk menjadi astronot NASA. Sayangnya usahanya tidak berhasil. Wally memutuskan menjadi pilot pesawat hingga mampu menerbangkan banyak jenis pesawat. Wally juga menjadi instruktur terbang bagi penerbang muda. Hebat, kan?

Impiannya tetap Wally pegang. Si Nenek ingin mengangkasa dan melihat Si Biru dari tepian atmosfer. Hari Selasa tanggal 20 Juli 2021, Nenek Wally berhasil mendapatkan cita-citanya. Bukan di saat usianya muda. Justru saat umurnya sudah 82.

Mungkin karena cita-citanya memang sangat kuat, Nenek Wally tetap bersemangat hidupnya. Tubuhnya tetap prima di usia senja. Dengan begitu, saat kesempatan emas datang, Nenek Wally bisa ikut serta menikmati sensasi melayang sesaat tanpa gravitasi di luar angkasa sana.

Nenek Wally bukan satu-satunya orang yang mewujudkan impiannya di saat senja. Contoh lainnya adalah Harland David “Colonel” Sanders pendiri KFC. Baru mulai membuat waralaba bisnis ayamnya pada usia 65 tahun. Semuanya tak instan seperti ayamnya yang termasuk jenis makanan siap saji. Perlu 9 tahun untuk bereksperimen menciptakan resep yang istimewa.

Oleh karena itu jika di usia kita yang muda sudah merasa semuanya terlambat, lihat kembali mereka yang tetap berjuang untuk mewujudkan impian mereka. Ada sesuatu yang layak dan pantas diperjuangkan. Tak hanya menyerah pada keadaan dan menyalahkan kondisi saat ini.

#followyourdream

#keepdreaming

PPKM

Singkatan PPKM sedang ramai dibicarakan oleh orang banyak. Anehnya, banyak orang tak benar-benar mengerti kepanjangan PPKM. Orang sekilas hanya berpikir bahwa PPKM itu nama alias dari lockdown. Apakah Anda tahu kepanjangan dari PPKM? Tidak tahu?

Baiklah. PPKM merupakan kepanjangan dari Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Pemerintah pusat memberi instruksi pelaksanaan PPKM yang bertujuan untuk bisa menekan jumlah penularan virus Covid-19 di Pulau Jawa. Virusnya hadir dengan varian Delta. Varian virus korona yang lebih dahsyat dan lebih cepat menular.

Sayangnya, tak semua masyarakat di Pulau Jawa setuju dengan kebijakan PPKM ini. Pembatasan yang masif di banyak kota menyebabkan roda ekonomi berjalan tertatih-tatih. Banyak orang kehilangan mata pencaharian. Entah usahanya gulung tikar atau kena PHK. Banyak pihak yang sulit untuk golek upo (mencari sesuap nasi) karena imbas PPKM.

Oleh karena itu banyak yang mengganti singkatan PPKM dengan Pelan Pelan Kita Mati. Jika tak mati karena virus korona, ya mati karena tak bisa makan. Apa pun itu, banyak orang berpikir kita semua akan mati dengan perlahan. Hanya menunggu waktunya saja. Benarkah?

Entahlah. Harapan semua orang, termasuk pemerintah, PPKM hanya berlaku sementara saja. Dilematis. Hanya saja tanpa PPKM, fasilitas kesehatan di banyak kota akan kolaps. Rumah sakit tak lagi mampu mengatasi jumlah pasien penderita Covid-19. Hasilnya tentu menyeramkan. Tingkat kematian akan virus korona akan naik drastis. Berikutnya, proses pemulasaran akan terganggu karena permintaan yang besar tak didukung oleh tenaga yang sudah kelelahan. Banyak korban meninggal akan terkatung-katung tak bisa dimakamkan dengan layak. Mengerikan, kan?

Oleh karena itu, pemerintah pusat mengambil keputusan yang tidak populer. Menarik rem ekonomi yang pasti terimbas oleh PPKM. Harapannya untuk meringankan fasilitas kesehatan supaya tidak kolaps dengan alur masuk pasien penderita korona. Jika pembatasan dilakukan, aktivitas sehari-hari akan berkurang. Penularan virus jumlahnya diharapkan menurun.

Itulah pentingnya PPKM. Mengetatkan pinggang ekonomi tetapi memberi sedikit kelegaan bagi fasilitas kesehatan yang menangani penderia Covid-19. Harus diingat bahwa jumlah dokter, perawat, dan tenaga kesehatan banyak berkurang karena meninggal terpapar Covid-19. Vaksin dan prokes ketat tetap tak menjamin 100% keselamatan mereka yang berjuang demi keselamatan penderita Covid-19.

Apakah PPKM perlu? Ya. Apakah PPKM berkepanjangan perlu dilakukan? Sebaiknya tidak. Karena PPKM berkepanjangan adalah vonis hukuman mati perlahan bagi penghidupan banyak orang. Kita hanya berharap begitu kenaikan penderita Covid-19 melandai semoga pembatasan bisa dikurangi sehingga roda ekonomi kembali bergerak.

Perjalanan Waktu

Waktu merupakan sesuatu yang berharga. Sebagai manusia, kita hanya bisa menjalani hidup dengan waktu yang diberikan ke diri kita masing-masing. Waktu yang sudah dilalui akan menghilang dan manusianya bergerak maju. Manusia tak bisa mengulangi masa lalu. Tiap manusia memiliki durasi hidup yang berbeda-beda, ada yang cukup panjang dan ada yang sangat pendek. Tak ada yang tahu kapan seseorang sudah habis waktunya untuk hidup di dunia ini. Itulah yang membuat waktu menjadi sangat berharga bagi manusia.

Namun, manusia memang makhluk yang ajaib. Ada begitu banyak manusia yang ingin bisa memiliki tambahan waktu dalam hidupnya. Entah itu hidup lebih lama. Bisa jadi mengulang hidup yang telah berlalu. Bahkan manusia berandai-andai dan berharap akan ada semacam perjalanan waktu.

Sayangnya, hingga tahun 2021 ini, perjalanan waktu hanyalah teori semata. Tak ada suatu teknologi atau cara untuk melakukan perjalanan waktu yang nyata. Oleh karena itu banyak manusia yang membuat film atau serial tv mengenai perjalanan waktu.

Salah satu serial tv yang sedang saya tonton berjudul Alice. Drama Korea yang dirilis tahun 2020 ini menceritakan tentang sebuah kekacauan yang ditimbulkan oleh sekumpulan manusia yang bisa melakukan perjalanan waktu. Padahal ‘mesin waktu’ dengan menggunakan ‘kartu waktu’ sebenarnya bertujuan baik. Perjalanan waktu ditujukan bagi orang di masa depan untuk kembali ke masa lalu supaya bisa berdamai dengan dirinya di masa lalu. Sayangnya ada saja yang melanggar protokol perjalanan waktu sehingga alur kehidupan menjadi berjalan menyimpang.

Saya belum selesai menonton serial tv yang dibintangi oleh Kim Hee-sun dan Joo Won tersebut. Masih ada rasa penasaran tentang apa yang akan terjadi di episode berikutnya. Jarang sekali saya tetap bisa mengikuti serial tv yang episodenya mencapai belasan. Mungkin karena premisnya menarik yaitu ‘apakah perjalanan waktu memang diperlukan oleh manusia?’ dan ‘jika perjalanan waktu memang ada, titik momen apa yang ingin Anda ulang?”

Mimpi tentang Perjalanan Waktu

Mungkin karena tadi malam saya menonton beberapa episode Alice, saya jadi bermimpi tentang perjalanan waktu. Dalam mimpi itu, entah di mana dan kapan, pada akhirnya saya bisa melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Kemudian saya tak memiliki keinginan untuk kembali ke masa depan. Mungkin karena merasa nyaman dan suka dengan kejadian di masa lalu. Seperti kata pepatah, The Good Old Days. Mimpi yang absurb. Namun, begitulah sebuah mimpi.

Mengulang Masa Lalu

Sebuah pertanyaan muncul. Jika ada mesin waktu, di momen mana dalam kehidupan yang ingin saya pilih sebagai titik perjalanan waktu ke masa lalu? Sesaat saya memikirkannya. Berkali-kali saya memilih untuk kembali ke tahun 2007. Tahun pertama merantau. Ada begitu banyak hal baru yang saya alami di tahun itu. Mungkin karena ada beberapa hal yang harusnya bisa saya lakukan dengan lebih baik di tahun-tahun setelah itu.

Faktanya Kita Tak Bisa Mengulang Masa Lalu

Itulah kenyatannya. Oleh karena itu, hal terbaik yang bisa dilakukan adalah menikmati dan memperjuangkan momen-momen kehidupan di saat ini. Sekarang ini juga. Apa pun yang terjadi saat ini dan dalam hari-hari ke depan akan mempengaruhi masa depan. Masa lalu biarlah terjadi di masa lalu. Masih banyak lembaran masa depan yang perlu dijalani.

Apakah Perjalanan Waktu itu Perlu?

Mungkin. Sayangnya manusia mudah terjebak ke masa lalu. Jika ada perjalanan waktu bisa jadi akan membelenggu manusia yang harusnya bisa melangkah ke masa depan ke dalam masa lalu yang sebenarnya sudah menjadi sejarah dan tak lagi relevan. Perjalanan waktu adalah sesuatu yang berat bagi manusia. Biarlah perjalanan waktu menjadi tema film atau serial tv saja. Dengan begitu perjalanan waktu bisa tetap dinikmati sebagai khayalan yang mengasyikkan.

Bimbingan Konseling

BK. Itulah kependekan dari Bimbingan Konseling. Biasanya BK kita temukan di bangku sekolah. Guru BK menjadi orang yang bertugas untuk memberikan bimbingan kepada murid sekolah.

Sayangnya banyak orang memiliki stigma kepada profesi tersebut. Guru BK dianggap sebagai orang yang menangani murid bermasalah. Entah itu tawuran, kenakalan remaja, murid perempuan yang bunting, atau apa pun yang dianggap sebagai masalah bagi sekolah tersebut. Alhasil, guru BK identik dengan ‘pengakuan dosa’ dan ‘pemberi hukuman’. Jika ada murid yang nakal maka dianggaplah guru BK tak mampu bekerja dengan baik. Kenakalan adalah tanggung jawab guru di posisi yang tak populer itu.

Posisi dalam pengajaran pun menjadi bias. Guru BK dianggap tak sepenting guru pengampu mata pelajaran utama, seperti matematika, Bahasa Indonesia, dan mapel yang diujikan. Bahkan guru BK bisa digantikan oleh guru lain yang sedang tak bertugas/tugas rangkap. Jika siswa lulus dengan nilai yang bikin bangga sekolah dan ortu, dipujilah guru mapel penting yang masuk ujian. Sedangkan guru BK tak pernah mendapatkan pujian jika anak muridnya bertobat dan kembali belajar seperti murid lainnya. Pencapaian guru BK sepertinya susah dinilai dan susah dilihat.

Belum lagi tantangan bahwa tak semua sekolah ‘merasa’ membutuhkan guru BK. Posisinya bisa digantikan guru agama yang menekankan pada akhlak dan perbuatan baik menurut agama. Jika ilmu agamanya baik, anak didiknya tak mungkin nakal. Pekerjaan sebagai guru BK tak terlalu menjanjikan karena permintaannya kurang dianggap mendesak.

Orang tua murid juga merasa jengkel jika harus hadir di sekolah saat anaknya terbukti melakukan kenakalan. Kemungkinan bertemu dengan guru BK. Bukan pengalaman menyenangkan karena orang tua murid mungkin malu dengan kelakuan anaknya tetapi di satu sisi ingin membela anaknya sendiri.

Lengkap sudah tantangan yang harus dihadapi oleh guru BK. Belum lagi ada pemikiran bahwa mereka yang menempuh pendidikan sebagai guru BK adalah mahasiswa/mahasiswi yang kurang encer otaknya dibandingkan mereka yang mengambil program pendidikan yang banyak peminatnya. Sepertinya identik bahwa mereka yang ingin menjadi guru BK semata-mata karena kurangnya pilihan dan kemampuan. Jika mereka cukup mampu kemampuan otaknya, lebih menjanjikan mengambil pendidikan psikologi. Lulusan prodi psikologi tentu mampu menjadi guru BK karena mempelajari spektrum pembimbingan mental dan manusia secara lebih luas.

Tentu saja perlu adanya guru BK dalam suatu lingkungan sekolah karena anak-anak muda tersebut memerlukan seseorang yang mampu dan mau menjadi tempat curhat, tempat bertanya solusi, dan tempat mereka tahu jalan terbaik apa yang harus mereka tempuh.

Sayangnya, begitulah nasib guru BK. Profesi yang tak diminati dan dianggap tak penting-penting amat bagi sekolah. Oleh karena itu bisa dipahami jika banyak guru BK yang memilih profesi lain yang dianggap memberikan pendapatan dan penghargaan yang lebih baik dibanding sekedar menjadi guru BK di sebuah sekolah.

Notepad

Aplikasi Notepad benar-benar teks editor yang sederhana. Tidak memiliki fitur beragam yang membuat penggunanya bingung. Saya pikir Notepad memberikan kesempatan bagi penggunanya untuk menulis dengan nyaman dan apa adanya.

Mengetikkan apa yang ada di pikiran. Tekan Kontrol+S untuk menyimpan teks. Selesai. Tidak perlu lama menunggu aplikasinya untuk membuka, memproses, dan menutup.

Notepad adalah aplikasi yang sederhana. Memberikan saya rasa nyaman untuk menulis bebas.

Belasungkawa dan WhatsApp

Saya suka membuka WhatsApp karena ada berbagai macam topik yang berseliweran. Beragam. Unik. Menarik.

Sayangnya akhir-akhir ini kata yang paling sering muncul adalah ‘belangsungkawa’. Turut berduka cita karena ada saja yang meninggal. Dulu, biasanya Rest In Peace untuk yang sudah lanjut usia. Sesuatu yang normal dan wajar. Nanum, akhir-akhir ini harus mengucapkan duka cita untuk segala usia yang kebanyakan meregang nyawa karena pandemi Covid-19.

Satu dua ucapan dukacita tentu membuat perasaan tak enak. Bayangkan jika harus membaca dan turut menuliskan kata-kata sedih yang sama. Aura negatif membuat perasaan menjadi ikut galau. Atmosfer kesedihan yang melanda setiap harinya.

Hampir semua grup WhatsApp mengandung tiga kata kunci yang relatif berulang. Covid-19, vaksin, dan belangsungkawa. Sedikit banyak membuat saya tak lagi suka membuka dan membaca aplikasi dengan ikon berwarna hijau tersebut.

Berbeda dengan membaca kematian ratusan atau ribuan orang di surat kabar online. Berjarak. Tentu mereka sesama manusia. Namun, saya tak mengenalnya. Berbeda dengan ucapan belasungkawa yang hanya berjarak 1-3 orang dari tali relasi yang terbentuk. Semisal, kakak ipar dari teman satu komunitas dengan saya. Tak dekat. Juga tak jauh. Masih relatif lingkaran yang sama. Begitu pula dengan orang tua dari teman alumni. Tentu tak jauh sekali.

Jika orang-orang di lingkaran kecil atau besar kita mengalami duka cita. Efeknya tentu merembet karena kita makhluk yang memiliki empati. Merasa terhubung satu sama lainnya secara kolektif.

Berbelasungkawa tentu baik adanya karena mendoakan mereka yang sudah mendahului kita ke alam baka. Namun, mengucap dan membaca belasungkawa setiap hari adalah hal yang mengerosi jiwa. Sedikit demi sedikit.

Saya hanya berharap pandemi melandai dan lebih terkendali. Dengan begitu, tak tiap hari membaca belasungkawa di grup WhatsApp sesering hari-hari terakhir ini.

Nglakoni Urip

Malam Jumat ini kami duduk bersama sekira dua jam. Tempat berbeda, di rumah masing-masing. Namun, hadir di jam yang sama. Kami terhubung melalui Zoom. Lebih dari itu, kami terhubung dalam satu niat yang sama untuk memberikan jeda sesaat bagi jiwa raga. Jeda yang sangat diperlukan dalam kehidupan masa kini yang relatif cepat dan sibuk dengan segala urusan hidup. Kami juga melatih diri untuk bisa berkomunikasi dengan guru sejati kami. Tentu, kami juga mendapat kesempatan untuk mendengarkan satu dua petuah kehidupan dari pamong kami yang semoga bisa menjadi bekal untuk menjalani kehidupan (nglakoni urip) ini dengan lebih baik.

Tempat untuk Pulang

Dalam kehidupan ini, manusia melakukan perjalanan. Ada yang perjalanannya panjang dan berliku. Ada juga yang cukup pendek dan lurus. Masing-masing individu memiliki jalannya masing-masing. Namun, dalam perjalanannya tiap insan merindukan ‘tempat untuk pulang’.

Tempat untuk pulang bisa berbeda-beda. Ada yang merasakan bahwa pulang ke rumah orang adalah tempat untuk pulang. Orang lain ada yang berpikir suatu tempat ibadah itu rumahnya. Mungkin juga kampung halaman. Apa pun itu ada suatu tempat di mana “after walking far far away, I want to go back at my home“.

Pamong kami mengandaikan tempat untuk pulang itu seperti terminal bis. Setiap hari bis memulai perjalanannya berkeliling menuju ke banyak tempat dari sebuah tempat bernama terminal. Pergi jauh, pergi ke banyak tempat, dan akhirnya kembali ke terminal yang sama. Bis kembali untuk dirawat, dibersihkan, dan dipersiapkan untuk perjalanan esok harinya. Begitu seterusnya seperti siklus kehidupan.

Hal tersebut mengingatkan saya tentang binatang-binatang yang terlahir di suatu tempat. Bertumbuh besar. Memulai perjalanan. Kemudian kembali ke tempat yang sama untuk beranak-pinak, sebentar membesarkan anak-anaknya, dan kemudian berpulang ke Sang Pencipta Semesta. Tak hanya manusia yang bisa ‘mudik’. Baik ikan, burung, binatang berkaki empat pun ingin ‘mudik’ ke tempat untuk pulang.

Dan sebagai insan manusia, pertanyaan yang muncul adalah ‘di mana tempat yang bisa aku sebut sebaga tempat untuk pulang?” Seperti sebuah siklus, ada awal dan akhir dari suatu perjalanan kehidupan.

Mengubah Sesuatu

Manusia memiliki keinginan yang kuat untuk mengubah sesuatu dalam hidupnya. Ketika melihat sesuatu yang merasa perlu perbaikan atau peningkatan, seseorang bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang bisa saya ubah?

Tentu banyak hal yang bisa kita ubah. Ada rasa puas saat bisa mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Hal yang sulit diterima adalah ketika kita tidak bisa mengubah sesuatu; setelah melakukan sebuah usaha yang penuh perjuangan. Rasa yang muncul bisa dalam bentuk rasa jengkel, rasa kecewa, dan bahkan frustasi. Tak semua di dunia ini bisa kita ubah, kan?

Oleh karena itu, alangkah bijak jika kita memiliki kekuatan untuk menerima yang tidak bisa saya ubah. Niatnya sudah baik. Jika akhirnya suatu perubahan belum atau tidak terjadi, ya nrimo (menerima).

Memilih Langkah dalam Kehidupan

Begitu juga dengan menghadapi suatu pilihan dalam langkah kehidupan. Kadang jelas apa yang harus kita pilih. Pilih A atau pilih B. Di saat yang lain, pilihannya tak sejelas itu. Orang takut salah. Salah untuk memilih. Pertanyaan muncul, “Bagaimana jika saya pilih A?”, “Seandainya saya pilih B, apakah membuat saya bahagia?”, atau “Sebenarnya lebih benar yang mana, pilih A, pilih B, atau pilih C?”.

Kalau pilihan saya salah, bagaimana ya? Itu inti dari pertanyaan yang sering membuat banyak pribadi gundah gulana hingga pusing tujuh keliling. Memutuskan pilihan karier, pasangan hidup, cara hidup, tempat hidup, hingga jalan hidup.

Adanya pilihan yang jumlahnya lebih dari satu itu bisa membingungkan manusia. Ada hal yang sederhana seperti makan di warung bakso. Tidak ada pilihan menu karena sajiannya cuma satu. Bakso. Mungkin ada pilihan kecil, apakah mau pakai mie, tambah bakso goreng, atau kuahnya dikurangi.

Terbalik 180 derajat dengan makan di restoran ala tionghoa. Orang biasanya perlu waktu untuk memilih makanan. Pilihan menunya teramat banyak. Seperti rumah makan Hao Mei di Yogya, untuk menu mie saja ada banyak pilihan. Mau pilih mana, mie goreng ayam, mie goreng sapi, mie siram polos, mie kuah ayam, mie kuah seafood, mie kangkung terasi, atau tamie? Galau memilih tapi sudah ingin cepat-cepat makan.

Ada juga tempat makan yang menyajikan tiga menu. Soto, bakso, dan gado-gado. Memilih satu dari tiga jauh lebih mudah, kan? Jika yang dipilih adalah bakso, ya makan bakso. Setali tiga uang, makan soto jika sudah memesannya. Pilihan mana yang hendak dipilih, itulah pengalaman yang akan didapatkan. Tak ada pilihan yang salah.

Sama seperti langkah kehidupan, jika seseorang sudah memutuskan langkah, jalani saja. Nglakoni. Apa pun yang nantinya dihadapi, ya harus dihadapi. Bukan untuk dihindari. Bukan untuk disesalkan di kemudian hari.

Justru yang membuat pikiran pusing adalah suara-suara dari orang lain; terutama yang dekat dengan kita. Keluarga, teman dekat, atau pasangan. Ada saja yang ‘menyalahkan’ kita saat terjadi sesuatu yang mungkin tidak mengenakkan – yang berasal dari pilihan yang dibuat sendiri. Suara sumbang, parau, dan negatif.

Oleh karena itu, sebagai individu perlu untuk jeda dari suara-suara yang riuh. Untuk bermeditasi. Menemui guru pribadi. Untuk menanyakan ke diri sendiri. Untuk mendapatkan jawaban-jawaban dari saat yang tenang dan jernih. Hingga akhirnya menemukan sikap yang harus diambil. Hingga akhirnya bisa Let It Go. Legowo. Untuk mengakui bahwa pilihan yang saya ambil merupakan tanggung jawab saya pribadi. Bukan karena terpengaruh oleh orang lain; yang pada umumnya tak terlalu peduli atau tak terlalu paham dengan apa yang diri kita rasakan, pikirkan, dan alami.

Dan yang paling tidak bijak adalah menyerahkan pengambilan keputusan ke orang lain; siapa pun orang itu bagi kita. Waton manut (hanya menurut) karena tidak mau berpikir lagi. Menggantungkan diri dan kehidpan kita pada orang lain.

Perubahan dan Peningkatan

Suatu pertanyaan muncul. Bagaimana meditasi kami, apakah ada perubahan dan peningkatan?

Lebih kurang jawabannya seperti ini. Di dalam meditasi ada suatu perubahan yang terjadi. Perubahan kondisi. Perubahan suasana. Perubahan dalam diri. Suasana orang-orang yang hadir dalam meditasi. Adanya perubahan belum tentu ada peningkatan. Itu pun tak semua orang cukup peka untuk merasakan perubahan yang terjadi.

Ada juga yang mengalami peningkatan. Tak instan tentunya. Perlu waktu dan proses. Bisa jadi ada sebagian di antara yang bermeditasi bersama ‘diangkat’ ke kesadaran yang lebih dari sebelumnya. Semisal, menjadi lebih dewasa. Tentu pengalamannya lain.

Namun tidak perlu memikirkan apakah saya sudah bisa menyadari perubahan dalam meditasi saya. Juga tidak perlu berjuang untuk bisa meningkat ke kesadaran yang lebih tinggi. Bermeditasi saja, rileks, dan berbincang-bincang dengan guru pribadi dengan jujur. Jika memang diberi anugerah, diri sendiri bisa menjadi lebih peka dan siapa tahu bisa ‘diangkat’ ke kesadaran yang lebih tinggi.

Takut dengan Pengalaman Baru

Pernah mengalami rasa takut karena masuk sekolah untuk pertama kalinya saat masih kecil? Ada rasa khawatir ketika bekerja di tempat baru? Rasa berdebar penuh tanya dan penasaran setelah mengucapkan janji pernikahan dengan pasangan? Naik pesawat untuk pertama kalinya? Pertama kali menyelam di kedalaman laut?

Ada begitu banyak pengalaman baru yang membuat kita berdebar-debar. Ada saja pengalaman yang membuat orang takut atau setidaknya khawatir hingga membatalkan sesuatu. Tentu tak semua pengalaman sama menyeramkannya seperti halnya orang yang akhirnya memilih duduk di kursi pesawat karena saking takutnya untuk terjun payung. Ada juga semacam “runaway bride” yang mengalami “cold feed” di saat hendak mengikat janji perkawinan karena takut dengan komitmen di detik-detik terakhir. Untuk mengajukan surat mengundurkan diri ke atasan yang galak. Untuk membilang selamat tinggal kepada pacar karena tak ingin melanjutkan asmasa yang sudah dirajut bersama. Untuk urung membeli rumah karena tak khawatir tak bisa melunasi cicilannya.

Apa yang harus dilakukan supaya diri kita berani untuk menghadapi suatu pengalaman baru? Jawabannya bisa jadi adalah tindakan gradual. Sedikit demi sedikit memproses suatu pengalaman baru.

Pamong kami bercerita tentang anak kecil yang tidak mau berenang di pantai. Takut airnya dingin. Wajar jika anak kecil pun tahu cara melindungi dirinya dari kemungkinan bahaya. Caranya sederhana. Orang tuanya memberinya kesempatan untuk mencelupkan kakinya dulu. Jika sudah merasa lebih baik, maju lagi hingga permukaan air mencapai lutut. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit, pelan-pelan tapi pasti, anak itu “embrace the water“. Bermain-main air dengan penuh keriangan. Tak lagi takut kena air yang dingin.

Topo Rame

Kontradiksi. Apa itu Topo Rame? Bukankah bertapa itu paling ideal dilakukan di tempat yang sepi dan sunyi? Sedangkan Topo Rame (bertama dalam keramaian) malah mencari tempat yang kebalikan dari sepi dan sunyi.

Namun, begitulah adanya Topo Rame. Membawa topo di dalam hati. Tempat sunyi itu bisa ditemukan di mana saja. Intinya adalah suasana hati kita sendiri. Topo Rame ini cocok untuk kondisi saat ini yang makin susah menemukan tempat bertama yang sepi dan sunyi. Maklum karena banyak individu yang tinggal dan hidup di kota besar dengan segala hiruk-pikuk kehidupan.

Tentu Topo Rame ada baiknya dilakukan secara gradual. Mirip dengan pengalaman anak kecil yang takut air dingin di pantai. Pelan-pelan saja mencoba topo di tempat yang agak ramai. Seperti pasar atau mall. Bisa juga tempat bekerja. Ini yang dalam konsep Kejawen disebut sebagai meditasi harian. Melakukan tindak meditatif dalam keseharian.

Jika sudah terbiasa, carilah tempat yang lebih ramai. Setelah bisa melakukannya dengan baik, lakukan Topo Rame di tempat yang tidak menyenangkan. Seperti dalam antrian, dalam kemacetan, dan dalam perjalanan. Saat orang lain saling memaki, saling mengumpat, dan marah-marah, justru dengan Topo Rame, seseorang bisa menghadapi suasana tak menyenangkan dengan sikap yang tenang. Tetap menjaga jernihnya hati, pikiran dan tindakan. Itulah kenapa ada slogan ‘sejernih akal sehat’ karena akal sehat hanya muncul saat kondisi perasaan dan pikiran dalam kondisi jernih. Kebalikannya tentulah membabi buta atau hilangnya akal sehat.

Kenyamanan

Konsep nyaman itu muncul di generasi kekinian. Ingin nyaman bepergian. Ingin tempat kerja yang nyaman. Ingin tinggal di rumah yang nyaman. Ingin punya pasangan yang bikin hati nyaman.

Bahkan karena ada sedikit obsesi tentang kenyamanan, bermunculanlah layanan yang memberikan kenyamanan. Pijat relaksasi. Kafe dengan konsep modern yang suasananya cozy. Sistem pembayaran yang mudah digunakan. Pesan makanan minuman diantar dari rumah. Bisa kemana-mana dengan mudah memakai transportasi online. Nyaman itu tentu ada harganya. Orang sering tak peduli harus bayar berapa duit karena yang penting nyaman bisa didapatkan. Pokoknya nyaman.

Namun, apakah semuanya melulu tentang kenyamanan? Nyaman dan tak nyaman? Orang jaman dulu, yang menghadapi segala keterbatasan dan kondisi yang menantang, umumnya tak terlalu memikirkan kebutuhan untuk merasa nyaman. Orang-orang tua hanya Nglakoni Urip (menjalani kehidupan). Tanpa banyak berpikir. Tanpa dirasakan hal tersebut nyaman atau tidak. Mereka ini generasi yang memiliki suatu niat yang kuat, menjalaninya dengan tabah, dan kemudian menikmati buah kerja kerasnya.

Beda sekali dengan orang jaman now yang mengedepankan rasa nyaman. Ada aspek manja. Tidak nyaman sedikit, langsung protes. Bisa juga mutung (urung melakukan sesuatu). Teman-teman yang bekerja sebagai personalia sering curhat bahwa karyawan baru saat ini rentang usianya muda namun manjanya luar biasa. Ada kecenderungan untuk bekerja di posisi aman dengan suasana yang nyaman. Kalau kantornya keren dengan beragam fasilitas, semangat kerjanya naik. Begitu mengalami situasi tak nyaman, semisal urusan dengan klien atau kendala dalam tugasnya, langsung curhat ke siapa saja hingga ke sosmed. Tak jarang, durasi bekerjanya singkat. Hanya seumuran jagung hanya karena tempat kerjanya kurang nyaman. Luar biasa, kan?

Perjalanan hidup ini tak selalu menghadirkan rasa nyaman. Nyaman atau tidak itu tidak penting. Hal yang esensial adalah Nglakoni Urip. Menjalani Kehidupan. Itu saja. Tidak lebih dan tidak kurang.

Pertanyaan berikutnya muncul. Jika seperti itu, lalu apa yang kita cari dalam hidup ini?

Kebahagiaan

Orang ingin bahagia. Itu salah satu dorongan dalam hidup. Namun, bukan kebahagiaan yang semu.

Rasa bahagia itu suatu kondisi dalam hati. Bahagia bukanlah sesuatu yang datang dari luar, seperti karena kaya, punya pasangan hidup yang baik, pekerjaan yang baik, atau memiliki ini itu.

Bahagia berasal dari suatu sikap hidup. Salah satu caranya yaitu dengan belajar spiritual. Melakukan pengolahan diri. Mencari keseimbangan. Dorongan untuk bahagia berasal dari adanya niat atau tekad. Lumrah karena semua orang seperti itu. Siapa yang tak ingin bahagia?

Dan semuanya kembali lagi ke diri kita sendiri. Untuk mengetahui jawabannya, kita belajar berkomunikasi dengan diri sendiri. Apakah yang aku inginkan dalam perjalanan hidupku saat ini? Apa yang menjadi real intention saya? Niat hidup.

Oleh karena jawabannya kita dapati dari diri sendiri, menjadi perlu untuk terus-terusan ‘berbicara’ dengan guru pribadi. Berbincang dengan diri pribadi secara rutin, terutama saat kita harus mengambil langkah kehidupan. Saat harus ambil keputusan, tak perlu tergesa-gesa. Jika berani dan sudah yakin, ya lakukan saja. Jika masih belum berani dan ragu, tunggu dulu. Perasaan yang ada saat proses pengambilan keputusan biasanya tak nyaman; bahkan ada yang mengalami pergulatan hebat. Namun, sekali lagi, ini bukan masalah nyaman atau tidak. Hal paling penting adalah mengambil langkah yang tepat dengan kesadaran tinggi.

Ada kata-kata, dari seorang pamong terdahulu, yang bisa menjadi bahan untuk termenung sejenak. Lebih kurang seperti ini (jika saya tidak salah tangkap).

yang bener belum tentu pener
yang bener belum tentu pas
yang pas belum tentu nyata

Kata ‘pener‘ sendiri memiliki nuansa sesuatu yang akurat, pas, atau sesuai.

Jika menghadapi sesuatu yang pelik, dengan kadar gundah yang tinggi dan bau-bau galau, ambil waktu untuk jeda yang cukup bagi diri sendiri. Untuk bertanya pada guru pribadi dan akhirnya mendapatkan jawaban “apa langkah yang akan saya ambil sudah pener?”

Akhir Kata

Banyak orang merasa hidupnya ruwet dan rumit. Mungkin karena gaya hidup yang kakean (kebanyakan) gaya. Terlalu memikirkan hal-hal yang tidak penting dan kurang penting. Sibuk dengan urusan yang mungkin tak perlu diurus. Memiliki terlalu banyak kesibukan sehingga kurang waktu untuk Me Time. Bahkan ada yang jalan kehidupannya begitu berliku sehingga tak menikmati kehidupannya. Mungkin saja orang-orang seperti itu menjalani kehidupan seperti sinetron di Negeri +62. Terlalu emosional. Menye-menye. Tidak jelas maunya apa. Keinginannya terlalu banyak seperti Nobita saat meminta ini itu kepada Doraemon. Berambisi ingin mencapai ini dan itu yang tiada habisnya. Hingga akhirnya pengalaman hidupnya menjadi melelahkan. Lelah jiwa dan raga.

Jeda diperlukan untuk diri sendiri. Ada saat untuk Topo Rame, yang menjaga kejernihan rasa dan pikir, di dalam suasana kehidupan jaman sekarang yang penuh hiruk-pikuk. Namun, ada saat-saat tertentu, diri kita perlu kembali ke ‘tempat untuk pulang’. Karena sejauh apa pun kita melakukan suatu perjalanan hidup, kita akan kembali ke suatu tempat yang menjadi awal perjalanan kita. Waktu di mana sebagai pribadi telah menjalani sikluk hidup. Bukan ke mana tujuan kita yang perlu diutamakan, tetapi bagaimana kita mau Nglakoni Urip ini.

Rahayu

20.05.2021

16 Cara Melipat Dumpling

Makanan tak hanya dinikmati dengan indra pengecapan dan mulut. Bentuk makanannya bisa menggugah selera. Dumpling pun ternyata tidak memiliki bentuk yang sama. Bentuknya beda-beda. Saya kagum dengan salah satu video di YouTube yang memperlihatkan cara melihat dumpling hingga 16 bentuk yang berbeda. Rasanya tentu tetap sama.

Mungkin proses pembuatannya lebih lama daripada mengudapnya. Namun itulah seni kuliner. Dumpling bisa dibikin dengan sangat kreatif. Menjadi keindahan visual yang tersaji sebelum dumplingnya dilahap dengan semangat.

Bakpao

Beberapa saat yang lalu saya sempat berkunjung ke Ganjuran. Tepatnya Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus yang berada di dusun Ganjuran, Sumbermulyo, Bantul, Yogyakarta. Saat selesai dari memanjatkan doa, saya menemukan ada bapak penjual bakpao. Awalnya saya ragu apakah bakpaonya enak atau tidak. Rasa penasaran membuat saya jadi membeli bakpao.

Ternyata rasanya enak. Bakpao ayam itu memiliki pao yang lembut dengan tekstur yang pas. Isinya daging ayam. Awalnya beli satu saja. Kemudian karena enak, saya putuskan untuk membeli lagi. Berbincang sebentar dengan bapak penjualnya. Ternyata bakpao itu bakpao yang sama yang sering saya beli di depan gereja saat saya kecil. Yongyen, itulah mereknya.

Omong-omong tentang bakpao, makanan ini adalah makanan tradisional Tionghoa. Bak artinya daging dan pao adalah ‘bungkusan’. Bakpao – bungkusan berisi daging. Umumnya daging yang dipakai adalah daging babi. Namun, di Indonesia lebih banyak orang yang menghindari daging yang dianggap haram ini sehingga lebih banyak bakpao yang menggunakan daging ayam. Bisa juga kumbu yang terbuat dari kedelai berwarna hitam.

Bungkusan atau kulitnya terbuat dari adonan tepung terigu yang diberi ragi sehingga bisa mengembang. Dikukus sampai matang hingga membesar dan empuk. Pas sekali untuk dikudap saat masih hangat. Ukurannya bermacam-macam, ada yang sebesar telapak tangan orang dewasa dan ada juga yang lebih kecil. Ada yang ditambahi hiasan. Ada yang tampil polos apa adanya.

Bakpao paling enak dimakan langsung di tempat yang menjualnya. Tetapi bisa juga dibawa pulang. Sebelum memakannya, bisa dikukus lagi sebentar sehingga bisa dinikmati hangat-hangat.

Ingin tahu cara membuatnya? Yuk, lihat videonya di bawah ini. Soalnya saya juga penasaran dengan cara pembuatannya.