Korean Wave

Hah, apakah ada tsunami di Korea? Jangan panik. Gelombang yang satu ini merupakan istilah lain dari Hallyu. Merebaknya budaya Korea ke berbagai dunia. Mulai dari drama, musik hingga macam-macam kulinernya. Jadi bukan hanya Kimchi semata. Justru pamor pariwisatanya makin maju. Demikian pula dengan produksi manufakturnya. Ada yang belum tahu Samsung?

Hebat, ya? Lalu mengapa bisa demikian? Mengapa negara kecil yang terletak di antara Negeri Tirai Bambu yang sangat besar, Negara Matahari Terbit yang sangat maju dan Negara Ginseng Utara ini mampu menjelma menjadi negara yang sangat maju?

Melihat pada negeri sendiri, seharusnya dengan penduduk lebih banyak, kita mampu bangkit menjadi lebih baik. Minimal sama bagus. Budayanya terkenal, produksi melimpah dan pariwisata pun tak ada habisnya.

Mungkin negeri ini harus diperbaiki dari awal. Pondasinya banyak yang rapuh, entah itu pendidikan, mentalitas atau pun cara hidup sehari-hari. Atau karena tak ada ancaman yang mendesak hingga bermalas-malasan saja tak mengapa. Jadi tak perlu menjadi negara maju, toh, asal bahagia hidup seperti ini.

Kapan ya ada semacam Indonesian Wave? Bukan, bukan ekspor TKI ke penjuru dunia. Oh, bukan, bukan pula gelombang besar yang memporakporandakan kota-kota tepi pantai. Tapi gelombang kebangkitan bangsa yang cinta tanah air dan bangga dengan dirinya sendiri.

Berbahagia

Berbahagia berarti sedang merasakan bahagia. Namun, rasa bahagia itu konon hanya timbul sesaat. Tak bisa lama-lama. Sementara rasa tak bahagia sering mampir dalam jangka waktu yang relatif lebih lama.

Demikian sulitnya bahagia dirasakan, banyak insan yang berandai-andai diciptakannya Pil Bahagia. Sekali telan, bahagia terasa. Bukan, bukan pil gedek yang saya maksudkan. Itu lain cerita.

Mungkin karena bahagia itu jumlahnya tak banyak. Tak sering juga. Oleh karena itu menjadi komoditi yang bernilai tinggi. Hingga apapun akan dilakukan untuk mendapatkan kebahagiaan itu. Tentu lain orang, lain pula cara mendapatkannya.

Seringkali para orang pintar juga berpikiran bahwa kebahagiaan itu tak seharusnya dicari dan didapatkan. Namun diciptakan. Siapa penciptanya? Katanya, semua orang bisa menciptakan kebahagiaan. Hmm…

Tentu akan lebih mudah bila manusia mengetahui definisi bahagia sehingga bisa menciptakan rasa bahagia lebih sering, lebih banyak.

Makan, Berdoa dan Bercinta

Itulah terjemahan asal-asalan dari film terbaru Julia Roberts. Eat Pray Love. Elizabeth, sang tokoh, berkelana ke penjuru dunia untuk menemukan arti hidup. Film yang bisa timbulkan inspirasi, tentu dibalut dengan latar belakang yang memukau. Kuliner di Italia, kekuatan doa di India dan kedamaian dari cinta sejati di Bali.

Membanggakan bahwasannya pulau tempat plesiran turis domestik dan mancanegara tersebut bisa ditayangkan di seluruh dunia. Tempat yang memiliki budaya eksotis. Sayangnya, ada film dokumenter yang juga santer dibicarakan saat ini. Cowboys in Paradise.

Temanya kurang lebih sama. Makan, berdoa dan bercinta. Bedanya, para lelaki pecinta wanita asing ini ‘diberi makan’ oleh ‘kekasih’ mereka, berdoa (baca: berharap) bisa diboyong ke negeri-negeri asing atau minimal mendapat kemudahan hidup; dan tentu saja bercinta memuaskan pasangan temporer mereka. Hidup mereka pun tampak menarik karena tiap hari hanya bermain-main dan ‘bermain-main’ dengan para wanita sembari menikmati pantai dan bermusik.

Dua film yang sama-sama berlatar-belakang di surga dunia. Hanya saja, definisi surga boleh beda-beda. Yang pasti sama-sama makan, berdoa dan bercinta.

Lalu, bagaimana dengan belajar dan bekerja? Toh, belajar dan bekerja juga bagian dari hidup yang juga turut menyumbangkan rasa bahagia bagi manusia.

PLTN

Kependekan dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Listriknya berasal dari penggunaan bahan baku nuklir. Teknologi yang bersih dan ramah lingkungan? Salah adanya. Ada sampah nuklir yang berbahaya dan perlu waktu beratus tahun untuk menetralkannya. Diperlukan sistem pengelolaan yang harus teliti dan hati-hati. Salah sedikit, bencana Chernobyl bisa terulang kembali.

Di Jerman yang notabene sudah lama memiliki PLTN, masyarakat mereka pun menentang perpanjangan masa operasi fasilitas nuklir di negara mereka. Sadar bahwa PLTN harus dibatasi masa produksinya lalu ditutup total. Lalu, mengapa pemerintah tak belajar dari pengalaman negara-negara maju yang juga sudah memahami potensi bencana dibalik ‘bersihnya’ teknologi nuklir.

Wajar bila massa mahasiswa dan pecinta lingkungan hidup bersama-sama menolak rencana pembangunan reaktor nuklir secara bertahap di Jepara, Semarang, Yogyakarta, Madura dan Bangka Belitung. Alasannya sepele. Pemerintah tidak akan mampu menanggulangi bencana yang bisa terjadi di masa depan. Bagaimana pula bila terjadi mogok kerja para teknisi nuklir?

Masih segar di ingatan bagaimana sebuah galangan kapal saja bisa dibakar ramai-ramai di Batam. Pusat peti kemas di Tanjung Priok bisa kacau balau. Itu pun belum ditambah Porong yang tak kunjung beres tapi malah lebih bermasalah. Ada pula bencana alam yang mengintai seperti gempa bumi dan tanah longsor.

Jadi, semisal PLTN di Yogya meletup karena digoyang letusan Gunung Merapi dan di saat yang sama ada bakar-bakaran PLTN di Madura, lalu apa dong yang terjadi? Sungguh tak terbayangkan…

Tiran

Saat melihat-lihat judul film yang tayang saat ini, saya tertegun dengan film berjudul Tiran. Kalau Tiren (Mati Kemaren) saya tahu itu. Saya penasaran apakah Tiran ini sama dengan Tiren.

Ternyata Tiran berarti Mati di Ranjang. Terkakak saya waktu membacanya. Rupanya ini film Dewi Persik dengan Indra L. Bruggman. Kelihatannya film ini tak beda dengan film horor komedi lainnya. Ada lucu-lucunya, dibungkus dengan kejadian menyeramkan dan diwarnai adegan syur di sana-sini.

Seperti dugaan semua orang, ranjang digunakan sebagai inti cerita. Sudah tentu ada adegan ranjang. Entah itu mati di ranjang, sesuai judulnya. Atau kegiatan lainnya yang biasa dilakukan di atas tempat pembaringan tersebut. Tentu selain tidur nyenyak.

Tak tertarik saya menontonnya. Begitu juga jutaan penonton di tanah air. Sudah jenuh melihat film tak bermutu seperti ini. Tapi bagaimana pun film seperti ini masih saja disukai oleh jutaan penonton lainnya. Toh, bioskopnya ramai kalau ada film dengan judul serupa seperti ini.

Bila ada penghargaan Film Terpuji di tanah air, bagaimana kalau diadakan ajang pemilihan Film Tak Terpuji seperti Golden Raspberry Awards (Razzies)? Pasti juri-jurinya akan kesulitan menemukan film yang paling tak terpuji setiap tahunnya di tanah air. Menurut Anda, film-film Indonesia apa yang bisa digolongkan dalam film tak terpuji?

Sumbangan Bombastis yang Tak Merata?

Terkesima saya saat membaca berita mengenai cangkok hati sebesar dua miliar untuk Ramdan. Jumlah yang teramat besar. 1,3 miliar berasal dari bantuan Pemprov Jatim. Sumbangan yang tak sedikit dan untuk nyawa seorang bocah berumur 3,5 tahun.

Bantuan tersebut mulia. Hanya saja terdengar tak bijak. 1,3 miliar bisa dialokasikan untuk lebih banyak bocah tak mampu. Caranya lewat posyandu yang tersebar di berbagai pelosok provinsi, penyuluhan gizi balita yang sehat secara masal atau imunisasi/vaksinasi gratis untuk anak-anak tak mampu. Akan ada ratusan bocah yang akan terhindar dari penyakit dan kematian.

Bukan, bukan berarti mengamini bahwa Ramdan tak seyogyanya dibantu. Dia pantas dibantu. Hanya saja ada Ramdan-Ramdan lain yang memiliki penyakit laten dalam diri mereka. Tak terpantau, tak pula terpublikasikan ke publik.

Namun, toh, banyak yang tak peduli. Padahal 1,3 miliar bisa digunakan untuk aksi pencegahan dibanding penyembuhan yang tipis kemungkinan sembuhnya.

Bukankah menyehatkan ratusan anak lebih bijak dibanding fokus pada penyelamatan seorang anak semata?

Berhenti Merokok

Katanya berhenti merokok itu susah setengah mati. Saya tak pernah mengetahuinya. Maklum, saya tak pernah dan tak ingn menghisap batang berasap penuh racun tersebut. Hanya saja, turut senang bila ada perokok berat yang akhirnya menghentikan kebiasaan tersebut.

Seperti yang diulas dalam artikel Kompas mengenai Trimedya, seorang politisi yang bisa berhenti merokok padahal dulunya bisa habis 4 bungkus rokok. Suatu perubahan yang drastis. Penyebabnya, anak-anaknya memarahinya bila dia merokok. Efektif. Anak-anaknya mampu mencegah orangtuanya melakukan tindakan yang bisa menjadi bom waktu. Rusaknya badan.

Teringat saya akan ayah saya yang berhenti merokok dengan cara yang sama. Adik saya rupanya pantang menyerah untuk mengambil dan membuang rokok yang ditemukannya di rumah. Dengan begitu, ayah berhenti merokok sama sekali.

Dan sebenarnya ada begitu banyak cara untuk berhenti merokok. Mulai dari pendekatan agamis, psikologis atau pun medis. Namun, semuanya harus berangkat dari kesadaran sang perokok untuk tak lagi melanjutkan kebiasaannya.

Mengapa? Karena banyak orang, termasuk beberapa teman, berpikir bahwa mereka dapat mengontrol dosis merokok mereka. Nyatanya, sampai sekarang mereka tetap saja mengepulkan asap tak sedap dari batang penuh racun tersebut. Menjadi suatu ketergantungan yang tak kunjung berakhir. Hingga dokter memvonis mereka suatu hari nanti.