The Flowers of War

Pastor palsu, belasan remaja putri yang masih berusia belasan tahun, para wanita penghibur dan satu tentara yang datang bersama bocah lelaki. Mereka semua berlindung di sebuah katedral di kota Nanjing yang baru saja diduduki tentara Jepang.

Sinopsis film The Flowers of War membangkitkan rasa tertarik untuk menontonnya. Terlebih film tersebut dibesut oleh sutradara terkenal Zhang Yimou dan dibintangi oleh Christian Bale. Meski tak masuk kategori box office, saya rasa film ini layak ditonton.

Dan benar. Filmnya memang menggugah. Saat menontonnya, alur ceritanya yang cepat memberikan ragam rasa yang campur aduk. Ada pilu dengan penderitaan yang dihadapi, cukup lucu dengan percakapan segar sesekali, terharu dengan perjuangan masing-masing karakternya.

Ada hal yang patut digarisbawahi di sini bahwa dalam kondisi perang yang menyedihkan dan tak berperikemanusiaan, tetap saja ada kebaikan di sana. Bahkan saling dukung, bela dan berani berkorban.

Setelah kelar menikmati film yang diilhami cerita nyata tersebut, saya pun kemudian menyadari bahwa tak hanya di medan perang saja kebaikan terjadi. Dalam kehidupan yang terkadang keras pun, selalu ada orang-orang yang membagi kebaikan hatinya. Menyejukkan bahwa kerasnya kehidupan tak selamanya membekukan perasaan manusia terhadap sesamanya. Justru sebaliknya, kebaikan selalu ada, menular dan kembali lagi dengan kebaikan yang lebih besar kepada mereka yang rela dan tulus memberikannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s