Membius Otak

Saya pikir hari Sabtu dan Minggu ini bakalan menjadi akhir minggu yang produktif. Bebersih kamar, berolahraga dan juga sedikit jalan-jalan yang santai.

Sayangnya hal tersebut tidak terjadi. Bahkan otak saya melayang-layang kemana-mana. Tak tentu arah. Baiklah bila begitu, saya putuskan untuk sedikit membius otak dengan menjelajahi hiburan dari dunia maya.

Tak juga puas. Akhirnya saya memutuskan untuk membaca sejarah Silla. Suatu kerajaan kuno yang dulu pernah menguasai Semenanjung Korea. Menarik. Bahkan membuat saya ingin mengetahui lebih lanjut mengenai seluk-beluk kultural dan demografi Korea.

Bila tadinya saya ingin membius otak, kini justru saya memberi asupan berlebih ke isi kepala saya. Hingga akhirnya tergerak untuk menulisi blog saya ini.

Eksekusi

Akhir minggu ini berasa lamban. Banyak yang ingin dikerjakan. Hanya saja tetap tak ada yang berhasil diperbuat. Apalagi dihasilkan.

Terlalu banyak keinginan yang kemudian hanya terbayang saja. Semuanya menguap. Masalahnya sederhana. Tak ada eksekusi.

Just Do It! Slogan itu ternyata tak gampang untuk dilakukan.

Bangun Pagi dan Berolahraga

Bangun pagi? Dulu hal tersebut tak menjadi masalah bagi saya. Namun lambat laun sepertinya saya tak lagi bisa pagi-pagi bangun. Badan masih terasa capai dan ingin tetap menggeletak di pembaringan. Suatu zona nyaman yang menyenangkan.

Hanya saja saya masih percaya bahwa bangun pagi, menurut orang tua, baik bagi kesehatan dan rejeki. Udara pagi bagus buat pernafasan. Begitu pula orang yang rajin dan memulai hari lebih dini memiliki kesempatan yang lebih awal dan besar dibanding yang telat bangun.

Jadi akhirnya saya putuskan untuk bangun pagi sembari gerak olah tubuh. Rasanya menyegarkan. Saya jadi lebih siap untuk memulai hari ini. Rasa malas jadi hilang. Inginnya segera beraktivitas.

Semoga besok dan besok harinya, saya masih bisa dan semangat bangun pagi. Bagaimana dengan Anda? Mari usahakan untuk bangun pagi.

Asana

Akhir-akhir ini saya merasa bahwa hidup saya kurang terakhir. Entah itu pekerjaan, urusan rumah atau banyak hal yang lain. Sepertinya berantakan. Lalu saya berpikir sebenarnya apa yang bisa dilakukan agar saya bisa hidup teratur. Tak hanya hidup mengalir seperti air yang mengalir ke comberan. Namun harusnya teratur, terencana dan dapat dieksekusi dengan baik.

Saat menjelajahi dunia maya, saya mendapati Asana. Sebuah layanan web yang berguna untuk menuliskan daftar yang harus dilakukan, tempat untuk merencanakan sesuatu dan berbagi informasi. Intinya untuk mengetahui apa yang akan, sedang atau akan kita kerjakan. Ini adalah contoh penggunaan Asana untuk keperluan pribadi.

Masuk akal memang untuk membagi perencaan besar menjadi tugas-tugas kecil yang dapat dikerjakan satu per satu. Mengingatkan saya pada Golden Gate yang membentang cukup panjang menghubungkan San Francisco dengan Sausalito. Untuk membangun sesuatu yang besar, pengerjaannya harus dibagi menjadi ratusan tugas-tugas kecil yang masing-masing memiliki rentang penyelesaiannya sendiri-sendiri.

Asana ini tersedia secara gratis, baik untuk pribadi maupun kelompok yang memiliki anggota tak lebih dari 30 orang. Berguna untuk manajemen pribadi maupun manajemen proyek. Salut buat para pembuatnya.

In Time, Saat Waktu Menjadi Mata Uang

Film ini menggambarkan suasana di masa depan ketika manusia bisa menghentikan proses penuaan. Hidup abadi. Untuk mencegah kelebihan populasi yang berimbas pada kurangnya sumber daya, diciptakanlah sistem untuk mengatur jumlah manusia. Sistem ini menggunakan ‘waktu’ sebagai mata uangnya.

Waktu menjadi alat tukar jasa dan barang. Semisal, untuk naik bis, seseorang harus membayar 2 jam waktu hidupnya. Yang miskin waktu, boleh jadi tak bisa hidup lama. Sedangkan yang kaya raya mampu hidup puluhan tahun hingga lebih dari seratus tahun.

Manusia pun bisa saling bertransaksi hanya dengan bersalaman satu sama lain untuk mentransfer waktunya. Didapati pula ‘penjaga waktu’ yang mirip dengan polisi dan ada Minute Man yang mencuri waktu orang lain hingga orang tersebut menemui ajalnya karena waktu hidupnya habis.

Film In Time ini cukup menghibur sebagai tontonan. Namun bila Anda mengikuti beberapa percakapannya, boleh jadi film ini bisa menjadi bahan refleksi. Apa yang akan kita lakukan bila kita mengetahui bahwa rentang waktu hidup kita sedemikian pendek, semisal kurang dari satu tahun? Boleh jadi seorang insan manusia akan mengeluh bahwa dirinya tidak memiliki cukup waktu seperti lagu If I Only Had Time. Mungkin juga manusia akan menggunakan waktunya sebaik-baiknya.

Sebaliknya apa yang akan kita rasakan dan lakukan bila kita memiliki kesempatan untuk hidup beratus tahun? Seperti Vampire atau Highlander yang lama-lama bosan hidup karena terlalu lama hidup?

Yang jelas film ini memberikan ‘tamparan’ bagi saya pribadi. Meski tak tahu berapa lama rentang hidup saya, yang sementara ini sudah melewat sepertiga abad, toh masih saja saya suka malas-malasan dan membuang waktu untuk hal yang tak berguna. Juga sering alpa untuk memberi waktu bagi orang-orang yang berarti bagi saya.

Tujuh Milyar

Tadi saya sempat menikmati aplikasi untuk iPad dari National Geography yang berjudul 7 Billion. Sebuah gambaran yang ditelaah dari berbagai penelitian tentang populasi dunia.

Mencengangkan. Dulu saya berpikir bahwa jumlah penduduk dunia akan berkurang. Banyak negara maju yang mengalami tingkat natalitas yang rendah berbanding mortalitas yang cukup konstan. Begitu pula dengan trend untuk tidak memiliki anak di banyak belahan dunia. Bahkan di negara berkembang.

Rupanya perkiraan saya tak benar. National Geography yang bekerja sama dengan United Nations menyimpulkan bahwa insan manusia bertambah. Lajunya begitu cepat hingga mencapai tujuh milyar pada Oktober 2011. Sudah lewat, kan?

Ada berbagai tantangan di depan dengan jumlahan yang begitu besar tersebut. Meskipun ada peperangan, penyebaran penyakit dan bunuh diri; herannya penduduk dunia tak menyusut.

Seperti yang dipertanyakan oleh paparan tersebut, apakah bumi mampu menampung dan menghidupi sebegitu banyak manusia? Sebuah pertanyaan yang tak perlu ditanyakan lagi karena banyak tempat sudah membuktikan bahwa daya tampung suatu wilayah sering tak mampu mendukung kehidupan yang layak. Semisal, Jakarta, Delhi, New York atau pun Bangkok.

Just Do It!

Saya heran dengan diri saya. Mengapa terlalu banyak berpikir sebelum benar-benar memulai suatu. Lalu setelah lelah memutar otak justru keinginan menguap dan akhirnya apa yang saya inginkan tak pernah benar-benar tercapai. Menguap seraya waktu.

Saat membaca kisah pencapaian manusia yang berhasil mewujudkan asanya, biasanya ada pola yang sama. Yaitu mereka tak pernah terlalu banyak berpikir. Seperti halnya Sir Richard Branson yang membuat majalan siswa berjudul Student. Padahal dia merupakan penyandang Dyslexia. Ada kesulitan dalam memahami huruf dan susunan kata. Hebat, bukan?

Mungkin ada yang bertanya, ‘kalau tak dipikir benar-benar, bisa gagal dong?’ Ada benarnya. Hanya saja eksekusi pertama akan lebih baik bila spontan. Seraya waktu ada perencanaan dan perubahan yang diperlukan. Toh, bila berpikir terlalu lama justru tak ada hasilnya sama sekali.

Sering kali saya membatin. Seandainya saya tak terlalu habiskan waktu untuk berpikir mungkin saya akan memperoleh pengalaman yang lebih berwarna ketimbang sekarang ini. Saya masih ingat bahwa beberapa perjalanan saya terjadi tiba-tiba tanpa rencana yang mendetil. Toh, baik-baik saja dan berjalan dengan lancar. Begitu juga dengan menulis buku dan ngeblog. Tanpa ragu. Hanya menjalankannya saja.

Tak sepeti sekarang yang sepertinya ada ragu ketika hendak menginginkan sesuatu. Secara seksama dipikir, dipikir ulang dan akhirnya tak terjadi apa-apa. Ingin saya mendapatkan kembali my mojo. Spirit yang sudah lama tak berdaya melawan ruwetnya labirin otak saya.