Menghitung Hukuman Penjara

Banyak dari kita sebenarnya heran sekaligus penasaran bagaimana cara hakim mengkalkulasi tindak kejahatan yang hasilnya berupa jumlah lama hukuman penjara. Apakah ada standarnya? Tentu kita tak boleh membilang bahwa para hakim memakai feeling saat menjatuhkan vonis. Pasti ada cara yang ilmiah. Toh, hakim tidak dipilih secara sembarangan.

Mari coba menghitung. Mencuri secara tidak sengaja buah kakao yang berharga kurang dari sepuluh ribu, hukumannya 1 bulan penjara. Sedangkan yang mengambil uang APBD sebesar satu milyar, dikenakan penjara 10 bulan. Adil? Tentu bila dihitung seperti berikut pasti tak adil. Harusnya yang mengkorup tadi mendapat hukuman 1.000.000 bulan; setara dengan 83,3 tahun. Bukan 10 bulan. Tapi kenyataannya tak begitu, kan?

Apakah para hakim di tanah air tak pandai berhitung? Tentu bila mereka pandai berhitung mereka pasti jadi akuntan atau guru matematika yang gajinya kecil. Jadi? Mungkin saja metode matematika mereka tak memakai hitungan aritmatik. Entah bagaimana pokoknya semakin tinggi kerugian kejahatannya justru hukumannya bertambah kecil. Berbanding terbalik dengan hitungan para ahli pajak yang dasarnya adalah makin kaya seseorang maka makin besar pula pajaknya.

Misteri? Boleh jadi. Yang jelas menjadi hakim itu tidak mudah. Hanya saja dengan sistem hitung-hitungan yang canggih seperti di atas, ada kesimpulan yang bisa ditarik. Bila berbuat tindakan melanggar hukum, terutama mencuri barang atau uang milik orang lain, lakukanlah tanpa tanggung-tanggung dan harus memakai persiapan yang matang.

Terlebih bila seorang pelanggar hukum memang benar-benar ulung, sejelek-jeleknya nasibnya, masih bisa menikmati kehidupan di penjara yang katanya memiliki layanan VIP. Aneh, kan? Tapi benar-benar nyata!

Iklan

4 Replies to “Menghitung Hukuman Penjara”

  1. Itu sudah jadi kebiasaan sejak zaman purba (hukuman=balas dendam), dari dulu sudah ada hukuman. Orang jahat ya dihukum (pidana kurungan penjara.syukur2 masih hidup), tapi sekarang sudah mulai berubah di negara2 eropa, mereka lebih memakai cara pencegahan dan rehabilitasi.

    Suka

    1. Benar sudah ada beberapa negara2 Eropa Barat yang terapkan pencegahan atau rehab. Hanya saja proses seperti itu masih terbatas. Buktinya penjara2 di Eropa masih banyak dan penuh, terutama di Eropa Timur. Sebagai tambahan, negara2 Eropa memiliki populasi yang rendah densitasnya ketimbang negara2 Asia sehingga implementasi pencegahan & rehab lebih mudah dilakukan.

      Suka

  2. Sebenarnya lapas sama dengan tempat rehabilitasi, tapi banyak yg masih salah, kegiatan disana membosankan, tempat sempit, kumuh dll. Dikurung di lapas dalam waktu lama atau sebentar tapi keluar dalam keadaan belum “waras”

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s