Airport Tax

30 ribu adalah harga yang harus dibayar kala seorang penumpang hendak bepergian naik pesawat terbang dari bandara setempat untuk tujuan domestik. Semisal, dari Bandara Adisucipto Yogyakarta ke Bandara Cengkareng Jakarta.

Jelas itu untuk pajak. Yang tidak jelas adalah apa konsekuensinya bagi penumpang. Tidak ada penjelasan apakah pembayaran pajak semacam ini akan meningkatkan kualitas bandara. Atau dunia penerbangan domestik secara signifikan.

Herannya, kala saya di Changi untuk perjalanan pulang ke Indonesia, saya tidak diharuskan untuk membayar pajak apa pun namanya itu. Padahal, bandara itu menawarkan bermacam fasilitas gratis dan infrastrukturnya sangat berkualitas.

Jadi, ya bersiaplah menyediakan 30 ribu bila Anda hendak bepergian naik pesawat untuk jurusan domestik. Untuk tujuan internasional, malah lebih mahal yaitu 100 ribu. Itu pun belum ditambah biaya Fiskal sebesar 1 juta yang lebih tidak jelas lagi peruntukkannya.

Naik pesawat ternyata mahal, ya! Namun, asalkan selamat sampai tujuan, tak mengapa lah. Itu pun jika selamat.

Paspor

Kartu mungil yang harus dibawa-bawa bila hendak bepergian ke luar negeri itu warnanya hijau. Memang diperlukan banyak lembaran kertas hijau (pecahan dua puluh ribu) untuk membuatnya di kantor imigrasi yang matanya hijau. Waktu itu harus saya tebus dengan 5 lembaran uang 100 ribuan. Tentu dengan negosiasi dan mengatakan kata kuncinya ‘paspor ekspres’.

Ternyata besaran uang berdampak pada cepatnya proses pembuatan paspor saya. Hanya tiga hari. Normalnya mungkin 1-2 minggu. Harga dasar yang tertera di papan sekitar dari 250 ribu. 250 ribu sisanya dipakai untuk memindahkan formulir saya dari yang paling bawah ke tumpukan paling atas. Alih-alih ‘uang insentif’. Apa boleh buat daripada menunda keberangkatan ke negara tetangga.

Bila memang ada waktu sebaiknya Anda membuat paspor jauh-jauh hari. Sebaliknya kala mendesak, bilang saja ‘saya mau paspor ekspress’. Semua juga sudah tahu. Sama-sama tahu.

Saya sedikit menyesal karena harus menyuap, namun apa boleh buat?!

Yahoo Tech

Sering kita menghakimi teman atau rekan yang gagap teknologi (gaptek). ‘Hari gini masak loe gak bisa sih?’ Padahal teman tersebut sedang sangat membutuhkan bantuan tentang pernak-pernik gadget atau komputasi, bukannya ejekan.

Saya pun juga sering menemui kesulitan memahami tetek-bengek dalam dunia internet dan komputer. Maklum, dunia elektronik ini berkembang lebih pesat daripada pemahaman saya.

Ternyata kita semua bisa mulai memperluas pengetahuan tentang hal-hal berbau elektronik hingga internet di www.tech.yahoo.com. Bahasannya lugas dan sistematis.

Sayang sekali halaman situs tersebut belum tersedia dalam bahasa Indonesia. Meski saya yakin banyak dari kita tidak akan mengalami kesulitan membaca informasi dalam bahasa Queen Elizabeth. Namun, ada kalanya pengetahuan dapat diserap lebih cepat bila memakai bahasa ibu kita, bahasa Indonesia.

Selamat belajar.

XL@Singapura

Terdapat kekhawatiran membayang sebelum saya berangkat ke negeri tetangga kita, Singapura. Apakah bisa nomor XL Bebas saya bekerja dengan baik di sana?

Bertanya kesana-kemari, saya tidak mendapatkan jawaban memuaskan. Bahkan dari XL Center pun, para stafnya pun tidak terlalu yakin. Malahan mereka menawarkan saya untuk migrasi ke layanan tertentu dengan membayar 1,5 juta agar HP saya bisa digunakan untuk berkomunikasi. Itu pun sebatas kirim dan terima SMS.

Ternyata di Singapura, XL bekerja sangat baik untuk bertukar SMS, tentu ongkosnya lebih banyak dari biasanya. Saya belum mencoba apakah saya bisa menelepon karena tidak mau pulsa saya habis seketika.

Mungkin XL Bebas bekerja tanpa masalah karena Excelcomindo sudah dibeli oleh perusahaan telekomunikasi asal negeri jiran, Malaysia.

Januari 2007

Tak banyak yang berubah di Januari ini.

Kecelakaan AdamAir masih terbayang dan tak juga jelas informasinya. Tentu keluarga korban semakin sedih meski beberapa sudah merelakan orang-orang yang mereka cintai.

Malah yang marak menjadi perhatian adalah Flu Burung yang kian memarak di tanah air. Ini berkebalikan dengan kondisi di negara-negara tetangga semacam Thailand dan Filipina yang relatif berhasil menuntaskan masalah virus yang menakutkan ini.

Politik tak pernah bergerak membaik. Masih menyoal pemberantasan korupsi yang tak kunjung berakhir dan tuntas.

Artis-artis tak pernah sepi dari berita. Sayang, akhir-akhir ini tak banyak yang saya dengar. Maklum, saya bukan maniak TV.

Semoga di Februari ada banyak berita positif di negeri kita.

Valentin

Tak sedikit pasangan yang sedang memadu kasih menunggu datangnya bulan Februari. Tepatnya 14 Februari. Katanya hari yang paling tepat untuk berucap bahwa ‘aku cinta padamu’, ‘wo ai ni’, ‘i love you’ atau dalam bahasa lainnya. Seraya berbagi coklat, kartu ucapan, bunga mawar atau bahkan bunga bank. Tentu tak lupa yang lebih personal, yaitu sebuah ciuman, entah di kening atau di bibir yang merona.

Romantis. Tentu untuk yang sedang berpasangan. Sebaliknya, yang sedang dirundung kesepian akan melewatkan hari tersebut secepat mungkin sembari mengurung diri di rumah. Maklum, di luar rumah dan tentu di pusat perbelanjaan, terlalu banyak pasangan yang bergandengan dengan mesra.

Nah, mungkin yang tak berpasangan ini lalu menganggap hari Valentin (lebih) cocok untuk berbagi kasih dengan sanak keluarga, handai taulan, rekan sejawat dan jomblo-jombli yang lain.

Tentang kado marilah sepakat bahwa sedikit membosankan bila pemberian berupa coklat atau bunga. Coba deh yang lebih intelek, semisal buku. Bisa juga barang personal yang berguna atau dengan kata lain selalu dibawa kemana-mana oleh orang yang kita sayangi. Bisa jadi itu wadah HP, dompet, korek api spesial, helm atau jam tangan. Kado tak perlu mahal namun berarti dan tulus.

Selamat Hari Valentin! Untuk Anda semua, baik yang sedang bergandengan tangan atau menggengam asa.

Senyum

Siapa bilang mengembangkan senyum itu mudah. Tidak semua orang bisa melakukan hal sesepele ini. Sewaktu saya sedang di Singapura selama 2 hari 1 malam jarang saya melihat orang-orang tersenyum dengan otomatis. Biasanya hanya resepsionis atau pegawai hotel yang tentu merupakan keharusan bagi mereka. Tidak tulus dari hati.

Kok bisa ya mereka memberengut sepanjang hari. Pasti ada alasannya. Setelah agak lama dipikir-pikir ternyata mereka begitu keras bekerja. Maklum biaya hidup sangat tinggi. Sebagai ilustrasi, dua kue saja harganya SGD 1,5. Kira-kira setara dengan IRD 9.000. Padahal kemarin malam saya ditraktir teman saya makan nasi ayam kurang lebih SGD 12. Setara dengan 72.000 rupiah. Enak sih tapi mahal juga.

Sekarang saya menggenggam SGD 15 = 90.000 perak. Koinnya kecil tapi di kota tercinta saya, Yogyakarta, wah saya bisa makan banyak sekeluarga. Uang memang penting. Namun, sepertinya orang-orang yang tinggal di kota negara temuan Raffles itu hidup untuk bekerja. Bukan sebaliknya. Sayang sekali, kan?