Ruang Bioskop yang Gelap

Melihat film di bioskop itu jelas lebih memuaskan daripada menonton film di layar kaca atau perangkat portabel. Gambar lebih jelas dan besar, disajikan dengan tata suara yang menggelegar dan suasana yang memang dirancang untuk satu aktivitas saja. Menikmati film dengan sebaik mungkin.

Operator film menyorotkan film dengan proyektor khusus ke layar bioskop. Satu hal yang paling dibutuhkan adalah gelapnya ruangan. Makin gelap makin bagus. Gambar menjadi lebih jelas.

Hanya saja, kegelapan tersebut kadang memberikan rasa tak nyaman. Susah melakukan aktivitas. Contohnya, bila mau ke toilet rasanya malas karena harus berjalan dalam kegelapan.

Belum lagi bila filmnya horor. Jelas bikin kengerian film menjadi lebih menakutkan. Bila kursi bioskop penuh dengan orang, sepertinya tak mengapa. Tapi bila penontonnya hanya segelintir. Nah, itu dia. Seram. Terutama ketika duduk di pojok dan menonton sendirian. Tak kelihatan benar apa yang di sebelah karena memang gelap.

Ruang bioskop yang gelap memang diciptakan supaya imajinasi dari film bisa dinikmati dengan optimal oleh penontonnya. Hanya saja, kegelapan tersebut terkadang timbulkan situasi yang tak nyaman.

Fakir Internet

Menyedihkan. Ternyata saya masih mengalami fakir internet di era modern dan tinggal di negara maju.

Kebetulan rumah yang saya tinggali tak memasang internet. Jadi tak ada wifi. Saya pun memakai internet dari USB yang lebih sering gagal menghantarkan transmisi data ketimbang berhasil. Bila lancar pun itu biasanya sudah larut malam ketika pengguna internet berkurang karena sudah tidur.

Satu-satunya internet yang paling dapat diandalkan ya melalui tethering internet dari iPhone saya yang memang memiliki fitur 3G. Hanya saja kecepatannya juga tak terlalu cepat. Bahkan ada batasan jumlah paket data yang bisa diasup. Bila lebih dari kuota maka saya pun harus membayar kelebihannya.

Saya geleng-geleng. Ternyata masih mengalami masa-masa fakir internet. Memang internet itu tak murah. Namun perannya lebih vital ketimbang masa lalu.

Saya merindukan wifi saya yang dulu. Yang bisa menghantarkan internet dengan sangat cepat.

Terharu dengan Kartu Pos dan Surat

Baru saja saya bersih-bersih kamar dan menemukan koleksi kartu pos dan surat, baik dari teman maupun keluarga. Tadinya saya hendak memilah kemudian menyimpannya.

Hanya saja, saat membaca beberapa kartu pos dan surat tersebut seketika saya menitikkan air mata. Terharu. Sungguh-sungguh rasa yang tak mudah diucapkan dengan kata-kata. Ada perhatian yang tersampaikan lewat kata-kata ringkas. Ada kehangatan dan perhatian.

Jarang saya mengoleksi barang. Namun, saya rajin menyimpan kartu pos dan surat yang saya terima. Begitu berkesan dan ada cerita nostalgia yang tertuliskan di lembaran-lembaran kertas itu.

Tumpukan kartu pos dan surat itu begitu istimewa buat saya. Salah satu ‘harta’ saya yang berharga. Nilainya tak terkira. Memori-memori itu tetap tersimpan di sana untuk diulik dan diingat lagi suatu hari nanti.

Terima kasih untuk mereka yang pernah mengirim kartu pos dan surat-surat tersebut. Sungguh berarti untuk saya.

Apartemen Mungil Multi Fungsi

Salut untuk arsitektur dari Hong Kong yang sanggup mengubah tempat tinggalnya yang memang sangat kecil menjadi rumah yang lebih nyaman untuk ditinggali.

Dengan kemampuannya mengelola ruangan, dia bisa mengubah apartemen satu ruangan menjadi ’24 kamar’.

Namun bagaimana pun, saya tetap memilih rumah yang luas. Mungkin karena tempat yang sempit terasa seperti mengekang dan sumpek sebagus apapun itu.

Email Lama itu Seperti Buku Diari

Hari ini saya mencoba menggunakan aplikasi Mail di MacBook saya. Otomatis semua pesan yang ada di salah satu email saya pun terunduh dengan komplit.

Iseng saya melihat pesan-pesan email yang sudah jaman doeloe. Terkesima saya membaca pesan yang meskipun sudah sangat lama namun tetap masih ingat konteksnya.

Tentu saja saya juga menemukan beberapa orang yang sudah lama tak lagi berkirim-kiriman pesan dengan saya. Masih ingat orang-orang tersebut namun berhubung tak ada konteksnya jadi tak pernah lagi saling berkomunikasi. Mungkin juga mereka juga sudah lupa dengan saya.

Yang menyenangkan adalah membaca pesan-pesan lawas tersebut. Mengingatkan saya dengan apa yang terjadi di waktu yang lampau. Seperti membuka halaman demi halaman buku diari.

Jadi rawatlah email Anda. Bila sewaktu-waktu kangen dengan masa lalu, tinggal buka email tersebut. Kenangan masa lalu memang memberikan nostalgi tersendiri…

1400 Eksemplar

Baru saja saya menerima pemberitahuan dari salah satu penerbit nasional. Mengenai royalti dari buku yang saya terbitkan beberapa tahun yang lalu.

Tertera di surat elektronik bahwa hingga saat ini buku saya tersebut sudah terjual sebanyak seribu empat ratus eksemplar. Tidak banyak bila dibandingkan dengan karya penulis lain. Namun bagi saya pribadi, hal tersebut sudah membuat saya senang. Pasalnya, sudah ada lebih dari seribu orang yang menikmati buku tersebut.

Harapannya para pembaca tersebut mendapatkan tips yang berguna sehingga mereka dapat menulis dengan lebih baik dan bersemangat.

Terima kasih untuk penerbit dan pembaca yang sudah berbaik hati mengapresiasi buku saya. Sungguh membuat saya terharu. Juga tersemangati.

Menyimpan Buku itu Merepotkan

Dulu sekali saya pernah memiliki impian untuk memunyai perpustakaan pribadi. Pasti asyik karena bisa membaca buku-buku yang menarik kapan pun saya mau.

Jaman berubah. Buku elektronik sudah beredar di mana-mana dengan harga yang lebih terjangkau, cepat diakses melalui perangkat bergerak dan bisa dibawa kemana-mana dengan lebih mudah.

Lagipula saya merasakan bahwa menyimpan buku itu merepotkan. Padahal saya selama ini hanya memiliki buku yang jumlahnya kurang dari 20 biji. Tetap saja merepotkan.

Jadi sekarang saya tak lagi memiliki impian untuk mengoleksi buku-buku secara fisik. Pasti repot. Ditambah dengan nafsu membaca buku yang makin berkurang.

Oleh karena itu saya melihat ke tumpukan-tumpukan buku yang ‘merepotkan’ itu. Sebagian ingin saya berikan kepada orang lain atau mendonasikannya ke perpustakaan sekolah saya yang dulu. Dengan begitu, saya meningkatkan guna buku tersebut sekaligus mengurangi beban dalam menyimpan buku.