Hampir Satu Dekade Bertahan

Mungkin judul tulisan kali ini agak bombastis melankolis. Namun memang itu rasa yang saya dapatkan ketika kembali menekan tombol Power di MacBook warna putih jadul yang sudah sangat jarang saya pakai.

Laptop putih itu saya beli di bulan Juni tahun 2007. Bila dihitung mundur berarti komputer portabel besutan Apple ini sudah berumur 9,5 tahun. Hampir satu dekade. Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah komputer.

Ternyata begitu nyala, fungsinya masih berjalan dengan baik. Sistem operasinya maksimal memakai Lion OSX. Beberapa aplikasi untuk Mac sudah tak lagi bisa dipasang. Sayang memang. Mau apa lagi. Kualitas pengeras suaranya sudah cempreng. Baterai sudah tak bisa bertahan lama.

Hanya saja saya masih menemukan aplikasi-aplikasi lamanya masih berjalan dengan baik. Minimal Safari dan iTunes. Begitu juga Mail. Bisa untuk browsing, mendengarkan lantunan lagu, dan membuka email.

Hebatnya lagi ternyata papan kunci atau keyboard masih bekerja dengan sangat baik. Berdebu memang tapi sudah saya bersihkan dengan tisu. Bersih kembali. Dan masih tetap lancar untuk dipakai untuk mengetik. Tidak rusak. Masih sempurna.

Singkat kata, meski sudah renta, MacBook putih yang dulunya jadi produk primadona di tahun 2007 masih bisa berjalan dengan baik. Tak bisa diajak berlari. Tak apa-apa. Namun performa masih boleh diadu dengan laptop-laptop low entry yang berbasiskan sistem operasi Windows XP dan Windows 7; yang usianya masih terbilang muda dua hingga empat tahun.

Laptop ini masih bandel. Masih hidup. Tak menyerah meski harus fighting. Masih kuat bertahan dalam usianya yang hampir satu dekade. Salut. Keputusan yang tepat untuk tak melego atau memberikan laptop ini ke tangan orang lain. Masih bisa untuk menyimpan data-data berupa dokumen dan foto.

Hampir satu dekade bertahan…

 

 

 

Aplikasi Berguna untuk macOS

Aplikasi yang berguna memberikan produktivitas bekerja yang lebih baik. Banyak aplikasi berbayar dan gratis yang kualitasnya sangat baik yang tersedia untuk komputer atau laptop yang memakai sistem operasi macOS.

Berikut aplikasi-aplikasi untuk macOS yang saya pakai untuk bekerja sehari-hari.

Menulis

Apple Pages untuk menyunting dan mencetak dokumen. Aplikasi ini sudah tersedia bersama pembelian unit komputer atau laptop Apple. Dokumen di aplikasi ini sudah otomatis disimpan di iCloud.

Simplenote untuk menulis catatan singkat cepat. Segala yang dituliskan di Simplenote segera terbarui saat itu juga di aplikasi Simplenote di iPhone dan Android.

Quip untuk membuat draft, mendokumentasikan perencanaan, menuliskan jurnal harian. Fitur yang sangat berguna adalah kemampuan membagi akses dokumen secara online dengan pengguna Quip lainnya.

Bear untuk menulis tulisan-tulisan ringan. Terus terang saya suka desain aplikasi ini. Dulu sebelumnya saya memakai Letterspace. Sayangnya Letterspace sempat berbayar dan sistem penyimpanan dokumennya membingungkan.

nvALT untuk corat-coret dengan cepat. Desainnya sangat sederhana sehingga ringan dibuka, digunakan dan ditutup. nvALT memiliki fitur penyimpanan yang terintegrasi ke Simplenote. Namun tidak saya sinkronisasikan karena memang ingin memakai nvAlt sebagai media corat-coret yang kurang penting.

Beberapa aplikasi yang lumayan bagus tapi sayangnya tak lagi saya pakai adalah Evernote dan Typora. Fungsi dan kelebihan mereka sudah tergantikan oleh beberapa aplikasi menulis di atas.

Blogging

WordPress untuk memperbarui, menyunting dan melakukan pengaturan beberapa blog yang berjalan di situs WordPress.

deskPM dulunya sering saya pakai untuk blogging sebelum adanya aplikasi WordPress untuk macOS. Kadang-kadang saya pakai karena memang bagus dan rugi kalau tak dipakai.

Sedangkan blogo sudah tak saya pakai karena fiturnya terbatas, kurang cocok dengan antarmuka yang kurang ramah, dan aplikasi WordPress dan deskPM sudah memiliki fitur yang lengkap.

Foto

photoScape X untuk menyunting foto. Aplikasinya ringan, mudah digunakan dan gratis.

Untuk melihat-lihat foto untuk saat ini saya langsung menggunakan Finder. Sebelumnya saya memakai Apple iPhoto (yang akhirnya sudah diakhiri masa hidupnya oleh Apple), Apple Photos (yang membuat laptop berjalan pelan dan menghabiskan banyak ruang penyimpanan), dan Google Picassa (yang dulu berguna tapi sepertinya tak lagi dikembangkan secara aktif oleh Google).

Mail

Spark Mail karena antarmukanya bagus, bekerja dengan baik dan lancar untuk dipakai.

Sparrow yang meskipun sudah tidak dikembangkan lagi tapi masih bisa digunakan dengan baik.

Untuk saat ini saya masih mempertimbangkan apakah Polymail 2 dan Canary Mail cukup bagus untuk dipakai sebagai klien email sehari-hari.

Dulu ada Mailbox (yang dibeli oleh Dropbox) dan Nylas yang lumayan bagus sebagai klien email gratis. Namun dua klien email di atas menggantikan kedua aplikasi ini. Sedangkan untuk Apple Mail, aplikasi bawaan macOS, saya merasa masih belum nyaman menggunakannya. Kurang intuitif dan fiturnya terbatas. Lagipula saat ini secara reguler saya masih membuka email dari browser di macOS dan aplikasi klien email di iPhone dan Android.

Komunikasi

WhatsApp untuk macOS memudahkan chat dengan banyak orang di laptop.

Telegram untuk chat dan membagi dokumen dan tautan internet.

Twitter untuk membagikan tautan berguna dan menarik yang saya temukan ketika menjelajahi internet.

Skype untuk perbincangan dalam konteks pekerjaan.

Aplikasi Lainnya

Untuk menjelajah internet saya paling suka menggunakan Opera yang memiliki fitur VPN dan Block Ads. Sedangkan untuk bekerja, Chrome masih menjadi standar karena berbagai layanan internet kompatibel dengan Chrome. Safari saya pakai sesekali bila perlu mengakses iCloud versi web; yang bisa bekerja dengan baik di Safari.

Wunderlist untuk menuliskan todo list.

Apple Calendar untuk melihat tanggal dan informasi tentang hari libur dan ulang tahun.

AppCleaner untuk membuang secara sempurna aplikasi yang tak lagi berguna.

Selain aplikasi-aplikasi yang sudah saya sebutkan tadi, ada beberapa aplikasi yang saya pasang dan pakai saat ada keperluan. Namun karena jarang-jarang dipakai maka tak saya sebutkan. Selain itu ada beberapa aplikasi yang menggelitik saya untuk mencobanya dan saya buang bila ternyata kurang berguna atau kualitasnya tak bagus.

Semoga informasi mengenai aplikasi untuk macOS ini berguna bagi Anda yang juga menggunakan macOS. Tentu saja kebutuhan masing-masing orang berbeda. Paling tidak Anda bisa mencoba beberapa aplikasi yang siapa tahu cocok dengan kebutuhan Anda dan membantu meningkatkan produktivitas sehari-hari.

Bila seyogyanya Anda memiliki usulan aplikasi yang berguna dan belum saya ketahui atau gunakan, silakan berbaik hati untuk menuliskannya di kolom komentar di bawah ini. Terima kasih.

212

Wiro Sableng? Ternyata bukan. 212 adalah hari pada tanggal 2 di bulan Desember. Ada apa memangnya di hari itu?

Sepertinya akan ada kumpul-kumpul banyak orang di Monas. Juga di banyak pusat kota-kota lainnya. Konon berdoa bersama. Sepertinya memang baik bila masyarakat di tanah air ini sekali-sekali berkumpul untuk berdoa bersama.

Memangnya berdoa harus bersama? Sepertinya tidak. Tapi katanya, kalau doa bersama-sama doanya lebih didengar Sang Khalik yang ada di atas sana. 10 orang, jos! 100 orang, lebih mantab. 1000 orang, jauh lebih mengena. 10.000, jelas saja gaungnya lebih nyaring terdengar hingga ke atas langit.

Tak puas dengan jumlah itu, mungkin saja lalu ada yang berpikir untuk mengumpulkan teman, saudara, tetangganya hingga bisa berkumpul hingga mencapai angka ratus ribu hingga jutaan. Hingga akhirnya Sang Pencipta berkenan mendengarkan umatnya yang sedang risau, galau, gelisah itu. Dan bila ada kemurahan hati, lalu Yang Maha Esa pun memberikan apa yang dipinta dengan sungguh oleh lautan umat yang berseru-seru dengan lantangnya di satu titik di bumi secara bersama-sama.

Entahlah. Mungkin insan-insan manusianya saja yang memang suka heboh sendiri. Padahal doa bisa dilakukan di tempat ibadah yang jumlahnya banyak dan tersebar di mana-mana. Bisa juga di rumah. Bahkan di kantor, bila memang waktunya jam kerja. Bisa berbarengan. Bisa juga sendiri-sendiri.

Apakah benar 212 itu demo besar-besaran? Sepertinya tidak juga. Sudah dibilang doa bersama. Bukan demo. Bukan pula makar, seperti yang didengung-dengungkan oleh orang-orang tak jelas. Jadi bila memang ada kerusuhan, pasti tidak dilakukan oleh orang-orang yang awalnya bilang ingin berdoa.

Jadi apa yang harus dilakukan pada tanggal 2 di bulan 12? Ya, bekerja saja seperti biasa. Bersekolah. Mengasuh anak. Menghasilkan barang. Bertransaksi. Di sela-sela aktivitas, bisa juga sedikit banyak luangkan waktu dengan berdoa. Tak perlu ikut-ikutan dengan sekumpulan besar orang – yang entah pekerjaannya apa, tak jelas – bisa menyempatkan untuk doa bersama pagi hingga siang hari di lapangan luas di tengah kota. Memangnya tidak ada yang dikerjakan di hari kerja biasa?

Lalu apa yang harus didoakan di hari yang sepertinya istimewa itu? Hmm. Bisa saja berdoa supaya di hari itu semua orang bisa adem jiwanya dan jernih pikirannya. Damai di tanah air ini. Boleh juga meminta keinginan lainnya. Semisal, berdoa supaya ada gaji ke-13. Liburan akhir tahun tambah satu atau dua hari. Dan syukur-syukur kalau gaji naik di awal tahun 2017.

212? Hari doa bersama sepanjang hari di Indonesia. Hebat, ya? Bangsa yang relijius…

Diplomasi Meja Makan

Boleh juga cara yang digunakan oleh bapak presiden untuk menyapa dan berkomunikasi dengan berbagai tokoh berpengaruh. Makan bersama.

Apapun bahasannya, setelah kenyang makan enak, siapa pun orangnya pastilah jadi lebih mudah diajak ngobrol. Tak ada emosi. Santai. Mengalir. Pembicaraan sesulit apapun menjadi cair dan kata sepakat mudah didapat.

Diplomasi meja makan memang mantab. Bahkan bila diskusinya macet dan tak hasilkan apapun, minimal orang yang sudah semeja dan mengudap makanan bersama memiliki hubungan yang lebih erat. Menjadi teman makan.

Alat Makan

Alat makan tak hanya sendok dan garpu. Ada yang memakai sendok dan pisau. Begitu pula sumpit. Bahkan capit. Masing-masing budaya memiliki alat makan yang berbeda.

Namun begitu, ada begitu banyak budaya yang masih tak menggunakan alat makan. Justru memanfaatkan jemari untuk mengudap sajian yang khas di daerahnya.

Apapun alat makannya, asalkan memang tepat penggunaannya jelas membuat acara makan menjadi lebih mudah.

Beda hasilnya jika menggunakan alat makan yang salah. Makanan seenak apapun menjadi tak begitu nikmat. Bayangkan rasa tak nyaman bila harus makan Sashimi dengan sendok dan garpu. Begitu juga makan Shabu Shabu atau Hot Pot dengan tangan, tanpa perangkat makan.

Alat makan ditemukan oleh manusia supaya kehidupan menjadi lebih mudah. Tak perlu diperdebatkan mana alat makan terbaik karena alat makan terbaik adalah yang paling sesuai dengan makanan yang sudah disajikan.

Gedung Setinggi Langit

Hebat! Itu komentar banyak orang ketika melihat gedung pencakar langit. Skyscraper yang betul-betul mencapai langit. Paling tidak tingginya gedung melebihi tingginya awan.

Gedung pencakar langit merupakan pencapaian akal manusia. Tak semalam jadi. Pencapaian yang dilalui ribuan tahun lamanya. Sejak pertama manusia primitif tinggal di gua hingga akhirnya mampu menemukan teknologi konstruksi yang sanggup menumpuk lantai demi lantai hingga setinggi langit.

Kisah dari masa lalu menceritakan tentang Babylon. Bangunan tinggi yang menantang Sang Pencipta. Babylon dibangun bukan semata karena kemampuan manusia dengan keterampilan mendirikan bangunan tinggi. Namun kesombongan manusia bahwa manusia mampu menantang langit. Pada akhirnya bangunan tertinggi di masa lalu itupun roboh. Entah karena memang sudah waktunya roboh atau karena dihancurkan oleh kesombongan manusia itu sendiri.

Tak belajar dari sejarah, makin banyak manusia yang berambisi untuk mendirikan bangunan tertinggi di dunia. Bangunan tinggi yang bisa menembus awan dirasa kurang tinggi. Gedung yang lebih tinggi dari gedung lainnya tentu jauh lebih hebat. Bangunan paling tinggi menjadi jaminan menjadi konstruksi yang paling hebat. Lalu mengapa harus membangun gedung yang tinggi melebihi kebutuhan ruang vertikal?

Jawabannya tidak ada. Justru dijawab dengan pertanyaan balik, “why not?” Kalau bisa membangun gedung yang lebih tinggi, tentu membanggakan.

Tentu gedung pencakar langit memiliki fungsi strategis. Ruang perkantoran, hotel atau restoran bisa dijual atau disewakan dengan harga setinggi langit. Gedung tinggi menjadi daya tarik bagi banyak orang untuk mengunjungi suatu kota atau negara, laiknya obyek wisata. Gedung tinggi bisa menjadi tempat untuk meletakkan stasiun pemancar dan komunikasi yang memberi cakupan yang jauh lebih luas.

Di sisi lain, skyscraper membutuhkan dana yang juga setinggi langit untuk membangunnya. Dana konstruksinya sungguh terasa tak masuk akal bagi kebanyakan orang. Hanya perusahaan atau negara yang memiliki kekuatan finansial yang mampu merencanakan, mendanai dan membangun gedung pencakar langit.

Saya cuma berpikir. Andaikan uang yang sangat besar tersebut dialokasikan untuk membangun proyek perumahan untuk banyak orang — alih-alih membangun gedung pencakar langit — berapa banyak orang yang beruntung karena bisa memiliki tempat tinggal yang layak.

Dana yang besar tersebut juga bisa diperuntukkan untuk proyek konstruksi untuk publik. Semisal membangun sistem transportasi yang melayani komuter ribuan penduduk kota tersebut. Bisa juga menyediakan pembangkit tenaga listrik yang terbarukan seperti kincir angin berukuran masif, sel surya yang besar atau penangkap enerji gelombang air.

Namun pembangunan gedung pencakar langit tentu saja keputusan orang-orang yang memiliki pemikiran yang lain. Tak lagi memikirkan tentang kebutuhan banyak orang. Justru menjadi alat bagi sebagian kecil untuk menunjukkan kepada sekian banyak orang bahwa saya atau kami mampu mendirikan gedung megah setinggi langit dan asa sebagian besar manusia di dunia.

Salah satu proyek gedung pencakar langit yang bikin heboh adalah pembangunan The Tower, konstruksi vertikal yang akan menjadi paling tinggi di Dubai sekaligus menjadi salah satu bangunan tertinggi di dunia. Menurut pembangunnya The Tower — namanya sekarang dan akan diberi nama baru saat sudah selesai dibangun — akan berdiri gagah di dataran Arab pada tahun 2020. Empat tahun dari saat tulisan ini dituliskan.

Biayanya tak tanggung-tanggung. USD 1 milyar. Setara dengan IDR 1 trilyun. Hebat, bukan? Berapa juta rumah yang bisa dibangun di Indonesia dengan uang sebanyak itu ya?