Wanita dan 3M

Budaya jaman dulu tak lagi sesuai dengan era modernisasi. Terutama setelah adanya emansipasi wanita. 

Dulu sekali pernah ada istilah bahwa wanita harus paham benar dengan 3M. Masak, Macak (berhias), Manak (beranak).  Itulah peran wanita dalam kehidupan sosial. 

Masak untuk hadirkan makanan bagi keluarganya. Macak, yang artinya berhias, sehingga bisa dipinang oleh seorang lelaki dan menjadi teman hidup yang bisa dipajang dan dibanggakan. Sedangkan Manak berarti melanjutkan keturunan sekaligus merawat dan membesarkan anak-anak hingga besar dan mampu berdikari. 

Sekarang malah ada tuntutan untuk Makaryo. Yaitu berkerja untuk menghasilkan pendapatan guna mencukupi kebutuhan keluarga. Beban Kaum Hawa menjadi lebih berat dengan tuntutan yang lebih kompleks. 

Namun wanita seyogyanya lebih bisa bersyukur ketika hidup pada jaman sekarang karena ada begitu banyak opsi untuk memilih seperti apa kehidupan yang diinginkan dan dicapai. Tak terbatas seperti beberapa dekade atau ratus tahun yang lalu. 

Menikah dengan Modal 5M

Aduh! Jaman sekarang ternyata masih ada yang menikah dengan modal 5M. Bukan, bukan uang sebanyak 5 milyar. 5M yang ini berbeda.

Madhep Mantep Mangan Melu Maratuwa

Lebih kurang artinya ‘dengan mantab makan ikut mertua’. Tak punya pekerjaan, rumah, kendaraan. Dan tentunya tinggal di TMI – Taman Mertua Indah. Nekat mau menikahi anak orang tanpa modal sepeserpun; hanya ada cinta.

Kok bisa-bisanya seperti itu? Entahlah. Tapi kalau mertuanya tak keberatan, anak gadisnya mau-mau saja, apa boleh buat. Namanya juga sudah cocok semuanya. Dan dua-duanya saling cinta.

Itu bukan urusan saya atau urusan Anda. Itu urusan yang punya hajatan. Biasanya orang cuma bilang “makan tuh cinta!” dan berharap semuanya akan baik-baik saja.

Semoga…    

Sumur, Kasur, Dapur

Banyak perempuan jaman sekarang pasti akan terhenyak kalau mendengar bahwa wanita jaman dulu hidupnya hanya terpusat pada tiga hal seperti ini. Yaitu sumur, dapur, kasur.

Sumur

Tentu berhubungan dengan mencuci baju dan mencuci perabot rumah tangga. Sumur juga identik dengan urusan mandi sehari-hari. Jaman dulu, sebelum adanya pompa air atau layanan air bersih dari PAM, perempuan yang bertanggungjawab untuk menyediakan kebutuhan air dalam kehidupan sehari-hari. Termasuk mengambil air dari sumur dengan menggunakan timba atau kerekan air. Pekerjaan yang berat. Semakin banyak orang yang tinggal di dalam suatu rumah, makin banyak pula air yang harus ditimba.

Dapur

Perempuan mengolah makanan untuk makan seluruh anggota keluarga. Namun urusan dapur tak hanya di dapur. Urusan dapur berarti mendapatkan bahan makanan dari pasar pada pagi hari, mengolahnya sehingga bisa awet dan bisa dipakai berhari-hari kemudian hingga akhirnya menyajikan makanan untuk disantap bersama.

Perempuan jaman dulu melewatkan sebagian besar waktunya di dapur sehingga sering disebut sebagai konco wingking, teman di belakang. Dapur biasanya terletak di belakang rumah, bersamaan dengan sumur dan kamar mandi.

Aktivitas di dapur akan meningkat bila tiba saatnya untuk merayakan festival, upacara tradisional dan hajatan. Makin banyak yang diundang, makin banyak kerjaan di dapur. 

Kasur

Pasti banyak yang berpikiran bahwa urusan kasur pasti identik dengan melayani kebutuhan seksual suami. Benar adanya. Tapi urusan kasur lebih kompleks daripada sekedar menerima nafkah batin. Kasur identik dengan keturunan. Makin sering melewatkan waktu bersama suami tentu perempuan akan makin produktif melahirkan keturunan. Dulu sekali, makin banyak anak dianggap makin banyak rejeki. Wajar karena anak-anak, baik anak lelaki dan anak perempuan, bisa menjadi tenaga kerja untuk mengurus sawah dan mengurus rumah.

Jadi?

Tapi pada jaman sejarang ini, tak berarti beban perempuan berkurang karena urusan sumur, dapur dan kasur bisa dikerjakan bersama-sama dengan suami dan anak-anak; ditambah pembantu bila ada. Justru di era yang modern ini, di mana kebutuhan ekonomi menuntut istri untuk mencari uang guna mencukupi kebutuhan rumah, perempuan mendapati beban hidup yang lebih berat. Sudah mengurus ’sumur, dapur, kasur’ dan masih ditambah dengan kerjaan kantor.

Oleh karena itu wajar adanya ketika perempuan inginkan dan dambakan lelaki yang sanggup untuk menjadi breadwinner yang bisa diandalkan sekaligus rela dan suka membantu urusan rumah dan anak-anak. Dengan begitu semua urusan kehidupan berjalan dengan seimbang dan lancar.

Apakah masih ada perempuan yang hanya mengurus ’sumur, dapur, kasur’ di masa sekarang? Tentu masih ada. Masih banyak. Coba lihat di sekeliling Anda. 

Nasibmu Yemen

Tak banyak orang tahu di mana letak Yemen. Lebih banyak lagi yang tak tahu bagaimana nasib negara itu. 

Yemen remuk karena ada berbagai kekacauan politik di sana. Tak ada yang menghiraukan nasib korban jiwa di Yemen. Namun berbagai negara kini mulai membantu Yemen dengan cara ikut berkontribusi menyerang pemberontak di Yemen. 

Pertanyaannya adalah mengapa negara-negara tersebut membantu Yemen?

Sederhana jawabnya. Yemen merupakan negara dengan lokasi yang strategis. Begitu banyak kapal kargo yang melewati Terusan Suez akan melewati daerah perairan di dekat Yemen. Bila Yemen jatuh di tangan pemberontak, perairan di dekat Yemen bisa jadi tidak aman untuk lalu-lintas kapal kargo. Bisnis miliaran dollar akan terganggu atau terhenti sama-sekali. 

Oleh karena itu bantuan untuk menyerang para pemberontak di Yemen berdatangan. Bukan untuk membantu Yemen semata. Tapi untuk menjaga kepentingan negara-negara yang memberikan bantuan.

Sedangkan nasib Yemen sendiri? Tentu menjadi urusan Yemen sendiri. Tak ada yang benar-benar peduli. Asalkan Yemen tidak jatuh ke dalam kekacauan, negara-negara lainnya sudah merasa lega. 

Momen Sempurna

Salah satu pemeran Star Trek bernama Leonard Nimoy — pemeran Spock — mengatakan kata bijak di bawah ini sebagai cuitan Twitter-nya yang terakhir sebelum beliau tidur dalam damai untuk selamanya.

A life is like a garden. Perfect moments can be had, but not preserved, except in memory.

Momen-momen istimewa dalam kehidupan tiap manusia memang datang silih-berganti. Dialami dan dirasakan sesaat. Tak bisa terus-terusan dialami. Tapi bisa diingat kembali dalam bentuk kenangan.

Maret 2015

Bulan Maret akan segera berakhir. Musim Kemarau mungkin segera akan tiba meski sampai kini kadang-kadang masih turun hujan. Bulan April besok akan tiba. Sepertinya waktu cepat berlalu. Mungkin pula saya sendiri yang bergerak terlalu pelan.

Mari kita nikmati bersama hari terakhir di Bulan Ketiga dalam Kalender Masehi ini. Hari belum berakhir.  

Pantangan 5M

Dalam Budaya Jawa ada nasihat bijak supaya siapapun juga tak melakukan 5M supaya hidupnya sejahtera dan bahagia. Lalu apa saja sih 5M yang dimaksud?

Minum. Madat. Main. Madon. Maling. 

Satu saja dilakukan sudah membuat kehidupan seseorang menjadi hancur. Apalagi kalau melakukan dua atau lebih, bisa jadi kehidupan seseorang tak lagi bisa diselamatkan.

Minum

Sepertinya minum-minum merupakan hal yang sepele. Minum-minum tak akan menimbulkan masalah besar. Tapi rupanya itu anggapan yang salah besar. Orang yang suka menenggak minuman beralkohol dalam jumlah besar cepat atau lambat akan kehilangan kesadarannya. Tak sadarkan diri sehingga bisa melakukan banyak hal yang justru merugikan dirinya sendiri. Entah itu madat, main, madon hingga membunuh orang lain. Mengerikan, bukan?

Selain itu minum-minum di luar batas bisa merusak fungsi organ tubuh yang penting seperti Liver dan Ginjal. Seseorang yang rusak organ tubuhnya pasti akan mengalami siksaan yang tak tertahankan hari demi hari. Sayang bukan kalau mabuk-mabukan terlalu sering membuat tubuh sendiri rusak berat.

Madat

Obat itu dibutuhkan kalau seseorang sakit. Tapi kalau ngobat itu cerita lain lagi. Tentu yang dikonsumsi adalah obat-obatan terlarang yang jelas-jelas ilegal. Obat-obat setan itu bisa membuat pemakainya terlena dan terbang tinggi di awan. Lebih tak sadarkan diri ketimbang mabuk-mabukan karena minum-minum. Bahkan saking ampuhnya, madat bisa membuat nyawa orang yang mengasupnya lewat karena takaran dosisnya yang kelewat batas.

Bahkan kalau akhirnya selamat dalam menikmati obat sesat yang katanya nikmat itu, bisa jadi pemadat tertangkap polisi saat bertransaksi atau menikmati madatnya. Masuk penjara atau tewas didor oleh regu penembak.

Main

Nah ini dia. Sebagai insan manusia kita adalah makhluk yang suka bermain. Tapi kalau main judi jelas berbahaya. Entah kaya atau miskin, sikapnya akan berubah dengan cepat bila sudah ketagihan dengan permainan di meja judi. Bentuknya macam-macam. Ada yang berupa permainan kartu, rolet dan dadu. Judi tentu melibatkan uang atau apapun yang dianggap berharga. Bukan judi namanya bila tak ada uang yang hilang atau yang didapat.

Namanya judi tak ada yang namanya kemenangan abadi. Yang ada hanya kekalahan cepat atau lambat. Makin lama bermain judi, makin besar juga nilai kekalahannya. Bila uang sudah habis karena menguap di meja judi, harta berupa rumah, mobil, tabungan, perabot pun bisa ikut dilego. Bahkan tak jarang ada istri atau anak yang dikorbankan; selain diri sendiri yang mungkin sudah menjadi budak dan menjadi milik bandar judi.

Madon

Madon artinya main perempuan. Namun kalau di dalam konteks jaman sekarang, tentunya tak hanya lelaki yang bisa bersenang-senang dengan perempuan selain istrinya. Perempuan bisa juga main-main dengan lelaki bukan suaminya.

Seseorang yang bermain-main dengan perempuan (yang bukan istrinya) identik dengan main api. Rumah tangga bisa hancur. Bisnis melayang. Reputasi dan nama baik hangus. Semuanya bisa hilang dalam sekejap. Belum lagi kalau tertular (dan menularkan) penyakit seksual yang membahayakan tentu akan membuat hidup menjadi lebih terpuruk dalam lembah dosa. Kenikmatan sesaat dengan imbas seumur-hidup.

Maling

Menginginkan harta milik orang lain dengan cara yang tidak sah jelas perbuatan tak terpuji. Yang kena maling pun otomatis kehilangan hartanya dan bisa jadi membuat hidupnya sengsara. 

Yang namanya maling, sekali pasti tak langsung berhenti. Kalau satu kali berhasil pasti ingin mengulanginya lagi. Alasannya sederhana. Cepat mendapatkan harta sehingga menjadi kaya secara instan. 

Namun maling bukannya tak memiliki resiko. Bila tertangkap bisa berabe. Kalau cuma ditangkap dan digelandang ke kantor polisi lalu masuk penjara sih tak mengapa. Celakanya bila masyarakat yang menangkapnya cenderung emosi, bisa jadi maling akan dipukuli sampai babak-belur. Malahan sekarang maling pun bisa dibakar hidup-hidup hingga menemui ajalnya.