Good Life

Siapa yang tak ingin memiliki kehidupan yang indah? Nyaman, sentosa, sehat. Juga romantis dan membahagiakan. Apakah semua orang mengecap kehidupan yang baik di perjalanan hidupnya? Tak semua. Ada yang pernah merasakannya. Ada yang belum. Tentu ada yang sedang mengalaminya. Namun jelas bahwa banyak orang mendambakan good life.

Hanya saja good life tergantung perspektif masing-masing insan manusia. Beberapa orang mengalami bermacam penderitaan dan kegagalan namun tetap bisa merasa bahagia. Justru masih bisa bersyukur karena masih bisa menapaki lika-liku kehidupan yang tak terjal. Sedangkan yang lain ada yang mempunyai kehidupan berwarna dan mewah tapi malah merasa merana.

Namanya hidup pasti ada saatnya pasang dan surut. Bagaimana menyikapinya dan mengatasinya yang membuat masing-masing individu menghargai kehidupannya dengan cara berlainan. Wajar bila pernah gagal. Juga bila berhasil. Jatuh cinta dan patah hati. Mendapat lotre dan kecopetan. Ada bahagia. Ada sedih.

Sebuah band dari Negara Paman Sam OneRepublic mengusung lagu berjudul Good Life (lirik). Kata-katanya sederhana namun mengena.

Sometimes there’s airplanes I can’t jump out
Sometimes there’s bullshit that don’t work now
We are God of stories, but please tell me
What there is to complain about?

Benar, hidup ini ada suka dan duka. Untuk apa mengeluh? Nikmati hidup ini apa adanya.

Bebersih Rumah Sekaligus Pikiran

Apakah Anda termasuk orang yang suka membersihkan rumah? Banyak yang ingin rumahnya bersih. Namun tak banyak jumlah orang yang menyukai bebersih rumah. Inginnya semua beres dengan seketika. Ajaib, bukan?

Saya sendiri bukan orang yang cukup giat membuat rumah menjadi asri, rapi dan tak dijejali dengan berbagai kotoran. Rasanya malas untuk melakukan kegiatan tersebut.

Pagi ini pun begitu. Hanya saja entah mengapa, pikiran berasa lebih ringan setelah selesai membersihkan beberapa bagian rumah. Senang karena rumah menjadi lebih rapi. Nyaman untuk ditinggali. Badan juga terasa lebih enak setelah mengeluarkan keringat dan bergerak. Pikiran juga segar.

Sehabis itu lalu saya mandi dan menuangkan rasa segar ini ke dalam blog ini. Selamat akhir minggu untuk kita semua.

Meremehkan Diri Sendiri

Benar adanya pepatah tua yang membilang, "bila Anda menganggap diri Anda remeh boleh jadi Anda akan lebih sering diremehkan orang lain". Saya setuju. Dulu memang saya termasuk insan manusia yang memiliki rasa pesimis yang tinggi. Banyak maunya tapi merasa tak mampu melakukannya. Ada 1001 alasan yang bisa saya buat untuk menghibur ketidakmampuan saya. Ditambah rasa malas yang mendarah daging. Lengkap sudah. Mafhum bila saya akhirnya dianggap remeh orang lain. Entah karena saya memang waktu itu sering sakit-sakitan atau kasihan semata.

Untung saya suka membaca buku, majalah atau apapun yang tertulis. Ada yang tak berarti, namun ada yang minimal memberi secuil pencerahan. Meski tetap pesimis toh tetap saja saya mau melakukan lebih banyak hal. Mungkin karena cukup cuek dengan orang lain yang meremehkan jadi tak direpotkan dengan sejenis balas dendam untuk membuktikan bahwa saya pasti bisa. Asal saya senang melakukannya, pasti saya lakukan. Kalau akhirnya tak bisa ya sudah. Yang penting sudah mencoba.

Menengok ke belakang ternyata ada banyak hal yang bisa membuat saya senang. Pasalnya meskipun rasa optimis masih lebih kecil daripada rasa pesimis, ternyata saya sudah mencapai pencapaian pribadi. Dan sekali lagi, tak perlu dibandingkan dengan pencapaian orang lain, toh, jalan hidup masing-masing individu jelas tak sama.

Saya senang pernah bekerja menjadi guru bahasa meski waktu kecil susah berbicara sekaligus tak banyak bicara dan malu berhadapan dengan banyak orang. Pernah menulis beberapa buku dan mengisi kolom di media cetak padahal tak ada bakat. Bekerja di negeri seberang walapun dulu banyak yang tak yakin saya bisa jauh dari rumah. Bahkan ada yang masih saja terheran-heran setengah tak percaya kala saya melancong sampai Negeri Atap Dunia, Negeri Paman Sam dan Negeri Matahari Terbit.

Saya dulu memang pantas diremehkan karena sering meremehkan diri sendiri. Tapi sepertinya perjalanan hidup mengubah jalan pikiran saya. Semoga dengan menengok ke belakang dengan apa yang sudah pernah saya lakukan, tak seyogyanya saya meremehkan diri sendiri. Harusnya bangga. Juga bahagia dengan semua hal di masa lalu.