Cinta dan Tuhan

Pada sebuah sore saya duduk di bangku gereja Novena. Kipas angin tetap saja tak manjur menyingkirkan hawa panas di sana. Belum lagi bersebelahan dengan beberapa orang yang aromanya cukup mengganggu. Juga ada rasa malas datang ke rumah Sang Khalik.

Rasanya ingin pulang lebih awal. Tak terlalu niat pada awalnya. Hanya saja refren dari sebuah lagu membuat saya terharu. Awalnya saya tak ikut menyanyi. Namun entah mengapa, tiba-tiba saya menjadi semangat menyanyikannya bersama paduan suara dan umat yang lain.

“Ubi caritas et amor, Deus ibi, est.” Ketika ada kasih, Tuhan hadir di sana.

Air mata memenuhi kantong mata saya. Sungguh refren yang menyentuh meskipun disajikan dengan sederhana. Nyata benar bahwa saya sungguh seperti Rusa yang menantikan air di padang gurun yang gersang.

Di rumah-Nya, Dia hadir dan menyapa yang datang. Tak hanya itu, di akhir misa, saya sungguh heran dengan banyaknya orang yang ramai mengantri di depan patung Ibunda yang Penuh Kasih. Rumah itu memang panas, tak nyaman dan kuno tapi setiap kali datang ke sana saya selalu merasa hangat dan air mata selalu keluar menggenangi mata…

Iklan

One Reply to “Cinta dan Tuhan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s