Pesangon 35 Kali Gaji

Gila! Itu yang terlintas di benak saya. Coba bayangkan bila Anda memiliki suatu badan usaha yang sedang terimbas krisis ekonomi. Mau merumahkan pegawai malah rugi banyak. Bila tetap mempekerjakan pegawai, tetap tambah kerugian. Boleh jadi cepat atau lambat, bakal banyak perusahaan yang gulung tikar.

Memang benar bahwa suatu badan usaha harus menghormati hak pegawai. Yaitu terjaminnya kesejahteraan pegawai. Hanya saja, 35 kali gaji itu benar-benar besar. Tak masuk akal. Jalan pintas bagi para pengusaha adalah memberdayakan tenaka kerja lepas yang hanya memiliki kontrak kerja tanpa jaminan kesehatan dan dana pensiun. Lebih murah dan praktis.

Toh, Negeri Paman Sam pun memperlakukan trik yang sama. Wajar bagi perusahaa di sana untuk memiliki 25% tenaga kerja lepas. Sisanya tentu saja pegawai permanen. Turn-over tenaga kerja memang tinggi. Tindakan seperti ini jelas merugikan para pegawai lepas.

Jadi bagaimana ini? Pesangon 35 kali gaji jelas memberatkan semua pihak. Mudarat lebih besar dibanding manfaat. Terlebih lagi, segera setelah dibukanya kran pasar bebas ASEAN + China, justru undang-undang ini akan makin memberatkan pengusaha-pengusaha Indonesia. Usaha lokal terlindas oleh negara-negara tetangga yang selangkah lebih maju dalam hal pengaturan ketenagakerjaan.

Pesangon 35 kali gaji benar-benar tak masuk akal. Menurut Anda sendiri bagaimana?

Turuti Kata Hati dan Jangan Tunda Lagi

Sialan. Itu maki saya saat mengecek harga tiket pesawat Zest Airways yang bertolak ke Manila. Harganya melambung jauh menjadi SGD 500. Padahal beberapa hari sebelumnya, tiket pergi pulang Singapura Manila hanya berkisar SGD 150. Penundaan yang menghasilkan rasa jengkel.

Memang kadangkala ada baiknya menuruti kata hati. Bukannya malah menunda karena ragu-ragu. Kesempatan bisa hilang secepat kedipan mata. Bayangan berjalan-jalan menyusuri Manila sambil menggendong tas ransel pun sirna.

Omong-omong, apakah Anda pernah melewatkan suatu kesempatan emas dalam hidup Anda? Bila hilang, apakah Anda tetap berusaha meraihnya dengan segenap tenaga? Atau malah sekedar menggerutu dan menyalahkan diri sendiri?

Hmm…. Manila masih ada dalam benak saya. Tiket murah search: ON.

Baju dan Teknologi Tinggi

Apakah Anda pernah memakai baju yang bisa kering dalam dua jam setelah dicuci? Jaket yang bisa menolak angin merasuki tulang sumsum? Kaos tangan yang menghindarkan tangan Anda membeku tapi tetap bisa leluasa bergerak? Celana dalam yang bisa dipakai seminggu lebih tanpa harus mencucinya?

Mungkin bagi Anda yang suka berpetualang di alam bebas pernah memakai baju yang ajaib tersebut. Ternyata teknologi tinggi diaplikasikan dalam pembuatan pakaian yang mendukung aktivitas ekstrim. Tentu harganya memang spesial sesuai dengan kualitasnya yang istimewa.

Coba saja kunjungi situs penyedia pakaian ajaib seperti The North Face, Patagonia, ExOfficio dan Hammacher Schlemmer. Sungguh tak terkirakan bahwa ada baju yang memiliki keunikan tertentu. Semua disesuaikan dengan kebutuhan ekstrim. Tentu saja, tetap bisa dipakai dalam kondisi biasa.

Mari berandai-andai, bagaimana teknologi baju di masa datang? Tak perlu dicuci lagi? Tahan peluru tapi tetap ringan dipakai? Ada ide?

Bisnis Wanita

Minggu lalu ketika saya sedang jalan-jalan di Orchard, saya terpana melihat kerumunan wanita berjubel di dalam toko Charles & Keith. Belasan Kaum Hawa masuk dan keluar dari toko yang menjajakan sepatu dan tas tersebut. Ramai juga, ya? Girls Power? Mungkin lebih tepatnya, Girls Buying Power?

Sebabnya mereka benar-benar berbelanja. Tidak hanya melihat-lihat dan sekedar mencoba-coba deretan sepatu di sana. Hanya memang tidak jelas apakah para wanita mulai dari muda hingga tua tersebut membayar sepatu-sepatu tersebut dengan penghasilan mereka sendiri. Atau dibayari oleh pacar atau suami mereka?

Yang pasti, para wanita tersebut melakukan transaksi jual-beli. Ada uang yang berputar demi mematut diri. Kepantasan dan kecantikan yang disertai pengorbanan beberapa lembar uang. Ini hanya salah satu jenis toko. Bagaimana dengan toko atau pun usaha layanan yang lain? Sebut saja salon, spa, toko pakaian, toko perhiasan hingga restoran yang menyajikan pencuci mulut yang sangat menggoda para Kaum Hawa untuk mencicipnya.

Teringat saya dengan buku Marketing in Venus tulisan Hermawan Kertajaya. Bisnis yang diperuntukkan untuk Kaum Hawa memang laris manis. Terlebih dengan tambah banyaknya para wanita yang memiliki penghasilan sendiri. Bahkan, tak jarang yang memiliki uang lebih banyak dari lawan jenisnya.

Apakah Anda ingin membuka usaha? Mungkin lebih baik bila membuka usaha yang berkaitan dengan wanita. Semoga laris manis…

Berhalangan Hadir di Pengadilan

Beda kasta memang nasibnya bisa berbeda. Setali tiga uang dengan urusan yang berkaitan dengan ‘meja hijau’. Orang kebanyakan, meskipun betul-betul berhalangan, suka atau tak suka harus hadir di persidangan. Bila tidak, boleh jadi absennya sang terdakwa bisa membawa dampak merugikan. Vonis bisa lebih berat.

Sedangkan untuk beberapa orang yang tergolong ‘spesial’, justru bisa mengelak hadir di hadapan hakim. Dengan alasan yang klasik seperti ‘sakit’. Mungkin benar-benar sakit karena stres kok akhirnya tersandung skandal padahal korupsinya sudah diatur sedemikian jeli.

Coba perhatikan berita akhir-akhir ini. Pengemudi sepeda motor yang mengalami kecelakaan segera masuk penjara. Padahal istrinya tewas dalam kecelakaan itu, anaknya tidak ada yang merawat dan luka di tubuhnya belumlah sembuh. Berbeda dengan pejabat militer senior yang semua orang tahu sama tahu dengan penyalahgunaan wewenangnya. Sidang bisa ditunda karena beliau sedang ‘sakit’. Mendadak sakitnya. Klasik, kan?

Seyogyanya di mata dewi keadilan semua orang sama. Kaya dan miskin. Berpendidikan atau tidak. Tua dan muda. tokoh penting atau rakyat jelata. Hanya saja, kita mafhum bahwa banyak hal yang berurusan dengan meja hijau, pasti juga berkaitan dengan oknum petugas hukum yang ‘matanya hijau’. Jadi, ada segelintir orang ‘spesial’ yang bisa menunda atau menolak hadir di pengadilan.

Jadi ingat dengan guru piket yang membawa buku absensi. Bila beliau bertanya maka murid yang disebut namanya bisa menjawab "hadir, pak!" sembari mengacungkan jari telunjuk. Dan biasanya ada yang menjawab "sakit, pak!" saat ada murid lain yang berhalangan hadir di kelas.

Wantannas

Bila tak ada ramai-ramai mengenai kasus Bank Century, mungkin kita tak akan mengenal akronim Wantannas. Kependekan dari Dewan Ketahanan Nasional. Saya hanya mengetahui kepanjangannya. Fungsinya? Sungguh saya tak benar-benar tahu. Bila Anda tahu, silahkan jelaskan pekerjaan dari Wantannas tersebut di kolom komentar.

Omong-omong, mengapa tidak dibuat konsisten pemendekannya. Semisal menjadi Wannannal, bila memakai suku kata terakhir. Begitu juga, akan menjadi Dekenas bila memakai suku kata di awal kata.

Mungkin asal saja membuatnya. Terdengar enak, cukuplah. Meski terkesan asal membuat akronim, semoga organisasi tersebut tak dibuat asal-asalan. Tak pula agar Asal Bapak Senang. Setuju?

Gerhana Matahari

Konon, menurut relief yang terukir di Candi Prambanan, bila matahari menghilang sementara, itu karena ada kepala raksasa tanpa badan yang sedang melahap Sang Surya. Hanya saja, karena raksasa yang hidup abadi tersebut tak lagi memiliki badan maka Si Matahari keluar lagi. Kembali menerangi dunia dan insan manusia.

Katanya nenek dan kakek, bila ada gerhana matahari maka menjadi pertanda akan sesuatu yang buruk terjadi. Entah itu malapetaka, prahara atau pun bencana yang sanggup merenggut korban jiwa dan harta. Jadi, harus mulai hati-hati bila langit gelap sesaat di siang bolong.

Lalu, di jaman modern ini, banyak yang mengganggap gerhana matahari sebagai obyek fenomena alam yang patut diabadikan melalui kamera, diperbincangkan secara ilmiah dan diberitakan kemana-mana. Pesan bahwa ‘akan ada prahara’ menjadi kabur.

Padahal mungkin saja, gerhana matahari bisa menjadi tanda ‘ada apakah gerangan’ di masa depan? Malah, gelap sesaat menjadi hiburan yang menarik. Betul, kan?