Warisan itu Berupa Rumah Penuh Cinta Kasih

Warisan merupakan sesuatu yang ditinggalkan oleh seseorang untuk orang lain. Dianggap berharga bila yang diwariskan berupa harta, rumah, nama baik, titel, kekuasaan atau pun banyak hal lainnya yang bisa dinominalkan. Sebaliknya, ada juga yang dijauhi semacam warisan hutang, nama buruk atau pun masalah.

Menyoal warisan, ternyata hal ini sering menimbulkan kekisruhan tersendiri. Diperebutkan dan juga dipermasalahkan. Tak usah mempertanyakan warisan bangsa atau negara. Warisan keluarga yang meskipun jumlahnya tak seberapa, bisa saja menyisakan perselisihan yang merenggangkan tali kekeluargaan yang ditandai dengan aliran darah yang sama.

Lalu, saya teringat dengan ayah yang sudah di atas sana. Tak ada harta melimpah yang ditinggalkan. Rumah pun belumlah sempurna terbangun. Bahkan, kehilangan satu-satunya tulang punggung keluarga membuat kehidupan lebhi sulit lagi. Ada duka tersendiri saat kehilangannya.

Namun, rupanya ayah meninggalkan sesuatu yang amat bermakna. Kenangan yang berharga. Jauh lebih berharga dari apa pun yang sifatnya fisik dan dapat dinominalkan. Ayah benar-benar memberi contoh bagaimana merasakan kebahagiaan hidup dalam kondisi apa pun. Susah sekalipun. Selalu ada senyum tersungging dari wajahnya yang kelelahan dan badannya yang dimakan usia sekaligus penyakit.

Meski tahu bahwa kami hanya bisa menghitung hari untuk menemani saat-saat terakhirnya, ayah tak mau jua berhenti menanam pohon rambutan dan mangga di tengah rintik hujan supaya kelak kami dapat menikmati buah-buah itu. Melengkapi rumah sedikit demi sedikit agar ada tempat berteduh bagi keluarganya meski tersenggal-sengga nafasnya.

Tak menyerah hingga saat terakhir. Sungguh suatu pengorbanan tersendiri. Suatu wujud cinta kasih. Hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja bila saatnya tiba untuk berpisah di dunia ini.

Hmm… Maaf, saya sedikit curhat sentimentil. Tapi saya tiba-tiba teringat tentang ayah saya saat berbincang dengan teman di Jakarta. Seorang ayah muda yang sungguh-sungguh sedang berusaha memiliki rumah demi anaknya tercinta meski harus dibayar dengan bekerja mati-matian di kerasnya ibukota.

Untuk ayah, terima kasih banyak…

8 Comments

  1. Rasanya baru kemaren sibuk ha ha hi hi dengan temen2 kuliah…Bercanda gurau khas obrolan bujangan plus jomblo…Ga terasa hari ini dah dah jadi ayah muda yang masih dituntut untuk terus belajar menghayati peran sebagai ayah yang baik….(Sayang ga ada Hari Ayah ya!)….The posting’s so touching….

    Suka

    Balas

  2. Selamat pada para ayah. Contohi para ayah teladan. Dan bagi yang diatas sana…kami pasrah pada kemurahan yang KUASA. Khusu bagi para bapa dan calon bapa mohonlah ridho Allah.

    Suka

    Balas

  3. Sungguh saya juga terharu membaca postingan mas munggur kali ini,begitu menyentuh. Saya juga membayangkan perjuangan ayah saya mewujudkan rumah utk keluarga. Sebuah perjuangan yg tdk mudah bagi pegawai kecil spt ayah saya. Saya sendiri blm berpikir utk memiliki rumah, masih mikir mau ambil s2 , baru stl itu mikir utk punya rumah

    Suka

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s