Disconnected People

Masih ingat dengan slogan Connecting People yang diusung oleh salah satu pabrikan ponsel di masa lalu? Slogan tersebut kemudian dikritisi dan diparodikan menjadi Disconnecting People. Gara-garanya sepele. Ponsel sejuta umat yang tadinya membuat orang lebih terhubung dan mudah berkomunikasi satu sama lain berganti menjadi ponsel yang mengganggu komunikasi langsung. Tiap kali ada SMS masuk, pastilah penggunanya cepat membalas sembari sejenak meninggalkan perbincangan yang sedang berlangsung. Distraksi terjadi.

Kini gangguan tersebut makin mewabah setelah hadirnya BlackBerry dan iPhone. Distraksi menjadi biasa, banyak orang maklum dengan itu. Distraksi muncul dalam bentuk pemberitahuan ada surat elektronik yang masuk di BB, notifikasi pesan dari Facebook di iPhone, juga berbagai permainan atraktif nan adiktif di iPhone. Sungguh mengganggu tapi semua mengamini bahwa pernik-pernik itu menjadi bagian dari hidup.

Coba bandingkan jaman dulu waktu tak ada ponsel canggih. Lawan pembicara akan menatap Anda selama perbincangan. Konsentrasi pada apa yang dibincangkan. Ya, kadang-kadang bila ada gadis cantik yang lewat, bolehlah konsentrasi buyar sejenak. Toh, sayang untuk dilewatkan. Beda dengan sekarang dimana lawan bicara akan melihat kepada Anda sama banyaknya dengan lirikannya ke ponsel yang dikantonginya atau ditaruh di meja. Konsentrasi yang terpecah. Ada perasaan yang diajak bicara menjadi kurang penting, kurang dihargai.

Ada yang tak benar di sini. Bukan, bukan teknologi atau ponselnya yang disalahkan. Seperti pisau, tergantung mau dipakai untuk tujuan apa, memasak atau membunuh. Tapi etika menggunakan ponsel tersebut yang menjadi penyebabnya. Tergantung penggunanya masing-masing. Harusnya kesibukan dan kebutuhan untuk terkoneksi terus-menerus tak layak dijadikan argumen untuk memaklumi distraksi komunikasi tersebut. Ada yang lebih penting, suatu perbincangan yang asyik sembari menikmati manisnya teh hangat dan gurihnya penganan. Tanpa harus ditambahi dengan polusi bunyi dari ponsel. Kecuali bila itu telepon penting yang memang harus diterima saat itu juga.

Gangguan komunikasi seperti ini memang membuat percakapan langsung menjadi tak nyaman. Parah? Ada yang lebih parah yaitu ketika kita makin susah berkomunikasi langsung dengan orang-orang yang bergantung pada komunikasi dijital. Mereka ini akan lebih mudah disapa dan diajak ‘berbicara’ melalu SMS, surel, instant messenger dan komentar di Facebook. Tanpa bantuan komunikasi dijital, mereka akan sulit berbincang, sulit berkonsentrasi dan buru-buru fokus ke ponsel atau alat komunikasi dijital.

Omong-omong, saya rindu berbincang (tanpa distraksi komunikasi dijital tersebut)…

Video Intim dan Arisan Tante

Rupanya heboh video mirip artis memang merebak di mana-mana. Hampir semua kalangan menpergunjingkan fenomena tersebut, mulai dari rakyat jelata yang tak bisa makan hingga para oknum pejabat yang yang tak bisa tak makan uang rakyat. Tak terkecuali, pembicaraan perihal video juga menjadi santapan para tante sewaktu arisan di pertengahan tahun. Mari kita dengarkan sama-sama.

Saat Tante 1 mencondongkan badannya dan membincang setengah berbisik, serta merta para Tante yang lain serius mendengarkan. Tante 1 bertanya, "Ramai juga ya video esek-esek mirip-mirip itu, ya?" Tante 2 pun menjawab, "Heboh, jeng! Kacau pokoknya." "Tapi videonya asyik, kan?", pancing Tante 1. Tentu disambut manggutmanggut Tante yang lain. Tante 3 tiba-tiba iseng bertanya tanpa basa-basi, "Tapi ente-ente ini, omong-omong ya, udah pernah buat video gituan, ga?"

Tante 1 dengan agak malu mengangguk. Spontan Tante yang lain menatap dengan semangat. "Ehem…, pernah sih", Tante 1 mengaku. "Tapi sayangnya pas mau rekam, hape hubby keburu lowbat, ya sudah gagal deh." Tante 2 juga menyahut, "Mendingan gitu, daripada gue, pas pagi-pagi tapi lagi horny nih, terus laki gue mau rekam pake BB-nya. Eh, laki gue malah dapat pesan imel. Ada rapat mendadak segera, jadi gagal deh, laki gue buruan cabut ke kantornya. Damn banget, kan?"

Tante 4 yang termasuk pasangan baru nikah menyahut, "Kalau kami sudah sempat mengabadikannya pas bulan madu, pakai kamera video lagi. Cuma…" Tante 3 tak sabar lalu membilang, "Cuma apa, jeng?" "Cuma gelap gambarnya, lupa kalau ga dibuka tutup lensanya. Suami kayaknya lebih sibuk bukain baju saya, saya juga nervous gitu", papar Tante 4 yang tentu membuat pendengarnya kecewa.

"Kok, sempet sih rekam-rekam segala. Kalau saya jelas ga sempet. Quicky aja jarang-jarang", sela Tante 5 yang selain bekerja, ambil S2 sekaligus mengurus sepasang bayi kembar. Sambungnya sembari menengok ke arah Tante 3, "Btw, kalau you, gimana jeng? Tante 3 terkaget pertanyaannya jadi bumerang. Tak bisa mengelak, akhirnya dengan ragu berujar. "Berhasil rekam, sih. Tapi langsung dihapus sama suami." Kompak semua bertanya, "Kenapa?" Lanjut Tante 5, "Soalnya suami tak mau lihat dia direkam pas… ehem… kelihatan kalau mainnya kecepeten, gitu." Hening sementara. Lalu tiba-tiba semua Tante terbahak-bahak. Bahkan ada yang menyeletuk, "Kasihan deh lu!"

Perusakan Kamera Wartawan Infotainment

Coba bayangkan suatu hari Anda sedang menghadapi masalah pelik yang membuat sakit kepala, berurusan dengan penegak hukum dan karir Anda diujung tanduk. Anda frustasi, bingung dan gelisah. Lalu, tiba-tiba ada orang yang mengejar Anda, mencecar belasan pertanyaan dan menyorotkan kamera ke wajah Anda. Belasan kali pula Anda memohon agar tak direkam, meminta dengan hormat hak akan ruang pribadi dan agar tak dikuntit. Tapi tetap saja Anda dikejar-kejar wartawan infotainment. Bagaimana perasaan Anda?

Kebanyakan orang akan emosi. Tindakan spontan yang kasar merupakan reaksi yang wajar. Bentuk pertahanan diri. Bisa jadi mendorong oknum wartawan (yang tak sopan dan menghargai subyek narasumbernya), begitu pula menghantam kamera yang terus menyorot wajah.

Sayangnya, bila kamera rusak atau badan luka, justru oknum wartawan ini memanfaatkan kesempitan dalam kesempatan. Menjadikan dirinya objek penderita hingga menjadikannya topik pemberitaan sekunder yang tak bermutu. Mungkin pula meminta ‘imbalan ganti rugi’ agar tuntutan hukum atas pengrusakan tak diteruskan.

Padahal jelas, oknum wartawan ini yang tak tahu etika jurnalisme yang sehat dan fair. Mengejar berita adalah hal yang penting sebagai bagian dari profesinya. Tapi mengejar-ngejar hingga menimbulkan gangguan kepada perorangan pribadi jelas tak terpuji. Asosiasi jurnalisme harusnya menindak dengan tegas anggotanya yang tak lagi menghormati narasumbernya.

Hanya saja hal ini toh tetap akan terjadi. Cepat atau lambat akan terulang kembali. Maklum, antusiasme masyarakat luas akan gosip murahan di infotainment begitu besar, para produser infotainment pun tentu ingin pemirsa sebanyak mungkin tentu dengan menekan para wartawannya untuk menggali narasumber lebih dalam dengan menghalalkan segala cara.

Menonton Video Biru

Terus terang saya bosan melihat paparan mengenai skandal video mirip Ariel. Entah liputan dramatis acara infotainment, artikel sok tahu di pelbagai blog, hujatan tanpa fakta para pemimpin agama hingga pejabat pemerintah (kurang kerjaan) yang mengecam peristiwa semacam ini. Padahal ada Piala Dunia yang membahana, tumpahan minyak di Teluk Meksiko hingga berbagai kasus abadi yang tak terpecahkan semacam Lapindo hingga Century.

Lalu, muncul razia video biru di sekolah, di tempat jualan keping VCD hingga ke kantor-kantor. Untuk apa? Toh, bila memang ingin menyimpan video tersebut, sang pemilik video pasti menyimpannya rapat-rapat. Juga bisa dihapus lalu unduh lagi dari internet dan rekan lainnya. Tindakan yang terlambat dan tak manjur. Bahkan, semakin besar usaha bersih-bersih video, makin besar pula animo untuk melihatnya. Seperti api yang diguyur minyak.

Tak perlu mengecam pengedar video dan pelakunya, tak perlu memblokir internet, tak perlu pula ‘tampak serius’ membersihkan peredaran video intim. Cukup dengan menumbuhkan logika dan menyuburkan iman masing-masing. Bila semua orang sibuk bekerja, begitu pula sibuk beribadah; toh, tak akan sibuk mencari video biru tersebut dan menontonnya.

Seperti halnya rokok. Tak perlu dilarang. Bila orang sadar bahaya rokok pastilah tak akan menghisapnya. Setali tiga uang dengan video biru. Hanya anehnya, di tanah air yang negaranya berlandaskan agama, orang ramai untuk mengunduhnya. Lagipula gambarnya tak jelas-jelas amat. Lebih bagus film biru dari Negeri Sakura yang jelas-jelas diproduksi oleh industri esek-esek.

Suatu fenomena yang absurd terulang, seperti beberapa bulan yang lalu saat Maria Ozawa hendak main di salah satu film nasional. Absurd, sungguh!

We All Like to Reblog (via WordPress.com News)

Fitur yang unik, Reblog.

We All Like┬áto┬áReblog Have you ever come across a blog post that you enjoyed so much you wanted to easily share it with the readers of your own blog? Sure, you can copy and paste the link and perhaps even a snippet of text with your own comments, but overall it's not a particularly enjoyable experience. We wanted to change this and make sharing other posts with your readers as easy as posting to your blog. Today we're introducing a new like and reblog feature enabled … Read More

via WordPress.com News

A World Without Thieves

Film yang dibintangi Andy Lau dan Rene Liu ini sangat berkesan bagi saya. Latar belakang pengambilan filmnya ada di kuil Budha di TIbet ditengah-tengah hamparan padang rumput yang berbukit-bukit. Kemudian dilanjutkan perjalanan kereta Tibet di mana mereka berdua berjuang menyelamatkan bocah naif yang percaya bahwa di dunia ini tak ada yang namanya pencuri.

Ceritanya menyentuh. Begitu juga dengan pemandangan yang ditawarkan dalam film tersebut. Hingga akhirnya menjadi salah satu inspirasi untuk perjalanan saya. Dan setelah penantian panjang, akhirnya saya dapat menjejakkan kaki di Tibet dan melakukan perjalanan kereta api tersebut.

Film tersebut dirilis tahun 2008, tahun di mana rel kereta dari Golmud hingga Lhasa sudah kelar dibangun. Boleh dibilang film itu ‘mempromosikan’ perjalanan ke Tibet. Berkelana ke sana menjadi lebih mudah. Tak harus repot-repot mampir ke Nepal yang kurang jelas.

Cobalah untuk menonton film itu. Siapa tahu lalu Anda ingin melakukan perjalanan ke Negeri Atap Dunia tersebut…

Tibet Travel Permit

Apakah Anda hendak mengunjungi Tibet? Itu artinya Anda harus memiliki Tibet Travel Permit. Tanpa surat keterangan tersebut, Anda tak akan diperkenankan memasuki wilayah Tibet dari China maupun dari Nepal. Tak mudah mendapatkannya terutama bila Anda hendak bepergian seorang diri atau dalam kelompok kecil.

Ada cara yang lebih mudah. Yaitu membeli paket perjalanan ke Tibet melalui biro perjalanan. Mereka akan mengurus surat ijin tersebut. Tentu dengan catatan bahwa anda membeli paket perjalanan dari mereka. Toh, jalan-jalan menjadi lebih praktis dengan kehadiran pemandu wisata lokal ketimbang harus berkelana secara swadaya. Terlebih bila Anda tak menguasai bahasa Mandarin dan dialek lokal. Tak banyak yang bisa berbicara dengan bahasa Inggris.

Saat saya ke Tibet bulan lalu, saya menerima surat ijin tersebut dari pemandu wisata di Xining, Qinghai. Dari kota yang berada di China Barat itulah saya memasuki Tibet dengan menggunakan China Tibet Train ke stasiun Golmud dan berakhir di Lhasa. Tanpa surat ijin, tak bakal bisa menaiki kereta tersebut.

Apakah cukup hanya dengan Tibet Travel Permit di kantong? Ternyata tidak. Anda juga harus memiliki Visa China dengan satu kali entri. Tanpa visa tersebut, Anda tetap saja tak akan bisa masuk Tibet. Maklum, Tibet termasuk wilayah China. Jadi bila Anda berusaha memasuki Tibet dari Nepal, toh, tetap saja harus membuat Visa China, juga Visa Nepal tentunya. Malah repot, kan?

Boleh saja Anda berusaha backpacking ke sana. Tapi lebih bijak tetap gunakan jasa biro perjalanan untuk mendapatkan Tibet Travel Permit sekaligus tiket untuk memasuki Istana Potala.