Perjalanan Musim Semi di Jepang 2012

Jumat 27 April (Day 1) SIN > KUL > KIX di Osaka (Hari Pertama). Sudah sampai di Shin-Osaka.

Sabtu 28 April (Day 2): Osaka. Jalan-jalan di Osaka dengan Boma. Naik HEP Ferris Wheel, Osaka Castle, naik kapal Santa Maria dan naik Ferris Wheel di Osaka Port. Kemudian melaju ke Kyoto dan menginap di Khaosan Kyoto Hostel.

Minggu 29 April (Day 3). Santai di Kyoto. Melihat Kiyomizudera dan makan Omen Noddle Kyoto. Menginap di Hana Kyoto Hostel.

Senin 30 April (Day 4): Pergi ke Kobe dan melihat Jembatan Akashi dan Rumah Sun Yat Sen ketika masih di Jepang. Menginap di Kyoto.

Selasa 01 Mei: Jalan-jalan di Kyoto dan melaju ke Tokyo di sore hari. Menginap di Tokyo.

Rabu 02 Mei: Tokyo (day 6) – Laundry, packing, rain and going around Maihama.

Kamis 03 Mei: Tokyo (day 7) – Disney Sea, Tokyo

Jumat 04 Mei:  Tokyo (day 8) – Saitama

Sabtu 05 Mei: Tokyo to Sapporo (day 9) – Buy Jaga Pokkuru and Snaffle, packing and prepare for tomorrow and take a rest.

Minggu 06 Mei: Sapporo (day 10) – Moiwa Ropeway, Streetcar, Sapporo Ramen, Shiroi Koibito factory.

Senin 07 Mei: Sapporo  (day 11) – ?

Selasa 08 Mei: Sapporo > Osaka (day 12) travel by train from Sapporo to Osaka, rest to Osaka.

Rabu 09 Mei: already in Osaka, morning flight to KUL > SIN (day 13)

Suasana di Ruang Belajar Perpustakaan

Jarang-jarang saya pergi ke National Library Board yang tak jauh dari Bugis Junction. Jadi sengaja saya sempatkan mengunjunginya.

Dan saya pun mampir untuk beberapa saat di salah satu ruang untuk belajar. Siapa pun boleh masuk dan menggunakan ruangan tersebut untuk belajar, membaca buku, bekerja dengan laptop dan menulis. Koneksi internet nirkabel pun gratis.

Tak seperti ruangan perpustakaan pada umumnya, di ruang belajar ini pengguna boleh mengudap makanan ringan dan minum seperlunya. Asalkan bersih dan tak mengganggu.

Rasanya agak aneh saat pertama kali menggelar laptop di meja dan mulai beraktivitas karena berbarengan dengan banyak orang lain. Cukup mirip dengan atmosfer di Starbucks tapi minim percakapan dan sajian kopi hangat yang ramaikan suasana.

Hal positif yang bisa didapat adalah timbulnya semangat. Maklum karena semua orang terlihat serius dan sungguh-sungguh belajar. Pada awalnya saya mengganggap kehadiran pengguna yang lain merupakan distraksi tapi justru berubah menjadi motivasi.

Perpustakaan memang tempat yang tepat untuk belajar dan menjadi produktif.

The Flowers of War

Pastor palsu, belasan remaja putri yang masih berusia belasan tahun, para wanita penghibur dan satu tentara yang datang bersama bocah lelaki. Mereka semua berlindung di sebuah katedral di kota Nanjing yang baru saja diduduki tentara Jepang.

Sinopsis film The Flowers of War membangkitkan rasa tertarik untuk menontonnya. Terlebih film tersebut dibesut oleh sutradara terkenal Zhang Yimou dan dibintangi oleh Christian Bale. Meski tak masuk kategori box office, saya rasa film ini layak ditonton.

Dan benar. Filmnya memang menggugah. Saat menontonnya, alur ceritanya yang cepat memberikan ragam rasa yang campur aduk. Ada pilu dengan penderitaan yang dihadapi, cukup lucu dengan percakapan segar sesekali, terharu dengan perjuangan masing-masing karakternya.

Ada hal yang patut digarisbawahi di sini bahwa dalam kondisi perang yang menyedihkan dan tak berperikemanusiaan, tetap saja ada kebaikan di sana. Bahkan saling dukung, bela dan berani berkorban.

Setelah kelar menikmati film yang diilhami cerita nyata tersebut, saya pun kemudian menyadari bahwa tak hanya di medan perang saja kebaikan terjadi. Dalam kehidupan yang terkadang keras pun, selalu ada orang-orang yang membagi kebaikan hatinya. Menyejukkan bahwa kerasnya kehidupan tak selamanya membekukan perasaan manusia terhadap sesamanya. Justru sebaliknya, kebaikan selalu ada, menular dan kembali lagi dengan kebaikan yang lebih besar kepada mereka yang rela dan tulus memberikannya.

Mirror Mirror

Saat mendengar bahwa film Mirror Mirror bercerita tentang Snow White, langsung saya berpikir bahwa plot ceritanya lebih kurang akan sama dengan cerita originalnya. Tak terlalu menarik. Sang putri akan diselamatkan oleh sang pangeran dan berakhir dengan bahagia.

Namun ketika melihat cuplikan singkat film yang dimainkan oleh Julia Roberts dan Lily Collins, timbul ketertarikan saya. Sepertinya cerita Snow White akan disajikan dengan modifikasi yang menarik. Tak seperti biasanya. Jadi akhirnya saya putuskan untuk menontonnya.

Ternyata memang menarik. Sang putri menjadi gadis yang kuat, pintar dan berpendirian teguh. Tak hanya sekedar cantik menarik dan baik hati. Yang tadinya tak mampu melawan malah menjadi putri yang maskulin dan mampu mengatasi rintangan dan membantu rakyatnya yang tertindas.

Dengan bantuan sang pangeran dan para kurcaci, Snow White pun menang melawan Ibu Permaisuri yang kejam. Raja yang tadinya disihir menjadi makhluk buas akhirnya terlepas dari mantra kutukan dan berubah kembali menjadi manusia. Sedangkan Ibu Permaisuri yang kalah berubah menjadi nenek tua lebih dini karena terlalu banyak menggunakan kekuatan sihirnya.

Cerita berakhir dengan bahagia. Hanya saja, ditambahi dengan suguhan tarian India di mana Snow White bersama seluruh isi kerajaan berdansa bersama-sama. Film modifikasi yang disajikan dengan apik dan diakhiri dengan tarian yang ciamik. Lumayan sebagai hiburan.

 

Garis Mati dan Tenaga Dalam

Tak banyak orang yang bisa menghargai waktu dengan sungguh-sungguh. Malas. Habiskan waktu dengan hal yang kurang berguna. Hingga waktu berakhir dan tak hasilkan apapun. Sia-sia belaka.

Uniknya saat seseorang menyadari tak lagi punya banyak waktu, malah ingin melakukan banyak hal. Terlalu banyak untuk bisa diselesaikan setelah hamburkan hampir keseluruhan waktunya.

Saat ada garis mati di depan mata. Beberapa orang mulai tergerak ‘tenaga dalamnya’. Melakukan upaya yang luar biasa untuk mencapai tujuan sebelum habisnya sang waktu.

Padahal ‘tenaga dalam’ tersebut dalam banyak kesempatan tak muncul di saat yang baik-baik saja dan tak mendesak. Aneh, bukan?

Garis mati memang bisa munculkan kekuatan luar biasa. Hanya saja seyogyanya lebih baik bila tenaga itu dikaryakan ketika tak ada garis mati. Tak harus menunggu garis mati untuk bersemangat secara luar biasa, kan?

Kafe, Laptop dan Teh Hangat

Sudah sekian lama saya tak menikmati duduk di kafe dengan sajian teh dan bertemankan Macbook Air kesayangan saya.

Akhirnya saya pun terduduk di sini nikmati suasananya. Musik jazz yang melantun lembut, minuman yang hangatkan raga dan tentunya dengan perangkat untuk menuang pikiran yang ada di benak.

Dan hadir di ruangan yang tak ramai tapi dihiasi dengan orang yang bercakap-cakap, pembaca koran, dua insan yang serius berdiskusi dalam kerjaan mereka, pengunjung lain yang menyenangi kopi dan teh mereka.

Sajian hilir mudik orang lalu-lalang pun membuat atmosfernya menjadi hidup. Menarik. Saya duduk dan merasakan banyaknya denyut aktivitas yang mengalir tak terlalu cepat dan juga tak terlalu lambat.

Kafe, laptop dan teh hangat. Kombinasi yang teracik dengan ciamik pada sebuah sore.

Kodokushi

Ada rasa pilu dan prihatin kala membaca sebuah artikel yang berkaitan dengan Kodokushi. Kodokushi sendiri berarti "lonely death". Di mana seseorang tinggal seorang diri dan meninggal sendirian tanpa ada orang yang mengurus jasad mereka.

Artikel tersebut memaparkan bahwa tingkat Kodokushi semakin meningkat di Jepang. Negara Matahari Terbit tersebut memiliki jumlah penduduk senior, yang sering kita sebut sebagai lanjut usia, paling tinggi di dunia. Boleh jadi, makin banyaknya kasus Kodokushi berarti makin banyak penduduk Jepang yang tak lagi diurus keluarganya, hidup tanpa dukungan finansial dan kesehatan yang cukup atau sesederhana hidup sendiri tanpa ada yang menemani.

Sangat disayangkan namun tak bisa dielakkan. Semua mafhum bahwa tekanan ekonomi membuat tradisi keluarga besar yang tinggal bersama-sama di sebuah rumah hingga dua atau tiga generasi makin memudar. Akibatnya banyak orang tua yang tak lagi tinggal bersama anak atau bahkan cucunya.

Mereka rentan terhadap penyakit dan tentunya kecelakaan di dalam maupun luar rumah. Ditambah lagi dengan kesibukan komunitas di mana mereka tinggal hingga para tetangga yang rumahnya berdekatan tak lagi sering menyapa hingga terjadi kasus Kodokushi. Orang yang meninggal tak diketahui karena meninggal sendirian di dalam tempat tinggalnya tanpa ada yang mengetahuinya.

Menyedihkan bahwa hal seperti ini bisa terjadi di negara maju. Dampak negatif dari pesatnya kemajuan yang tentunya memudarkan komunitas masyarakat dan sistem keluarga. Meninggal sendirian tanpa ada yang tahu. Tanpa ada yang mengurus. Juga tak ada yang hendak panjatkan doa untuk hantarkan jiwa mereka ke kehidupan selanjutnya. Sepi…