Baca Petunjuk Terlebih Dahulu

Hari ini saya begitu semangat pergi ke kantor. Maklum, perusahaan tempat saya bekerja pindahan ke kantor yang baru. Gedung baru pula. Pasti asyik. Saya mendapati meja model baru dengan dudukan monitor yang fleksibel, telepon yang baru dan segala yang serba baru. Bersih pula.

Di depan meja diletakkan beberapa petunjuk penggunaan meja yang dapat diputar sesuai keinginan, cara memakai telepon VOIP, tips menggunakan fasilitas kantor dan peta bangunan. Malas untuk membacanya tapi saya pikir itu perlu dipahami. Beberapa menit saya luangkan untuk mencerna sekaligus mempraktekkan apa yang harus saya lakukan dengan beberapa barang baru. Semua beres, tak ada keluhan.

Herannya banyak yang bingung dan lebih jelek lagi yaitu mengalami masalah dengan menyambung kabel internet, mengunci loker dengan nomor kombinasi dan juga fasilitas lainnya. Ujung-ujungnya mereka ini adalah orang yang malas membaca petunjuk yang sudah diberikan dengan jelas.

Lalu hanya bisa mengeluh, marah-marah sendiri dan tentu tidak lancar di hari pertama. Jelas hal itu merugikan mereka sendiri. Tapi ya bagaimana lagi, ternyata buku petunjuk hanya dianggap informasi tak berguna. Sampah.

Jadi hari ini banyak orang yang tak paham dan tak mau untuk membaca petunjuk terlebih dahulu. Bila hal kecil saja kacau balau, bagaimana bila mereka harus mengoperasikan alat yang cukup rumit dan besar. Bisa jadi masalah yang timbul akan lebih besar.

My Way

Lagu yang dilantukan oleh Frank Sinatra ini sungguh menyentuh hati saya. Selalu saja ada perasaan yang tak bisa dijelaskan kala mendengarkan dan ikut menyanyikan lagu My Way tersebut. Kadang-kadang mata juga ikut berkaca-kaca. Lagu yang memotivasi, menginspiirasi.

Coba baca lirik lagunya. Sungguh kata-katanya sederhana tapi sangat mendalam. Mengetuk hati para pemalas, orang yang suka menunda-nunda banyak hal, yang ragu-ragu dan tak jelas menjalani kehidupan ini. Entah bagaimana, lagu ini benar-benar menampar dan menyadarkan.

Berapa banyak orang yang bisa menyanyikan lagu ini di masa tuanya? Tak banyak saya kira. Sepele alasannya. Lebih banyak orang yang kecewa dengan hidupnya. Tak puas, tak bahagia dan hidup penuh penyesalan yang memerihkan dada.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda sudah bisa berkata, "I did it my way"?

Paparazzi

Apa yang terbayang ketika kata paparazzi muncul? Mungkin beberapa pekerja media massa yang dengan semangat berlebih berlarian mengejar narasumber, membombardirnya dengan lusinan pertanyaan setajam pisau, menyorotnya dengan kamera video sembari menyodorkan mikrofon perekam suara. Seperti kawanan nyamuk yang menyerbu makanan. Atau sebaliknya, seseorang yang tampak seperti sniper hanya saja diganti kamera lensa jarak jauh yang sanggup ‘skandal’ dari jarak jauh.

Yang jelas, paparazzi jelas tak menghargai privasi dari narasumber yang menjadi subjeknya. Apapun dihalalkan demi mendapatkan pemberitaan yang menghebohkan, skandal memalukan yang bisa dipajang di headline. Sopan santun dan menghargai subjek narasumber tak lagi digubris. Paling penting adalah mendapat berita. Terlepas apakah ‘berita panas’ tersebut bisa menghancurkan kehidupan seseorang dan meresahkan masyarakat, itu lain soal.

Dulunya saya berpikir bahwa paparazzi hanya ada di Negeri Paman Sam yang dipenuhi bintang glamor semacam Britney Spears, Brad Pitt atau pun Madonna. Ternyata paparazzi ini juga ada di tanah air. Cukup melihat acara infotainment maka Anda bisa mendapati gambaran betapa kesalnya para selebritas yang selalu dikuntit dan diuber-uber para nyamuk media yang sungguh tak santun. Mengapa bisa sampai seperti ini? Mengapa pemerintah tak membuat batasan yang jelas seperti beberapa negara Eropa yang memiliki aturan jelas agar selebritas tak diganggu privasinya. Toh, selebritas juga manusia yang juga perlu kebebasan hidup tanpa gangguan.

Coba lihat apa yang tampak di layar televisi, radio dan media cetak sekarang ini? Sorotan berlebih kepada selebritas. Bukan, bukan hanya liputan tak santun yang berkepanjangan pada kasus video mirip artis. Tapi juga berbagai kasus dan skandal yang lain. Jenuh, bukan? Mengapa tak menyoroti bencana Lapindo, kelaparan di pelosok tanah air atau korupsi besar-besaran?

Postingan ini tercetus karena jenuh dengan pemberitaan selebritas yang overdosis sembari mendengarkan lagu berjudul Paparazzi yang dinyanyikan oleh Lady Gaga.