Hargailah Penjaga Kasir Toko

Laki-laki di antrian pembayaran barang tersebut rewelnya bukan main. Minta dilayani lebih oleh penjaga kasir toko yang sudah kewalahan dengan barang-barang belanjaan laki-laki tersebut yang ‘manja’ padahal hanya soal memasukkan barang belanjaan ke keranjang belanjaan. Ditambah dengan antrian yang sudah mengular panjang.

Saya yang masuk dalam antrian tersebut pun mafhum. Penjaga kasir toko tersebut sedang kerepotan. Memakinya atau membuatnya bekerja lebih cepat tak bakalan menyelesaikan keadaan. Beberapa orang pindah ke antrian pembayaran lainnya. Tak sabar rupanya.

Ada rasa jengkel dan capai di wajah gadis penjaga kasir toko tersebut. Rupanya hari itu not her good day. Apa boleh buat? Sepertinya perlakuan kurang menyenangkan memang menjadi makanan sehari-hari penjaga kasir toko di mana makin hari makin banyak orang tak sabaran. Entah mengejar waktu atau memang ritme hidup kian cepat berputar.

Saat giliran saya tiba, dia pun masih menahan rasa akibat tak diperlakukan tak begitu baik oleh lelaki ‘manja’ yang tadi. Saat kelar dengan pembayaran, saya ucapkan ‘terima kasih’ sembari tersenyum.

Lalu, dia pun mengucapkan rasa terima kasih dengan tersenyum. Ada beban yang berkurang darinya. Ada siraman perhatian. Kecil tapi bermakna. 

Hargailah mereka yang selalu di pintu pembayaran. Lelah adanya. Dimaki-maki pun sering. Terima kasih pun jarang mampir. Oleh karena itu, perlakuan sopan dan terima kasih akan membuat mereka bersemangat. Mereka kan juga manusia. Mereka pasti lebih senang melayani dengan hati para pembeli yang berempati.

Ngumpulke Balung Pisah

Judul di atas merupakan kata-kata bahasa Jawa yang berarti ‘mengumpulkan tulang-tulang yang terpisah’. Menyatukan kembali keluarga, teman atau pun kelompok tertentu yang sudah terpisahkan baik oleh waktu, jarak maupun kondisi yang berbeda.

Ngumpulke balung pisah memang perlu. Bila tak ada yang berupaya menyatukan kembali tentu saja hubungan relasi di masa lalu bisa saja hilang tak berbekas. Longgar dan kemudian lenyap. Padahal ada banyak kenangan manis kebersamaan. Sayang bila lalu menguap begitu saja.

Dan hari ini saya terharu. Saya bertemu dengan seorang tua berumur kira-kira sama dengan usia orang tua saya. Rambutnya sudah menguban. Dia dengan semangat ingin bertemu dengan saya. Kami sudah berkontak melalui e-mail dan telepon. Dia rupanya berupaya mengumpulkan alumni-alumni dari SMU (dulu SMA) di mana kami dulu menimba ilmu.

Berceritalah beliau panjang lebar. Yang saya tangkap dari percakapan dengannya adalah keinginannya untuk menguatkan hubungan antar alumni di mana pun kami berada. Dalam konteks ini tentulah di Negeri Merlion.

Tersadar saya bahwa beliau yang sudah sepuh (baca: sangat berumur) tetap peduli dengan hubungan alumni. Bahkan, beliau juga masih berkumpul dengan teman-teman dari bangku SD-nya. Hebat, bukan? Sedangkan saya yang masih muda cuek bebek (tak peduli) memperkuat relasi.

Ya, hari ini saya belajar sesuatu. Bahwasannya, mencari dan merawat relasi itu tak mudah. Perlu usaha yang tentu akan berbuah baik di masa sekarang maupun di masa depan.
 

Blogos, Blogger Solo

Baru kali ini saya mendengar tentang Blogos, komunitas blogger Solo. Rupanya kota yang dekat dengan Kota Gudeg tersebut juga diramaikan dengan blogger.

Sepintas lalu sewaktu saya cek di halaman Tentang da cukup banyak orang yang sudah bergabung di komunitas tersebut. Berkisar antara 38. Lumayan. Tentu sebenarnya ada lebih banyak blogger Solo yang mewarnai blogosfer hanya saja belum terdaftar atau tidak mengidentifikasikan diri sebagai blogger Solo.

Oleh karena itu, bila Anda seorang blogger sekaligus Wong Solo (kelahiran, tinggal atau merasa memiliki Solo), ada baiknya menambahkan diri menjadi bagian Blogos. Dengan begitu, komunitas blogger tersebut daapt berkembang dengan lebih cepat.

Pertanyaan untuk dijawab bila Anda mengetahuinya. Adakah komunitas blogger Solo selain Blogos? Apakah ini komunitas satu-satunya di Solo? Adakah komunitas blogger berdasar kota, provinsi atau daerah lainnya? Bila tahu, tak perlu sungkan menuliskannya di kolom komentar di bawah ini.

Chevauchée

Silakan lihat penjelasannya di Chevauchée – Wikipedia. Pada intinya, Chevauchée ini merupakan salah satu strategi perang tidak langsung yang bertujuan untuk melemahkan pertahanan suatu negara sebelum mencaplok negara yang dimaksud.

Taktik Chevauchée yang terkenal ini pernah dipergunakan oleh Inggris Raya untuk menaklukan Kerajaan Perancis. Cukup efektif karena tanpa menggunakan pasukan yang besar, negara tujuan pencaplokan melemah secara drastis.

Jadi, tentara-tentara Inggris secara sistematis membumihanguskan ladang-ladang dan lumbung pangan secara sporadis di tanah Perancis. Otomatis, rakyat Perancis kelaparan dan jumlah upeti berkurang drastis. Salah satu guna upeti tentu untuk membayar kekuatan militer Perancis. Tak ada upeti dan makanan maka kekacauan terjadi di dalam negeri. Akibatnya, rakyat pun tak percaya lagi pada pemimpin negaranya.

Bila menilik apa yang terjadi di negara-negara berkembang terutama Indonesia, Chevauchée ini rupanya dipraktikkan secara terselubung oleh negara-negara maju yang kaya. Tak lagi melalui perang terbuka dengan kekuatan militer. Namun, menggunakan instrumen ekonomi, budaya dan ideologi.

Hasilnya, negara-negara lemah tersebut dikuasai aset-asetnya oleh negara-negara maju tersebut. Tampuk pemerintahan kelihatan kuat di luar. Tapi di dalamnya, pemerintahan sudah disetir seperti boneka-boneka yang tergantung oleh tali-temali yang tak kasat mata.

Tak kentara. Yang kelihatan hanya kekacauan dan ragu pada pemerintah. Namun, ternyata yang mengelola adalah penguasa ekonomi dan ideologi dari negeri lain.

Apa boleh buat?

Ngalaksa

Sudahkah Anda mendengar kata tersebut? Kata tersebut saya dapatkan kala membaca Perayaan “Lebaran” di Pedalaman Baduy Sederhana.

Rupanya tradisi saling mengunjungi keluarga untuk ‘bersilaturahmi’ sudah merupakan kebiasaan suku pedalaman Baduy sejak lama. Tanda bahwa sebenarnya tradisi kekeluargaan ini memang mendarah daging di masyarakat Indonesia.

Budaya yang sederhana namun bermakna ini seyogyanya tak lekang oleh waktu dan modernisasi. Budaya yang baik memang harus dipegang dan diturunkan hingga ke anak cucu.

Tersenyumlah

Beberapa hari lalu, saya hampir mengalami pagi tanpa senyum mewarnai wajah saya.

Masalahnya sepele. Saya tak menyukuri apa yang saya punyai. Rupanya saya terfokus pada apa yang saya tak punyai saat ini. Padahal apa yang saya alami dan miliki jauh lebih baik daripada yang terjadi di masa lalu.

Yang saya rasakan adalah panas di hati karena belum mendapatkan beberapa hal yang saya inginkan. Perasaan saya saat itu bilang bahwa saya rupanya ‘tak cukup cepat berlari’. Harus berbuat apakah hingga saya bisa mencapai hal-hal tersebut.

Lalu, tiba-tiba saya merasa tak enak sendiri. Sepertinya wajah sudah seperti terlipat-lipat tak keruan. Perut mulas. Dada panas. Rupanya badan bereaksi terhadap perasaan hati saya dan pikiran yang tak menentu ini.

Lalu, ingat saya untuk tersenyum. Sebuah senyuman akan menghapus kekhawatiran dan gundah di hati. Dan benar. Saya tersenyum. Lalu, semangat dan langkah pun terasa lebih ringan pagi itu. Siap untuk memulai hari dengan perasaan positif.

Oleh karena itu. Tersenyumlah. Terutama di pagi hari. Itu suatu keharusan. Bukankah, when you smile, the world will smile to you?

Bingung Karena Banyak Pilihan

Biasanya orang terpaksa mendapatkan atau melakukan sesuatu karena tak ada pilihan lain. Namun, berbeda dengan salah satu teman saya. Dia mendapati bahwa begitu banyak pilihan membuatnya bingung untuk menjatuhkan pilihan. Mengambil keputusan bukan hal mudah baginya.

Pertama, dia mendapati bahwa dia mengenal beberapa teman wanita yang menarik hatinya. Semuanya dekat. Semuanya ramah dengannya. Hanya cukup melakukan pendekatan intensif dan ketekunan, pastilah ada yang bisa menjadi pelabuhan hatinya. Sayang, masih bingung juga untuk memilih. Maklum, semuanya menarik hatinya.

Kedua, saat mencari makanan di sebuah pusat jajan. Terdapat banyak sekali konter makanan. Semua lumayan untuk disantap. Dan rupanya itu membuatnya cukup lama memilih. Lihat sana, lihat sini. Bingung. Meski akhirnya dia mendapatkan makanan setelah beberapa lama.

Bingung. Itulah jadinya saat seseorang dihadapkan pada banyak pilihan tetapi ragu-ragu dengan pilihannya. Tanda bahwa seseorang tak menyadari apa yang sebenarnya dia dambakan, inginkan atau butuhkan.

Padahal cukup dengan melihat fakta, selera dan konsekuensi dari tiap pilihan. Lalu, pilih dengan sungguh-sungguh. Dan puas dengan pilihan tersebut apapun hasil akhirnya.