Tahun Baru dan Arisan Tante

Kali ini para tante berkumpul untuk terakhir kalinya sebelum ganti tahun tiba. The last gathering before the new year. Kira-kira begitulah. Mendekati tahun baru, tentu ‘bahan diskusi’ tak jauh-jauh dari tema ‘barang baru’. Termasuk memamerkan hadiah tahun baru dari suami mereka masing-masing.

Tante 1 membuka perbincangan, "Saya dapat tas LV baru dari suami saya di tahun baru. Kalau jeng-jeng ini dapat barang baru apa?" Ucapannya yang sombong tentu merangsang tante yang lain untuk unjuk gigi. Tak mau kalah heboh. Ada gengsi yang dipertaruhkan.

Tante 2 menjawab sembari setengah pamer, "Kalo gue dapat BlackBerry baru. Biar bisa imel-imelan dengan laki gue." Tante 3 juga tak mau kalah dan dengan spontan menunjukkan kalung baru yang melingkari lehernya.

"Lebih asyik punyaku dong. Ranjang baru, bo…", celetuk Tante 4 yang disambut dengan senyuman tante-tante yang lain. Sambungnya setengah bertanya ke Tante 5, "Kok, jeng diam saja. Dapat apa, jeng?"

"Kalian-kalian ini beruntung, lho. Dapat yang baru-baru dari hubby-hubby kalian. Dibanding saya yang punya hubby ga bener, selingkuh gara-gara Facebook", akunya sambil menunduk. Tapi kemudian mendongakkan wajahnya yang tiba-tiba jadi cerah, "Jadi ya saya putuskan untuk cerai saja. Semoga saja tahun baru dapat suami baru."

Sejenak terpana, para tante kemudian tertawa bersama-sama sambil bertepuk tangan. Jawaban Tante 5 memang heboh. Tak dapat barang baru, ya cari ‘barang baru’. Optimis dan realistis ketimbang tragis. Boleh juga…

Kalender, Resolusi dan Tahun Baru

Menghitung hari. Demikianlah lantunan Krisdayanti. Dan rasanya kebanyakan orang sedang bersiap-siap untuk menyambut tahun yang akan berganti sebentar lagi. Tahun 2010.

Mulai dari kalender yang siap dipajang di meja, membuat resolusi yang syukur-syukur bisa terlaksana tahun depan dan tentu merencanakan apa yang akan dilakukan tepat saat malam pergantian tahun.

Terlintas di benak, mengapa harus membuat pergantian tahun sebagai hari atau saat yang istimewa. Bukankah tiap harinya bisa dijadikan momen yang istimewa? Atau mungkin juga karena banyak yang ikut-ikutan ‘berubah dan berbenah’ hanya saat tahun baru?

Omong-omong, apa yang akan Anda lakukan di malam tahun baru?

Luna Maya dan Privasi

Ada benarnya bila membilang hubungan antara artis dan infotainment saling menguntungkan. Tanpa artis, infotainment jelas tak akan punya cerita menarik. Tanpa infotainment, popularitas artis mungkin tak akan meroket secara fantastis.

Hanya saja patut dicermati bahwa kasus Luna Maya yang mengumpat di akun Twitter-nya mungkin menjadi tanda bahwa hubungan artis dan infotainment sudah tak lagi menyenangkan. Saat pihak infotainment menjadikan selebritis sebagai komoditas tanpa menghormati privasi orang lain, itulah yang menjadikan selebritis terkait merasa terganggu dengan kehadiran kru infotainment yang tak memberikan ruang bernafas, ruang privasi bagi insan manusia.

Bila bukan Luna Maya, pastilah cepat atau lambat, akan ada artis lain yang berteriak lantang menentang aksi peliputan secara intens, cenderung mengada-ada dan mulai melanggar garis kehidupan pribadi. Untung Luna Maya ‘protes’ di dunia maya. Bila tidak, bisa jadi aksi yang mengganggu tersebut akan terus berlangsung.

Coba bayangkan bila seseorang sedang gundah karena patah hati, bingung saat sidang perceraian, sedih ditinggal anggota keluarga yang meninggal, capai setelah melahirkan anak atau bahkan dipenjara karena suatu kasus kriminal. Lalu, tiba-tiba serombongan orang yang menamakan dirinya jurnalis hiburan mengikuti, membuntuti dan berusaha memotret emosi yang tampak di wajah, mewawancarai dengan setengah memaksa dan mungkin pula membuat rumor yang bombastis. Tentu ada rasa marah karena mengapa orang-orang yang katanya profesional tidak bisa memiliki tenggang rasa.

Dan omong-omong, rasanya banyak pemakai Twitter yang memaki jurnalis infotainment, tapi toh tak dituntut. Kok, hanya Luna Maya saja. Simpati saya untuk Luna Maya yang dirundung malang karena menjadi whistle blower akan aksi kru infotainment yang kurang manusiawi. Tidak, tidak semua wartawan infotainment, tapi para oknumnya saja.

Tangguh

Sebuah kalimat bijak tiba-tiba saja menyentuh pikiran saya. "Tough Times Never Last, But Tough People Do!". Sederhana namun berarti. Ternyata kalimat tersebut merupakan judul buku karangan Robert H. Schuller.

Memang benar adanya bahwa saat-saat sulit sepertinya tak akan pernah ada habisnya. Kecuali bila kita tak lagi hidup di alam nyata. Alias rest in peace. Dan hanya orang yang memiliki ketangguhan yang mampu menghadapi kerasnya kehidupan.

Banyak orang yang merasa kalah, kibarkan bendera putih pada kehidupan lalu membunuh diri. Bila tidak, mungkin hanya habiskan waktu seraya menunggu saat ajal datang. Sikap apatis pun tak jarang muncul. Pokoknya que sera sera…

Tak seharusnya begitu. Sebagai makhluk yang berakal, tak ada kata menyerah. Selalu ada jalan keluar. Meski tak selalu berarti solusi, toh, life is go on. Jatuh dan sesekali sakit, tak mengapa. Asalkan tetap menapaki jalannya kehidupan. Keep staying on the course!

Jadi, mari menjadi manusia tangguh!

Nasgitel

Saya kangen dengan teh yang panas, legi (manis) dan kentel (kental). Teh nasgitel. Bukan, bukan teh itu saja. tetapi atmosfer yang menyertainya. Irama kehidupan yang melambat, ada cukup waktu untuk berbincang atau menikmati hari tanpa rasa tergesa untuk menghabiskan waktu secepat-cepatnya.

Saya kangen teh nasgitel itu. Teh yang biasa saya nikmati di rumah. Tentu, itu berarti di Yogya. Dan saya pun sudah mulai menghitung hari. Untuk pulang ke Kota Gudeg yang selalu membuat kangen. Sebentar lagi…

Kehidupan, Makin Cepat dan Kompleks

Selamat datang di era di mana banyak segi kehidupan semakin kompleks. Dan semuanya berlalu dengan cepat. Setiap insan manusia dituntut untuk dapat mengerjakan banyak hal secara simultan dan serempak.

Banyak manusia yang dapat mengikuti alur hidup yang tak bisa dibilang lambat, tak juga bisa dibilang sederhana. Hanya saa seperti saat manusia berlalu, sulit untuk menikmatinya. Berbeda bila manusia berjalan pelan dan bisa mencerap keindahan dunia ini.

Makin cepat, makin kompleks. Tak selalu menghadirkan hal yang lebih indah, lebih menarik. Yang terlihat justru kehampaan meski telah melakukan banyak hal. Ada kesepian yang menghantui hari dan malam yang berlalu lebih cepat daripada detak jarum jam dan detik darah mengaliri jantung.

Coba lihat seorang bayi yang begitu lahir lalu cepat-cepat disekolahkan. Menempuh jalur pendidikan super komplit yang singkat. Bekerja penuh semangat hingga setengah mati agar cepat dapat promosi. Lalu menjadi tua secara dini. Dan cepat mati hasilnya, entah karena kecapaian atau penyakit generasi ultra-cepat.

Lalu? Ambilah waktu sejenak untuk rehat. Seperti mobil yang berhenti di tempat parkiran setelah dipacu dengan maksimal. Istirahat…