Proyek Mercusuar

Coba Anda perhatikan sekeliling Anda. Temukan landmark, penanda lokasi yang mencolok dan menjadi identik dengan tempat tersebut. Semisal, Tugu Monas yang menjulang di Jakarta Pusat. Mungkin indah. Fungsinya? Mungkin sebagai monumen pengingat momen yang bersejarah. Ada gunanya?

Jelas ada gunanya. Sebagai tanda kebanggaan. Toh, membangunnya tak mudah, butuh dana besar dan juga diprotes sana-sini. Hanya ketika dihadapkan pada fungsi yang mendasar, sebenarnya tak memberikan pengaruh sebesar membikin sarana publik. Boleh dikata, bangunan seperti ini bisa dikategorikan sebagai proyek mercusuar. Bangga semata tapi tak berguna bagi banyak orang.

Terbersit ide untuk mendirikan menara yang mampu menyaingi menara Petronas di Kuala Lumpur, di Negeri Jiran oleh 3 BUMN besar di tanah air. Begitulah kabar yang dihantar media masa. Bijakkah?

Untuk apa? Bukankah masih banyak yang harus dibenahi. Sarana publik belum memadai. Pembangunan tak merata di berbagai tempat. Tapi ingin membangun sebuah mimpi di siang bolong? Itu pun dengan catatan bahwa BUMN di tanah air masih juga tak memberikan kualitas pelayanan dan pembangunan yang memuaskan. Masih merugi, masih dikorupsi.

Mengapa tak membangun lebih banyak jembatan, rel kereta yang lebih modern, angkutan perkotaan yang sistematis? Alasannya, hal-hal seperti itu tak terlalu kelihatan sehingga tak mudah dibanggakan. Ironi, bukan? Hentikan proyek-proyek mercusuar yang hanya bikin anggaran membengkak dan kebutuhan rakyat diabaikan.

Fokus Pada yang Penting

Dalam hidup ini jelas bahwa sehari tak lebih dari 24 jam. Seminggu tak lebih dari tujuh hari. Setahun tak kurang dan tak lebih dari 12 bulan. Waktu terbatas bila dikaitkan dengan berapa lama jiwa manusia boleh melekat di badannya. Padahal banyak yang harus dilakukan, dicapai dan tentu dinikmati.

Hampir semua orang pernah mengeluh tak punya cukup waktu. Benar adanya. Hanya saja, lebih banyak orang yang suka membuang waktu pada hal yang ga penting. Entah itu mengurusi orang lain, mengomentari kehidupan tapi tak mampu mengubahnya menjadi lebih baik atau melibatkan diri dengan konflik yang tak ada akhirnya.

Begitu pun saya. Baru sore ini menyadari bahwa saya membuang demikian banyak waktu pagi hingga siang untuk ‘melayani’ gesekan dengan kolega yang sejatinya ga penting. Terseret dengan orang yang jelas tak memiliki etika kerja yang benar. Padahal waktu yang terbuang bisa digunakan untuk melakukan hal berguna lainnya. Lebih produktif. Lebih senang dan puas di akhir jam kerja.

Ada pelajaran penting yang saya dapat. Yaitu untuk fokus pada sesuatu yang penting. Yang kurang penting, EGP. Masih banyak yang harus dipikirkan, dilakukan dan dinikmati. Bahkan, hidup tak hanya sekedar di kantor. Tapi juga kehidupan pribadi, keluarga dan cita-cita.

Tak mau saya meminggirkan atau melalaikan banyak segi kehidupan yang penting untuk hal-hal tak penting. Hidup itu berharga, satu kali saja dan dibatasi oleh waktu. Bukan begitu? Paling tidak, saya tak ingin menyanyikan lagu di bawah ini. Lagu yang dipenuhi rasa kecewa karena membuang waktu dan kesempatan.

Kereta Monorel di Asia Tenggara

Sudah jamak bahwa kereta komuter monorel menjadi pilihan yang bijak untuk masyarakat kota metropolitan. Begitu pula kota-kota besar di kawasan Asia Tenggara. Maklum, lintasan kereta yang efektif melintasi pusat kota dan daerah tempat tinggal mampu menghantar ratusan orang dengan cepat. Bayangkan bila semua penumpang bergantung pada kendaraan pribadi. Macet tentunya.

Di Negeri Merlion tempat saya mencari sesuap nasi, SMRT meskipun kerap dijejali penumpang, mampu memberikan kemudahan untuk pergi dari satu tempat ke tempat lainnya. Aman dan murah. Begitu juga saat melancong di Negeri Siam, BTS membuat saya mudah menjelajahi kota Bangkok. Bersih dan teratur fasilitasnya.

Negeri Jiran pun juga memiliki Monorails. Tak bagus memang. Saya kapok menaiki monorel di Kuala Lumpur tersebut. Tapi jelas bagi warganya, monorel tersebut bisa menjadi moda komuter masal. Manila pun saya dengar juga memiiki Metrostar Express.

Anehnya, saya tak menjumpai monorel di Jakarta, ibukota negara yang loh jinawi, kaya akan sumber daya alam dan manusia. Bagaimana ini? Masak tak ada sama sekali. Katanya memang ada. Tapi sebatas wacana. Semata rencana tanpa realitas.

Mengecewakan memang. Tapi mungkin sebaiknya begitu. Seyogyanya ibukota tak seharusnya dibangun lebih bagus karena hanya akan mendorong banjir urbanisasi. Lebih baik membangun kota sekitar dan kota skala menengah. Dengan demikian, pembangunan dan kesejahteraan menjadi merata di tanah air.

Hostel di Bangkok

Anda ingin jalan-jalan di Bangkok dan menginginkan hostel yang aman, murah dan letaknya strategis? Mungkin Anda bisa mencoba hostel Take a Nap. Setahun yang lalu, saya pernah tinggal di sana untuk ber-backpack-ria dengan beberapa rekan. Not bad, bagi saya. Mengapa?

Lokasinya di tengah kota. Tepatnya di Jalan Rama 4 Suriyawongse. Dekat dengan BTS Saladaeng, sejenis kereta komuter yang bersih dan relatif murah. Naik taksi, bila terpaksa, juga tak begitu mahal karena dekat dengan banyak tempat atraksi wisata.

Fasilitasnya memadai. Satu kamar berbagi dengan 5 atau 7 orang, tergantung jenis kamar yang dipilih. Tersedia loker dengan kombinasi angka untuk tempat menyimpan barang berharga. Kamar mandi dan pendingin udara juga standar. Karena berbagi kamar dengan banyak orang, perhatikan etika memakai tempat tidur.

Internet tersedia. Harga sewa tempat tidur tidak begitu mahal. Penerima tamu juga sangat membantu. Tapi ingat, sekali lagi ini hostel, bukan hotel. Jadi bagi yang ingin penginapan yang lebih mewah, hotel rasanya lebih cocok.

Omong-omong, kalau jalan-jalan jangan lupa membawa kartu nama yang ada petanya sehingga bila naik taksi, tinggal menunjuk kartu nama berpeta tersebut. Dengan begitu Anda bisa pulang ke Take a Nap. Maklum, banyak sopir taksi yang tak fasih berbahasa Inggris.

Sepakbola dan Pemain Bintang

Lionel Messi dikecam media Argentina. Thierry Herny disoraki pendukungnya. Sama-sama hebat tapi nasibnya tak berbeda. Dianggap tak memberikan kehebatan mereka di tim tanah air mereka sendiri. Messi membela Argentina yang menang tipis dari Jerman. Sedangkan Henry, Perancis kalah dari Spanyol. Adilkah?

Memang keduanya memiliki kemampuan mengolah bola di atas rata-rata. Wajar bila ekspetasi pendukung mereka kelewat besar. Terlebih nama harum negara dipertaruhkan. Hanya saja, tak disadari bahwa sepakbola dimainkan oleh sebelas orang. Namanya juga kesebelasan. Bukan satu orang saja yang berperan.

Jadi, bila Messi tak mampu mengeluarkan sepakbola indahnya yang manjur menjebol gawang lawan, boleh jadi karena rekan-rekannya tak sehebat dan sekompak di Barcelona FC. Bila biasanya sering-sering dapat bola, sekarang tidak, tentu Messi jadi melempem. Setali tiga uang dengan Henry yang tak bisa mengeluarkan manuver tinggi yang mampu menembus pertahanan lawan.

Ditambah lagi dengan kondisi badan mereka yang sudah lelah ‘bekerja’ di rumput klub mereka masing-masing. Tak adil bila mereka harus bisa bermain seperti permainan hebat mereka di liga yang mereka ikuti. Kondisi berbeda, tim bermain berbeda dan pelatihnya juga sama sekali beda.

Pemain bintang memang berkontribusi besar terhadap tim yang dibelanya. Namun, tim tersebut juga yang bisa membuat permainannya berkembang. Coba bila David Beckham bermain di Persebaya. Pasti tak bisa berbuat apa-apa. Malah mendapat jotos para bonek bila kalah atau minimal terkena lemparan botol minuman.

Perhelatan Sepakbola dan Perilaku Penonton

Terbersit keinginan yang sangat besar bagi pengurus sepakbola di tanah air untuk mencalonkan diri sebagai penyelenggara hajatan besar sepakbola, Piala Dunia. Kontan banyak peminat sepakbola yang bersorak senang. Hanya saja, jauh lebih banyak yang mencibir, mencemooh dan mentertawakan ambisi yang kelewat besar itu.

Alasannya sederhana. Kapasitas stadium yang tak memadai, transportasi yang tak bisa diandalkan, minimnya kemampuan menyelenggarakan perhelatan olahraga dalam skala besar dan tak cukupnya uang untuk mendanai keseluruhan ongkos Piala Dunia. Dan yang teramat penting adalah perilaku penonton yang anarkis. Tak aman bermain bola di tanah air.

Coba tengok saja ulah oknum bonek yang melakukan kekerasan secara masal. Bila pendukung kecewa, stadium sepakbola rusak parah. Bila pendukung senang, toko dan restoran diserbu tanpa mau membayar. Bayangkan bila Lionel Messi terkena timpukan batu, Cristiano Ronaldo diserbu penonton untuk diminta kaos dan sepatunya atau turis penonton sepakbola dari manca terkena palak dari oknum aparat keamanan. Sungguh memalukan jadinya.

Bahkan, negara Italia yang terkenal akan budaya sepakbola pun terkena imbas tak dicalonkan menyelenggarakan Piala Eropa karena perilaku kasar para oknum tifosi di sana. Lebih kurang sama dengan kebanyakan penonton di tanah air yang bisa membakar kursi stadium untuk mengekspresikan rasa kecewa klub kesayangan mereka.

Jadi tak perlu menyelenggarakan Piala Dunia bila dunia sepakbola di tanah air masih kacau balau. Terlebih bila tim tanah air hanya bisa menjadi penonton di ajang sepakbola paling bergengsi hanya gara-gara tak lolos masa pra-kualifikasi. Bukankah, begitu bung?

Film Favorit yang Menginspirasi

Ada film yang bagus untuk ditonton, menghibur dan membuat hati tersentuh. Ada pula film sampah yang mengecewakan untuk ditonton. Begitu juga film yang biasa-biasa saja. Sedikit menghibur tapi tidak terlalu spesial.

Di antara ratusan film yang pernah ditonton, pasti ada beberapa film favorit yang memberikan pencerahan. Menginspirasi. Masing-masing tentu memiliki film favorit yang berbeda-beda. Untuk saya pribadi, saya merasa tersentuh kala menonton Up produksi Pixar.

Bagaimana dengan Anda, film apa yang menginspirasi Anda? Film yang benar-benar berkesan dalam pikiran dan lubuk hati Anda.