Kunjungan Pejabat Paska Bencana

Umumnya masyarakat di daerah yang tertimpa bencana alam masih dipusingkan dengan cara bertahan-hidup. Mereka membutuhkan dukungan dari masyarakat sekitar. Tentu juga mengharap adanya pertolongan dari pejabat daerah. Bukankah memang penanganan bencana merupakan salah satu tugas yang harus diemban pejabat daerah?

Selaku pejabat, mereka memiliki akses khusus terhadap aset pemerintah. Akses tersebut dapat digunakan untuk menggalang apapun yang diperlukan untuk membantu kesusahan warga korban bencana. Selanjutnya, pejabat tersebut harus merancang dan melakukan pembangunan kembali infrastruktur yang hancur-lebur.

Ada pejabat daerah dan ada pula pejabat negara. Bila bencana tak terlalu besar dan dapat diselesaikan pejabat daerah, pejabat negara tak perlu sampai turun tangan. Sudah ada prosedur operasinya. Hanya saja, bila tragedi benar-benar meluluh-lantakan suatu luasan daerah yang luas, tentu para pejabat daerah sendiri tak mampu berbuat apa-apa. Pejabat negara wajib turun tangan.

Sayangnya, bila bencana besar terjadi di tanah air, pejabat negara memang turun ke lokasi. Peninjauan. Disertai oleh banyak bawahannya, meminta fasilitas khusus supaya tetap ‘dilayani’ di tempat bencana dan selalu menampilkan citra yang ‘dipermak’ untuk menaikkan citra pribadi. Sudah maklum, kedatangan pejabat negara pasti diliput media massa. Pejabat negara bukannya secara nyata membantu tapi justru membuat kerepotan tambahan. Tak berguna.

Berbeda dengan apa yang ditampilkan oleh Kaisar Akihito dan permaisurinya kala menjenguk korban Gempa Sendai yang disertai Tsunami dan kerusakan reaktor nuklir. Mereka berdua datang dengan baju biasa, dengan sikap rendah hati meskipun mereka jelas sangat dihormati oleh penduduk Jepang, dan datang tanpa ada persiapan khusus yang mengada-ada. Kunjungan mereka jelas membantu mengangkat moral para korban bencana.

Pramuka, Sebatas Ekstrakurikuler yang Wajib Diikuti?

Mengikuti kegiatan Pramuka banyak manfaatnya. Itu yang dikatakan oleh para guru di sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Saya masih ingat petuah itu meskipun saya mengikutinya karena terpaksa. Tidak ada pilihan untuk tidak melakukan kegiatan ekstrakurikuler tersebut.

Jadi semua melakukannya. Berseragam coklat setiap hari Sabtu, membawa tongkat dan tali pramuka. Lalu berlatih membaca semaphore, bunyi morse dan teka-teki yang lebih kurang membuat otak berpikir logis. Selepas itu lari-lari, bergerak kesana-kemari. Kadang-kadang ada kemah.

Berguna? Saya baru menyadari bahwa latihan tersebut cukup berguna untuk bertahan hidup. Sayangnya saat saya mengikuti kegiatan tersebut saya merasa tersiksa. Ada perasaan terpaksa yang sangat. Maklum, nilai yang didapat di Pramuka berimbas ke mata pelajaran lainnya secara kumulatif.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana mengemas kegiatan Pramuka menjadi hal yang dibutuhkan untuk bertumbuh-kembang. Bukan guru Pramuka yang galak (maklum karena mereka kecewa hanya bisa atau terpaksa menjadi guru kurikuler paling tidak populer setelah Matematika dan Olahraga) yang selalu membuat malas anak didik. Tidak ada pesan yang jelas mengapa murid harus mengikutinya. Tidak ada unsur yang menarik kecuali ‘piknik’ di daerah perbukitan.

Bukan berarti Pramuka tidak mengikuti perkembangan jaman. Contohnya, ada situs Pramuka yang cukup informatif, akun Facebook Pramuka dan lini masa Twitter Pramuka. Hanya saja terkesan tidak ada sosialisasi yang lebih baik dan menarik karena hanya sebatas kegiatan ekstrakurikuler yang mau tak mau, suka tak suka, wajib diikuti oleh semua murid.

Film Battle: Los Angeles

Film tentang serangan alien ini memang seru. Menegangkan dari awal hingga akhir. bagi para penggemar film aksi, makhluk asing sekaligus genre sains fiksi, film ini patut ditonton.

Alur ceritanya sederhana. Sepasukan Marinir ditugaskan untuk mengevakuasi penduduk di salah satu kawasan Los Angeles yang mendapat serangan alien. Sayangnya kecanggihan alat tempur pasukan alien tersebut jauh melebihi kemampuan tempur yang dipimpin oleh Sersan Michael Nantz.

Alhasil, banyak anggota Marinir tersebut yang berguguran. Namun yang namanya Marinir tak akan menyerah. Seperti slogan mereka, “Marine’s Never Quit”. Meskipun berbagai halangan menerpa silih-berganti, mereka terus maju pantang mundur.

Letnan muda yang kurang cakap tewas karena terluka dan memilih untuk melakukan aksi bom bunuh diri dengan begitu pasukan alien hancur dan memberi waktu sisa pasukannya melarikan diri ke tempat aman. Beberapa orang sipil sempat menghambat laju mundur pasukan meski kadangkala membantu.

Akhir cerita memang bisa ditebak. Pasukan yang seakan-akan berani mati ini bisa memukul mundur para alien. Film fiksi memang namun masih logis jalan ceritanya. Film alien yang satu ini memang bisa menjadi film yang menghibur.

Menulis Blog Berbahasa Inggris

Sungguh malu saya. Ternyata kemampuan saya dalam berbahasa Inggris tak pernah membaik. Struktur bahasa yang tak teratur. Kosakata yang rasanya tak pernah bertambah. Baik lisan maupun tulisan, secara umum kemampuan saya memakai bahasa yang digunakan sebagai lingua franca di dunia ini betul-betul tak memuaskan.

Terlintas untuk membikin blog yang memakai bahasa Inggris. Mengapa? Saya percaya bahwa menulis, disamping praktek berbicara secara lisan, dapat meningkatkan kemampuan berbahasa secara signifikan.

Hmm. Itu berarti membuat blog baru. Semacam sister blog dengan blog ini. Toh, membuat blog baru memang mudah. Yang menantang adalah merawatnya. Mengisinya dengan berbagai tulisan dengan konsisten.

Mengapa tak digabung saja postingan berbahasa Inggris dengan artikel dalam bahasa Indonesia? Inginnya seperti itu. Praktis. Hanya saja hal tersebut bias karena sajian isi blog menjadi tak konsisten. Kadang Inggris, kadang Indonesia. Tentu membingungkan.

Lalu? Saya bertekad untuk membuatnya menjadi blog yang berlainan. Tunggu tanggal mainnya.

Sekedar Kagum, Sebatas Prihatin

Pernahkah Anda mengamati tanggapan kebanyakan pejabat pemerintah mengenai berbagai hal yang terjadi baik di luar maupun di dalam negeri? Ada dua macam tanggapan.

Kagum. Itu yang terucap kala ada berita mengenai teknologi komputasi yang canggih dari Negeri Paman Sam. "Kami kagum dengan adanya Cloud Computing untuk pendataan warga negara di Amerika Serikat." Kemudian muncul pernyataan-pernyataan tak penting yang lebih kurang ‘ingin menerapkan teknologi yang sama tersebut tetapi apa daya karena tak ada kemampuan‘. Jadi hanya sekedar kagum. Setali tiga uang saat mengomentari disiplinnya orang Jepang kala menghadapi bencana alam dan sama sekali tak ada penjarahan.

Prihatin. Ini kata yang paling populer saat menanggapi tragedi yang terjadi di Fukushima, Jepang. "Prihatin dengan musibah yang terjadi di sana. Semoga mereka baik-baik saja." Pernyataan yang datar yang sama juga saat ada bom buku dan terjangan tsunami yang melanda Papua. Sebatas prihatin tentu tak menyumbang kontribusi terhadap penderitaan yang terjadi.

Kagum sepertinya diucapkan untuk mewakili kondisi ‘ingin sih tapi sayang kita tak mampu mencapainya‘. Prihatin merepresentasikan kondisi ‘ingin membantu sih tapi sayang kita tak bisa melakukan apa-apa‘. Singkat kata, tak bisa.

Sayang sekali. Padahal rasa kagum bisa menginspirasi usaha untuk memperbaiki bangsa ini. Sedangkan rasa prihatin harusnya dikatakan bila bangsa ini tak bisa memperbaiki diri lagi. Sekedar kagum dan sebatas prihatin tak akan membawa bangsa ini selangkah lebih maju.

Menata Meja

Saya suka menata meja di kubikel kantor saya. Alasannya karena saya cepat bosan. Dengan mengganti posisi meja atau membersihkannya secara berkala, rasanya jadi lebih segar. Ada yang baru.

Ternyata kegemaran menata meja tersebut menarik perhatian beberapa orang yang duduk di sekitar saya. "Oh, ganti lagi posisinya, ya?" Itu respon yang paling sering saya dapatkan. Pertanyaan yang biasanya saya jawab dengan singkat. "Ya, supaya tidak bosan. Lebih fresh!"

Memang benar bahwa saya merasakan suasana yang selalu baru setiap kali menata meja. Justru saya heran mengapa banyak orang bisa-bisanya tetap duduk di meja yang selalu berantakan dan dengan suasana yang sama selama bertahun-tahun. Apa tidak bosan?

Uniknya, berhubung kantor tempat saya bekerja memang beberapa kali pindah tempat, kebanyakan orang mulai ‘menata’ mejanya setiap kali mau pindah kubikel. Hanya saja, masih banyak juga yang tetap membawa barang-barang kurang berguna ke kubikel yang baru. Alhasil kubikel mereka lebih kurang sama kondisinya dengan yang lama. Hampir tak berubah.

Bagaimana dengan Anda, apakah pernah sekali-kali menata meja kerja Anda? Toh, tak perlu waktu banyak untuk membersihkan meja Anda.

Perampingan Blog

Rupanya saya cukup melalaikan blog ini. Tulisan baru hanya sekali-kali saja tersaji. Inspirasi menulis yang sering datang pun lebih mudah menguap. Blog ini perlu tambahan semangat dan perawatan.

Untuk itu saya mencoba merampingkan blog ini dengan menghapus halaman khusus dan menyatukannya di halaman buku dan artikel. Peta blog saya tiadakan. Namun saya tetap menghadirkan halaman buku tamu dan buku dan artikel untuk Anda, Juga halaman Definisi Bahagia, tentu agar Anda terinspirasi dan akhirnya berbahagia.

Namun yang lebih penting adalah semangat untuk menulisinya dengan teratur. Konsisten memproduksi susunan kata dan kalimat untuk hantarkan pemikiran dan opini.

Selamat menikmati blog yang tetap memakai tampilan sama namun lebih ramping navigasinya.