Blogging dari Bandara Lhasa

Tadi saya mencoba untuk posting melalui m.wordpress.com tapi kelihatannya tak berhasil.

Jadi saya mencoba untuk blogging melalui email. Semoga bisa.

Ya, saya mencoba untuk melakukan kebiasaan saya blogging di bandara. Kali ini tujuannya terbang ke bandara Chengdu untuk transit, kemudian menuju bandara Changi. Liburan di Negeri Atap Dunia sudah berakhir. Ada kesan yang mendalam. Tentu akan saya tulis bila sudah ada waktu dan kembali ke Negeri Merlion.

Ah, bandara Tibet…

Blogging dari Lhasa Airport

Sudah lama tak ngeblog ketika di bandara. Hari ini berbeda, saya berhasil blogging dari Lhasa Airport, Tibet. Sungguh tak diduga ada sinyal wi-fi yang bisa ditangkap oleh iPhone saya. Jadilah saya memposting artikel ini.

Ya, saya sudah check-in koper saya dan menunggu waktu boarding. Destinasi kali ini ke bandara Chengdu, China untuk transit dan kemudian menuju bandara Changi, Singapura.

Liburan sudah usai, begitu saya sampai di Negeri Merlion tengah malam, paginya sudah harus kembali bekerja.

Ah, tapi masih ada beberapa jam lagi untuk menikmati suasana di Negeri Atap Dunia…

Fungsi Kereta Api

Sebuah artikel dari Newsweek tentang pembangunan jalur kereta lintas benua di Negeri Tirai Bambu mengingatkan saya tentang betapa pentingnya jalur kereta bagi sebuah negara. Sebuah alat transportasi barang dan manusia yang efektif juga tangguh. Meskipun pesawat mampu melibas jarak dengan lebih cepat, toh, menyerah saat berhadapan dengan asap gunung di Islandia di penjuru Eropa.

Dr. Sun Yat-Sen, sebagai Bapak Negara China Modern, sudah sejak awal memprioritaskan pembangunan jalur kereta yang meliputi wilayah luas negaranya. Wajar karena kereta bisa menghubungkan Titik A ke Titik B dengan lebih cepat dibanding mobil dan bis. Bayangkan juga berapa banyak pembangunan yang terjadi di setiap titik stasiunnya. Semacam pemerataan pembangunan.

Negara-negara Eropa bahkan sudah lebih berpengalaman dengan teknologi kereta api. Sebut saja Inggris dengan kereta bawah tanahnya, Jerman dan Perancis dengan kereta cepatnya dan Rusia dengan kereta trans-siberia-nya. Perpindahan manusia dan barang menjadi lebih efektif, ongkos bisa ditekan dan sangat stabil. Bahkan, kini lebih diminati karena ramah lingkungan. Maklum, tingkat emisinya jauh lebih sedikit dibanding transportasi udara.

Negara Matahari Terbit juga merasakan dampak kemajuan saat menghubungkan pulau-pulau utamanya dengan jalur kereta yang melewati banyak jembatan. Bukan dengan kapal ferry, bukan juga dengan pesawat. Bahkan, kereta yang dipakai pun kecepatannya mengagumkan.

Dulu, dulu sekali, Kononial Belanda juga sudah membangun jalur kereta di Pulau Jawa. Tujuannya sederhana. Membuat distribusi barang bumi bisa dipindahkan ke pelabuhan dengan lebih efektif. Yang kemudian diangkut ke Belanda. Sayangnya, jalur kereta yang ada tak dirawat, justru banyak yang dilupakan. Padahal jalur-jalur ini bisa dimanfaatkan untuk distribusi pembangunan yang lebih merata. Sayang sekali…