Teknologi Modern dan Distraksi

Sebuah artikel berjudul Is modern technology creating a culture of distraction? sesuai dengan yang saya pikirkan akhir-akhir ini berkaitan dengan gangguan komunikasi akibat alat komunikasi.

Jadi ingat dengan slogan Nokia “Connecting People” yang dipelesetkan menjadi “Disconnecting People”. Bayangkan, perangkat ponsel jaman dulu yang sebatas telpon dan mengirim sms bisa membuat orang menjadi tak sadar lingkungan. Berdampak pada rasa kesal saat teman bicara ‘hilang’ sementara untuk membalas pesan pendek berkali-kali. 

Dan di masa kini, ponsel berubah menjadi ponsel pintar. Smartphone. Tak sebatas bicara dan pesan pendek namun juga memperbolehkan koneksi konstan untuk bercengkerama melalui berbagai media sosial, mengasup lautan informasi melalui jendela Internet dan berbagai mainan instan yang selalu menggoda untuk dimainkan setiap saat. 

Teknologi modern bukan sesuatu yang baik atau jelek. Justru manusia yang menggunakannya yang harus tahu bagaimana menggunakannya sebaik mungkin. 

 

Meja Kerja yang Bagus

Akhir-akhir ini saya terobsesi mengamati meja. Entah di restoran, toko atau perpustakaan; saya selalu melihat-lihat apakah mejanya bagus atau tidak. Aneh?
 
Mungkin. Pikiran saya sedang berpikir tentang coworking space. Sebuah konsep menarik dari negara maju tentang tempat di mana perseorangan atau organisasi menyediakan ruang kerja yang bisa disewakan untuk orang yang membutuhkan. Pernah dengar hal tersebut?
 
Maklum, di negara-negara tersebut jumlahan tenaga kerja lepas semakin banyak. Baik karena faktor lapangan kerja yang menyempit, pergeseran paradigma untuk beralih dari bekerja di kantoran menjadi self-employed atau bahkan karena mereka memang sedang memulai usaha mereka sendiri, start-up. 
 
Jelas mereka bisa bekerja di rumah masing-masing. Hanya saja banyak yang merasa bahwa mereka lebih produktif bila bekerja di tempat yang nyaman dan bertemu dengan orang lain. Dan tentunya coworking space mensyaratkan meja kerja yang nyaman di mana orang bisa betah bekerja. Tak lupa, kursi yang enak diduduki berjam-jam. 
 
Dan itulah alasan mengapa saya suka mengamati meja-meja. Saya ingin suatu hari membuka coworking space saya sendiri. 

Perkataan, Pikiran dan Gairah

Pernah dengar pepatah “mulutmu, harimaumu”, kan? Salah omong, lepas kata atau membuka mulut terlalu lebar untuk melemparkan segala cari-maki bisa berakibat fatal. Perkataan yang lepas kontrol boleh jadi timbulkan masalah.

Namun ada yang lain dan efeknya lebih besar. Bila pikiran tak ditata dengan baik, boleh jadi akan memberontak batas kewajaran. Tak peduli pintar atau tidak. Otak yang berontak jelas bakal mengacaukan semua kinerja badan. Entah orang bisa menjadi putus asa. Ada yang kejam dan sadis. Menjadi tak peduli. Serakah dan manipulatif. Tindakan menjadi tak masuk akal karena hilang akal.

Sayangnya ada yang lebih mengerikan. Saat gairah (baca: syahwat) tak bisa lagi dikekang. Seorang insan manusia bisa menjadi binatang buas. Monster untuk orang lain. Memperkosa, berlaku amoral atau malahan yang penting salurkan kehendak seksual kepada siapa pun yang ada
disekitarnya.

Mulut. Otak. Kelamin. Beda tempat namun pengaruhnya sangat tak baik bila lepas kontrol. Padahal jika dikelola dengan baik tentu menjadi alat insan manusia untuk hidup lebih beradab, indah dan baik.

The Lady – Aung San Suu Kyi

Film The Lady di mana Michelle Yeoh menggambarkan perjuangan Aung San Suu Kyi ini menarik perhatian saya. Sayang, saya tak sempat menonton filmnya saat film ini diputar di bioskop.

Menarik karena saya memiliki kesamaan dengannya. Bukan, bukan penerima Nobel. Juga bukan pejuang kebebasan dan hak memilih. Kesamaan yang sederhana. Sama-sama merayakan hari ulang tahun di hari yang sama yaitu hari ini. Tanggal 19 Juni setiap tahunnya.

Terharu karena Aung San Suu Kyi sudah berhasil mendapatkan kebebasannya. Berbeda dengan saya yang meskipun bebas kemana-mana dan berbuat apapun, justru tak merasa bebas dari kungkungan benak keterbatasan pribadi. Rasanya masih harus berjuang supaya diri saya bisa berani mendobrak zona nyaman saya sendiri.

Untuk Aung San Suu Kyi, selamat merayakan ulang tahun. Semoga apa yang kau idamkan menjadi kenyataan. Negeri Burma yang membaik dan jauh lebih baik.

Angka 33 dan bukan 34

Ah, ternyata saya salah hitung. Saya pikir hari ini saya sudah berumur 34. Nyatanya belum. Masih 33. Jadi masih berasa lebih muda. Awet muda!

Padahal saya sudah berpikir "wah, sebentar lagi mencapai usia 35 tahun di tahun yang akan datang". Untung segera saya sadari kesalahan menghitung. 2012 dikurangi 1979 yang berarti 33. Bukan 34.

Tapi bila dipikir-pikir lebih dalam, sebenarnya tak ada bedanya bila berumur 34 atau 35. Bakal tak sama bila ada suatu perubahan yang berarti. Toh, nyatanya saya sadari bahwa lima tahun belakangan ini saya tak terlalu berubah banyak. Sehingga menimbulkan kegelisahan akan apa yang harusnya bisa saya lakukan sehingga mengalami transformasi yang berarti.

Mungkin yang terbaik adalah tak terlalu serius dengan hitung-menghitung. Jalani saja hari ini yang rupanya berkah tersendiri karena masih diberi kesempatan mencicip kehidupan oleh Sang Khalik. Betul, kan?

Mari sedapat mungkin nikmati hari ulang tahun kita masing-masing dengan rasa syukur.

Madagascar 3

Film yang lucu, menghibur dan layak ditonton. Yang paling membuat terkesan adalah saat dimunculkannya berbagai anekdot yang menimbulkan tawa tentang berbagai tempat di Eropa. Motor Ducati, kebut-kebutan di Monaco, Colloseum, polisi Perancis dan Italia, serta moda kereta api sebagai wahana sirkus keliling.