Lebaran dan Mudik 2008

Banyak dari teman-teman saya menanyakan apakah saya akan mudik di bulan September atau Oktober ini. Tidak merupakan jawaban saya. Alasannya, saya memang selalu menyempatkan pulang ke kampung halaman tiap Maret dan Desember saja. Lagipula, jumlah cuti saya sudah tak mencukup lagi.

Menarik untuk mendengarkan rekan-rekan yang turut-serta jutaan manusia lainnya yang memendam rasa rindu pada kampung halaman. Tentu untuk berkangen-kangenan dengan sanak-keluarga dan handai-taulan.

Namun, suasana Lebaran dan mudik benar-benar tak terasa di Negeri Merlion ini. Yang saya tahu, besok ada libur satu hari. Tak lebih dan tak kurang. Tak ada lainnya.

Untuk yang berlebaran, Selamat Merayakan Hari Raya Idul Fitri. Dan bagi semua yang mudik, hati-hati di jalan, orang yang Anda sayangi menunggu kehadiran kalian.

Untuk saya, ini lebaran untuk kali kedua di negeri rantau…

Tags: ,

Follow Your Heart

Kadang-kadang saya menyangsikan apakah masih ada cinta sejati di kehidupan yang makin lama makin keras. Mungkin, ada sebagian dari Anda yang juga mengalami hal yang sama. Hingga banyak didapati hati manusia yang membatu. Bahkan, kalau dipikir-pikir bisa jadi perjalanan hidup lebih praktis tanpa kisah dramatis, tangis atau pun hati yang teriris yang disebabkan oleh proses mencintai.

Namun, tak dipungkiri selalu saja ada lagu, film atau pun percikan-percikan cerita cinta yang romantis yang mampu mengingatkan insan manusia bahwa cinta masih merupakan sesuatu yang sangat berharga. Makin susah ditemukan, tentu menjadi makin berharga. Salah satu hal yang patut diperjuangkan dalam menapaki kehidupan.

Dan salah satu lagu yang membuat saya tersentuh adalah Follow Your Heart yang dinyanyikan oleh Mario Frangoulis. Terima kasih untuk teman yang sudi meminjamkan album lagu A Love So Beautiful dari toko musik High Society.

Penggalan lirik ini yang rupanya menggelitik rasa dan benak saya.

When the world’s a little crazy
The truth’s so hard to find
But i still believe in love

Follow your heart
Wherever it takes you
Nobody know
where the wind blows
No one can say

Jadi? Bagaimana dengan Anda, apakah masih percaya adanya cinta? Seperti kata-kata lagu di atas, follow your heart

Tags:

Pemilu, Pemilih dan yang Terpilih

Pemilu masih akan dilaksanakan tahun depan, 2009. Namun, rasanya sudah disemarakkan dengan berbagai safari, reorganisasi, konsolidasi atau sosialisasi. Apapun sebutannya, boleh disebut kampanye diam-diam. Kalau terang-terangan tentu bisa ditindak bila ada yang berani.

Tak menjadi soal bila gerak-gerik menyambut pemilu dilakukan jauh-jauh hari. Sudah lazim. Semua memakluminya. Tapi ada hal yang krusial yang selalu saja terlewat. Yaitu kebijakan dan program apa saja yang ingin direncanakan dan diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Bukan melulu mendapatkan kekuasaan. Namun apa yang hasil positif yang bisa dicapai saat mereka menjadi wakil rakyat.

Ada sebuah kutipan menarik yang dikatakan oleh George Will. Voters don’t decide issues, they decide who will decide issues.

Benar adanya bahwa bukan pemilih yang akan mengeluarkan semua kebijakan yang menyangkut harkat hidup orang banyak senegara. Tapi mereka yang terpilih. Jadi, pikirkan dengan matang-matang sebelum memberikan suara Anda dengan mencoblos kartu suara.

Memilih bisa jadi merupakan hal yang tak mudah dilakukan. Makanya, pilah-pilih tak boleh asal-asalan.

Tags: ,

25 Kali Menikah dan Soulmate

Saya bingung ungkapan apa yang tepat untuk lelaki yang diberitakan di Menikah 25 Kali, Katuwal Capai Kebahagiaan. Setelah ditinggalkan ke-24 istrinya secara beruntun, akhir kata Katuwal menemukan Sharada, pasangan jiwanya. Soulmate.

Jadi ingat saya sebuah tembang dari Padi berjudul Mahadewi. Coba baca penggalan liriknya.

Tapi ada entah dimana,
Hanya hatiku mampu menjawabnya
Mahadewi resapkan nilainya,
Pencarianku pun… usai sudah

Katuwal sudah menemukan yang dicari. Bahagia. Happy ever after. Semoga tetap langgeng dengan istrinya yang ke-25. Bertemu dengan soulmate-nya.

Omong-omong, apa definisi Anda tentang soulmate? Dan, apakah Anda sudah menemukannya saat ini?

Tags:

Tewas Berebut Zakat dan Antre

Sudah menjadi tradisi untuk membagi zakat kepada kaum duafa. Hanya saja ada petikan berita tragis Berebut zakat, 21 tewas. Bukan zakat tapi justru ajal yang didapat. Nyawa meregang hanya untuk mendapat sedekah yang tak seberapa.

Siapa yang salah? Bukan, bukan pengusaha yang ingin membagi rejekinya meski tak siap dengan antisipasi. Kesalahan patut ditimpakan kepada mereka yang tak bisa antre. Desak-desakan yang memang bisa menimbulkan rasa tak nyaman hingga panik. Bila sudah gelap mata tak bisa berpikir jernih, yang dipikirkan hanya keselamatan diri sendiri meski harus menginjak manusia di sekitarnya.

Apakah tak ada yang memahami esensi antre? Berdiri berderet-deret membentuk barisan dan maju satu demi satu teratur menunggu gilirannya tiba. Jadi tak perlu saling menyenggol hingga ada yang terjatuh lalu terinjak hingga nyawa melayang. Sulitkah melakukan antre?

Antre menjadi sulit kala ribuan kaum duafa begitu kalapnya ingin mendapatkan zakat pada hari itu. Ada desakan dari perut yang kelaparan. Tak lagi ada pikiran jernih. Pokoknya dapat dan takut tidak kebagian bila antre.

Mungkin akan lebih bijak bila tak lagi menggelontorkan sedekah berupa sembako tapi niatan tulus memberikan bekal pelatihan. Dengan begitu, kaum duafa memiliki daya untuk memberi makan mulut mereka sendiri daripada sekedar menengadahkan telapak tangan ke atas dengan muka memelas.

Toh, membantu kaum duafa tak harus dilakukan hanya dalam bulan puasa. Ada sebelas bulan lainnya. Kecuali kalau memberi zakat semata untuk mengumpulkan poin masuk surga yang katanya berkali lipat bila dilakukan di bulan puasa. Entah. Tapi rasanya bagi-bagi zakat tak perlu membuat orang sampai berbondong-bondong berebutan hingga ada yang tewas.

Terlepas dari kejadian di atas, rasa-rasanya perlu untuk mengajarkan budaya antre di tanah air. Omong-omong, apakah Anda sudah bisa antre?

Tags: ,

Lomba Lari dan Asupan Semangat

Suatu perjuangan akan lebih ringan bila ada asupan semangat yang seakan memberikan tambahan tenaga untuk terus berusaha. Dan ada sekian banyak asupan semangat yang dapat saya rasakan kala mengikuti Lari Nike+ 10K. Membantu saya untuk mencapai garis akhir di penghujung kilometer terakhir.

Tambahan enerji tak kasat mata tersebut macam-macam bentuknya. Baik semangat yang sungguh-sungguh positif dan yang menurut saya ‘motivasi yang lucu’.

Teriakan untuk terus maju dari race marshal yang berada di sepanjang jalur lari, penonton yang tepuk tangan, lambaian tangan dari teman yang juga mengikuti hajatan lari dan bahkan ada bule yang sedang duduk di kafe iseng menonton memberikan applause kepada saya agar terus maju.

Posisi start tepat di barisan terdepan, karena datang di lintasan lebih cepat dari seharusnya, membuat saya ‘terpaksa’ berlari agar tak tertubruk dan terinjak-injak ribuan pelari di belakang saya. Mau tak mau, saya pun berlari meski nafas rasanya sudah hampir putus.

Saat sudah letih tiba-tiba ada beberapa gadis muda yang berlari di depan. Ada alasan untuk mengejar, tentu jadinya berlari dan bukan jalan cepat lagi, supaya tetap bisa menatap makluk seksi di depan. Tiba-tiba lebih strong. Aneh tapi nyata.

Berlari lebih cepat kala mendekati tempat membagi minuman. Takut kehabisan bila tak cepat-cepat.

Ada rasa panas di hati dari ego saya yang paling dalam kala seorang nenek, menurut hemat saya mungkin berkisar 50 hingga 55, menyalip saya yang sudah setengah nafas di putaran jarak 2 km. Lari lebih kencang karena ‘masak saya kalah sama nenek-nenek’.

Berlari, bukannya jalan cepat, saat di sekitar jalur-jalur tertentu didapati fotografer, juru kamera atau pun suporter yang memotret sana-sini secara acak. Kan kurang afdol bila kelihatan loyo tak bertenaga. Norak memang. Tapi justru saat-saat itu rasanya bersemangat untuk lari sambil pasang tampang.

Seri perdana masak jeblok dan menyisakan kegagalan. Pokoknya harus bisa sampai garis finish dong.

Ada beberapa teman yang saya beritahukan perihal keikutsertaan saya di ajang lari-lari masal ini. Malu kan bila akhirnya saya harus membilang bahwa tak sanggup mencapai garis akhir. Terlebih di hadapan gadis baik hati yang menunggu dan menjemput saya.

Ada iming-iming mendapatkan bracelet suvenir lomba yang diberikan hanya kepada mereka yang berhasil mencapai garis finish. Apalagi menurut peraturan, semua pelari harus mengembalikan champion chip, sejenis perangkat kecil RFID untuk melacak jarak lari para pelari yang dipasang di tali sepatu, di dekat garis finish.

Mendung dan hujan rintik-rintik di jarak tempuh 2 km membuat banyak pelari mempercepat langkahnya agar tak kehujanan. Termasuk saya. Malas bila harus berbasah kuyup karena keringat ditambah air hujan.

Timbulnya rasa penasaran dengan jalur yang berbelok-belok di seputaran Esplanade, melewati Clarke Quay, hingga Marina yang menawarkan pemandangan yang beragam. Ada keasyikan saat menapaki jalanan tersebut bersama ribuan pelari berkaos merah dari Nike lainnya.

Itulah asupan semangat yang saya dapatkan. Ada momen yang tertangkap di benak kala memutuskan untuk berlari bersama ribuan orang lainnya di Nike+ 10K. Sungguh menyenangkan.

Jauhnya Garis Finish

Tak dapat dipungkiri bahwa setiap insan manusia pernah merasa penat tak terkira saat menapaki perjalanan hidup. Tujuan yang hendak dicapai terasa tak tampak. Muncul pertanyaan yang umum didapati. Sampai berapa lama lagi saya harus menempuh jauhnya perjalanan?

Rasa di atas pun saya alami dan pahami kala mengikuti Nike+ 10K. Sungguh saat itu tak terbayang apakah saya akan mencapai garis finish kala menyadari nafas saya sudah tersengal-sengal pada 1 kilometer pertama.

Rasanya ingin berhenti berlari dan jalan kaki saja. Tapi apa daya, posisi berlari saya yang termasuk di bagian depan dengan ribuan orang di belakang membuat saya mau tak mau harus terus berlari agar tak tertubruk pelari-pelari di belakang saya. Harus berlari. Keterpaksaan yang ternyata menjadi semangat tersendiri untuk terus mengayunkan kaki cepat-cepat.

Lalu, tanda 2 km akhirnya nampak juga. Terpikir di benak saya. 10 km toh sebanding dengan 5 kali 2 km. Membagi jarak yang teramat jauh rasanya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Menjadikannya masuk akal untuk dijalani.

Dan akhirnya setelah melewati titik 9 km, titik terberat di mana banyak pelari yang rasanya ingin berhenti saja, ada secercah harapan baru. Hanya tinggal 1 km terakhir. Pokoknya harus all-out lari hingga garis akhir. Lagipula, ada begitu banyak peliput dan suporter yang berada di jalur menjelang garis akhir. Malu dong bila terlihat jalan pelan-pelan seperti orang yang menyerah kalah.

Akhirnya garis yang menandakan 10 km terlangkahi sudah. Perjuangan sudah usai. Jarak yang tadinya terlihat jauh sekali dan susah tercapai menjadi tak berarti. Terus melangkah tanpa henti. Tak menyerah.

Sama seperti jalannya kehidupan ini. Banyak hal yang hendak dituju sepertinya jauh di horizon. Namun, perjuangan melangkah tanpa henti akan menghasilkan hasil yang sepadan. Suatu pencapaian. Ada kepuasan untuk menuntaskan suatu perjalanan.