Hadiah Terindah

Duh! Sekali lagi saya terharu biru gara-gara melihat iklan-iklan yang so sad tapi dalam maknanya. Termasuk iklan dari Negeri Matahari Terbit ini.

Ceritanya sederhana. Ayah dari sang mempelai perempuan memberikan hadiah perkawinan berupa permainan piano. Sang mempelai perempuan pun menangis karena tersentuh.

Namun di balik cerita sederhana itu ternyata ada kisah panjang yang mengawalinya. Saat si perempuan masih anak-anak, ibunya mengajarinya piano. Sayangnya saat ibu tersebut meninggal, si anak perempuan itu tidak melanjutkan pelajaran pianonya. Celakanya lagi hubungan anak perempuan dan ayahnya pun tidak terjalin dengan baik hingga akhirnya anak perempuannya memutuskan untuk tinggal di lain tempat.

Untuk memberikan hadiah yang spesial, sang ayah rela menghabiskan waktu dan berusaha sekeras-kerasnya untuk belajar memainkan satu lagu favorit yang dimainkan oleh istrinya dan diajarkan ke anak perempuan mereka.

Dan hasilnya pun luar biasa. Sebuah hadiah yang dalam maknanya. Lantunan musik yang mewakili seluruh perasaan cinta dari seorang ayah ke anaknya.

Dalam…

Iklan Paling Mengharukan

Iklan dari Negeri Siam tentang Kanker ini bikin saya terharu biru. Sungguh. Bikin saya nangis.

Pesannya dapat banget. Orang yang sering tidak kita hargai malah ternyata seseorang yang mencintai dan peduli dengan diri kita.

Dalam…

Pinjaman Uang Untuk Indonesia

Indonesia memang membutuhkan suntikan dana untuk mempercepat jalannya pembangunan. Negara ini juga butuh talangan uang untuk membayar hutang. Tapi apakah bangsa yang tanahnya subur dan memiliki sekian banyak tenaga kerja harus menerima pinjaman uang dari institusi keuangan dunia?

Jawabnya singkat. Tidak perlu pinjaman uang.

Indonesia memerlukan aliran investasi dari luar negeri dan dalam negeri. Bukan pinjaman uang. Saat aliran investasi mengalir lancar, roda perekonomian akan berputar dengan dinamis dan cepat.

Segampang itukah? Tentu saja tidak.

Tapi menerima pinjaman uang juga bukan hal yang gampang. Saat menerima pinjaman uang, suatu negara harus ‘patuh’ dengan aturan yang dibuat oleh pemberi pinjaman. Ketika mengembalikan uang pun juga tak selalu mudah. Pinjaman uang dalam bentuk Dollar Amerika tentu harus dikembalikan dalam mata uang Negara Paman Sam tersebut. Bila saat jatuh tempo, nilai tukar Rupiah jeblok tentu hutang menjadi berkali-lipat jumlahnya. Negara bisa jadi lebih dimiskinkan.

Jadi lebih baik menolak tawaran pinjaman uang?

Ya. Tolak saja. Bukannya memecahkan masalah tapi pinjaman uang bisa melipatgandakan masalah di masa sekarang dan di masa depan.

Apakah Anda ekonom ahli?

Bukan. Bukan ekonom. Tapi asalkan memakai akal sehat pastilah orang-orang waras akan memilih untuk tak menerima tawaran ‘manis’ berupa pinjaman uang; yang dulu pernah membuat Indonesia berada dalam kondisi gawat darurat.

Jadi?

Mari kembali bekerja. Biarkan pemerintah memutuskan yang terbaik untuk rakyat-rakyatnya.

Nasib Buruh Pabrik

Siapa sih memangnya yang mau menjadi buruh pabrik?

Tidak ada rasanya anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar yang memiliki cita-cita sebagai buruh pabrik bila sudah besar nanti.

Tidak ada pula buruh pabrik yang memiliki aspirasi untuk bekerja hingga pensiun dan tetap memiliki status profesi sebagai buruh pabrik.

Tidak ada kisah sukses dari seorang buruh pabrik. Yang ada hanyalah cerita keberhasilan seseorang menjadi pengusaha atau pejabat kantoran yang awalnya dulu pernah menjadi buruh pabrik. Tapi tidak ada buruh pabrik yang sukses; baik secara finansial atau intelektual.

Buruh pabrik itu semata hanya alat produksi yang berbasis tenaga manusia. Tak lebih dari itu. Bila tak produktif, eksistensinya tak lagi berarti. Semisal bila sudah usia lanjut, sakit-sakitan atau tak lagi rajin.

Buruh pabrik juga dianggap komponen yang bisa direduksi bila kuota produksi berkurang. Namun jumlah buruh pabrik akan ditambah saat permintaan meningkat. Naik turunnya produksi berkorelasi dengan penambahan dan pengurangan jumlah buruh di suatu pabrik.

Buruh pabrik tak jarang dikorbankan. Keamanan tempat kerja tak dipedulikan sehingga banyak buruh yang mengalami kecelakaan di tempat kerja. Bila sudah sakit atau cacat karena insiden maka ‘karir’ seorang buruh akan berhenti di situ. Banyak juga yang tewas saat bekerja dan hanya dihargai dengan biaya penguburan secukupnya ditambah ganti rugi untuk keluarga yang bersedih.

Begitulah nasib buruh pabrik. Nasibnya tak bagus-bagus amat. Namun ada sekian banyak orang yang berebut untuk menjadi buruh pabrik. Alasannya sederhana. Itulah profesi yang legal dan tersedia oleh golongan ekonomi lemas dan berpendidikan rendah.

Bahkan pabrik-pabrik yang dianggap tak manusiawi dan memperhatikan hak-hak para buruh tetap saja memberikan secercah harapan untuk bertahan hidup bagi para pekerja kerah biru tersebut. Lebih baik bekerja dengan kerja keras meskipun hasilnya kecil ketimbang menyerah kalah dan memilih menjadi pengangguran.

Tapi sekali lagi, buruh adalah manusia. Kontribusinya harus diberikan penghargaan yang sesuai dengan kemampuannya. Tanpa adanya ratusan atau ribuan buruh, sebuah pabrik bisa berhenti berproduksi. Dan akhirnya gulung tikar.

Beberapa pabrik memberikan perhatian dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mensejahterakan buruh-buruhnya. Alhasil buruh pabriknya terjamin hidupnya sehingga tetap bisa berproduksi dengan optimal. Namun pabrik-pabrik seperti ini tak banyak rupanya.

Lebih banyak pabrik-pabrik yang ‘memerah’ buruh-buruhnya dengan cara-cara yang kurang manusiawi. Main pecat tanpa aturan yang jelas. Potong gaji bila buruhnya sakit. Bahkan tindakan-tindakan mengancam jiwa untuk membuat buruhnya bekerja jauh lebih keras lagi. Sayangnya banyak instansi pemerintah yang abai dengan keberadaan pabrik yang menganggap buruh-buruhnya sebagai sapi perahan.

Lalu bagaimana cara untuk memperbaiki para buruh pabrik sehingga nasibnya menjadi lebih baik?

Saya tidak tahu. Apakah Anda juga tahu?

Tidak di negeri ini saja buruh pabrik memiliki nasib yang buruk. Di negara-negara lain di berbagai belahan dunia ini, kebanyakan buruh pabrik bernasib kurang mujur. Amerika? Jepang? China? Inggris? Malaysia? Semua lebih kurang nasibnya sama. Buruh pabrik tak memiliki hidup yang layak.

Bagaimana dengan negara-negara maju? Pastilah buruh pabrik di negara mereka memiiki hidup yang lebih baik. Bukankah begitu?

Mungkin saja. Tapi ingat bahwa negara-negara maju tersebut juga mempekerjakan buruh-buruh dari negara lain — yang umumnya orang-orang dari negara-negara berkembang atau negara miskin — dengan gaji yang lebih rendah dan kondisi kerja yang tak manusiawi. Yang jelas-jelas warga negara sendirinya saja tak lagi mau melakukan pekerjaan tersebut.

Lalu bagaimana dengan nasib para buruh pabrik?

Ada jalan keluarnya supaya nasib mereka menjadi lebih baik. Solusinya bukan dari pemilik pabrik. Bukan juga dari pemerintah. Jangan tanya lagi pemecahan dari lembaga swadaya masyarakat yang kebanyakan bisanya cuma melontarkan wacana dan berkoar-koar.

Jalan keluarnya adalah pendidikan. Seorang buruh harus merencanakan hidupnya. Silakan menjadi buruh untuk beberapa tahun untuk bertahan hidup. Tetapi harus tetap menambah kemampuannya dengan mendapatkan pendidikan. Tak mudah memang. Tak harus pendidikan formal. Bila sudah mencapai tingkat pendidikan yang lebih baik, seorang buruh baru bisa melompat ke jenjang berikutnya. Mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Atau bisa jadi mulai berwiraswasta; bisa di kampung halaman atau di tempat dia hidup saat itu.

Tapi tidak semua buruh pabrik bisa mendapatkan pendidikan? Atau minimal cukup pandai untuk bisa keluar dari ‘perangkap ekonomi yang membuat mereka tetap menjadi buruh pabrik’?

Memang tidak semua buruh pabrik akan ‘kelar’ menjadi buruh pabrik. Hampir sebagian besar dari buruh pabrik akan bekerja menjadi buruh pabrik selama hidupnya; hingga pabrik tersebut tak lagi membutuhkan jasa dan tenaganya karena tenaga dan kemampuannya yang berkurang karena usia.

Tapi bila segelintir buruh pabrik bisa ‘lulus’ dengan baik dan ‘naik kelas’ maka hal tersebut bisa menjadi pembelajaran dan harapan bagi buruh-buruh lainnya untuk setahap lebih maju dalam kehidupan mereka.

Kesimpulannya bagaimana?

Jangan jadi buruh pabrik. Nasibnya kurang mujur. Kalaupun sudah terlanjur jadi buruh pabrik, segeralah ‘lulus’ dan ‘naik kelas’. Yang namanya buruh ya tetap saja buruh.

#nasib #buruh_pabrik memang #kurang_mujur

Wiraswasta

Siapa bilang di Indonesia tidak banyak orang yang memiliki jiwa wiraswasta? Itu tidak benar. Buktinya di sekeliling kita, ada saja yang memulai usaha. Ada yang berhasil. Ada yang gagal. Ada juga yang masih di garis batas perjuangan.

Contohnya kemarin. Ada mas-mas yang masih tergolong muda. Dia bercerita bahwa dia membuka warung milkshake di beberapa tempat. Pas pertama buka berhasil. Buka di tempat lain, sayangnya gagal. Namun dia tak berhenti berjuang. Selain itu, mas-mas tadi masih giat mencari uang dengan memberikan layanan pengolahan gabah tiap kali ada gabah. Pun di rumah, istrinya giat belajar membuat tahu berbumbu yang dititipjualkan di banyak warung.

Selain itu, di dekat rumah saya ada rumah makan baru. Modalnya cukup besar dan kelihatannya ditanggung beberapa orang anggota keluarga atau rekan-rekannya sekaigus; yang kelihatannya lumayan mapan secara keuangan. Mungkin sudah keluar uang seratus juta untuk membangun rumah makan, menyewa tanah dan melengkapi peralatan masak. Belum lagi keluar biaya untuk menggaji karyawan dan bahan makanan. Hingga satu bulan pertama rumah makan masih sepi tapi tetap tak menyerah.

Dua ilustrasi tadi hanya secuil dari jiwa wiraswasta yang dimiliki oleh warga Indonesia. Tak melulu semua orang ingin bekerja di perusahaan swasta atau menjadi pegawai negeri.

Menjadi pengusaha, baik skala kecil atau besar, biasanya merupakan pilihan. Tak mudah dijalani. Banyak tantangannya. Kemungkinan rugi dan gagal pun cukup besar.

Tentu ada juga orang-orang yang ’terpaksa’ menjadi wiraswasta karena kondisi ekonomi atau tidak bisa terserap oleh lapangan pekerjaan.

Tak peduli bahwa seseorang menjadi wiraswasta karena pilihan atau terpaksa, langkah mereka patut diacungi jempol.

Sejarah membuktikan bahwa negara atau bangsa yang memiliki prosentase tinggi akan penduduk yang berwiraswasta jelas meningkatkan produktivitas suatu wilayah tersebut. Implikasinya positif yaitu pergerakan ekonomi yang lebih dinamis. Kemakmuran pun menjadi terdistribusikan secara lebih merata.

Salut untuk mereka yang melangkah menjadi seorang pengusaha. Mereka yang berusaha untuk mensejahterakan dirinya dan orang lain dengan aktivitas wiraswasta.

5 Paragraf dan 500 Kata

Saya menggunakan blog ini sebagai tempat melakukan eksperimen menulis. Wahana pembelajaran untuk saya pribadi.

Dulu pernah saya memakai pendekatan untuk menulis sebuah postingan dengan aturan ‘5 paragraf’. Tujuan yang ingin dicapai adalah menulis dengan singkat dan jelas; tanpa menjadi terlalu panjang sehingga membuat proses membacanya menjadi suatu ‘siksaan’ tersendiri. Lagipula siapa yang akan betah membacanya bila artikelnya panjang-panjang.

Pun ada saat di mana saya suka menuliskan postingan yang pendek. Sangat pendek malah. Tak perlu sampai lima paragraf. Sesekali satu atau dua paragraf. Mungkin ditambahi sematan video dari YouTube atau gambar .jpg yang saya rasa menarik.

Namun akhir-akhir ini saya menantang diri saya sendiri untuk menuliskan artikel yang minimal mencapai ‘500 kata’. Seperti apa yang disarankan oleh para penulis-penulis modern bahwa melatih menuangkan kata hingga 500 kata bisa membuat kemampuan menulis menjadi lebih produktif. Dengan takaran 500 kata, tentu harus ada informasi atau nuansa kata yang harus ditambahkan pada suatu postingan. Tentu di saat yang sama harus tetap menjaga supaya tulisan tetap mengalir dengan baik antar paragraf dari awal hingga akhir.

Dan memang ada beda antara menulis dengan pendekatan 5 paragraf dengan 500 kata. Bisa juga kalau mau menggabungkan keduanya. Yaitu postingan dengan 500 kata yang dibagi dalam 5 paragraf. Hanya saja 1 paragraf yang memiliki 100 kata sepertinya cukup panjang. Lebih sedikit jumlah kata dalam sebuah paragraf tentu lebih manusiawi dan lebih mudah untuk dibaca.

Eksperimental menulis tentu tetap saya lakukan. Mungkin suatu saat nanti, saya akan menggunakan pendekatan yang lain lagi.

Kita lihat saja nanti…

Menonton Game di Internet

Sebagai orang yang jarang sekali bermain game — baik yang bisa dimainkan melalui ponsel pintar, konsol game atau arcade — saya tidak tahu apa sih senangnya bermain game dalam waktu yang lama dan relatif sering.

Sesekali memainkan game tentu bisa membuat pikiran menjadi rileks. Sekedar hiburan. Tak lebih dari itu.

Ada satu fenomena dalam dunia game yang lebih sulit saya pahami. Fenomena menonton permainan orang lain. Untuk apa? Mengapa tidak memainkannya sendiri?

Beberapa kali saya sering lihat di event-event game besar di mana para pemain yang mahir berkompetisi dalam memenangkan game. Selain layar monitor di mana para pemain pro dan amatir tersebut bermain, ada layar super besar yang mempertontonkan perkembangan game secara real-time. Banyak orang menonton dan mengikuti pertandingan tersebut hingga berakhirnya game. Untuk hal ini saya bisa maklum karena sepertinya menarik melihat permainan yang cepat dan taktis dari pemain-pemain yang memiliki kemampuan di atas rata-rata pemain biasa. Lumayan seru.

Tak berhenti di situ. Ternyata ada juga situs-situs yang khusus ditujukan untuk para pemain game untuk mempertontonkan permainan mereka kepada khalayak umum. Berbagai situs tersebut juga dikunjungi oleh para antusias game untuk menonton sesi permainan orang lain. Saya berasumsi pengunjung situs seperti itu pastilah orang yang gemar bermain game. Pas dan wajar kalau mereka berkunjung ke situs tersebut.

Dua situs yang cukup terkenal adalah http://www.twitch.tv dan https://gaming.youtube.com. Twitch TV merupakan pioner sebagai wahana untuk mempertontonkan dan menonton game. Sedangkan YouTube Gaming merupakan saluran YouTube terbaru sebagai jawaban Google atas meningkatnya permintaan saling tonton game.

Dua situs tersebut membuat saya jadi makin heran. Ternyata banyak juga orang yang menonton game bersama-sama. Untuk apa?

Saya mencoba berpikir apa alasannya mereka menonton game.

Pertama adalah kebutuhan untuk mendapatkan rasa seru dalam permainan tanpa harus memainkan game tersebut. Seperti laiknya melihat film aksi.

Kedua mungkin keinginan untuk mempelajari strategi bermain sehingga memungkinkan penontonnya — sesama pemain game — untuk meningkatkan kemampuan permainannya. Terutama mendapatkan petunjuk ketika permainannya menemui jalan buntu.

Ketiga adalah rasa ketertarikan kepada game-game yang baru tapi masih ragu untuk membelinya. Dengan menonton game tersebut terlebih dahulu bisa membuat calon pembeli game menjadi yakin apakah game tersebut benar-benar menarik atau tidak.

Keempat mungkin alasan yang klise. Yaitu menonton game hanya karena merasa bosan. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Membuang waktu saja.

Fenomena menonton game orang lain memang unik. Mungkin aktivitas seperti itu sudah ada sejak lama. Namun saat inilah menonton game menjadi makin populer. Game menjadi sebuah kebutuhan yaitu suatu bentuk dari hiburan. Bagian dari budaya dan kehidupan sebagian orang.

Menarik, bukan?

Tapi saya juga berandai-andai. Apabila semua waktu yang dihabiskan untuk bermain game dan menonton game dialokasikan untuk sesuatu yang lebih produktif, rasa-rasanya produktivitas — masing-masing orang dan secara kolektif — akan jauh bijak. Semisal untuk berbincang dengan orang lain. Bisa juga untuk melakukan aktivitas ekonomi atau malahan membantu sesama yang membutuhkan.

Dunia, atau minimal sekitar kita, akan menjadi lebih baik kualitasnya.

Tapi sekali lagi itu hanya opini saya yang bukan sebagai seorang pemain game. Just my two cents.