Parpol atau Ormas?

Siapa saja juga tahu bedanya parpol dengan ormas. Yang pertama adalah partai politik yang memang menggalang kekuatan untuk dapat bagian dari sistem pemerintahan. Sedangkan yang terakhir adalah institusi yang diperuntukkan untuk masyarakat tanpa pretensi politik.

Apakah suatu organisasi bisa digolongkan sebagai keduanya? Mungkin tidak karena sangat berlawanan. Namun bila suatu ormas menjelma menjadi parpol, mengapa tidak? Bisa saja terjadi. Berkebalikan dengan parpol yang kemudian berganti haluan menjadi ormas. Sepertinya mustahil.

Lalu bagaimana dengan Nasional Demokrat yang diketuai oleh Surya Paloh? Saat ini memang dikategorikan sebagai ormas, demikian klaim dari para pendirinya. Hanya saya, seperti yang dilangsir oleh Vivanews dengan artikel Nasional Demokrat Bisa Saja Jadi Parpol, sang pendirinya tak bisa menjamin apakah organisasinya akan tetap menjadi ormas selamanya. Jadi?

Kicauan pun terdengar ramai. Ah, itu kan hanya ganti cap saja. Esensinya tetap sama, parpol dengan tujuan politik. Bila memang konsisten dan fokus membantu masyarakat, bila berani, segera keluarkan pernyataan yang menjamin organisasi yang dibentuk akan tetap menjadi ormas selamanya. Tak perlu seperti serigala berbulu domba. Toh, kita semua juga tahu.

Serunya Drama Arena Sepakbola

Banyak orang menonton, mengikuti bahkan rajin mengomentari setiap cerita dari petak rumput yang diisi 22 pemain dan ditambah wasit-wasitnya. Apanya sih yang menarik? Susah dijawab apa alasannya. Namun yang pasti seru, man!

Mungkin tak jauh berbeda dari opera sabun atau acara reality show yang ditonton para ibu-ibu dan mbak-mbak. Ada drama di arena hijau tersebut. Konflik selalu hadir hangatkan kedua gawang, termasuk ruang gantinya. Ada pelatih yang protagonis karena bisa membesut tim terbaik namun tetap santun seperti Pep Guardiola. Juga ada manajer antagonis, yang dibenci sekaligus dielu-elukan, seperti Jose Mourinho, The Special One.

Pemain suka selingkuh ada banyak, salah satunya ya John Terry. 180 derajat berkebalikan dengan Kaka yang setia dengan istrinya. Wayne Rooney menjadi tokoh pemain setia kepada klubnya. Mungkin hal tersebut karena Sir Alex yang setia melatih di klub tersebut.

Nah, perseteruan abadi juga selalu dinanti masing-masing fans klub. Seperti adu dua tim sekota, Inter Milan dan AC Milan. Setali tiga uang dengan Barcelona yang menjadi musuh bebuyutan Real Madrid. Tak peduli siapa yang menang, pokoknya seru. Kalau perlu wasit disalahkan bilamana hasil skor kurang memuaskan.

Tentunya seperti telenovela, ada pula dong sinetron. Asli produksi dalam negeri meskipun ada juga pemain asing yang diimpor dari luar. Tak banyak pemain yang bisa diunggulkan karena selalu kalah di kancah internasional. Namun lebih banyak komedinya. Seperti pemain keduabelas yang bisa ikut nimbrung tiba-tiba tempo hari. Jadi, drama arena sepakbola memang seru, kan?

Nikah Siri

Lagi-lagi nikah siri diperdebatkan oleh khalayak ramai. Dipertanyakan legalitasnya. Juga makin banyak yang tak menyetujuinya. Namun, tetap saja ada yang mendukungnya. Tentu bisa ditebak siapa pendukungnya, kan? Para pelaku nikah.

Ada hukum agama yang mengaturnya meski dengan interpretasi yang berbeda-beda. Ada juga hukum pemerintah yang melapisi keabsahan dari nikah siri. Hukumnya memang belum jelas. Bahkan, bila sudah jelas dan diatur dalam undang-undang, tak menjamin tak akan dilanggar.

Mengapa harus nikah siri bila memang benar-benar cinta? Repot sedikit untuk sebuah legalitas tentunya akan menghindarkan dari masalah di masa datang. Masak demi cinta, mengurus pernikahan resmi dan surat-suratnya saja tak mau.

Lalu, bagaimana dengan ‘lebih baik nikah siri daripada berzina’? Kalau itu sih tanyakan saja pada syahwat para pelaku nikah siri. Legalitas esek-esek kan termasuk urusan masing-masing pribadi. Jadi ingat dengan cerita tempo hari terkait seorang pemimpin agama yang tersohor karena grup musik dangdutnya. Tiba-tiba mengejutkan khalayak ramai karena nikah siri dengan seorang artis cantik yang dekat karena belajar agama.

Nikah siri. Setujukah Anda? Atau malah mentah-mentah menolak? Alasannya apa?

Situs Pemda yang Mati Suri

Pemberitaan mengenai penutupan sementara situs pemerintah daerah Lampung Utara sungguh memprihatinkan. Coba lihat . Bukan, bukan karena tak ada dananya yang membuat kasihan. Tapi karena kelihatannya tak ada upaya alternatif yang dilakukan pemda setempat.

Sebenarnya tak perlu mengalokasikan dana ratusan juta rupiah untuk menjalankan sebuah situs. Meskipun hal tersebut boleh jadi menjadi ‘kewajaran’ tersendiri bagi beberapa situs pemerintah. Bahkan hingga mencapai ukuran milyar. Ada pemda-pemda yang mampu menjalankan situs pemda dengan keterbatasan namun hasilnya mampu dimanfaatkan oleh masyarakatnya. Terlebih mereka yang menggunakan perkakas Sumber Terbuka semacam server Linux.

Apa sih yang dibutuhkan? Bukankah sudah ada Joomla Indonesia untuk membangun sebuah situs, hosting situs yang tak lagi mahal, domain internet yang tak lagi mahal, jejaring sosial, perkakas forum, platform blog tak berbayar dan juga komputasi menggunakan komputer seadanya pun cukup. Sumber daya manusia? Melimpah di tanah air. Tak perlu memperkerjakan banyak orang, sedikit saja sudah cukup setara dengan kebutuhan.

Tak perlu situs yang mewah dengan tampilan warna-warni yang tak jelas, pun menyewa jasa pembuatan situs yang sangat mahal. Masyarakat luas justru membutuhkan situs yang bermuatan informasi terkait pemda terkait, ringkas hingga mudah diakses, interaktif hingga bisa menangkap aspirasi warganya. Bila perlu, pemda bisa mengorganisir warganya yang berkeinginan untuk bekerja secara sukarela berpartisipasi menjalankan situs tersebut.

Jadi, tunggu apa lagi? Tak seharusnya situs pemda mati suri hanya gara-gara tak memiliki dana ratusan juta rupiah yang diambil dari pajak rakyat.

Follow Your Heart

Pernahkah Anda merasa berada di persimpangan jalan dan bingung hendak memilih jalan yang mana? Mungkin pula merasa berada di tengah jalan yang tak berujung? Galau. Tak pasti. Dan seribu pertanyaan muncul. Lalu, harus bagaimana?

Kata mas Mario Frangoulis, "Follow Your Heart". Sederhana kedengarannya. Namun, tak semua insan manusia sanggup mengikuti kata hatinya. Ada berjuta alasan. Berbagai fakta pun dijadikan sebuah argumen hingga akhirnya tak jadi mengikuti keinginan nurani.

Ah, memang tak mudah untuk follow your heart. Namun, bila itu membuat Anda menemukan jawaban akan hidup ini dan membuat bahagia, mengapa tidak? Pilihan di tangan kita masing-masing.

Silakan ulik lirik lagu Follow Your Heart. Tentu sembari dengarkan lagunya di bawah ini.

Donasikan Buku-bukumu!

Tertegun saya dengan tumpukan buku yang berada di kamar saya. Tak banyak, tak juga sedikit. Ada yang sudah dibaca. Begitu pula yang belum terbaca. Ada rasa sayang terhadap buku yang sudah dibaca dan hanya disimpan. Mau diapakan, ya?

Tiba-tiba saya teringat dengan salah satu tulisan saya mengenai ajakan untuk mendonasikan buku-buku ke perpustakaan atau orang lain yang membutuhkannya. Saat melihat tumpukan buku-buku tersebut, langsung saya pilah mana saja yang ingin saya berikan ke perpustakaan sekolah saya yang dulu.

Lumayan, setengah dari tumpukan buku sudah berpindah dari kotak ke koper. Kamar pun menjadi lebih ringkas. Lebih rapi jadinya.

Tentu, donasi buku seyogyanya tak sembarangan. Berikan buku yang masih berguna. Jangan asal buku yang menyampah untuk ‘dibuang’ ke penerimanya. Justru menjadi beban, bukannya tambah koleksi buku bermanfaat.

Bagaimana dengan Anda, apakah ada tumpukan buku bermanfaat yang tak lagi ingin baca? Sumbangkan saja ke perpustakaan sekolah. Maklum, tak banyak perpustakaan yang mampu menambah koleksi bukunya karena dana yang terbatas.

Mobile Apps untuk WordPress

Salut untuk WordPress yang mampu menyediakan aplikasi WordPress yang ditujukan untuk perangkat bergerak. Dengan begitu, para pengguna platform blog ini dapat memperbarui, mengontrol dan tentunya memposting blog mereka melalui iPhone, BlackBerry dan ponsel Android.

Blogging tak lagi melulu diperbarui melalui komputer dekstop atau pun laptop. Hal ini membuat ngeblog bisa dilakukan kapanpun dan dimanapun. Asal ada ide dan niat, tulisanpun tersaji dengan cepat.

Omong-omong, apakah Anda sudah pernah mencoba ngeblog melalui perangkat genggam Anda? Nyamankah? Tentu masing-masing punya pilihan sendiri-sendiri tergantung kebutuhan dan selera.

Saya pribadi masih lebih memilih ngeblog melalui webmail yang otomatis terposting ke akun WordPress saya. Praktis dan lebih enak mengetiknya.