PLTN

Kependekan dari Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. Listriknya berasal dari penggunaan bahan baku nuklir. Teknologi yang bersih dan ramah lingkungan? Salah adanya. Ada sampah nuklir yang berbahaya dan perlu waktu beratus tahun untuk menetralkannya. Diperlukan sistem pengelolaan yang harus teliti dan hati-hati. Salah sedikit, bencana Chernobyl bisa terulang kembali.

Di Jerman yang notabene sudah lama memiliki PLTN, masyarakat mereka pun menentang perpanjangan masa operasi fasilitas nuklir di negara mereka. Sadar bahwa PLTN harus dibatasi masa produksinya lalu ditutup total. Lalu, mengapa pemerintah tak belajar dari pengalaman negara-negara maju yang juga sudah memahami potensi bencana dibalik ‘bersihnya’ teknologi nuklir.

Wajar bila massa mahasiswa dan pecinta lingkungan hidup bersama-sama menolak rencana pembangunan reaktor nuklir secara bertahap di Jepara, Semarang, Yogyakarta, Madura dan Bangka Belitung. Alasannya sepele. Pemerintah tidak akan mampu menanggulangi bencana yang bisa terjadi di masa depan. Bagaimana pula bila terjadi mogok kerja para teknisi nuklir?

Masih segar di ingatan bagaimana sebuah galangan kapal saja bisa dibakar ramai-ramai di Batam. Pusat peti kemas di Tanjung Priok bisa kacau balau. Itu pun belum ditambah Porong yang tak kunjung beres tapi malah lebih bermasalah. Ada pula bencana alam yang mengintai seperti gempa bumi dan tanah longsor.

Jadi, semisal PLTN di Yogya meletup karena digoyang letusan Gunung Merapi dan di saat yang sama ada bakar-bakaran PLTN di Madura, lalu apa dong yang terjadi? Sungguh tak terbayangkan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s