Cinta Tak Harus Memiliki

Sebuah ungkapan teramat kuno. Romantis sekaligus pedih. Mungkin ada dari Anda para pembaca yang menertawakan, mempertanyakan atau mungkin teringat luka lama saat membaca ungkapan jadoel itu.

Banyak orang membela bahwa ungkapan ini merupakan sebuah wujud cinta yang tak egois. Memberikan sebentuk rasa sayang tanpa menuntut sebentuk kebersamaan. Rasa mencinta yang ada dalam tataran pikiran yang tak terwujud. Tersimpan dalam ruang hati paling dalam.

Sedangkan para penentangnya mengatakan bahwa ungkapan itu omong kosong belakang. Renda hati yang terobek oleh kenyataan hidup. Reality bites. Kalau memang cinta mengapa tak diperjuangkan. Diteruskan hingga dua hati menyatu dan saling berbagi kehidupan.

Entah. Itu pilihan masing-masing orang. Memiliki juga tak mudah. Bukankah benar bila ada aral yang melintang. Sebaliknya, tak memiliki juga tak mudah. Ada hati yang selalu mendamba tapi tak terpuaskan. Menanti yang tak kunjung datang.

Ungkapan tersebut muncul saat seorang teman di kota Peuyeum mengirimkan sebuah lagu dari Naif berjudul Dimana Aku Disini dari album kelima mereka, Televisi.

Perhatikan Regulasi Custom Antar Negara

Perjalanan antar negara pastilah mengharuskan seorang pelancong untuk melewati custom dua negara. Saat keluar dari negara A dan masuk ke negara B. Saat pulang pun berlaku sama. Custom, saya masih belum menemukan padanan kata ini dalam bahasa Indonesia, merupakan pintu gerbang sebuah negara.

Setiap custom memiliki tata-cara yang berbeda-beda. Namun, pastilah harus ditaati dengan sebaik-baiknya. Sebaiknya sedikit serius kala mengurus surat perjalanan di custom. Ada beberapa hal yang wajib diketahui.

Paspor beres, visa tak bermasalah dan rencana perjalanan jelas. Pastilah semua orang yang melintas perbatasan diharuskan menunjukkan surat perjalanan. Tak boleh hilang. Oleh karena itu simpan baik-baik.

Hindari membawa barang terlarang. Bila ketahuan membawa barang yang sudah diumumkan tak boleh dibawa, baik sengaja atau tak sengaja, bisa jadi akan ada pemeriksaan lebih lanjut. Bahkan, lebih parah lagi bila ditolak masuk ke suatu negara.

Antre dengan sabar, cermati peraturan tertulis, ikuti instruksi dengan taat dan tidak perlu melakukan hal bodoh. Mencoba bercanda dengan petugas pemeriksa hanya akan menimbulkan masalah tersendiri. Terutama di Custom Negara Paman Sam. Jawab setiap pertanyaan yang diajukan dengan sesingkat mungkin dan secara bijaksana.

Tengok kanan, tengok kiri. Bukan cari jodoh atau tebar pesona. Tapi waspada dengan si tangan panjang. Pastikan Anda dalam keadaan aman, terutama paspor, uang dan alat komunikasi. Jangan sampai tas Anda diam-diam disisipkan oleh pengedar narkotik dengan benda ‘tak terduga’ yang membuat Anda ditangkap dan dihukum mati.

Bila semuanya dipersiapkan dengan baik dan tidak neko-neko (aneh-aneh atau iseng) maka perjalanan Anda pun lancar adanya. Liburan atau perjalanan bisnis tak perlu berubah menjadi tragedi memalukan dan mengecewakan dalam hidup Anda. Hanya gara-gara teledor di Custom.

Tebak Kata di Johor Baru, Negeri Jiran

Ada salah satu hal menarik saat berkunjung ke Negeri Jiran. Yaitu main tebak kata. Maklum, bahasa Melayu memang memberikan pengaruh besar bagi Indonesia dan Malaysia. Hanya saja gramatikal, susunan bahasa dan maknanya memang cukup berbeda.

Saat melintasi jalanan di Johor Baru, saya perhatikan papan reklame, tulisan di toko-toko dan apa pun yang tertera di bangunan. Lucu. Itu yang muncul di pikiran saya. Mencoba mencari padanan kata-kata tersebut dengan bahasa Indonesia. Semisal, ‘alat hawa dingin’. Mungkin saja itu ‘air conditioner‘ atau ‘freezer‘.

Begitu juga dengan ‘telepon bimbit’ yang ternyata ‘telepon genggam’. Ada-ada saja. Asalkan ada konteks, pastilah tidak sulit memahami kata-kata yang ada dan dipakai di Malaysia.

Hanya saja, lebih baik gunakan bahasa Inggris agar sama-sama jelas. Maklum, bila makna berbeda, boleh jadi malah sama-sama frustasi. Apalagi warga Negeri Jiran terkenal kurang ramah dan cepat marah.

Jadi kalau Anda sempat bertandang ke Negeri Jiran, sedikit luangkan waktu untuk mengasah kemampuan bahasa. Main tebak-tebakkan kosakata Melayu dengan rekan seperjalanan dan tertawa bersama.

Sedikit Cerita di Negeri Jiran

Akhirnya sudah tercapai satu keinginan saya dalam tahun ini. Menjejakkan kaki di Negeri Jiran. Meski hanya dua hari di Johor Baru yang sepelemparan batu terpandang dari seberang selat sempit.

Cukup naik bis dan melewati jembatan antara negeri di mana Siti Nurhaliza bermukim dan Negeri Merlion. Melewati 2 kali gedung pemeriksaan. Masing-masing satu di kedua bagian negara itu.

Mengenai Johor Baru pastilah terbersit makanan laut. Ya, kota paling Selatan dari negeri Melayu tersebut memang populer dengan hidangan berupa kepiting, cumi-cumi dan udang.

Sebelum pulang, mampirlah saya ke sebuah resto di dekat pantai yang menghadap Singapura. Kepiting Saus Sambalnya betul-betul Maknyuss!

Saya pun pulang ke Negeri Merlion sore ini dengan perut kenyang. Suatu akhir minggu yang menarik.

CPU-nya Mana?

Umumnya orang berpikir bahwa sebuah komputer dekstop memiliki 1) monitor, 2) papan kunci, 3) tetikus dan 4) CPU (central processor unit). Perangkat keras yang paling akhir ini tentu dianggap paling penting. Soalnya tanpa ‘si otak’, sebuah proses komputasi tidak akan berjalan.

Namun, CPU selalu menghadirkan beragam problema. Entah bentuknya yang besar memakan meja kerja atau kabel-kabelnya yang membuat repot berjuluran tak teratur. Ditambah kerepotan untuk menggotong benda kotak berat tersebut ke servis komputer bila suatu saat mogok bekerja atau kena virus.

Tak perlu khawatir lagi karena akhir-akhir ini komputer tampil lebih elegan. Rapi dan enak dipandang. Juga hemat tempat. Contohnya adalah Apple iMac, Gateway One dan Sony Vaio LT PC/TV. Mana yang paling Anda suka?

Mungkin bila Anda membeli dan memajangnya di meja kerja atau kamar tamu, banyak orang akan bertanya, “Lho, CPU-nya mana?” Tentu tidak mungkin bila sebuah komputer hadir tanpa CPU. Itulah salah satu kerepotannya. Menjelaskan kepada orang di mana letak CPU-nya.

Gus Dur pun bilang, “Mau ngomputer aja kok repot.”

Info Mudik dan Lebaran

Mudik merupakan keharusan bagi sebagian orang. Tali silaturahmi tak boleh terputus. Entah Muslim atau bukan, yang penting mudik. Itu yang ada di benak mereka. Lebaran merupakan tradisi sejak lama sekaligus berkah berupa liburan dan kesempatan bertandang atau pulang kampung. Jadi, meskipun semua orang tahu bahwa mudik itu susahnya bukan main toh tetap saja arus mudik luar biasa masifnya.

Tentu sebelum dan selama mudik, informasi merupakan keharusan. Mencari tahu apakah harga tiket naik, jalan mana saja yang rawan dan kejadian di jalanan. Singkat kata, info mudik. Info seperti itu tersedia cuma-cuma. Diberikan oleh media massa, pabrikan sepeda motor hingga operator telepon dan seluler.

Internet pun memberikan jasanya tersendiri. Untuk memberikan informasi. Banyak media massa online tiap saat menyajikan berita tentang mudik. Informasi itu juga bisa diikuti dengan mudah melalui jasa mesin pencari pada pencarian berita.

Berikut daftar headlines liputan-liputan terkini dari berbagai surat kabar di tanah air terkait dengan mudik. Mudik, jalur pantai utara, arus mudik, titik rawan, tiket kereta, tiket pesawat, tiket kapal, tiket bis, departemen perhubungan, AKDP (antar kota antar provinsi), AKAP (antar kota antar provinsi), rawan kecelakaan.

Juga terdapat daftar headlines terkait dengan Lebaran. Stok beras, harga minyak goreng, sembako, tunjangan hari raya, lebaran. Semoga berguna. Selamat mudik dan hati-hati di jalan.

Johor Baru di Akhir Minggu

Belum sekali pun saya menginjakkan kaki di Negeri Jiran tersebut. Hanya pernah mendengar tentang banyak tragedi dengan para pahlawan devisa. Padahal dari Negeri Merlion jaraknya tak begitu jauh. Hanya sepelemparan batu.

Akhir minggu ini akhirnya ada kesempatan untuk berbarengan pergi ke sana. Tepatnya ke Johor Baru. Mungkin karena teramat dekat dan tidak pergi sendiri maka persiapan pun seadanya saja. Cukup membayar SGD 40 untuk tempat menginap, transportasi berupa bis dan makan.

Cukup membawa paspor supaya tidak ditangkap, dipenjara dan diesktradisi sebagai imigran ilegal . Uang belanja secukupnya sekitar MYR 300 seperti yang disarankan teman saya dari Negeri Jiran tersebut. Lalu, perangkat komunikasi berupa ponsel dan pakaian secukupnya. Tak lupa, tentu kamera A400 tua kesayangan saya.

Itu saja rencana akhir minggu saya. Johor Baru… Hmm, ada apa ya di sana? Paling tidak saya dengar, kami akan makan makanan laut. Wisata kuliner seperti ini tak boleh disia-siakan.