Tuangkanlah Rencana dalam Tulisan

Sepertinya mudah membuat rencana. Pikirkan lalu tinggal laksanakan. Bagaimana kenyataannya?

Tak selalu mudah. Rencana yang tak dituangkan dalam bentuk coretan tulisan atau ketikan dalam notes elektronik biasanya menguap dengan cepat. Secepat rencana tersebut tercipta.

Hasilnya kosong belaka. Tak ada eksekusi. Bahkan berulangkali terbukti bila rencana yang tak terdokumentasikan biasanya terlupakan. Pudar seraya waktu.

Sepertinya saya pun masih memiliki kebiasaan yang tak benar tersebut. Punya banyak rencana namun hanya segelintir yang terwujudkan. Lalu biasanya diikuti dengan bermacam pembenaran yang berujung pada penundaan akan sesuatu.

Baiklah. Sepertinya mulai hari ini harus mencoretkan rencana pada sesuatu. Kertas atau pun ponsel agar rencana dapat diingat dengan baik dan lalu dieksekusi satu demi satu.

Kapal Layar

Akhir-akhir ini saya memiliki rasa ingin tahu terhadap kapal layar. Kapal yang ditenagai oleh hembusan angin yang memberi daya dorong pada layar yang dipasang di badan kapal.

Mengingatkan saya pada sebuah buku yang sejatinya ingin saya tulis namun tak kunjung selesai. Mengenai suatu perjalanan dengan kapal layar yang dicampur dengan pesan universal yang menggugah. Terbengkelai. Seperti kapal yang teronggok di tepian dermaga.

Mengapa kapal layar menarik masih menjadi misteri bagi saya. Yang jelas, sebuah perjalanan menggunakan Katamaran, kapal layar yang memiliki dua lunas, melewati Golden Gate di pinggiran kota San Francisco masih membekas dalam ingatan saya.

Perjalanan dengan menggunakan kapal layar mungkin terasa unik. Tak biasa. Maklum karena lebih banyak kapal yang ditenagai dengan mesin uap atau pun jenis bahan bakar yang lain. Ada rasa klasik yang elegan ketika kapal melaju pelan atau cepat sesuai dengan aliran angin yang menerpa layarnya.

Omong-omong, apakah Anda juga suka atau ingin menaiki kapal layar?

Perusahaan Kereta Api Swasta

PJKA merupakan satu-satunya operator tunggal moda transportasi kereta api. Bagus atau tidaknya pelayanan, tetap saja BUMN ini saja yang bisa menyediakan jasa menghantar barang dan manusia dengan lokomotif dan jalur keretanya. Tak ada institusi lain yang boleh menyediakan jasa serupa sebagai alternatifnya.

Namun wacana baru bergulir. Pemerintah mulai berpikir bahwa pihak swasta boleh menggelar jasa serupa. Tujuannya sederhana. Bila swasta atau kompetitor mulai beroperasi, boleh jadi memicu PJKA untuk berbenah bila tak ingin bangkrut karena ditinggal penggunanya.

Wacana yang menarik. Meskipun pada kenyataannya menggelar jasa transportasi merupakan investasi yang sangat besar dengan pengembalian modal yang relatif lama. Tentu ditambah dengan aturan berbelit yang rentan dengan ‘pemalakan’ atas nama berbagai regulasi.

Italia merupakan salah satu contoh di mana swasta baru saja diperbolehkan ikut membuka layanannya. Tantangannya besar. Perusahaan pemerintah yang memiliki jalur kereta berusaha untuk mempersulit perusahaan swasta untuk berbagi rel kereta. Setelah sekian lama, barulah kereta swasta dapat menggunakan lintasan rel yang sama.

Kita lihat saja apakah pemerintah benar-benar serius memberikan ruang dan kesempatan bagi operator kereta api swasta. Bukan hanya sekedar omong kosong di siang bolong.