Let It Go

“Let it go” adalah hal yang mudah dikatakan. Lepaskan. Biarkan berlalu. Namun pada kenyataannya tak seperti itu.

Kita hidup dalam kehidupan masa kini yang sibuk. Sibuk dengan pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan. Sibuk dengan urusan kehidupan. Sibuk dengan protokol kesehatan dalam masa pandemi. Sibuk menjadi warna yang menonjol dalam hidup saat ini.

Dalam kesempatan meditasi malam ini pamong – seperti biasanya – menuntun kami supaya memberikan jeda pada diri sendiri dengan rileksasi. Mengistirahatkan diri dari beban pikiran.

Pikiran yang datang dan pergi tak harus diusir saat meditasi. Tak perlu dikekang. Biarkan saja. Hingga akhirnya ketenangan datang saat waktunya tiba.

Saat pikiran dan perasaan terasa tenang. Kita menjadi lebih mudah untuk berpasrah. Surrender. Pada Sang Pencipta.

Dan saat seseorang merasakan titik di mana tak bisa melakukan apa-apa lagi atau memikirkan sesuatu, justru Gift – dari Sang Pencipta – kita terima atau rasakan. Gift itu mungkin bisa berupa jawaban, pemahaman, kurnia. Sesuatu yang mungkin tak langsung kita pahami namun sesuatu yang kita terima sebagai Berkah. Pasrah menjadi jalan untuk menerima Berkah.

Pada saat itulah Let It Go berproses.

let it go

Bukan berarti lalu masalah hilang. Kesulitan hidup mendadak raib. Rasa kecewa atau khawatir tak lagi dirasakan. Bukan. Bukan seperti itu.

Dengan Let It Go, sesuatu yang terasa berat menjadi terasa lain. Menjadi lain karena perspektif yang berbeda. Bisa jadi karena acceptance – penerimaan akan sesuatu. Hidup terasa ringan.

Dan kehidupan tetap sibuk. Namun dijalani dan dialami dengan rasa yang berbeda. Rasa yang terasa nyaman dan ringan.

Saat meditasi selesai, kita kembali ke ritme kehidupan yang sama. Namun dengan kesadaran yang lebih baik. Menjalani kehidupan dengan tuntunan ke arah yang lebih berarti. Meaningful. Tak hanya sibuk berlari dan kelelahan tanpa bisa menikmati kehidupan.

Rahayu, rahayu, rahayu…

Catatan. Meditasi tak perlu dipaksakan. Lakukan bila terasa ingin melakukannya. Bahkan bila merasa ‘gagal’ saat meditasi, entah karena tak bisa ‘masuk’ atau kehilangan konsentrasi, tak perlu merasa tak nyaman atau ilfil. Biarkan saja. Berusaha untuk melepaskannya. Just let it go.

Tiada yang tahu esok hari…

Fernando Pessoa – penulis berkebangsaan Portugis yang lahir di Lisbon pada tahun 1888 ini – menorehkan satu kalimat di sebuah kertas.

I know not what tomorrow will bring.

Fernando Pessoa

Tulisan tersebut ditulis pada tanggal 29 November 1935. Tulisan beliau yang terakhir. Kemudian esoknya beliau meninggal pada tanggal 30 November 1935.

Benar adanya tulisan itu. Tiada yang tahu esok hari.

Manusia merancang hidupnya. Merencanakan ini dan itu. Mencoba untuk membikin jadwal dengan buku agenda. Ada keinginan. Ada asa. Namun tak ada yang tahu kapan seseorang meninggal. Karena hanya Sang Pemilik Hidup yang tahu dan berhak mengambil kehidupan yang telah Dia berikan.

Oleh karena itu tak perlu ada rasa khawatir yang berlebihan. Besok itu urusan besok. Tak perlu terlalu kecewa bahwa besok mungkin tak sebaik hari ini. Tak perlu takut bahwa besok hidup tak lagi berlanjut. Karena kematian itu adalah suatu hal yang pasti adanya.

Justru karena kita tak tahu kapan hari terakhir menikmati hidup di dunia ini, tak berlebihan bila kita bersyukur di tiap pagi saat membuka mata dan menghirup nafas di hari yang baru.

Oleh karena itu mari kita menghidupi dan menikmati hari ini. Dengan sebaik-baiknya. Menyukurinya. Merayakannya.

Lisbon

Tahu di mana Lisbon? Bila tak tahu coba buka peta dunia.

Ada rasa kagum saat melihat video tentang Lisbon. Arsitektur bangunan-bangunan tua yang begitu indah berada di kota yang tertata rapi. Itu semua ada karena warisan dari masa jaya di masa lalu saat Portugal menjadi salah satu negara yang berhasil mengkoloni berbagai wilayah di dunia. Termasuk daerah Macau dan Timor Leste di masa sekarang. Armada kapalnya bisa jauh menjangkau berbagai lautan dan samudera. Menjelajahi, berdagang, merampas dan juga membawa kembali hasil bumi dan emas. Menjualnya kembali ke negara-negara di Dataran Biru Eropa. Kaya raya sehingga mampu membangun pusat kebudayaan yang indah dengan skala yang besar pada jamannya.

Menonton videonya jadi makin jatuh cinta pada Lisbon. Semoga one day bisa mengalami sendiri jalan-jalan dan menikmati kota pelabuhan itu.

Salah satu yang bikin saya tertarik adalah Trem Lisbon. Alat transportasi yang mumpuni di masa lalu namun kini lebih berfungsi sebagai wahana berkeliling kota untuk para turis yang datang ke sana. Salah satu jalur yang populer adalah Lisbon Tram 28. Rutenya meliuk-liuk, melewati jalan sempit dengan bangunan di kanan kiri dan ada jalur menanjak-menurun. Pasti asyik. Trem seperti itu mengingatkan saya pada cable car alias trem yang ada di San Francisco.

Untuk saat ini sudah cukup puas menonton videonya. Saya anggap ini sebagai dreaming session yang berfungsi sebagai cara visualisasi impian. Semoga tercapai. Pasti asyik bisa menjelajahi kota itu dengan trem dan menikmati suasananya yang hidup dan penuh keramahan.