Redenominasi dan Sanering

Baru saja saya dengar ada pecahan uang baru di tanah air. Lumrah bila desain uang kertas berubah. Tapi rupanya berita yang lebih baru membuat kehebohan tersendiri. Yaitu redenominasi dan sanering.

Tak paham saya dengan istilah redenominasi dan sanering. Ternyata setelah membaca Wikipedia, baru saya memahami bahwa artinya berbeda. Implikasinya juga jelas-jelas berbeda. Tak ada nilai tukar yang berubah pada proses redenominasi. Sebaliknya, dengan sanering, nilai tukar uang berkurang. Menjadi kurang daya belinya.

Bila redenominasi yang diwacanakan, saya termasuk yang setuju. Toh, lebih mudah menghitung jumlahan uang yang tak terlalu banyak memiliki angka nol. Hanya saja, pasti susah untuk diterima masyarakat yang terbiasa membeli seporsi sate ayam dengan harga 8.000 Rupiah lalu esok hari hanya perlu membayar 8 Rupiah. Rasanya ganjil, kan?

Cuma kalau di tanah air, penerapan bisa melenceng jauh dari proposal dan rencana semula. Boleh jadi ingin melakukan redenominasi tapi yang terjadi malah sanering ditambah dengan huru-hara karena rakyat tak lagi mampu membeli barang kebutuhan pokok. Begitu pula mereka yang rajin menabung, sia-sia saja bila jumlahan uang tempo hari di bank menjadi setengah atau seperempat nilai tukar semula.

Redenominasi mungkin tak terlalu penting. Lebih penting adalah membuat USD 1 tak lebih dari IDR 10.000. Bila memungkinkan, dengan setengah berharap, syukur-syukur USD 1 sama dengan IDR 2.000. Seperti yang terjadi di era Soeharto. Omong-omong, apa pendapat Anda tentang redenominasi yang diwacanakan oleh pemerintah?