Tips 15 Persen

Ternyata suatu layanan memang harus dihargai. Konteksnya harga yang harus ditebus untuk sebuah servis pelayan restoran di Lembah Silikon.

Rupanya sudah hal yang wajar dan biasa untuk memberikan tips saat kita usai makan di sebuah restoran di Negeri Paman Sam ini. Membayar harga makanan yang disertai dengan pajak. Lalu ditambah dengan tips untuk pelayan yang melayani sebesar 15% dari harga makanan. Sudah menjadi semacam etika tersendiri.

Bila harga seporsi daging sapi dengan telur dan ditemani secangkir coklat hangat sama dengan USD 20. Maka sudah sepantasnya meninggalkan tips USD 3 di atas meja. Memberikan langsung kepada pelayannya pun juga tak masalah. Total USD 23. Itu sebanding dengan IDR 216.039.

Mahal? Jawabannya relatif. Dengan suatu insentif (baca: tips sebagai penghargaan) maka para pelayan terdorong untuk melayani para tamu yang menikmati sajian dengan lebih baik. Itu berarti pelanggan senang dan tak ragu kembali bertandang. Hal yang menurut saya cukup adil.

Namun, tak ada yang mengalahkan keramahan simbok-simbok penjual Gudeg di kota Yogya. Ada ketulusan dalam melayani para penikmat Gudeg. Tentu dengan senyum dan keramah-tamahan yang datang dari lubuk hati. Itu pun masih disuguhi makanan khas yang terasa manis hingga merasuk ke hati. Tak boleh lupa untuk mengucap terima kasih sebagai tips untuk mereka.

Lembah Silikon

Para pencinta komputer dan internet pastilah mengenal istilah Lembah Silikon. Tempat di mana sebagian besar industri berbasi komputer, baik perangkat keras mau pun perangkat lunak, berkembang dan mendominasi ranah komputasi di dunia.

Terasa unik berjalan-jalan seputar lembah yang terpusat di Sunnyvale ini. Banyak terlihat kantor-kantor pusat perusahaan multinasional yang namanya kerap kita dengar. Bahkan, produknya kita pakai seperti AMD, Yahoo, Google dan McAfee.

Benar bahwa suatu kawasan industri terpadu akan memberikan suasana kondusif yang matang untuk tumbuh-kembang suatu jenis industri. Apalagi di lembah ini banyak terdapat universitas ternama yang dekat dengan industri maju berskala internasional. Bayangkan, para pemikir dari akademisi berkolaborasi dengan penanam modal dan pelaku bisnis.

Membicarakan lembah yang berada di Santa Clara, California ini mengingatkan saya akan ide menjadikan Yogyakarta sebagai pusat industri perangkat lunak. Bukankah kota Gudeg tersebut memiliki banyak universitas ternama dengan ribuan mahasiswa/sarjana yang berbakat? Hal tersebut merupakan peluang bagus yang bisa diraih dengan mengundang para investor dan memberikan insentif bisnis.

Atau hanya sebuah mimpi di siang bolong yang hanya membuat orang termangu dengan wacana tanpa rencana dan usaha? Seandainya saja Yogya sebagai lembah dari Merapi bisa menjadi Lembah Silikon Indonesia… Paling tidak, kita sudah punya Lembah UGM sebagai tempat nongkrong (yang umumnya) tanpa tujuan jelas dan positif.

Iklan Lucu di VeryFunnyAds.com

Iklan merupakan suatu sarana menyampaikan pesan. Digunakan agar pemirsa yang melihat iklan tersebut tertarik untuk membeli sesuatu, melakukan sesuatu atau pun mengerti sesuatu. Biasanya, kebanyakan orang akan menganggap iklan sebagai sesuatu yang mengganggu. Bahkan menyebalkan.

Hanya saja, iklan makin hari dibuat makin menarik. Terutama menjadi lebih lucu. Memancing tawa sehingga menimbulkan kesan mendalam untuk pemirsanya. Dengan harapan, suatu pesan tersampai hingga ke alam bawah sadar.

Iklan-iklan lucu juga membuat orang tertawa. Bukankah tertawa membuat sehat? Bila Anda memang suka menonton iklan, cukup melihat tayangan video iklan dari VeryFunnyAds.com.

Untuk para praktisi periklanan, kumpulan video tersebut bisa digunakan untuk studi banding dan mendapatkan inspirasi. Namun, bagi Anda yang awam, iklan-iklan lucu tersebut lumayan untuk sekedar membuat Anda tersenyum atau terpingkal.

Catatan, tayangan video iklan lucu tersebut memerlukan koneksi internet yang memadai.

Perbukitan California, Caltrain dan Lempuyangan

Bukit-bukit itu berdiri menantang. Lembahnya pun tenteram diam. Lekuk-lekuknya bagai seorang gadis yang terlentang tidur. Sungguh menantang. Setengah telanjang dengan rumah-rumah di tepi dan bawah bukit. Sungguh membuat hati terasa di awang-awang. Ada imajinasi dari panorama yang tersaji indah. Bebas dinikmati para pelancong.

Sungguh beruntung bisa menikmatinya dari jendela kereta bernama Caltrain. Gerbong-gerbong dua lantai itu melintasi rel yang memanjang dari San Jose hingga San Francisco. Bolak-balik tanpa lelahnya. Dan aku pun bebas memandangi horizon di pagi hari dari tempat duduk di lantai atas.

Pagi itu perjalanan dimulai dari stasiun Lawrence di Santa Clara. Tiket untuk seharian penuh dengan tujuan bebas seharga USD 15 rupanya sebanding dengan pengalaman yang ditawarkannya. Jarak tersebut kira-kira sama dengan perjalanan kereta dari Solo ke Yogya. Sekitar 1 jam.

Saat melancong naik kereta itulah terlintas sebuah kerinduan untuk naik kereta di tanah Jawa. Suara deritan roda besi di atas rel, raungan klakson kereta, erangan dari mesinnya yang besar dan bau besi yang menyiratkan kekuatannya. Ada memori tersaji di benak kala ramai-ramai naik sepur dengan keluarga dari Jakarta ke Yogya. Juga dengan mantan kekasih dari Solo ke Yogya.

Teringat juga bayangan saat masih kanak-kanak, kala saya teramat sering nongkrong sore-sore dengan ayah tercinta dengan Vespa birunya. Tepatnya di sekitar stasiun Lempuyangan, Yogyakarta. Itulah yang membuat saya begitu mengagumi kereta api. Apakah Anda mendengar sayup-sayup mendengar dendangan lagu “tut, tut. tut itu keretaku…”
?

Pampanito, Kapal Selam dan Negara Bahari

Kapal selam itu bernama Pampanito. Kapal Selam tersebut juga merupakan sebuah museum. Sebuah bagian dari sejarah kelam perang dunia ke-dua sekitar tahun 1945 yang menepi dengan anggunnya di sebuah tempat bernama Fisherman’s Wharf, sebuah tempat di San Francisco.

Benar adanya bila kapal selam tersebut dulu berjaya di lautan. Namun, tak ada buatan manusia yang tak lapuk dimakan waktu. Sekarang kapal selam tersebut tak lagi digunakan untuk keperluan perang. Hanya mengapung untuk dikunjungi dan dipelajari oleh orang-orang yang tertarik dengan kapal yang bisa berenang di kedalaman tersebut. Termasuk saya.

Dulu waktu jaman di sekolah dasar, guru-guru selalu berseru “Indonesia itu negara bahari. Lautan luas membentang, begitu juga dengan pelaut sebagai nenek moyang.” Ingatkah Anda dengan lirik lagu anak-anak “nenek moyangku seorang pelaut…”?

Lalu, teringat juga dengan pemberitaan kapal-kapal selam militer di tanah air yang jumlahnya minim. Itu pun tak semuanya bisa menyelam di bawah laut. Bila dipaksa turun di kedalaman, mungkin tak akan pernah bisa naik ke permukaan. Kapal selam yang tenggelam. Aneh, kan? Yang mungkin harus dimuseumkan dan digantikan dengan yang terbaru atau paling tidak bekas dari negara lain. Ternyata ada juga istilah kapal selam seken (baca: second).

Asyiknya memasuki Pampanito yang tergolong mungil saat ini. Menjelajahi tubuhnya yang memanjang meski ada rasa tertekan akibat Claustrophobia. Sering disebut kapal selam tak ubahnya peti mati besi. Alasannya, bila tenggelam ya otomatis para kelasi terperangkap di dalamnya bersama-sama. Akhirnya, berhasil juga masuk ke kapal selam. Nenek moyangku…

Fitur Terbaru dari Y! Mail Terbaru

Rupanya hari ini Yahoo! meluncurkan fitur baru dari Y! Mail versi paling baru. Fitur tersebut dapat ditemukan pada Yahoo! Mail versi Amerika Serikat (yang diakses dari Yahoo.com) dan beberapa negara lainnya.

Menurut berita Yahoo adds features to popular e-mail – AP – Y! News, fitur tersebut memungkinkan pengguna e-mail untuk mengirimkan pesan teks (SMS) ke pengguna lain yang menerimanya lewat telepon selular.

Asyik juga. Ada rasa penasaran dengan fitur yang tentu memudahkan proses komunikasi interaktif. Tentu saja, penerima pesan akan dikenakan biaya (dari operator telepon) saat membalas pesan tersebut. Paling tidak, kita tak perlu repot mengetikkan pesan pendek dengan tertatih-tatih lewat papan kunci yang biasanya teramat mini untuk jari kita.

Penasaran? Tak ada salahnya mencoba.

Trio Detektif dan San Francicso

Pernah baca serial buku detektif berjudul Trio Detektif? Mungkin pembaca sekalian ada yang pernah menikmati kisah-kisah misteri yang dilakoni oleh Jupiter, Pete dan Bob. Mungkin bagi generasi lama masih sedikit mengingatnya. Termasuk saya.

Buku tersebut teramat sering menyebutkan San Francisco sebatai latar belakangnya. Maklumlah, markas detektif mereka di sebuah karavan tua yang tersembunyi di antara barang-barang bekas terletak di suatu tempat di San Francisco.

Serial buku tersebut merupakan salah satu bacaan favorit saya. Ada memori tersendiri. Dan sangat berkesan kala saya mengujungi kota yang pernah dilanda gempa dan kebakaran yang teramat dahsyat. Ya, Golden Gate berdiri dengan kokoh di sana.

Suatu pengalaman unik kala kita mengunjungi suatu tempat yang tertera dalam suatu buku atau film. Membuktikan dengan mata kepala sendiri.

Bagi Anda yang suka cerita detektif, saya merekomendasikan Trio Detektif untuk Anda nikmati. Teramat bagus untuk dilewatkan.