Boys to Men – Arisan Tante

Sebagian besar Kaum Hawa yang sudah menikah mengatakan bahwa ‘lelaki berapa pun umurnya bahkan yang sudah punya anak, tetap saja seperti anak-anak’. Selalu ada keinginan yang besar untuk dimomong. Mungkin sejenis memori kanak-kanak saat dimanjakan oleh ibu kandung mereka yang masih tertanam di benak Kaum Adam itu. Benarkah? Coba kita dengarkan percakapan mereka di penghujung bulan Juni.

Tante 1 memulai percakapan dengan pernyataan yang sering diucapkan para istri, “Suami-suami kita itu sebelum dan sesudah nikah, tetep aja sama. Seperti bocah.”

Tante 2 pun menimpali, “Laki gue, ga tahu kenapa, seneng banget kalo aku mandiin. Mungkin kayak dulu jaman dia di bangku SD kali dan dimandiin mamanya. Tapi gimana lagi, maunya gitu.”

Tante 3 tak mau kalah dan menyeletuk, “Ga beda banget, jeng. Hubby saya itu kalau pulang kantor, inginnya kepalanya berbaring di pangkuanku sambil memohon dibelai-belai rambut, wajah dan tengkuknya. Mungkin dulu ingat waktu jaman TK. Manjanya itu lho, jeng, ga ketulungan. Meski gitu, saya sayang sama dia.”

Tante 4, yang sedari tadi hanya terdiam dan senyum-senyum kecil, angkat bicara, “Ga separah bapaknya anak-anak saya. Dia itu kalau lagi kumat sama seperti anak balita.”

Para tante lainnya penasaran dan bertanya, “Lha gimana tho, jeng?”

Tante 4, wajahnya sedikit merona, berkata lirih malu-malu, “Itu lho, kalau malam, maunya minta nenen (baca: menetek atau ‘minum susu’) melulu.”

Sontak para tante tertawa terbahak-bahak. Mereka semua mengamini bahwa laki-laki, tak peduli umur dan jumlah anak dan cucu, toh, masih saja bocah laki-laki. tak banyak yang mengalami transformasi ‘boys to men‘. Badan dan ‘anunya’ saja yang tambah besar, tak selalu sebanding dengan kedewasaan.

Bagaimana dengan Anda, para Kaum Hawa yang sudah married, benarkah para suami tak ubahnya seperti anak-anak?

Luis Aragones dan My Way

Gegap gempita mengenai kemenangan tim sepakbola Spanyol atas Der Panzer Jerman diberitakan di artikel Gol Torres Akhiri Penantian Panjang Spanyol. Sedikit mengecewakan saya. Maklum, saya mendukung Belanda dan Jerman. Namun, terlepas siapa yang menang, Luis Aragones menarik untuk dibicarakan.

Dicatat dalam artikel tersebut bahwa sang arsitek Tim Matador tersebut merupakan pelatih tertua. 69 tahun 338 hari. Sebentar lagi akan menyongsong sebutan ‘kepala tujuh’. Tentunya memboyong Piala Euro 2008 ke negerinya (yang tentu sudah lama ditunggu-tunggu) merupakan kebanggaan tersendiri baginya. Puncak karier sekaligus sebagai hadiah ulang tahun ke-70. Mencapai puncaknya di usia senjanya.

Dan teringatlah saya lagu My Way. Mister Aragones memang pantas menyanyikan lagu yang pernah dilantunkan Frank Sinatra saat beliau sedang di masa puncak karier menyanyinya.

Perfecto! Sempurna dalam perjalanannya sebagai pelatih sepakbola. Selamat untuk Mister Aragones, beliau layak mendapat bintang.

Semoga perjuangan beliau memacu kita yang masih muda. Untuk berjuang mewujudkan impian masing-masing. Agar kelak dapat menyanyikan My Way dengan lantang.

Kartu Ucapan Someecards

Umumnya kartu ucapan berisi kata-kata yang positif, menyanjung, baik-baik adanya atau yang membuat si penerimanya bahagia. Entah itu tulus atau tidak, tentu tergantung konteks dan pengirimnya. Yang pasti, sedapat mungkin tak ada kata yang menyinggung atau salah ucap dalam kartu ucapan.

Bahkan, kartu ucapan yang terkirim boleh jadi bisa menjadi kenangan manis tersendiri. Sedangkan, sebagian besar ucapan-ucapan lainnya paling hanya teronggok sebagai sampah kertas yang tak ada gunanya. Semisal, dari klien atau rekanan bisnis yang ditambah-tambahi dengan iklan semata.

Berbeda dengan Someecards yang rupanya ingin agar penerimanya merasa terkejut saat membacanya sehingga diharapkan pesan yang tersampai tak terlupakan. Sungguh, pesan-pesan kartu ucapan elektronik di sana boleh jadi membuat penerimanya marah bila memang tak berkenan. Coba saja lihat sendiri di situsnya. Sebagian besar berisi kata ucapan vulgar, porno dan sembrono.

Tagline layanan kirim-kiriman kartu ucapan ini pun berbunyi when you care enough to hit send. Jadi, bila tak tega mengirimkan pesan yang sudah dipilih, jangan kirim pesan tersebut ke alamat email penerima yang Anda maksud.

Ucapan-ucapan di Someecards memang ditujukan untuk lucu-lucuan semata. Seyogyanya pikirkan lebih dulu sebelum mengirim kartu ucapan tersebut dan menyesal di kemudian hari. Saya tak bercanda. Banyak ucapannya yang bisa sangat menyinggung perasaan. Soalnya hal-hal yang ekstrim tak biasa bisa membuat terkenang. Entah dengan ingatan yang baik atau jelek.

Sumpah Pocong dan Sumpah Lainnya

Topik mengenai ‘sumpah pocong‘ rupanya menjadi topik panas di blogosfer tanah air. Saya pun juga tergelitik untuk menuliskannya di Sumpah Pocong dan Video Striptis.

Lalu, terlintas di benak saya mengenai sumpah-sumpah lainnya, selain sumpah pocong yang berat konsekuensinya. Ada Sumpah Pemuda, Sumpah Palapa, sumpah mahasiswa, sumpah darah dan sumpah Hippokrates (sumpah dokter). Ada beberapa sumpah yang benar-benar unik seperti berikut.

Sumpah jabatan. Sumpah yang menjadi ritual kala penunjukkan pejabat baru, sifatnya formalitas belaka dan lebih banyak yang dilanggar daripada dituruti. Coba bila, para pejabat disuruh melakukan sumpah pocong saat didapati mengorupsi uang rakyat. Pasti tak banyak yang berani merugikan negara dan bangsa.

Mengenai sumpah, tentu ada juga yang palsu. Sumpah palsu, itu sebutannya. Sumpahnya benar-benar diucapkan. Tapi tak sungguh ditepati. Sebatas mulut saja. Biasanya untuk mengelabui pihak lain.

Sumpah yang paling sering terdengar bisa jadi adalah sumpah serapah. Varian sumpah yang katanya merupakan kata-kata ‘mutiara’ ini pun beragam. Mulai dari nama binatang hingga nama kotoran. Biasanya, sumpah jenis ini diucapkan sembari mengumbar amarah.

Timbul juga sebutan kena sumpah. Orang yang kecewa berat mengatakan semacam kata-kata yang sifatnya menghukum orang lain. Lazimnya, agar orang yang dimaksud mendapat celaka. Konon, Malin Kundang disumpahin oleh ibunya karena durhaka.

Nah, lain cerita dengan sumpah di kala romantis yang biasanya menguap saat kadar cinta berkurang. Seperti yang dikatakan oleh insan yang dimabuk cinta, “Sumpah, gue sayang loe“. Pernahkah Anda mendapati seseorang mengatakan sumpah ini kepada Anda?

Sumpah pocong atau pun sumpah-sumpah yang lain, kecuali sumpah serapah, seyogyanya ditepati. Bila tak mampu memenuhinya, tak perlu memaksa diri untuk mengucapkannya. Konsekuensinya boleh jadi harus dibayar mahal. Baik dari sebatas harga diri hingga nyawa.

Tiren

Akronim ‘tiren’ sebenarnya sudah dikenal cukup lama. Kependekan dari “mati kemarin”. Kata ini sering digunakan kala merebaknya kasus penjualan ayam potong yang berasal dari ayam-ayam yang sudah mati bukan karena ayunan pisau tukang potong.

Konteks artikelnya dapat ditemukan di PNS Jual Ayam Tiren Terancam Dipecat. Tentu saja, ayam yang sudah mati bukan karena dimatikan saat dipotong tak boleh lagi diolah dan diperdagangkan. Tak sehat dari segi higienis. Tak juga halal dari aspek agama.

Hanya saja konteks tiren menjadi lain saat digunakan sebagai judul salah satu film horor dengan judul Tiren atau Mati Kemaren. Apalagi bila melihat tagline film ini. “Apa yang terjadi besok, lebih menakutkan dari kemarin…”

Menurut saya hanya ada satu kesamaan antara ayam potong yang mati kemarin dengan film horor yang klise ini. Yaitu kualitasnya sama-sama dipertanyakan. Tak bermutu. Tapi, toh, tetap saja dijadikan komoditas yang menghasilkan uang. Apa boleh buat?

Kopi Toraja, Paten dan Jepang

Kopi Toraja berasal dari mana? Tentu Anda pun akan spontan menjawab bahwa kopi tersebut dari Sulawesi. Jelas semua orang tahu, terutama para pengemar minuman berkafein tersebut. Kopi Toraja ya sudah pasti dari Toraja.

Namun, bagaimana dengan hak patennya? Menurut artikel yang dilansir oleh Detik, patennya dipegang oleh sebuah perusahaan di Jepang. Coba baca Kasus Kopi Toraja Dibahas di EPA Jepang. Aneh tapi nyata.

Hak paten seyogyanya untuk menghormati hak cipta, pengakuan dan tentu saja agar tak ada yang menyalahgunakan trade mark. Apalagi bila suatu hal atau barang merupakan milik publik dari suatu kawasan dan kumpulan masyarakat tertentu. Apakah proses hak paten seperti itu bisa diterima akal sehat.

Aneh bila Kopi Toraja dan dulu tempe dipatenkan oleh Jepang (atau negara-negara maju lainnya) yang notabene hanya memiliki kekuatan hukum dan ekonomi tapi tak memiliki orijinalitas dari subyek yang dipatenkan.

Hal seperti ini disesali namun tak pernah ditindaklanjuti. Sepertinya bangsa kita hanya mampu bilang ‘ini sebagai cambuk agar kita lebih memperhatikan khasanah bangsa dan saatnya memperbaiki sistem dan hukum hak paten’. Lalu, besoknya sudah tak digubris lagi. Klise.

Nomophobia

Terdengar janggal. Tapi nomophobia adalah salah satu jenis fobia yang sedang mewabah akhir-akhir ini.

Coba bila bisa menerangkan, apa yang dimaksud dengan nomophobia di papan komentar?