Berkurangnya Minat

Saya merasa akhir-akhir ini minat saya untuk menonton film dan ngeblog sudah memudar. Entah kenapa. Mungkin karena terlalu banyak pikiran. Pun saya juga sudah tak sesering dulu mengunggah laman Instagram saya. Bosan, mungkin. Bisa jadi karena kurang dolan. Entahlah.

Justru saya suka konten pendek yang bisa dikonsumsi dengan cepat. Cuplikan film. Juga dengan berita di berita daring.

Bisa jadi minat saya menikmati sesuatu berkurang karena segalanya menjadi lebih instan. Tak lagi sabar untuk menunggu film selesai. Juga tak sabar untuk menuliskan sesuatu di blog ini.

Keasyikan Instagram

Salah satu alasan mengapa blog Munggur ini lama tak menggunggah postingan baru karena saya keasyikan main Instagram.

Instagram – atau yang disingkat menjadi IG – lebih praktis. Jepret foto. Beri caption. Beres sudah. Tak perlu menulis panjang. Hebatnya lagi IG memang dikondisikan untuk digunakan di ponsel pintar. Dengan begitu, makin banyak orang yang memakai IG karena sangat praktis.

Tentu IG memiliki keterbatasannya sendiri. Menulis kurang leluasa karena hanya berupa teks yang sederhana. Plain text. Hanya saja tertutupi oleh banyaknya jumlah pemakai dan interaksi yang mudah bagi para sesama Instagramernya.

 

Apakah karena unggah postingan di WordPress merepotkan? Tidak juga sih. Saya saja yang suka malas membuka WordPress – baik di ponsel pintar atau pun laptop.

Instagram memang mengubah cara berbagi media. Membuatnya menjadi lebih sederhana dan fokus pada berbagi foto.

Perpustakaan Megah

Perpustakaan memiliki nilainya dari banyaknya kumpulan buku yang dikoleksi. Makin banyak, makin bernilai. Tak hanya ribuan buku. Perpustakaan megah nan modern bisa menampung jutaan buku. Luas biasa, bukan?

Pertanyaan yang muncul, apakah masih relevan untuk mendirikan satu atau dua perpustakaan super besar di suatu kota?

Tergantung siapa yang akan menjawabnya. Kaum akademisi tentu akan mengamininya. Begitu pula para pejabat suatu daerah yang bakal bangga bila bisa memberikan layanan perpustakaan yang “wah”.

Padahal di satu sisi, biaya dan usaha untuk mendirikan satu perpustakaan super besar bisa dialokasikan untuk memberikan perpustakaan kecil di banyak bagian kota. Bahkan kalau perlu, biayanya bisa digunakan untuk mengadakan perpustakaan keliling dengan mobilitas tinggi sehingga makin banyak warganya yang bisa mengakses buku-buku yang menambah wawasan.

Gambar dari Tribunnews.

Gambar dari Tribunnews.

Saya lebih mendukung gerakan di mana distribusi perpustakaan tersebar secara merata. Justru daerah pinggiran kota perlu mendapatkan perhatian karena akses ke sumber wawasan terbatas. Berbeda dengan penduduk di pusat kota yang sudah memiliki akses dengan buku-buku di berbagai perpustakaan di tengah kota; seperti perpustakaan instansi atau universitas.

Perpustakaan megah itu seperti menara atau tugu. Berdiri megah untuk dikagumi. Sentralisasi sumber buku sudah kuno dan kurang relevan. Desentralisasi justru menjadi kunci supaya semua lapisan masyarakat mendapatkan akses sumber pengetahuan yang sama. Dengan demikian keadilan sosial akan mudah dicapai.

%d blogger menyukai ini: