Hari Kartini dan Teh Ninih

Hari Kartini selalu dirayakan setiap tanggal 21 April. Ada kegembiraan para Kaum Hawa karena banyak dari mereka yang telah mengecap hasil perjuangan emansipasi. Perempuan menjadi lebih berdaya dan mandiri tanpa harus kehilangan kodratnya.

Malangnya hari ini, menurut berita, digelar sidang perdana gugatan cerai AA Gym kepada Teh Ninih, istri pertamanya yang sudah secara ikhlas dipoligami.

Teh Ninih menjadi sosok perempuan kuat yang sudah melahirkan tujuh anak untuk Aa Gym, aktif mengajarkan nilai religi dan tetap menjunjung kehormatan sang suami yang berprofesi sebagai penceramah agama kondang. Meskipun tak mudah menerima keputusan untuk dipoligami, toh, Teh Ninih menyanggupi permintaan Aa Gym.

Masyarakat luas sulit menerima kenyataan bahwa istri kedua Aa Gym bukanlah janda tua yang tak bisa hidup tanpa sandaran iman keluarga. Justru janda yang masih muda, bekas model dan dalam kondisi baik-baik saja.

Lebih susah lagi mencerna kejadian berikutnya. Aa Gym menggugat cerai istri pertamanya. Istri yang menurutnya sempurna. Sungguh mencengangkan. Sulit diterima akal sehat. Apa jadinya kalau putusan cerai bergulir tepat pada Hari Kartini? Ada kontradiksi yang tragis di hari para kaum Hawa memperingati perjuangan emansipasi.

Menipu Hati Wanita itu Ilegal

Bagi Anda para wanita, pernahkah menemui lelaki yang tawarkan janji manis yang palsu? Bila belum, semoga Anda tak bernasib sesial itu. Bila sudah, pasti rasakan sakit yang mengiris hati. Kecewa bukan kepalang karena tiba-tiba dikhianati sang kekasih hati.

Bagi kebanyakan wanita, ada asa melambung kala buaian kata-kata indah mengalir dari pria yang mengaguminya, mendambakannya dan menginginkannya. Percaya tanpa dasar untuk membangun istana di atas hamparan pasir pantai. Cinta buta. Akal tak lagi menguasai emosi yang biasa menjadi titik lemah kaum Hawa.

Lantunan lagu sendu Shakira yang diiringi petikan gitar Santana pun mewakili apa yang dirasakan para wanita yang disakiti hatinya. Sedemikian sakit hatinya sehingga banyak wanita percaya bahwa menipu perasaan wanita itu kejam. Itu jelas perbuatan tak legal yang semestinya dihindari kaum Adam.

“… It should be illegal to deceive a woman’s heart.” Benar adanya. Bila tak mampu berikan komitmen, tak seharusnya lelaki membilang impian-impian muluk. Makin tinggi melayang, makin sakit pula jatuhnya. Bila tak mampu mencinta, tak seharusnya mendekati dan memeluk wanita.

Angin Mati, Layar Tak Terkembang

Dalam dunia bahari dikenal adanya istilah angin mati. Tak ada angin yang berhembus. Lalu bagaimana dengan kapal yang mengandalkan tenaga angin utuk mendorong layarnya? Tentu saja kapalnya tak bisa bergerak maju ke arah yang diinginkan. Berhenti di tempat? Tidak juga karena kapal tersebut boleh jadi terhanyut oleh gelombang yang menerpa.

Sama halnya karier di tempat kerja, ada angin mati. Tak ada cukup kesempatan untuk unjuk kemampuan karena tak ada proyek yang signifikan. Mungkin saja tak ada kesempatan promosi. Padahal ada cukup potensi dan ambisi. Boleh jadi keadaan akan lebih buruk bila departemen Anda mengerut karena kondisi ekonomi yang buruk. Frustasi? Ingin meloncat dari kapal?

Tentu tidak. Nakhoda kapal yang bijak akan berpikir untuk melakukan beberapa tindakan yang berguna. Memakai kesempatan waktu di saat angin mati untuk membaca peta navigasi, memeriksa kondisi kapal dan memperbaiki kerusakan yang ada. Ada baiknya juga memancing ikan sembari bersantai menikmati cakrawala.

Ada begitu banyak yang harus dilakukan supaya kapal sampai tujuannya dengan selamat. Angin mati hanya sebentuk penundaan sementara. Cepat atau lambat angin akan berhembus kembali dan membuat kapal kembali melaju. Karier yang mandeg bisa jadi memberikan peluang untuk mengasah kemampuan dan menikmati kehidupan.

Ada baiknya jika dalam karier bisa mengupgrade kapal yang dikendarai. Tak hanya kapal layar tapi juga yang ada mesin dan dayungnya. Sehingga gangguan semacam angin mati tak lagi menghambat potensi dan ambisi.

Selamat berlayar!

Makanan Terkontaminasi dan Arisan Tante

Makanan. Topik ini menjadi salah satu topik wajib dalam acara arisan para tante-tante ini. Rupanya kali ini mereka sedikit serius mempersoalkan makanan yang terkontaminasi. Maklum, para tante ini bertanggunjawab untuk memberi asupan suami dan anak-anak mereka. Urusan dapur bukan hal yang sederhana.

Tante 1 membincang rencana acara masak-masakan bersama, "Dagingnya pakai Wagyu beef aja biar lebih enak." Tante 2 langsung menyela dengan nada protes. "Jeng, apa ga dengar kalau produk makanan dari Jepun itu tercemar radiasi, lho. Mengandung Sesium tar kita semua bisa mati. Mendingan dagingnya dari China. Lagipula lebih murah."

"Oh, iya juga ya. Tapi bukannya bahan makanan dari China tercampur Melanin," sergah Tante 1 ragu-ragu. Tante 3 menimpali dan mencoba memberi solusi, "Dagingnya dari Indo saja. Cintai produk dalam negeri. Ga pakai Melanin atau kena radiasi…" Tante 4 spontan menyela sebelum Tante 3 selesai menjelaskan, "Hush, stop! Daging di Indo bahaya, Jeng! Formalin, lho. Jangan."

Tante 5 menyahut, "Terus dagingnya dari mana biar aman?" Tante 1 masih ragu-ragu membilang, "Kita pakai saja daging dari Inggris saja meski mahalan dikit." Tante 2 yang suka protes, lagi-lagi menolak, "Jeng, ente ga dengar Penyakit Sapi Gila di sana, ya? Mad cow, gila tar…" Mereka diam sejenak bagaimana mencari daging sapi tanpa resiko. Tante 5 menyahut, kali ini dengan solusi paling masuk akal, "Kita cari saja tempat pemotongan sapi di kampung. Selain sapinya tumbuh alami, pemotongannya juga dengan cara Halal." Akhirnya mereka pun mendapatkan daging sapi yang benar-benar sempurna tanpa radiasi Sesium, tak tercampur Melanin dan juga tak diproses dengan Formalin atau pun terkena resiko Penyakit Sapi Gila. Sempurna dan segar.

Mereka pun selesai mengudap hidangan berbahan daging sapi tersebut. Kenyang dan puas. Namun tiba-tiba Tante 2 menyeletuk, "Kayaknya something wrong, deh. Kerasa, ngga? Tante 1 yang selalu ragu mengangguk pelan, "Aku rasa begitu. Enak banget tapi ada yang mengganjal. Coba kita pikir pas masak mungkin cara masaknya. Mungkin juga bumbunya." Mereka terdiam lama mencoba memecahkan rasa yang sumbang dalam masakan itu. Tante 4 pun memecah keheningan, memandang dengan sudut mata menuduh ke Tante 3, "Jeng, tadi masukin bumbu apa? "Hmm… Vetsin merek Ajinomoto biar rasanya tambah enak seperti mertua saya", jawab Tante 3 lugu. Tante 2 segera menyimpulkan, "Itu MSG. Aduh sama saja bohong, tetap aja ga sehat nih!"

Kontan mereka tertawa terbahak-bahak. Konyol memang. Sia-sia saja perjuangan mereka mencari daging segar sehat kalau pada akhirnya ‘ternodai’ MSG saat memasak. Ironis.

Tuntaskan!

Hari ini saya membawa buku brainstorming saya, buku berjudul Hagakure dan buku acuan editorial. Semuanya tak pernah lagi saya sentuh sebelumnya. Tak sempat sekaligus tak benar-benar menyempatkan waktu untuk tiga buku tersebut.

Buku pertama memang wahana saya untuk mencatat ide-ide penulisan buku atau pun gagasan yang lain. Masih bersih meski ada bagian yang menguning termakan waktu. Harusnya buku tersebut membantu mewujudkan sesuatu yang abstrak menjadi barang nyata berupa tulisan atau buku. Sengaja saya bawa di meja kerja bila sewaktu-waktu ada ‘pencerahan’.

Buku berikutnya mengupas tentang latar-belakang cara berpikir orang Jepang. Bagaimana para samurai memiliki aturan mereka dan hidup menurut aturan baku tersebut untuk kebaikan mereka sendiri. Terlalu lama tak pernah membuka buku itu membuat saya tak lagi ingat di mana halaman terakhir yang saya baca.

Nah, yang terakhir merupakan buku yang berguna untuk mengasah kemampuan editorial saya. Teronggok di lemari. Padahal berguna untuk mengasah ilmu sunting-menyunting. Saya letakkan pula di meja kerja supaya saya tergerak untuk mempelajarinya.

Tiga buku tersebut sekarang di dekat saya setiap Senin hingga Jumat. Satu hal yang ingin saya kerjakan. Menuntaskan mereka meskipun saya tak mematok batasan waktunya. Ingin saya nikmati proses ‘penyelesaian akhirnya’. Harus tuntas!