Blog dan Komentator Politik

Blogosfer Indonesia boleh merasa beruntung karena hampir tak ada batasan dalam mengemukakan pendapat, ide dan bahkan caci-maki di dalam blog masing-masing atau pun saat meninggalkan jejak di papan komentar. Semua rasa dan pikiran bisa diakomodasi melalui media blog tanpa takut ditangkap polisi.

Terlebih di masa-masa kampanye seperti sekarang ini, banyak blogger yang tergelitik untuk “mengasah” kemampuan memberikan komentar terhadap situasi politik saat ini. Rasanya tak afdol bila belum “berpartisipasi dalam politik” melalui rangkaian kalimat yang dituangkan dalam lembaran blog.

Banyak yang terkesan asal-asalan dalam mengomentari politik. Ikut-ikutan dan sok tahu. Tak enak dibaca sebenarnya tapi tetap mendapat kunjungan karena memasang judul postingan yang bombastis. Entah teori datangnya dari mana. Yang penting pemikiran sudah tersampaikan.

Namun ada juga blogger yang mampu menyuguhkan kondisi peta politik beserta prediksinya dengan sungguh-sungguh. Tak banyak tapi ada. Biasanya postingan terlihat matang, netral dan merupakan hasil pemikiran yang tak sebentar.  

Entah apa yang dibicarakan, mulai dari caleg, capres, uu pemilu hingga mencontreng kartu suara; pembicaraan tentang politik berkaitan dengan pemilu memang selalu menggelitik bagi banyak orang. Dan setiap blogger memiliki hak untuk memberikan komentar politik mereka.  Toh, ini bukti demokrasi berpendapat.

Skala dan Kehancuran Organisasi

Organisasi yang terlalu besar boleh jadi rentan dengan kehancuran. Kita ambil contoh, Kekaisaran Mongol yang menguasai tanah yang sangat luas tumbang dan tak lagi bersisa. Mengapa sesuatu yang berukuran besar tak bisa bertahan selamanya?

Manusia sudah mampu mengukur skala. Bahkan, selalu diikuti dengan nafsu menembus batasan ukuran dan skala sebelumnya. Tak lagi puas dengan  perkembangan sesuai deret ukur. Multiplikasi dan eksponential yang dicari.

Hanya saja, meski mampu mencipta banyak hal yang bisa membuat takjub karena berskala sangat besar, toh, manusia belum memiliki kemampuan memelihara sesuatu yang sangat besar. Alasannya, apapun yang berskala besar pastilah menguras banyak tenaga. Dan sesuai kodratnya, manusia cepat atau lambat akan menurun kemampuannya. 

Ditambah faktor lain yaitu kompleksitas. Makin besar skalanya, makin rumit dan banyak pula elemennya. Belum lagi bila ada tarik-menarik kepentingan di dalam organisasi yang besar.

Organisasi yang besar tak melulu berbentuk kekaisaran atau pun negara. Sebut saja partai politik, kongsi dagang atau institusi agama. Bila berkembang menjadi terlalu besar dibanding kemampuan mengelola, cepat atau lambat akan hancur.

 

Blog dan Komentator Politik

Blogosfer Indonesia boleh merasa beruntung karena hampir tak ada batasan dalam mengemukakan pendapat, ide dan bahkan caci-maki di dalam blog masing-masing atau pun saat meninggalkan jejak di papan komentar. Semua rasa dan pikiran bisa diakomodasi melalui media blog tanpa takut ditangkap polisi.

Terlebih di masa-masa kampanye seperti sekarang ini, banyak blogger yang tergelitik untuk “mengasah” kemampuan memberikan komentar terhadap situasi politik saat ini. Rasanya tak afdol bila belum “berpartisipasi dalam politik” melalui rangkaian kalimat yang dituangkan dalam lembaran blog.

Banyak yang terkesan asal-asalan dalam mengomentari politik. Ikut-ikutan dan sok tahu. Tak enak dibaca sebenarnya tapi tetap mendapat kunjungan karena memasang judul postingan yang bombastis. Entah teori datangnya dari mana. Yang penting pemikiran sudah tersampaikan.

Namun ada juga blogger yang mampu menyuguhkan kondisi peta politik beserta prediksinya dengan sungguh-sungguh. Tak banyak tapi ada. Biasanya postingan terlihat matang, netral dan merupakan hasil pemikiran yang tak sebentar.  

Entah apa yang dibicarakan, mulai dari caleg, capres, uu pemilu hingga mencontreng kartu suara; pembicaraan tentang politik berkaitan dengan pemilu memang selalu menggelitik bagi banyak orang. Dan setiap blogger memiliki hak untuk memberikan komentar politik mereka.  Toh, ini bukti demokrasi berpendapat.

Nama Binatang Dengan Huruf Awal K

Saat di bangku sekolah dasar, guru ilmu pengetahuan alam memperkenalkan nama-nama binatang. Biasanya guru membagi binatang ke dalam kategori menurut ada tidaknya tulang belakang, jenis makanannya atau pun habitatnya.

Hanya saja, menurut hemat saya, jarang-jarang para guru mendaftar binatang secara urut abjad. Begitu juga dengan mengelompokkan binatang menurut huruf awalnya.

Jadi mari iseng-iseng menyebutkan nama-nama binatang, tentu sesuai Bahasa Indonesia bukan bahasa daerah, dengan huruf awal K. Saya mulai dengan kelinci, komodo dan kelelawar. Anda tahu lainnya? Tak perlu sungkan menuliskannya di papan komentar di bawah sebanyak yang Anda tahu.

Bila merasa putus asa dan ingin tahu dengan nama-nama binatang dengan urut abjad, coba lihat di http://organisasi.org/daftar-nama-nama-binatang-hewan-di-indonesia-dan-dunia-internasional.

Perpustakaan Umum

Saya mengagumi perpustakaan. Tempat di mana buku dipajang berjejer-jejer menanti untuk dibaca. Bila tertarik, bisa dipinjam. Dibaca di rumah. Setelah selesai lalu dikembalikan.

Bahkan, dulu waktu duduk di bangku sekolah dan kuliah, saya betah berlama-lama di sana. Membaca relatif gratis dan banyak variasinya. Lagipula, tak ada cukup uang untuk membeli buku.

Berbeda dengan perpustakaan negeri yang tak teratur dan menurunkan minat baca. Malahan lebih enak menyerap rajutan kata yang tertulis di buku yang terpampang di rak-rak toko buku. Membaca di tempat dengan berdiri karena memang tak disediakan kursi.

Dan salah satu impian saya adalah menyediakan tempat baca untuk umum yang gratis. Untuk mereka yang tak memiliki akses ke perpustakaan yang bagus sekaligus tak cukup pundi-pundi untuk ditukar dengan buku.

Masih di awang-awang. Hanya saja, tak disengaja siang ini impian lama tersebut bangkit  kembali kala ada teman yang memiliki keinginan yang sama. Ada kata, ada rencana. Meski belum terwujud sama sekali, namun senang bertemu mereka yang memiliki impian yang sama. Semoga tak hanya menjadi mimpi siang bolong yang menguap bersama sepoi-sepoi angin dan ditelan sang kala.

BFF

Saat sedang menjelajah dunia maya, mata saya tertuju pada singkatan BFF. Penasaran karena saya tak kunjung menemukan kepanjangannya. Setelah mengulik mesin pencari dan Wikipedia, barulah saya mendapatkan jawabnya.

BFF, best friend forever. Ada kaitannya dengan acara televisi yang menampilkan Paris Hilton. Rupanya si bintang, yang tersohor karena ulahnya yang mengundang perhatian media, sedang mencari sahabat untuk selamanya. Ini dia penjelasan BFF – Wikipedia dan dari situs resminya Paris BFF.

Ironi memang bahwa teman sejati tak seharusnya ditemukan dengan acara seleksi seperti ini. Memang teman sejati adalah mereka yang tetap bersama, tertempa dengan berbagai kesulitan hidup. Ada seleksi alam di dalam prosesnya. Jauh dengan apa yang dilakukan oleh Paris Hilton. Sekedar suatu rekayasa sosial untuk memenuhi jam tayang dan mendulang uang iklan semata.

Secara pribadi, tak pernah saya mengatakan kepada orang lain bahwa mereka teman sejati selamanya. Lagipula, teman datang dan pergi. Toh, sahabat yang tulus tak perlu pembuktian semacam itu. Biarkan jalannya sang waktu yang membuktikannya kelak. 

 

Motivasi Berolahraga

Masing-masing orang memiliki motivasi untuk melakukan olahraga yang berbeda-beda. Bila saya boleh tahu, apa yang menjadi latar-belakang Anda?

Untuk saya, justru motivasinya boleh dibilang sedikit tak biasa. Saat menonton film Twilight, saya terpesona dengan kemampuan badan para vampire tersebut. Lari-lari dengan cepat, tidak mudah capai kala beraktivitas dan tak sedikitpun jatuh sakit. Tentu saya juga paham bahwa itu film semata. Lagipula mereka bukan manusia.

Tadi pagi saya iseng mengikuti jalannya pertandingan sepakbola sembari sarapan di food court. Salut untu pemain sepakbola yang selalu fit. Badan yang tegap dan wajah penuh keyakinan. Yang memang ditempa tiap hari melalui latihan dengan disiplin ketat. Intinya olahraga membuat badan bugar.

Teringat juga film-film ninja dan silat yang terampil berakrobat dan bertarung. Hasil dari latihan keras bertahun-tahun. Artinya tubuh seseorang bisa dioptimalkan hingga di atas rata-rata.

Dan saya menyadari lemahnya tubuh kala mencoba melompat ke tempat duduk pendek; saat pemanasan sebelum lari-lari tadi pagi. Terjerembab. Hasil dari kemalasan mengolah tubuh.

Jadi, bila saya ingin memiliki tubuh fit tentu harus dibarengi olahraga yang teratur. Tidak dengan jalan pintas seperti menjadi vampire.