Unemployment

Sudah cukup sering terdengar di berbagai media masa, “tingkat pengangguran diproyeksikan akan naik tahun ini dan meningkat di tahun berikutnya”. Wajar. Goncangan ekonomi jelas membuat berbagai perusahaan gulung-tikar. Jelas, banyak pekerja pun menganggur. Belum lagi ditambahi dengan jumlah lulusan universitas dan sekolah yang nyatanya susah terserap oleh dunia industri. Tak bekerja membuat masa kini dan masa depan suram. Too many idle hands.

Di saat yang sama, saya pernah mendengar seorang tokoh yang mengatakan bahwa “sebenarnya tidak ada pengangguran, yang ada hanyalah sistem yang tak efisien menjembatani antara tenaga kerja dan perusahaan”. Ada benarnya juga. Coba lihat di Internet, banyak sekali lowongan pekerjaan tiap harinya. Yang mencari kerja pun tak kalah banyak. Hanya saja, nyatanya kedua belah pihak tak selalu ‘berjodoh’.

Yang jelas, terminologi unemployment itu cukup mengerikan bagi banyak orang, daerah atau pun negara. Padahal ada beberapa solusi untuk mengurangi dan menekan jumlah pengangguran. Semisal, pelatihan kerja yang membuat orang memiliki kemampuan untuk bekerja lebih baik dan tentu saja menemukan pekerjaan yang cocok. Cara lainnya, meski tak mudah yaitu menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri sendiri dan (kalau bisa) untuk orang lain. Entrepreneurship, kata kerennya.

Saya sendiri pernah suatu kali “resign” dari pekerjaan saya sebagai guru untuk mengalokasikan waktu untuk menjadi ‘pengangguran’. Tak benar-benar menganggur karena saya bisa kerja paruh waktu dan tentu saja meluangkan sebagian besar waktu untuk menulis. The Poor Writer, tepatnya. Jadi ya meski tak berpenghasilan cukup, rasanya tak tepat disebut sebagai pengangguran. Karena memang tidak menganggur (baca: tidak melakukan apa-apa). Tapi justru sibuk menulis.

Sekarang saya pun berangan-angan, sebenarnya apa saya memang ingin mencari kerja yang lain? Atau malah ingin menciptakan lapangan kerja bagi saya sendiri, self-employment dan bila bisa justru ciptakan tempat bekerja bagi orang lain? Belum bisa saya putuskan. Untuk sementara rasanya pikiran saya masih tertutup kabut. Belum tercerahkan untuk memilih suatu keputusan bagi diri saya sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s