Tujuan Hidup

Ketika kita masih anak ingusan, meskipun kemana-mana sudah bawa tisu, paling sering ditanya oleh orang dewasa dengan pertanyaan “Kalau gede mao jadi apa?”.

Seraya waktu, justru kita semakin sulit menjawabnya. Padahal kapasitas otak bertambah berkali lipat. Pertanyaan yang dilontarkan pun makin sulit dan rumit untuk dipikirkan, apalagi dijawab.

Sebuah pertanyaan terlintas, What Do You Really Hope To Achieve In Life?

Uraiannya bisa dibaca di situs Conectique.com dengan link http://www.conectique.com/enlight_your_life/

Semoga dengan membacanya, pembaca sekalian bisa merenungkan apa saja yang benar-benar Anda harapkan dalam hidup yang kontraknya hanya sekali. Kecuali bila
Anda percaya dengan adanya reinkarnasi.

Dengan begitu kita bisa mengakhiri saat senja dengan bernyanyi “My Way” yang dulu dilantunkan oleh Frank Sinatra.

Dan bertemu Sang Khalik dengan penuh syukur atas hidup yang sebenarnya teramat indah ini.

Adanya Tuhan

Sebuah pesan e-mail dengan baris link ke suatu situs mampir ke kotak e-mail saya. Lantas saya buka dan sebuah pertanyaan tertuju kepada saya.

Percayakah Anda Tuhan Itu Ada?

Yang kemudian diikuti dengan pertanyaan yang tak kalah menggugah:

Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?
Apakah kejahatan itu ada? Apakah Tuhan menciptakan kejahatan?

Seterusnya silakan klik link tersebut di:

http://www.conectique.com/enlight_your_life/article.php?article_id=4321

Kesimpulannya, Tuhan itu ada. Hanya kita yang kurang rajin dan pura-pura menghiraukannya. Ingat bila sebagai insan lemah membutuhkannya.

Berbagi Flock Untuk Berbagi

Dulu, ketika dunia jejaring maya masih berstatus Web 1.0, alur informasi “satu pihak ke satu pihak” dan “satu pihak ke banyak pihak“. Audiens dijejali dengan banjir informasi. Situs-situs bersifat statis yang menawarkan monolog belaka. Situs berita sebagai contohnya.

Kini, beralih ke masa di mana informasi bisa didistribusikan dari “banyak pihak ke banyak pihak“. Istilahnya, berbagi informasi. Milis, blog, situs interaktif, situs komunitas, situs jejaring sosial dan situs berbagi foto dan video menjadi bentuk internet yang kian disukai. Juga dibutuhkan. Disebutlah nama Web 2.0.

Tentu berbagi itu menyenangkan. Foto kala teman melangsungkan pernikahan, video masa remaja, opini dan pemikiran baik yang cerdas maupun yang berupa omong kosong belaka dan tempat-tempat baru yang menarik untuk bersama dikunjungi di belantara internet.

Sayangnya, berbagi menuntut kerepotan yang luar biasa dan waktu yang tidak sedikit. Berbagi di milis, mengharuskan kita membuka e-mail atau situs penyedia milis. Berbagi foto, wajib membuka Flickr atau Photobucket secara manual melalui situs mereka. Berbagi situs, info dan berita, juga mensyaratkan kita untuk mengakses situs interaktif penyimpan URL favorit (Favorites) semacam del.ici.ous atau Shadows.

Terbayang betapa melelahkannya dan ketidakpraktisannya. Menyerah?

Muncul sebuah browser yang mengintegrasikan beberapa kemampuan berbagi – pencarian (searching), berita (news), menge-blog (blogging), berbagi foto (photo sharing) dan berbagi URL situs favorit (favorites sharing).

Namanya Flock, dengan slogan “the web browser for you and your friends“, mengusung merek produk yang mengutamakan “kemudahan dan menyenangkan” dalam penggunaannya.

Cukup dengan mengunduhnya secara cuma-cuma di www.flock.com, menginstalnya di cakram keras (hard disk) komputer atau di cakram USB (USB Flash disk) dan kemudian memulai beberapa langkah sederhana untuk mengatur daftar akun di berbagai layanan berbagi.

Terakhir, mulailah langkah awal Anda untuk berselancar dan berbagi. Tentu, dengan masih menghormati dan menghormati konten yang saling dibagikan. Minimal dengan mencantumkan kredit, kutipan atau sumber asal konten tersebut.

Mari berbagi dengan teman tentang browser interaktif ini. The social web browser.

Mari berbagi!

Blogged with Flock

Disiplin

Mendengar kata itu membuat banyak orang berpikir tentang keringat, rasa tidak nyaman dan rasa capai tak terhingga. Sebaliknya, segelintir insan penuh talenta dan karya berpendapat itu adalah cara efisien untuk mewujudkan cita-cita tertinggi mereka.

Setiap hari gosok gigi dua kali sehari. Sulit? Ah, itu kan biasa. Anak kecil juga biasa. Bagaimana pun itu adalah bentuk disiplin.

Baik kita tidak anak kecil lagi dan bisa dsebut dewasa. Bagaimana kalau mengerjakan proyek pribadi Anda sendiri? Makan sehat teratur tiap hari sehingga “pager” tidak bertumbuh besar di pinggang. Menyimpan gaji di awal bulan sebelum kehabisan alat tukar tersebut di sebuah mal. Atau merawat relasi dengan keluarga dan kolega sebelum menyadari kesendirian yang mencekam.

Bagi saya, disiplin berarti kegiatan menuliskan beragam ide yang muncul dari dalam benak. Minimal satu putaran jarum panjang pada alat elektronik penghitung waktu. Lebih lebih baik namun jangan kurang. Aktivitas menulis pun tidak terbatas harus berhadapan dengan komputer. Bisa dengan buku notes yang selalu saya bawa kemana-mana atau bahkan secarik kertas yang tidak lagi terpakai. Itu pun belum ada jaminan bahwa coretan saya di lembaran putih bisa menjadi sepotong artikel di media masa atau sebuah buku yang diterbitkan. Masih jauh.

technorati tags:

Menembus Batas

Terkadang karena sedikit capai atau menemui kesulitan, banyak orang akan beristirahat atau berhenti bekerja. Bahkan, mengeluh tiada henti. Lebih sering mengkambinghitamkan situasi, menyalahkan orang lain dan menghujat Sang Pencipta karena memberi terlalu banyak cobaan dan ujian. Saya pun juga.

Hingga suatu hari ada tontonan gratis film dokumenter yang selalu menghiasi salah satu stasiun tv swasta. Biografi tentang Ernesto Guevara yang lebih populer dipanggil Che – yang berasal dari cara sapa orang Kuba. Si orang Argentina yang lebih dikenal sebagai “Rebelde” ternyata sering sakit-sakitan. Mengidap asma sejak kecil hingga akhir hayatnya. Namun, bukan berarti dia hanya duduk-duduk berpangku tangan menunggu maut menjemputnya. Justru dia dengan gagah berani memerangi ketidakadilan dengan mengangkat senjata, menyeberangi berbagai pelosok hutan dan menyusuri sungai-sungai. Mencari maut, kata orang.

Tidak jauh berbeda, Armstrong sang pembalap yang memenangi tujuh Tour de France tidak hanya mampu menaklukkan tanjakan bukit-bukit Perancis, namun juga mengalahkan pedihnya dan sakitnya kanker prostat yang diidapnya. Padahal, membalap sepeda berarti duduk berjam-jam di atas sadel yang tidak empuk. Bayangkan?

Berdua mereka menembus batas hingga mencapai tingkatan di atas rata-rata orang. Hebat! Itu kata pertama yang terlontar dari benak saya. Mengagumi tidaklah cukup. Pertanyaannya kapan saya bisa menembus batas seperti mereka? Dan, bagaimana dengan Anda?

technorati tags:, ,

Think Different

Menjadi berbeda tentu tak sama dengan asal beda. Bila rekan kita mendengarkan alunan lagu keroncong, pastilah dia memang gemar jenre musik tradisional itu. Begitu juga dengan teman yang menghendaki untuk tidak makan daging ketika mereka memutuskan untuk menjadi vegetarian, untuk alasan kesehatan. Mereka mempunyai tujuan yang jelas untuk menjadi tidak sama.

Tidak sama sering menjadi bumerang untuk pelakunya. Seorang bocah sekolah dasar bisa jadi diolok-olok bila sepatunya tidak sekeren dan sebaru kumpulannya. Padahal, dia tidak hendak memakai sepatu baru karena begitu menghargai alas kaki kesayangannya itu. Galileo dan Copernicus pun juga merasakan diisolasi dari masyarakat yang tak mempercayai pemikiran mereka yang muncul lebih dini dari masanya. Pahit memang.

Namun, Steven Jobs melalui perusahaan Apple mampu mendiferensiasikan produknya sebagai komsumsi gaya hidup yang berstatus tinggi. Menghadirkan pengalaman berkomputer yang menyenangkan dan memudahkan penggunanya. Meski harganya terlanjur dicap kelewat mahal. Slogannya yang terkenal “Think Different” menjadi ikon yang mendunia.

Menjadi berbeda sebenarnya sudah alamiah karena memang kita diciptakan tidak pernah sama dengan insan yang lain oleh Sang Pencipta.

Maka hargailah perbedaan.

technorati tags:

Puasa

Tidak makan dan tidak minum dari saat ketika sang surya beranjak ke singgasananya hingga tenggelam ke ufuk Barat. Tentu boleh makan sebelum itu dan sesudahnya, bila tidak pasti ajaib namanya. Bisa dipastikan si empunya perut hanya akan tinggal nama.

Aktivitas ini dilalukan oleh saudara Musim di mana pun di dunia, termasuk di bumi pertiwi selama bulan suci yang baru saja dimulai. 30 hari menahan hawa nafsu dan merenungi jalan hidup. Sambil lebih banyak berbincang dengan Sang Khalik.

Bulan tersebut adalah bulan yang istimewa. Segala aspek kehidupan, bahkan di ibu kota yang terlihat tak pernah berhenti berputar hingga larut malam, akan segera berubah. Ritme menjadi lebih lamban, menyesuaikan dengan jam istirahat berbuka puasa dan bertoleransi dengan yang berpuasa.

Sayang, banyak orang lain juga yang harus rela ikut-ikutan puasa. Pasalnya, ribuan rumah makan dan puluhan toko makanan hanya buka pada senja hari hingga malam. Akibatnya, makanan instan menjadi solusi pertama, meski bukan yang tersehat dan utama. Cukuplah untuk menyibukkan usus daripada sakit maag.

Bila yang menjadi alasan adalah ekonomi, cukup mudah dipahami. Minimnya pembeli di siang hari tentu akan merugikan pedagang makanan, buka sore dan pagi akan memberikan untung yang sepadan. Namun, bila dalihnya hanya berupa toleransi, sangatlah tidak tepat.

Toleransi muncul dari kesadaran bukan paksaan. Justru berpuasa akan lebih afdol bila terdapat godaan di depan mata. Puasa adalah proses internal masing-masing insan kepada Khaliknya tanpa mengganggu eksistensi lain orang.

Untungnya saya sudah terbiasa berpuasa. Bukan karena tuntunan agama tetapi karena finansial pribadi yang tidak beranjak lebih baik. Saya tidak bermaksud menyalahkan ketidakbecusan pemerintah, justru refleksi bahwasannya saya kurang ulet dan kreatif mencari penghasilan.

Dengan begitu, sekarang pastilah terdapat berjuta-juta orang yang menoleransi puasa saya selama ini.

technorati tags:,