Interaksi Manusia versus Gadget

Sebelum adanya perangkat komunikasi, manusia bisa lancar berkomunikasi satu dengan lainnya. Bertukar pikiran, berbagi cerita, mengekspresikan diri dengan utuh secara tatap muka. Terbatas dalam hal banyaknya komunikan namun solid dan utuh.

Berbagai perangkat komunikasi jelas dapat mengamplifikasi komunikasi. Berbincang dengan kerabat nun jauh di seberang, menyampaikan ide secara masal melalui medium elektronik dan sekaligus mendapat umpan balik interaktif sama waktu secara seketika melalui surel atau sandek.

Hanya saja banyak insan yang lupa bahwa komunikasi yang intim dan intensif secara langsung merupakan bentuk komunikasi paling indah. Ada komitmen di sana untuk membagi waktu dan diri. Banyak yang menjadi tergantung dengan sangat dengan alat-alat komunikasi tersebut.

Lebih buruk lagi. Ada terlalu banyak yang menjadi budak gadget dalam genggaman tangan dan menduakan komunikasi utuh. Coba perhatikan sekeliing Anda, banyak yang perhatiannya terpecah pada orang yang bersama mereka dengan gadget yang mereka bawa.

Sepasang muda-mudi yang makan bersama, duduk bersama tetapi sama-sama terpaku pada ponsel masing-masing. Satu keluarga yang duduk bersama di ruang keluarga tapi ‘berbicara’ dengan teman di ajang virtual. Begitu pula para ABG yang betah bergerombol di ruang maya berjam-jam. Sebuah fenomena yang sudah biasa ditengarai di sekeliling kita. Aneh tapi nyata. Juga dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s