Don’t Worry Be Happy

Saat sial melanda. Bad mood. Aral melintang. Kesusahan menghadang. Rasanya ingin menyerah. Menangis. Meratap.

Tapi mendingan mendengarkan saja lagu Don’t Worry Be Happy. Apalagi sambil ikut menyanyikannya. Boleh juga sambil menari-nari menggerakkan tubuh. Asyik, kan? Sah-sah saja kalau memutarnya sebanyak mungkin hingga perasaan menjadi lebih tenang dan happy.

Tak serta merta kesulitan menghilang. Cuma rasa sedih tak menyelesaikan masalah. Lebih baik menghadapinya dengan perasaan optimis. Badai sebesar apapun akan berlalu. Setuju? Sip!

Okay, don’t worry be happy… Hakuna Matata!

Air dan Doa

Sekian banyak orang percaya bahwa meminum air yang sudah didoakan manjur mengobati penyakit. Paling tidak menyehatkan bagi badan. Ada juga yang tak percaya sama sekali.

Kembali lagi ke masing-masing insan manusianya. Bila memang berpikir bahwa air yang sudah mendapat doa akan memberikan kebaikan bagi tubuh dan jiwa, minum saja secara rutin.

Beberapa penelitian menemukan bahwa air yang mendapat doa mengalami perubahan signifikan dalam kualitasnya. Sedangkan tubuh manusia sebagian besar terdiri dari air. Asupan air yang berkualitas tentu membuat tubuh manusia menjadi lebih sehat.

Di saat yang sama, ada berbagai kepercayaan bahwa di tempat-tempat tertentu, yang menjadi tempat ziarah dan berdoa orang banyak, kualitas airnya sangat baik. Banyak yang meminumnya. Banyak juga peziarah yang bahkan membawa air pulang dalam wadah air untuk dibagikan kepada sanak-saudaranya. Konon berkhasiat. Manjur & bermanfaat.

Mungkin air dengan tambahan doa seperti ini lebih manjut ketimbang air dengan oksidasi, tambahan mineral, bonus perasa supaya ada rasanya dan entah zat-zat apa lagi yang biasanya diiklankan di berbagai media massa. Lebih murah dan praktis karena tiap air dengan doa bisa didoakan sendiri.

Yang jelas, percaya atau tidak, minum air itu merupakan kebutuhan tubuh. Sedangkan bila ditambahi dengan doa, jelas itu memenuhi kebutuhan jiwa. Sebagai bonusnya, minum air dengan doa tetap bisa mengatasi rasa haus dan dahaga.

Pasar dan Pemberdayaan Masyarakat

Pasar merupakan tempat untuk berinteraksi dan bertransaksi antar warga masyarakat. Ada pembeli dan penjual. Bisa juga penjual yang merangkap sebagai pembeli. Ada perputaran barang sekaligus perputaran uang.

Pasar menfasilitasi bagi masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dengan membeli barang di sana. Di saat yang sama, pasar menjadi tempat yang membuat penjual mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan finansialnya. Intinya pasar memberdayakan masyarakat di sekitar pasar tersebut.

Semakin baik fungsi dan kondisi pasarnya, makin baik pula perputaran barang dan uang. Laris manis pasarnya, makin membaik perekonomian masyarakat setempat.

Oleh karena itu sangat penting bagi pemerintah daerah untuk membangun atau mengembangkan pasar yang ada di daerahnya. Tak selamanya pasar ada karena campur-tangan pemerintah. Banyak juga pasar-pasar yang muncul dengan sendirinya karena usaha swadaya masyarakat di suatu daerah. Tentu bila ada dukungan penuh dari pemerintah daerah, peningkatan kualitas dan kuantitas pasar-pasar akan menjadi lebih cepat dan tepat.

Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern seperti halnya mall, jaringan supermarket dan grosir waralaba; pasar memberdayakan anggota masyarakatnya untuk melakukan kegiatan usaha. Entrepreneurship. Baik dalam skala kecil-kecilan, menengah hingga besar.

Banyak penjual yang omzet penjualannya kini tergolong besar di pasar dulunya berangkat dari penjual kecil-kecilan. Lambat-laun usahanya membesar. Boleh dibilang entry level untuk ‘bermain’ di pasar cukup terjangkau untuk masyarakat dengan ekonomi yang pas-pasan.

Tak semua penjual di pasar bisa langgeng. Sangat banyak yang gagal dalam mengelola usahanya sehingga gulung tikar. Tutup karena bangkrut. Mungkin karena kurang pintar mencari pelanggan. Kurang rajin. Tidak jeli melihat peluang.

Namun tak hanya faktor internal saja yang membuat penjual menutup kiosnya di pasar. Ada faktor eksternal. Kondisi ekonomi yang tidak kondusif sehingga mematikan kegiatan pasar. Pusat perbelanjaan jaringan yang tumbuh dengan pesat dan didukung oleh pendanaan yang kuat. Pun begitu ada juga kondisi pasar yang tak lagi terawat sehingga mengurangi minat pembeli untuk mendatangi.

Hebatnya para penjual di pasar selalu saja tetap menjalankan usahanya sejelek apapun kondisinya. Dalam kondisi buruk atau kondusif, para penjual tetap melayani kebutuhan pembeli. Transaksi jual beli barang dan pertukaran uang tetap terjadi sehingga ekonomi tetap bergerak.

Pasar memang dari dulu memberdayakan masyarakat di sekitarnya. Makin baik pasarnya, makin baik pula tingkat perekonomian di daerah tersebut.

Pertanyaan besar yang masih tersisa. Apakah pemerintah daerah sudah benar-benar maksimal dalam mendukung perkembangan pasar?

Truk Remote Control

Setahu saya mobil-mobilan dengan pengendali remote control, yang biasanya cukup disingkat dengan RC, hanya berupa mobil. Namun ternyata ada juga yang berbentuk truk dengan beragam variannya. Truk pengangkut barang. Truk kontainer. Begitu juga dengan truk pengangkut mobil. Seperti yang saya lihat di video berikut ini yang memperlihatkan berbagai truk RC di suatu pameran RC di Belanda. Hebat juga varian RC ini; tak kalah keren dengan drone yang sedang ngetrend belakangan ini.

Buah Genit

Pernah dengar tentang buah genit? Mungkin. Namun bagi mereka yang mengerti pasti langsung menyebut buah Kesemek.

Buah Kesemek, dengan bentuk seperti buah Apel, memang memiliki kulit yang diseliputi lapisan seperti butiran putih. Mirip dengan bedak. Oleh karena itu pantas bila buah ini memiliki sebutan buah genit. Satu-satunya buah yang ‘bersolek’ dengan bedak.

Buah ini memiliki nama Bahasa Inggris yaitu Oriental persimmon. Buah yang hampir punah sehingga jarang dijumpai ini bisa dimakan langsung. Bisa pula diolah menjadi selai, agar-agar dan es krim.

Saya membahas buah ini gara-gara ibu saya penasaran dengan buah ini. Setelah mencarinya di Google, saya temukan foto dari buah Kesemek ini. Buah yang saking jarangnya dijual sehingga menimbulkan pertanyaan.

Kok Jalan Kaki?

Banyak masyarakat di tanah air kurang suka berjalan kaki. Ada beberapa sebabnya. Trotoar tidak memadai. Jalanan ramai dengan kendaraan. Namun ada satu sebab paling mengemuka. Yaitu malas jalan kaki.

Dengan begitu banyak orang memilih untuk mengendarai sepeda motor untuk mencapai tempat yang jarak tempuhnya relatif pendek. Masih ada yang memakai sepeda tetapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Alhasil norma yang berlaku adalah ‘berjalan menjadi sesuatu yang jarang terjadi’.

Oleh karena itu setiap kali saya berjalan kaki di sekitar rumah saya, pedesaan yang sudah setengah berubah menjadi area peluasan kota, ada saja yang bertanya ‘kok jalan kaki?’

Kini saya tak lagi terkejut ketika mendapat pertanyaan seperti itu. Sudah biasa. Maklum saja.

Jawaban saya pun standar. Olahraga. Dan memang itu tujuan saya berjalan kaki. Berjalan kaki terbukti bisa meningkatkan stamina tubuh. Selain itu memberikan efek yang baik bagi spiritual dan emosional. Ditambah bisa melihat-lihat dan bertegur-sapa dengan tetangga.

Cuma ada satu yang membuat saya prihatin. Saya merasa capai jalan kaki bukan karena jaraknya. Saya capai karena harus menghindari lubang dan batu-batu karena tidak ada trotoar yang berfungsi sepenuhnya. Belum lagi saya harus rajin menghindari mobil dan sepeda motor yang berseliweran dan kurang menghormati para pejalan kaki.

Namun saya tetap suka berjalan kaki. Ada lebih banyak sisi positifnya ketimbang negatifnya.

Kembali Memakai Jam Tangan

Hubungan saya dengan jam tangan tersebut memang unik. Jam tangan ini, satu-satunya yang saya miliki, saya dapatkan sebagai hadiah perpisahan dari tempat bekerja saya yang dulu.

Dulu saya selalu memakainya karena saya cukup terobsesi dengan waktu. Bentuk dan model jamnya juga bagus. Sesuai dengan selera saya. Tak mahal-mahal amat tetapi juga tak murahan.

Namun seraya waktu, dengan hadirnya ponsel pintar yang tentunya bisa memperlihatkan jam, saya pun mulai jarang menggunakan jam tangan tersebut. Makin jarang dan akhirnya tak memakainya untuk sementara waktu.

Setelah setahun lebih, barulah saya ingin memakainya kembali. Baterai jam tangan tersebut sudah habis. Alhasil saya pun mengganti baterainya. Beberapa saat saya pakai namun tak terlalu sering karena kalau siang hari dan berkeringat, rasanya menjadi tak nyaman menggunakan jam tangan. Lalu jam tangan tersebut saya simpan kembali. Tangan saya pun kembali bebas kembali.

Uniknya beberapa hari ini saya kembali terobsesi dengan waktu . Entah kenapa Sang Waktu sepertinya begitu menghipnotis saya. Mungkin karena saya mendapati bahwa sudah sekian lama saya kurang mempergunakan waktu dengan bijaksana. Oleh karena itu saya kembali memakai jam tangan tersebut.

Saat memakainya kembali, ada rasa yang unik. Saya merasa lebih bisa menghargai Sang Waktu dengan lebih bijak. Mungkin itu fungsi utama dari jam tangan. Selain untuk menunjukkan jam kapan pun ketika saya memerlukannya.

Omong-omong, jam tangan ini sudah menemani saya selama 8 tahun. Satu windu. Memang tak selalu berada di pergelangan tangan saya. Tetapi tetap setia untuk saya pakai kapan saja saya inginkan.

Lari 10 Kilometer

Saat jalan-jalan sore saya mendapati tubuh saya kurang fit. Terlintas di benak bahwa hanya beberapa tahun yang lalu saya sanggup mencapai garis finish dalam sebuah lomba lari 10 kilometer di Negeri Merlion.

Artinya saya harus meningkatkan kebugaran tubuh. Berharap bahwa saya harus bisa mengikuti lomba lari lagi. Dan tentunya bisa mencapai garis finish.

Semoga…

Mengenai 500 Kata Setiap Hari

Harusnya menuliskan postingan blog dengan 500 kata setiap harunya tidak susah-susah amat.

Kenyataannya tidak setiap hari saya mampu melakukannya. Masih sering bolong-bolong. Artinya saya kurang disiplin. Dan kedisiplinan menentukan keberhasilan seseorang.

Baiklah kalau begitu. Semoga saya bisa kembali lagi disiplin menulisi blog ini.

Embed Medium di WordPress

Berita gembira. Kini Medium sudah ada embed-nya. Loh? Seperti slogan iklan kecantikan saja.

Benar adanya bahwa sekarang pengguna WordPress.com kini bisa menempelkan laman di Medium di laman blog di WordPress. Caranya cukup dengan salin & tempel alamat URL dari laman di Medium tersebut ke laman baru yang dibuat di blog WordPress. Praktis.

Caranya mirip dengan menempelkan embed video YouTube dan gambar dari Internet. Untuk lebih jelasnya silakan baca penjelasan resmi dari Medium (dalam Bahasa Inggris) di bawah ini.

https://medium.com/@Medium/embed-medium-anywhere-3eaed64aed8a