Berani Mencintai

Mencintai seseorang membutuhkan keberanian. Maklum karena proses cinta tak selalu berjalan mulus. Bisa jadi berliku. Naik turun. Adakalanya kandas di tengah jalan yang timbulkan luka. Kadang bisa cepat sembuh. Acapkali bisa juga mendalam dan tak mudah sembuhnya.

Bila seseorang sudah pernah mengecap perihnya sayatan asmara, umumnya lebih dewasa pada kesempatan berikutnya. Ada juga yang karena terlalu sakit sehingga tak lagi ingin mencinta. Tak butuh. Biasanya mereka akan mengucap kata-kata itu.

Tiba-tiba terlintas dengan sebuah novel bergambar berjudul The Miraculous Journey of Edward Tulane karangan Kate DiCamillo. Boneka kelinci yang pernah mencinta dan patah hati. Melewati perjalanan yang seru akhirnya dia menemukan keberanian untuk mencintai lagi. Dan akhirnya menemukan cintanya.

Meski tak sama, lagu berjudul The Only Exception yang dilantunkan Paramore kiranya gambarkan hal yang sama. Sebuah luka yang sebabkan tak berani mencinta akhirnya sembuh saat menemukan seseorang. Keberanian dibutuhkan meski tak ada jaminan bahwa sebuah kisah asmara akan terus langgeng. Justru karena tak ada garansi Happy Ever After, sebuah kisah cinta menjadi menarik. Naik turun seperti perjalanan roller-coaster.

Chasing Pavements

Salah satu lagu Adele yang berjudul Chasing Pavements membuat saya terharu. Liriknya yang syahdu namun kuat menghentak menyentuh lubuk hati saya. Video musiknya tampil dengan koreografi yang unik. Menggambarkan perjalanan rajutan kasih sayang sepasang insan di atas trotoar.

Mendengar lagunya dan melihat videonya beberapa kali membuat saya menggalau sesaat. Dalam…

Susah Tidur, Banyak Pikiran

Dulu. Dulu sekali. Saya sungguh heran mengapa orang harus menenggak pil tidur agar bisa tidur dengan nyenyak. Bukankah tidur itu mudah. Tinggal baringkan badan. Tutup mata. Lalu tiba-tiba sudah sampai di alam mimpi. Beberapa jam kemudian bangun dan kembali siap beraktivitas. Mudah?

Tak sulit bagi mereka yang tak banyak pikiran. Bukan, bukan berarti tak pernah berpikir atau tak berotak. Namun seseorang yang bisa mengendalikan jonjot-jonjot otot kecil dan serabutan syaraf di bawah batok kepala. Seperti halnya anak kecil tidur. Senang menjalani aktivitas mereka lalu bila capai tiba-tiba bisa tertidur dengan damainya.

Sebaliknya mereka yang memunyai terlalu banyak pikiran, tidur rasanya susah sekali. Tak nyenyak. Sering terbangun. Lalu jengkel karena masak tidur pun tak bisa. Rasanya putus asa. Ingin mengistirahatkan pikiran da badan pun tak bisa.

Saya pun juga. Dulu terkenal karena jago tidur. Bisa tidur di transportasi publik sekalipun, entah itu kereta api, burung besi atau bahkan perahu yang terombang-ambing ombak. Malam ini pun juga. Tak bisa tidur lalu menulis blog ini.

Susah ya tidur kalau sedang banyak pikiran…

Interaksi Manusia versus Gadget

Sebelum adanya perangkat komunikasi, manusia bisa lancar berkomunikasi satu dengan lainnya. Bertukar pikiran, berbagi cerita, mengekspresikan diri dengan utuh secara tatap muka. Terbatas dalam hal banyaknya komunikan namun solid dan utuh.

Berbagai perangkat komunikasi jelas dapat mengamplifikasi komunikasi. Berbincang dengan kerabat nun jauh di seberang, menyampaikan ide secara masal melalui medium elektronik dan sekaligus mendapat umpan balik interaktif sama waktu secara seketika melalui surel atau sandek.

Hanya saja banyak insan yang lupa bahwa komunikasi yang intim dan intensif secara langsung merupakan bentuk komunikasi paling indah. Ada komitmen di sana untuk membagi waktu dan diri. Banyak yang menjadi tergantung dengan sangat dengan alat-alat komunikasi tersebut.

Lebih buruk lagi. Ada terlalu banyak yang menjadi budak gadget dalam genggaman tangan dan menduakan komunikasi utuh. Coba perhatikan sekeliing Anda, banyak yang perhatiannya terpecah pada orang yang bersama mereka dengan gadget yang mereka bawa.

Sepasang muda-mudi yang makan bersama, duduk bersama tetapi sama-sama terpaku pada ponsel masing-masing. Satu keluarga yang duduk bersama di ruang keluarga tapi ‘berbicara’ dengan teman di ajang virtual. Begitu pula para ABG yang betah bergerombol di ruang maya berjam-jam. Sebuah fenomena yang sudah biasa ditengarai di sekeliling kita. Aneh tapi nyata. Juga dianggap sebagai sesuatu yang wajar.