Ular-ular

Ini bukan ular jadi-jadian. Begitu juga, bukan kata jamak dari satu kata ‘ular’. Tapi ‘ular-ular’, yang merupakan kosakata dari bahasa Jawa, berarti petuah dari orangtua, yang dituakan dan memang sudah tua. Petuah untuk yang menikah saat hari pernikahan. Biasanya disampaikan dalam bahasa Jawa.

Orangtua tersebut mengawali petuah dengan berkata, “Hai, mempelai laki-laki dan mempelai wanita. Dengarkan petuah ini agar kalian cepat memperoleh anak.” Kedua mempelai mendengarkan dengan seksama. Maklum, masih ada tuntutan sosial dari keluarga besar dan masyarakat agar mereka punya momongan segera setelah menikah.

Petuah tersebut lebih kurang seperti ini. “Menikah itu seperti burung dan sarangnya. Burung bentuknya panjang dan berbulu. Sarang juga penuh bulu (karena secara logika tempat tinggal burung, tentu ada bulu burung yang rontok di sarang itu). Kalau malam hari, burung mengantuk. Burung harus tidur di tempat hangat supaya tidak masuk angin. Jadi pegang burung itu dengan lembut. Lalu, masukkan pelan-pelan ke sarangnya. Begitu! Kalian paham?”

Dua-duanya mengangguk meski tak paham benar. Bingung kelihatannya. Maklum, mereka berasal dari dan tinggal di desa terpencil yang tak mengenal televisi. Apalagi buku stensilan dan film biru. Bukan layar biru seperti kalau MS Windows sedang hang.

Sembilan bulan kemudian mereka memiliki momongan. Bisa diasumsikan petuah tersebut akhirnya dipahami kedua mempelai. Lalu, diimplementasikan. Atau, bisa jadi, dorongan alam, sedikit nekat, coba-coba dan dipadu dengan sejenis insting;ah yang membuat mereka punya anak tanpa sedikit pun memahami petuah itu.

Bahasa ilmiah secara Inggrisnya, automatically auto-skill enabled different tools that continuously run in random movement and instinctively generated insertion-by lubrication-avoiding friction process due active/passive stimulation though even without clear abstract context in pre-eliminary stage of the increasing testosteron and progesteron level from normal standard. Note, those tools should be de-attached after a period of time and the appearance of some symptoms.

Bingung? Ngga, kita ngga ngomongin tentang robot atau mesin pabrik. Tapi peristiwa the genesis of first procreation. Singkatnya, ‘kejadian di saat pertama proses kawin’. Tetep ga ngerti? Mangkanya, dengar baik-baik petuah orangtua. Jangan asal manggut-manggut!

Postingan kali ini diperuntukkan dan dipersembahkan untuk yang masih lugu, malu-malu tapi belagu wagu.

Iklan

Gadis dan Jaka

Gadis masih gadis kala dia berpacaran dengan Jaka yang masih perjaka. Dibaca ‘joko‘ dalam bahasa Jawa. Masih sama-sama muda. Dua-duanya baru pertama kali merasakan cinta jadi bisa disebut sebagai ‘perawan hati’. Meski memang sekaligus masih perawan. Inggrisnya ‘virgin‘.

Dua-duanya belum merasakan ‘kenikmatan surgawi yang datang ke bumi dan hadir dalam hitungan belasan menit’. Meski sekilas tapi bisa terjadi tiap kali dikehendaki dan berkali-kali. Itu pun ditambahi rasa geli yang membuat bulu berdiri. Begitu kata orangtua.

Suatu hari Gadis menikah dengan Jaka. Seperti tradisi dan juga basic instinct pada Malam Pertama, mereka pun kawin-mawin. Dua menjadi satu. Seperti satu set sendok dan garpu tapi lengket dan menyatu. Ga penting Anda berpikir ‘juga ada lengket-lengketnya’.

Namun anehnya. Gadis masih dipanggil ‘gadis’ padahal sudah tak gadis. Kegadisannya sudah pasrah diserahkan kepada Jaka. Begitu pula, Jaka masih disebut ‘jaka’ padahal sudah tak lagi perjaka. Keperjakaannya sudah dinikmati Gadis.

Dua anak mereka punya sekarang. Kembar. Satu perempuan dan satunya laki-laki. Yang perempuan dinamai Fera. Ucapan Sunda-nya ‘pera’. Sedangkan yang laki-laki bernama Awan. Kalau malas menyebut satu-persatu, Gadis dan Jaka, yang memang beraksen Sunda, sering memanggil mereka sekaligus dengan menyingkatnya, “Pera.. Wan, sini dong! Udah saatnya bobok. Ntar digigit nyamuk kalau ga bobok.”

Gak usah ketawa kalau tidak lucu. “Puas? Puas? Puas?”, cerocos si Tukul. Namanya juga postingan intermezzo.

Sudah Cacat, Dimarahi Pula

Seorang gadis berkursi roda tak sengaja menabrak seorang pemuda yang sedang membawa semangkuk bakso. Mie dan kuah tumpah ruah. Membuat baju sang pemuda basah.

Pemuda ini gerah dan marah. “Kamu kalau jalan hati-hati dong!” Seorang ibu datang lalu memaki pemuda ini, “Apa kamu tidak lihat gadis ini cacat dan pakai kursi roda. Kok tega-teganya sih kamu dia marahi sambil bentak-bentak.”

Pemuda ini membalas, “Semua orang yang menabrak saya pasti saya marahi. Saya tak memandang orang tersebut normal atau cacat.”

Sang gadis malah berkata kepada sang pemuda, “Maaf! Eniwei, makasih ya karena tak membeda-bedakan aku. Makasih sudah marah.” Amarah pemuda itu pun hilang. Masalah selesai.

Sementara ibu itu masih menyesali tindakannya karena dalam kepalanya ada beda antara normal dan cacat. Menambahi hal ini, ternyata disable (disability) beda jauh dari diffable (different ability). Dalam tataran perspektif mau pun perlakuan.

Berarti Saat Sudah Hilang

Saya punya sepatu. Bau. Mungkin karena lama tidak dicuci. Juga karena jarang saya pakai. Alasannya, ada sepatu lainnya. Lebih baru pula.

Mau pakai segan, dibuang sayang. Jadi ya saya jemur dan saya angin-anginkan sepatu tak berharga yang baunya tak tertahankan itu.  Semoga baunya hilang.

Sayang, pencuri tak dinyana datang. Tiba-tiba sepatu raib. Rupanya pencuri itu punya slogan ‘veni, vidi, curi‘. Datang, lihat dan curi. Terlena saya menjaga sepatu saya. Mungkin karena saya kurang menginginkannya lagi.

Sialan. Umpat saya. Sepatu saya hilang. Aneh. Entah kenapa, justru sepatu itu jadi lebih berarti saat sudah dibawa lari orang. Sudah hilang. Padahal kan saya menganggapnya kurang berarti.

Pernahkah Anda merasakan hal serupa? Menemukan arti pada sesuatu dan menyadari nilainya kala terlanjur sudah kehilangan. Lalu hanya bisa menyesal.

Di Pertigaan Jalan

Coba bayangkan Anda sedang mengendarai motor dan tiba di pertigaan jalan. Pilihannya dua. Kanan atau kiri. Memang mundur juga bisa. Tapi itu tidak natural kecuali dua jalan di depan macet total. Menyerah dengan memundurkan mobil.

Situasi berada di pertigaan juga sering dialami orang kala jatuh cinta pada dua orang sekaligus. Apalagi bila tidak ada kepastian dan ada ragu yang menyelimuti. Mungkin Sang Khalik kebanyakan memberi karena orang tersebut terlalu banyak berdoa minta pacar. Kelebihan satu memang membuat sedikit runyam. Pengecualian untuk Aa Gym. Namanya juga berkah, pantang euy kalau jadi mubazir.

Coba imajinasikan seorang lelaki mencintai dua gadis sekaligus. Bingung mau pilih mana. Tentu dua gadis ini protes dan sama-sama bertanya pertanyaan yang mengharuskan jawaban, “Loe, pilih gua atau dia?!”

Dua-duanya minta agar si lelaki memilih satu saja dari mereka. Bukan dua sekaligus karena mereka sama-sama anti-poligami. Si lelaki pun bingung dan hanya bisa menjawab, “Aku sayang kamu. Sungguh kamu yang kudamba. Tapi dia masih di dalam hatiku. Tak bisa melupakannya begitu saja dengan tiba-tiba.”

Dua gadis tersebut serempak memaki sembari meluapkan rasa marah, “Basi banget loe!” Yang satu menampar pipi kiri, satunya menampar pipi kanan. Bersamaan pula. Pas, kan? Lalu, mereka sama-sama membuang muka dan bergegas meninggalkan Si lelaki. Si lelaki hanya bisa gigit jari.

Memang susah pilih kanan atau kiri. Pilih yang satu atau satunya lagi. Namanya juga perasaan. Memilih juga bukan perkara mudah. Tapi bukankah dua gadis tersebut juga punya perasaan. Ketiga-tiganya kan sama-sama manusia yang punya hati. Jadi?

Keputusan ada di tanganmu. Oh maaf, bukan Anda. Maksudnya merujuk si lelaki yang mendua hati tersebut. Kecuali bila memang Anda pernah/sedang mengalami hal serupa. Bukan menuduh. Hanya sekedar bertanya.

Banner BADVISTA

Malam ini secara kebetulan mendapatkan dua banner BADVISTA. Kira-kira bisa menebak kan apa arti dari gabungan dua kata tersebut. Benar. Ajakan untuk tak menggunakan perangkat lunak milik Bill Gates.

Dua banner di bawah adalah provokasi massa untuk menjelek-jelekkan sistem operasi teranyar dari Microsoft Windows. Windows Vista. Free Software Foundation (FSF) adalah pihak yang memprakarsai ajakan ini.

Setuju bila ada pihak yang mengajak banyak orang untuk menggunakan perangkat lunak sumber terbuka. Dengan begitu, Indonesia bisa menghemat devisa, mengurangi kebutuhan akan teknologi proprietary dan memberikan kesempatan bagi lebih banyak orang saling berbagi teknologi komputasi.

Tapi tidak setuju dengan provokasi yang terkesan menjatuhkan pihak lain. Bukankah lebih bijak bila mempromosikan Sumber Terbuka dengan lebih giat. Saya pun salut dan mendukung gerakan Sumber Terbuka. Hanya tak seharusnya memakai ‘teknik defamation vulgar’ seperti ini.

image.png

imagevista.png

Catatan. Penulis blog ini tidak menggunakan Windows OS atau pun Linux OS. Melainkan Mac OS dari Apple.

Harga Sebuah Blog

Sebuah blog tentu memiliki nilai tersendiri untuk penulisnya, pembacanya maupun komunitasnya. Tidak ada yang bisa menentukan dengan pasti bahwa sebuah blog berguna, berkualitas atau berarti.

Bisa jadi sebuah blog dianggap sampah oleh semua pembacanya. Namun, penulisnya sudah merasa senang dan lega karena sudah bisa turut mencurahkan apa yang di dalam benak atau pun perasaannya.

Sebaliknya, sebuah blog yang populer, dibaca ribuan orang dan menjadi bahan rujukan yang bermanfaat belum tentu membuat penulisnya merasa penuh. Mungkin karena menyandang nama besar sehingga merasa kurang pas menulis curhat nan melankolis. Perasaan tak tersalurkan meski secara intelektual dikagumi banyak pembacanya.

Bagaimana dari segi nominal? Mungkin sebuah blog bisa menjual iklan hingga mendapatkan banyak uang. Namun, sebagian ‘blogger murni’ tidak rela dan menentang ide tersebut. Tak seharusnya ada iklan muncul di tempat publik untuk berbagi opini dan pemikiran.

Begitu juga saya. Tak hendak menghiasi halaman putih bersih dengan selempang iklan berseliweran seperti Jalan Solo di Yogyakarta yang ditumbuhi papan baleho iklan luar biasa banyaknya.

Sekedar main-main, saya mencoba banner Website Worth dari Sootle yang mensimulasikan harga sebuah blog atau situs. Banner di bawah ini dibuat pada 21 Oktober 2007.


This website is worth
What is your website worth?