Jabat Tangan

Sepertinya sederhana untuk berjabat tangan dengan orang lain. Ulurkan tangan, memegangnya lalu lepaskan. Memang ada variasinya. Ada yang merasa perlu menggoyang tangan. Begitu juga yang meremas sekejap lebih lama. Lain budaya, lain pula cara jabat tangannya. Entah pakai satu tangan atau malah kedua-duanya. Apapun itu, urusan berjabat tangan tidak sulit dilakukan.

Namun ada kalanya berjabat tangan menjadi suatu tindakan yang fenomenal. Seperti artikel yang membahas jabat tangan artis dengan penggemarnya. Ratusan bahkan ribuan. Sama halnya seperti menghadiri kondangan. Tak hanya tamu yang merasa jengah harus bersalaman dengan banyak orang. Sang tuan rumah pun harus menjabat tangan banyak orang dalam satu waktu bahkan hingga tak kuat atau tangan bergetar.

Tentu beda dengan oknum di tempat pelayanan publik seperti bandara atau departemen pemerintahan. Makin lama ada yang bersalaman (baca: salam tempel), makin bahagia mereka. Tiap menjabat tangan, mereka beroleh ‘fulus’ karena posisi yang mereka jabat. Jabatan basah, kata orang.

Jabat tangan pada awalnya tindakan memberi sinyal kepada orang lain bahwa ‘lihat, saya tidak membawa senjata di tangan kanan saya’. Tulus. Hanya saja, makin hari maknanya makin bervariasi. Memang manusia selalu jago membikin sesuatu yang sederhana menjadi rumit.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s